Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
37. No Coment.


__ADS_3

Satu Minggu setelah semua peristiwa itu, terlihat sekali Danki sudah begitu kurus. Tekanan pada anggota semakin terasa meskipun toleransi dan tetap tak pernah menjadi singgungan para anggota. Para anggota Bang Zeni maklum dengan kondisi Dankinya yang kemungkinan nge drop dalam masalah tekanan batin karena Ibu Danki tak kunjung sadar dengan keadaan. Lucunya Pak Danki pun selalu bersikap seolah dingin dan kaku, kerap kali ia menggoda istrinya yang sering melintas di kompi seperti pria sedang kasmaran.


"Apa tidak ada jalan lain sampai kamu selalu masuk wilayah kompi saya?" Tegur Bang Zeni padahal setengah mati hatinya gembira melihat sang istri lewat di kompinya.


"Terserah ku, aku di minta Bang Khobar untuk panen mangga muda karena Mbak Gina ngidam." Jawab Fia.


"Bayar dulu..!! Siapa yang punya manggaaa.. siapa yang panen. Mangga saya rata-rata sudah pada matang" ledek Bang Zeni dengan sengaja.


"Kemarin mbak Gina ambil mangga muda nggak bayar" protes Fia sambil melihat pepaya yang juga siap untuk di panen. Beberapa ada yang mengkal tapi banyak juga beberapa yang matang.


"Itu khan Gina. Dia khan wanita yang pemalu dan sopan. Kamu ini apa? pecicilan, urakan, buat keributan saja" gerutu Bang Zeni.


"Huuuhh.. lagaknya laki-laki. Dulu tuh banyak yang jatuh cinta sama Fia sampai ribut di cafe. Awas aja kalau Abang jatuh cinta sama Fia. Keliyengan itu kepala" Fia pun tak kalah debat dengan Bang Zeni. Tak lama pandangan Fia mengarah pada terong ungu yang berukuran lumayan besar. "Waaahh.. besar sekali, Fia suka terong nya"


Bukan keliyengan lagi dek, Abang sudah hampir gila memikirkan mu. Kamu istri Abang tapi Abang tidak bisa menyentuhmu, Abang rindu tapi tidak bisa memelukmu. Apa kamu sungguh tidak bisa mengingat Abang.


"Jangan pegang terong ku sembarangan..!!"


"Ya ampun...pelitnya ini orang. Bisa ya laki-laki pelit begini jadi Danki" gerutu Fia. "Ngomong-ngomong mana istri Abang?? Dari kemarin sendirian aja?" Tanya Fia sungguh menyentil batin Bang Zeni.


"Dia sedang tidak disini. Masih jauh dari Abang. Nanti kalau sudah waktunya.. dia akan kembali lagi" jawab Bang Zeni.


"Pasti istri Abang nggak betah, Bang Zen khan galak sekali." Fia tak peduli dengan jawaban Bang Zeni, yang ia tau mulutnya sengaja bersuara hanya untuk membuat pria itu kesal saja karena baginya tak ada pria semenyebalkan Bang Zeni di dunia ini.


Hanya senyum kecut dan pahit membalas ucap Fia.


...


Bang Cemar melihat sahabatnya duduk menyendiri sambil menyantap soto ayam khas ibu kantin.. itu pun tidak dengan porsi full.


"Diet lu??" Tegur Bang Cemar.


"Nggak enak makan. Ini sebagai syarat aja biar aku tetap hidup" jawab Bang Zeni mulai tak mengarah.


"Huusshh.. ngomong apa kamu ini. Danki kok pikiran nya lemah sekali. Mana garangnya Zeni???" Bang Cemar rasanya paham perasaan sahabatnya itu. Bang Zeni pasti amat sangat merindukan Fia.


Tak jauh dari mereka terlihat Bang Ervan berbincang dengan Fia. Entah membicarakan tentang apa.

__ADS_1


"Mau apalagi di Ervan dekati Fia?????" Tanya Bang Zeni dengan hati terbakar. Ia sudah berdiri dan berniat meninggalkan mangkok sotonya.


"Aiisshh.. emosian sekali. Mereka hanya saling sapa. Nggak mungkin Ervan berani mendekati istrimu. Apa dia mau mati???" Jawab Bang Cemar mendinginkan hati Bang Zeni yang sepanas onggokan bara sekam. "Habiskan dulu makan siangmu ini. Apa perlu ku suap mesra sampai habis???"


