
"Jangan nangis lagi ndhuk. Ayo yang kuat..!!" Mama terus menguatkan batin Fia. "Mama juga sedih sayang.. bagaimanapun Mama yang telah melahirkan suamimu. Tapi apa daya. Allah punya kuasa atas segalanya" ucap Mama menahan segala kesedihan. Ibu mana yang tidak sedih kehilangan putranya tapi saat menjadi istri Papa Galar, beliau selalu mengajari nya untuk ikhlas karena inilah salah satu resiko terburuk memiliki seorang abdi negara. Sudah semalaman dirinya menangis dan kini Fia sangat butuh dirinya, wanita yang juga sangat rapih karena kehilangan Kapten Zeni. Ia tau betul tugasnya untuk menjaga Fia karena di rahim Fia ada Zeni yang lain.
Papa Galar harus berusaha tegar meskipun batinnya sebagai seorang ayah terluka karena kehilangan putra. Ia pun menghampiri Bang Rakit dengan wajah luar biasa pucat seperti Fia "Sekarang Papa hanya punya kamu sebagai penopang hidup.. juga bayi yang ada dalam kandungan Fia. Harta yang akan Papa jaga"
"Saya paham Pa sekarang lebih baik.. segerakan pemakaman Zeni, semakin di tunda.. Fia akan semakin kesakitan" saran Bang Rakit.
"Ayo...!!"
"Bang Rakit.. Fia mau bicara" pinta Fia.
"Ada apa dek??"
"Bolehkah Fia ikut memandikannya?" Tanya Fia.
"Nanti saja Fia.. kamu bisa melihat nya. Ada banyak hal yang harus di pertimbangkan mengenai jenazahnya." Jawab Bang Rakit apa adanya.
"Kalau begitu.. Fia minta tolong untuk merawat jenazah Abang karena sebelum berangkat.... Abang belum mensucikan diri" ucap jujur Fia.
"Baiklah Fi.. Abang mengerti." Namun saat beberapa langkah Fia pergi. Bang Rakit menghentikan langkahnya. "Almarhumah menitipkan satu kalimat untukmu sebelum kepergiannya. 'Aku sangat mencintaimu Fia' begitu dia katakan"
"Fia tau Bang" Fia pun meneruskan langkah untuk masuk ke dalam rumah.
...
Fia duduk melihat Bang Zeni untuk terakhir kalinya.
"Kamu boleh menciumnya untuk terakhir kalinya, tapi jangan sampai air matamu menetes" kata Bang Rakit.
Fia menunduk dan mencium kening Bang Zeni. "Terima kasih suamiku tercinta. Fia akan membesarkan anak kita.. Fia janji akan mengajarinya banyak hal, agar pintar dan tangguh seperti Papanya yang hebat"
Darah Bang Rakit mengalir panas dingin merenungi perasaan Fia. Ia terus mengawasi setiap gerak gerik bumil cantik di sampingnya.
Fia mengambil pakaian kebesaran nya sebagai istri prajurit yang ia letakan tepat di sampingnya. "Dulu Abang memberikan hadiah ini dengan penuh cinta. Kini Fia kembalikan semuanya juga dengan penuh cinta. Tidurlah yang nyenyak Bang. Fia memang tidak bisa mengikutimu. Jadi biarlah nanti beberapa seragammu akan Fia tanam bersama seragam ini agar Fia bisa menemani Abang" isaknya pun terurai kembali.
Saat Bang Rakit mengambilkan tissue untuk Fia. Bumil itu kembali lemas.
...
Entah sudah keberapa kalinya Fia tak sadarkan diri mencemaskan semua orang.
"Apa tidak ada obat yang lebih baik lagi???" Tegur Bang Rakit memarahi seluruh petugas rumah sakit karena tak kunjung membuat Fia sadar. "Ganti dokter yang lain..!!!!!!" Bentaknya.
"Leee.. bukan petugas kesehatan yang tidak bisa. Tapi memang kondisi psikis Fia yang terlalu lemah" kata Papa Galar menenangkan putranya.
Para petugas kesehatan sampai salah tingkah menghadapi amarah Kapten Rakit.
__ADS_1
Tak lama Fia tersadar.
"Maa.. Fia sadar ma. Tawari makan ma..!!" Pinta Bang Rakit pada Mamanya.
Meskipun Mama pun masih berduka hebat, ia segera menghampiri Fia karena ia tau Fia pun membutuhkan banyak dukungan dari keluarga.
"Fiaa.. Fia mau makan sayang??" Tanya Mama dengan lembut.
"Nggak Ma, Fia mual" jawab Fia.
"Mualnya bahaya nggak?? Cepat periksa..!!" Perintah Bang Rakit pada beberapa tenaga medis.
