
"Jadi.. Abang mau bertanggung jawab?" tanya Fia.
"Iya, Abang akan bertanggung jawab dengan segala perbuatan yang Abang lakukan sama kamu" jawab Bang Zeni tegas mengimbangi istrinya meskipun terdengar sangat konyol.
...
Usai makan malam dan sholat isya. Fia langsung tertidur. Bang Zeni hanya bisa melihat gadis kecilnya tidur pulas dengan posisi andalannya yang menantang keteguhan batin.
Perlahan ia menaikan selimut Fia hingga sebatas dada. Jiwa lelakinya sudah meronta tapi ia harus sabar menahan diri.
~
Bang Zeni pun memilih duduk di teras depan rumah sambil menikmati rokoknya sendirian.
"Hooee.. Danki..!!!!" sapa seseorang yang suaranya pasti di kenal Bang Zeni.
Astagaaa.. dia sudah kembali dari tugas?.
"Asem amat wajahmu melihatku?" tanya litting Bang Zeni yang baru kembali dari dinas luar.
"Sial sekali aku melihatmu." jawab Bang Zeni malas.
"Hahahaha.. gengsi sekali. Kusut aekali wajahmu.. nggak dapat jatah ya?" tanya litting tengilnya.
"Kau ini, yang begitu saja kau tanyakan. Benar-benar kurang ajar" jawab Bang Zeni.
"Menurut ilmu alam yang mempelajari struktur perputaran bumi.. lelaki berwajah masam, lemah tak bertenaga.. itu menandakan belum menandai wilayah kekuasaan."
"Heeehh Cemar.. jangan sok tau kau..!!" tegur Bang Zeni malas.
"Sudah kubilang.. panggil namaku Khobar, jangan Cemar.. kau ini meruntuhkan harga diriku saja" protes Bang Cemar kesal.
"Tanyakan saja pada bapakmu.. dulu kenapa sampai khilaf memberimu nama Mumchemar Al Khobar" jawab Bang Zeni.
"Masih untung kau ku panggil Cemar.. daripada aku memanggilmu Al_marhum terCemar" kata Bang Zeni.
"Kurang ajar betul kau yaaa..!!!"
tookk..
Bang Cemar menjitak ubun-ubun kepala Bang Zeni.
__ADS_1
Memang keduanya jarang bisa akur kalau di satukan. Hanya soal perempuan saja terkadang mereka berdua sealiran, d dan sependapat.
"Ngomong-ngomong ada apa kamu kesini??" tanya Bang Zeni.
"Istriku sudah tidur. Rewel sekali dia. Lagi hamil muda, dua bulan" jawab Bang Cemar menghela nafas. "Kau tak tau bagaimana polosnya Gina istriku." jawab Bang Cemar.
Bang Zeni tersenyum mendengarnya. "Berarti kau baru tau Gina versi satu. Kau belum pernah bertemu Fia istriku. Kujamin mulutmu yang banyak bicara itu bakal ternganga saking takjubnya" kata Bang Zeni.
"Oya, kukira hanya Gina saja perempuan yang buat aku jadi migrain."
"Seketika vertigo mu kumat kalau berhadapan dengan Fia" jawab Bang Zeni.
Bang Cemar tersenyum penuh kelicikan.
"Apa maksudmu senyum begitu? Kau jangan punya ulah buat ajari istriku yang tidak-tidak ya Mar..!!!! Sudah biar si Gina saja yang punya ketua genk macam kamu..!!" ancam Bang Zeni.
"Tenang saja.. Bang Khobar baik kok"
"Wedhus.. Jangan macam-macam Cemaaarr...!!!!!!"
"Nggak.. sudah sana buatkan aku kopi. Aku ini tamu mu. Apa perlu aku bangunkan Fia untuk membuatkanku kopi??" tanya Bang Cemar penuh penekanan mengancam.
"Racun saja, kalau Fia jadi janda akan kunikahi dia jadi istri keduaku" jawab Bang Cemar seenaknya.
"Astagaaa mulutmu..!!!!!!!"
"Guyon kang.. guyooooonn..!!!" tawa Bang Cemar meredakan emosi Bang Zeni yang merangkak naik. Baru kali ini Bang Cemar melihat sahabatnya itu begitu membela wanitanya. Itu berarti kemungkinan besar Bang Zeni sungguh menyayangi Fia.
~
"Aku dulu baru bisa merayu Gina setelah tiga hari pernikahan. Dia takut sekali kusentuh. Akhirnya ku paksa saja dia. Lama-lama dia sendiri yang mendekatiku"
Bang Zeni menoleh mendengar ucapan Bang Cemar. "Kenapa kau ceritakan rahasiamu??"