Bang Zeni kembali duduk tapi matanya terus mengawasi Bang Ervan dan Fia.


Tau sedang di awasi dari kejauhan, Bang Ervan memilih menjauh dari Fia. "Abang pamit dulu mau ke para senior.


"Iya Bang, silakan..!!"


~


"Siap.. ijin.. hanya saling sapa saja"


"Siapa yang memulai?" Bang Zeni terdengar kekanakan jika sudah menyangkut tentang Fia.


"Siap.. saya Bang"


"Kamu jangan menusuk saya dari belakang..!!"


Bang Zeni terdiam sejenak, ia pun akhirnya menyadari kecemburuan nya yang terlalu berlebihan.


"Ijin Abang.. apa Abang akan berangkat meninjau kompi baru di puncak?" Tanya Bang Ervan mengalihkan perhatian Bang Zeni.


"Iya, saya pergi kesana. Kamu Danton saya khan? Felix mau sekolah.. pasti dia dapat jabatan baru."


"Siap..!!"


"Tepat saya geser ke puncak, pangkat saya naik.. tapi Fia tidak mengenal saya. Hancur sekali hati saya Van"


"Saya paham Bang, saya juga baru di tinggal menikah sama pacar saya. Padahal saya pacaran sudah dari SMP" kata Bang Ervan.


"Sudahlah.. jalan hidup sudah masing-masing. Jalani saja apa adanya. Kamu juga Zen.. Jangan jadi laki-laki yang terlalu pencemburu. Kasihan orang di sekitar mu kalau kecemburuan mu itu salah" Bang Cemar tetap mengingatkan sahabatnya.


"Siapa yang pencemburu????" Bang Zeni masih saja tak mengakui sifat terselubungnya dan tetap bersikap dingin.


"Oke.. nggak pencemburu hanya posesif saja" imbuh Bang Cemar.

__ADS_1


"Wajar Bang, sifat saya juga begitu" kata Bang Ervan. "Sifat yang mungkin di takuti para wanita karena merasa tertekan"


"Pacarmu kerja Van??" selidik Bang Cemar.


"Siap.. dokter Bang dan dia sekarang menikah dengan dokter juga" jawab Bang Ervan.


"Belum jodohmu Van" sambung Bang Zeni.


"Siap..!!"


***


Satu Minggu kemudian. Danki tidak masuk kerja dengan ijin sakit di absensi kompi dan Bang Ervan mulai cemas karena besok pagi mereka harus berangkat meninjau lokasi kompi yang baru. Tersisa Bang Felix saja yang berada di sana sampai kompi tersebut pindah secara total.


"Apa dankimu benar-benar sakit?" Tanya Bang Cemar yang menemui Bang Ervan langsung di ruangan.


"Siap.. benar Bang. Usai menyiapkan rumah dinas yang baru untuk para anggota, Bang Zeni ambruk. Badannya demam, kemarin tertidur di mobil pun masih mengigaukan nama Fia." Jawab Bang Ervan.


"Duuhh.. rupanya Zeni sudah kangen Fia. Tapi bagaimana donk.. Fia pun belum ada kemajuan dengan ingatannya padahal setiap hari Gina menyelipkan cerita tentang Zeni"


"Bagaimana kalau mereka di pertemukan saja Bang. Biar Fia di paksa mengingat Bang Zeni, kalaupun ada apa-apa pasti Bang Zeni sanggup menangani" Saran Bang Ervan.


"Saya cemas mental Fia tidak kuat. Yang saya lebih cemaskan terutama adalah sikap Zeni yang tidak bisa mengontrol emosi. Kamu tau khan bagaimana laki-laki kalau sedang lepas kontrol"


"Kalau itu ya Wallahualam Bang, biarkan saja apa adanya.. yang terjadi ya terjadilah. Kita bisa apa" jawab Bang Ervan.


"Saya hanya berharap Zeni tidak akan lupa pesan dokter. Rahim Fia belum kuat dan minimal tiga bulan harus kosong. Lalu kau pikir, apa Zeni bisa di percaya??" Ucap Bang Cemar memberi pengertian.


"Aduuhh Bang, kalau masalah itu saya angkat tangan. Saya juga laki-laki, nggak berani komentar."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2