~
Sepuluh dokter bergantian memeriksa Fia atas perintah Kapten Rakit hingga kamar Fia terasa penuh sesak.
"Ijin Kapten.. ibu baik-baik saja" kata seorang dokter.
"Baik-baik saja bagaimana. Pagi siang sore malam Fia mual, nggak bisa makan, nggak bisa minum, tiga hari saja Fia begini.. bisa kurus kering tersisa tulang dan kulit saja karena nggak ada gizi yang masuk" omel Bang Rakit membuat pusing semua orang.
"Ini hal yang wajar Kapten"
"Kalian jangan buat saya stress ya. Mana ada ibu hamil nggak makan jadi wajar??????"
"Saya mau ganti dokter" ucapnya sampai kemudian Bang Ari memiting leher Bang Rakit.
"Kau jangan cari perkara ya, kita ini dokter terlatih. Fia baik-baik saja..!!" Kata Bang Ari.
"Maaf Bang..!!" Bang Rakit pun sedikit melunak setelah di tenangkan.
***
Masih banyak anggota yang berjaga si rumah panglima. Bang Rakit juga masih terjaga. Bayang tangisan Fia begitu melekat kuat menusuk batinnya.
"Astagfirullah.." Ia melangkah masuk menuju kamar yang biasa di tempati Almarhum Zeni dulu. Tak sengaja ia melihat Fia tertidur memeluk baju loreng Bang Zeni. Tangis Fia masih menganak sungai dalam tidurnya.
Kaki Bang Rakit melangkah begitu saja masuk ke kamar Fia. Punggung jari telunjuk nya menyeka lelehan air mata Fia. Perlahan Bang Rakit menurunkan dress Fia yang tersingkap kemudian menutupnya dengan selimut.
Ajaibnya seketika tangis Fia terhenti merasakan sentuhan tangan di pipinya. "Jangan pergi..!!!" Pintanya lirih.
Saat itu Bang Rakit malah memilih duduk di samping Fia.
"Rakiit.. senang apa kamu disana???" Tegur Papa Galar.
"Marahlah setelah ini Pa. Tangis Fia baru berhenti..!!" Jawab Bang Rakit.
__ADS_1
Papa Galar luluh seketika. Batinnya sebagai seorang ayah juga seorang pria ikut tercabik. Fia yang sendirian dan hanya memiliki Zeni dalam hidupnya kini harus di tinggalkan begitu saja untuk kembali hidup sendiri.
Tak sanggup melihat menantunya tersiksa, ia pun meninggalkan kamar.
"Abaang.. Fia mau nasi kuning sama salak" rengek Fia dalam tidurnya.
Bang Rakit berkedip-kedip memasang telinga baik-baik. "Apa Fia mengigau minta nasi kuning sama salak?? Jam dua pagi mana ada??"
...
Fia duduk bersandar di sofa. Badannya seakan tidak bertenaga.
"Bu Fia.. ini Bi Narti masak nasi kuning. Mau nggak?" Tanya Bi Narti.
"Bibi masak nasi kuning??"
"Iya Bu"
"Saya mau donk Bi. Bibi darimana?" Tanya Fia.
"Ini Pak Rakit tadi borong satu pick up salak di pedagang buah yang depan rumah. Mungkin mau di bagikan ke anggota. Pak Rakit sudah biasa begitu" jawab Bi Narti panjang lebar.
"Hmm.. Bi. Saya mau salaknya. Boleh bi??"
"Oohh boleh Bu. Silakan ambil yang banyak..!!" Bibi menyodorkan sekantong kresek salak yang di bawanya dari depan rumah.
Bibi pun berlalu setelah Fia selesai mengambil lima biji buah salak.
Dari balik dinding ruang tamu, Bang Rakit melihat Fia makan dengan lahap. Ia pun memejamkan matanya sejenak.
...
Bang Rakit berjalan menuju makam Bang Zeni yang masih basah, bertaburan bunga yang sangat wangi.
"Nyenyak tidurmu bro?? Aku bahkan semalaman tidak bisa tidur karena menjaga bidadari mu..!!" Ucapnya setengah mengejek masih berdiri menatap nama 'Mayor Anumerta. Zeni E. Narotama' di papan pusara. "Kau litting paling kurang ajar di dunia ini..!!" Bang Rakit melepas kacamatanya lalu mengusap cairan bening yang akan meruntuhkan harga dirinya.
"Aku pun tak pernah merendahkan diriku sendiri di hadapan mu Mayor Zeni. Tapi kali ini akan ku lakukan. Aku tidak memahami perasaan ini. Sungguh ikhlas atau memang aku sedang menjilat ludahku sendiri." Bang Rakit menekuk kedua lututnya bersujud dan meremas tanah makam Bang Zeni yang masih basah. "Siap salah.. Saya mohon ijin Mayor..!!"
.
.
.
.
__ADS_1