"Hanya sekedar share saja sebagai sesama suami. Ya karena aku tau dari raut wajahmu, kamu sedang stress berat. Nggak apa-apa juga sih kalau kamu menundanya, tapi kamu harus segera memberikan nafkah untuk istrimu juga khan? ikatan batin akan lebih cepat tercipta kalau kamu segera melakukannya. Kalau dia marah, ya.. masa mulut buaya mu nggak bisa mengatasi. Semangat cuuyy.. Lu laki normal khan? daripada pikiranmu berantakan terus, lebih baik selesaikan..!!" kata Bang Cemar memberi saran.
"Waahh tumben.. ada angin apa bahasamu tegas dan baik begitu?" bangga sekali rasanya hati Bang Zeni punya sahabat yang bisa di andalkan.
Bang Cemar mengambil ponsel dari sakunya. "Aku nyontek kata-kata ini dari aplikasi Goodel" Bang Cemar menunjukan materi itu pada Bang Zeni.
"Sudah kuduga.. kau ini mencurigakan. Sesuai dengan namamu.. apapun tingkahmu selalu penuh dengan pencemaran" ucap kesal Bang Zeni. "Hmm.. tapi thanks ya.. next akan lubujul Fia"
__ADS_1
"Naahh.. berarti benar khan, si Fia belum kamu apa-apakan. Waaahh payah lu, sebenarnya lu sanggup nggak sih???" tanya Bang Cemar seakan ledekan keras.
"Ya sanggup lah. Gila aja pertanyaan mu itu. Cepat habiskan kopimu lalu cepat pulang. Gina sudah nunggu tuh..!!" jawab Bang Zeni.
"Yeeeee.. Gina nunggu atau kamu pengen praktek membelah diri??"
***
Bang Zeni menguap di meja makan. Semalaman dirinya tidak bisa tidur, tidak berani pula masuk ke dalam kamar. Ia takut lemah imannya akan menyakiti Fia dan membuat istrinya itu takut. Dalam hatinya ingin melakukan semuanya atas dasar keikhlasan karena ada rasa sayang, bukan hanya sekedar melaksanakan dan hawa nafsu saja karena mereka telah aman dalam ikatan pernikahan.
"Abang mau pergi latihan luar sampai sore?" tanya Fia.
"Iya dek, nggak apa-apa khan? paling lambat besok sore lah. Tergantung jadwal kegiatan hari ini" jawab Bang Zeni.
"Nggak apa-apa sih Bang. Hmm... Fia pengen ikut Abang, bosan di rumah.. boleh nggak Bang? atau kalau nggak boleh, Fia latihan volly saja sama Bang Felix. Bang Felix ngajakin main khan kemarin"
Bang Zeni terdiam berpikir sejenak, kalau Fia tidak di ajak, ia akan latihan volly, berarti harus bertemu dengan Felix tapi jika Fia ikut, berarti istrinya itu harus bertemu dengan si Cemar littingnya yang paling tercemar. "Kamu ikut Abang saja lah..!!"
"Nggak apa-apa nih Bang?" tanya Fia.
"Nggak apa-apa. Abang lebih bisa mangawasimu walaupun kamu harus bertemu si Cemar, tapi kalau kamu disini.. Abang malah tidak bisa mangawasimu" jawab Bang Zeni.
"Memangnya Cemar itu siapa Bang, kenapa kalau Fia latihan volly sama Felix??"
"Pokoknya nggak. Cemar itu litting Abang.. setidaknya dia masih bisa Abang bantai, kalau Felix.......... pokoknya jangan dekat sama dia lah." kata Bang Zeni tak memberi penjelasan apapun. "Kenapa nih kamu banyak tanya. Siapkan pakaianmu kalau mau ikut Abang. Tapi janji janji jangan mabuk di jalan ya, jalannya lewat gunung nih, masuk ke lembah"
"Fia suka kok Bang. Abang nggak suka"
"Yaaaa.. suka sih, tapi belum Abang cek lokasinya" jawab Bang Zeni dengan pipi memerah. "Elaaaahh.. kamu tanya apa sih.. cepat sana bereskan pakaian..!!"
"Iya Bang" Fia pun melangkah ke kamar.
"Duuuuhh Ya Allah.. ampun daah.. aku wes ambyar mumet nubruk cagak..!! Piye ya?" Gumamnya mengetuk meja makan dengan gelisah, sesekali ia mencuri pandang Fia yang terlihat dari posisinya. "Kalau Fia ikut kemungkinan nya hanya ada dua nih.. aku kesurupan karena nggak kuat iman atau.... lepas perjaka."
.
.
.
.
__ADS_1