Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
13. Tugas luar.


__ADS_3

"Pelan sedikit Yu..!!" perintah Bang Zeni pada ajudannya.. Prada Wahyu.


"Siap Danki.. ini sudah pelan" jawab Om Wahyu.


"Ada jalan lain nggak?" Bang Zeni dengan telaten merawat Fia yang akhirnya benar-benar mabuk.


"Siap.. tidak ada komandan. Ijin jalannya hanya tinggal sebentar lagi" kata Om Wahyu.


"Berapa lama lagi?"


"Siap.. Ijin.. perkiraan sekitar satu jam lagi Danki" perkiraan Om Wahyu.


"Gundhulmu.. iku suwe Yuuuu..!!"


...


Satu setengah jam kemudian Bang Zeni dan rombongan sudah tiba di lokasi latihan. Bang Zeni menggelar ponco lorengnya agar Fia bisa beristirahat sementara sedangkan dirinya lapor hadir pada atasan.


"Kamu bawa istri ke tempat latihan?" Tegur pimpinan.


"Siap salah Komandan..!!"


Komandan melihat Fia bolak balik muntah bahkan sampai berpegang pada sebatang pohon sebagai penyangga tubuhnya. "Istrimu mabuk ya?"


"Siap..!!"


"Kamu manten anyar khan?"


"Siap komandan..!!"


"Oohh.. lagi hamil ya. Ya sudah lah nggak apa-apa. Ini bukan latihan perang. Asalkan kamu bisa fokus dengan pekerjaan sih nggak masalah. Kasihan juga kalau istri hamil dan mabuk-mabuknya."


"Siap komandan, terima kasih.." jawab Bang Zeni.


"Di sana ada kamar jatah saya, kamu pakai saja dengan istri. Kasihan istrimu tidur di tenda, kalau saya sih malas Zen.. sudah di alam kok masih tidur di kamar. Lagipula nggak ada pengelolanya. Ini kuncinya..!!" Komandan menyerahkan kunci kamar pada Bang Zeni.


"Siap... Terima kasih" ucap Bang Zeni lagi.


...

__ADS_1


Fia meminum air asam dan sedikit garam yang di buatkan Bang Zeni untuknya. Rasa mabuknya perlahan menghilang.


"Sudah enakan?" Tanya Bang Zeni.


"Sudah Bang"


"Permisi Dan.. Ijin.. tenda sudah berdiri semua. Arahan selanjutnya?" Kata Om Wahyu.


Bang Zeni melirik tendanya. Memang tenda yang sedikit lebih kecil dan khusus untuk dirinya sendiri. "Velbed nya ada berapa?" Tanya Bang Zeni.


"Siap Dan, hanya ada satu"


Bang Zeni mengangguk. "Ambil saja untuk tenda kalian. Jangan sampai ada yang tidur di tanah, cuaca sedang tidak baik" kata Bang Zeni.


"Siap Dan.. ijin.. komandan dan ibu pakai apa?" Om Wahyu ikut mencemaskan Dankinya.


"Kamu tenang saja. Nanti saya buat papan tidur untuk saya sama istri. Kasihan istri belum adaptasi sama lingkungan" jawab Bang Zeni.


Om Wahyu tersenyum dengan pipi memerah sedangkan istri Danki malah biasa saja dam seakan tidak ada pikiran negatif.


"Ijin.. biar saya bantu buat papannya Dan..!!"


Tenda Bang Zeni sudah berdiri, dengan tumpukan beberapa kayu lalu di tindih dengan banyak dedaunan lalu di tutup dengan terpal dan ponco sudah termasuk layak di pergunakan di area dengan lahan terbuka dan fasilitas terbatas.


"Nanti kamu di tenda saja ya dek. Buka sedikit di jendela tendanya biar udara bisa masuk. Abang masih sibuk banyak kegiatan. Nggak apa-apa khan?"


"Iya Bang, nggak apa-apa. Fia tunggu disini saja"


-_-_-_-_-


Siang hari Bang Zeni melihat jam tangannya. Ada dua orang anggotanya yang turun membawakan makanan, minuman serta bahan makanan. "Kalian bawa makanan dari luar? Apa pengelola tidak ada anggaran makan untuk anggota?" Tanya Bang Zeni yang melihat Bang Felix ada disana.


"Siap.. ada Bang, tapi di setiap tahun selalu terlambat datang dan biasanya sore hari baru datang. Saya lupa menyampaikan sama Abang terkait hal ini. Maaf Bang" jawab Bang Felix.


"Ceroboh sekali kamu Felix. Lalu siapa yang mengarahkan kamu untuk mengirim makanan kesini?? Jarak dua setengah jam sampai sini Fel"


"Siap salah Abang.. Ini arahan istri Abang. Sebelum berangkat, istri Abang kasih saya dana untuk beli makan siang dan bawa bahan makanan untuk makan malam" jawab Bang Felix.


"Oohh gitu ya, darimana Fia tau ada hal semacam ini" gumam Bang Zeni.

__ADS_1


~


Bang Zeni mendesah membuang nafas. Ia terus memperhatikan istrinya yang tengah melahap mie instan dalam gelas. Belum cukup dengan itu ternyata beberapa anak buahnya sedang makan bersama dengan sang istri. Tadinya ia berpikir keras mengapa istrinya begitu repot membawa dua tas besar yang tidak tau apa isi di dalamnya lalu dua buah kardus besar juga yang ia pun tidak pernah tau isinya.


"Makan Dan..!!" Sapa seorang anggota.


"Iya, silakan lanjut..!!" Jawab Bang Zeni masih menatap barang bawaan anggotanya. Kamar yang tadinya akan ia tiduri malah sekarang berfungsi sebagai gudang logistik darurat.


"Eeehh.. kamu ini bawa logistik sebanyak ini nggak lapor Pak Danki?" Tegur Bang Zeni menjitak pelan ubun-ubun Fia.


"Fia khan juga ibu Danki" jawab Fia dengan santai kemudian menyerahkan mie instan yang juga sempat ia buat untuk Bang Zeni. "Makan dulu, Pak Danki jangan ngomel..!!"


Tak menjawab lagi, Bang Zeni menerima mie instan gelas itu dari tangan Fia. Sungguh ia tidak menyangka ada banyak keajaiban yang di lakukan Fia, di balik kelalaian nya yang tanpa sengaja, malah wibawanya naik berkali lipat di depan anggota.


"Waahh.. Om Felix sudah datang to. Terima kasih banyak ya Om bantuannya, sudah mau saya repotkan" kata Fia dengan senyum cantiknya menyambut Om Felix yang baru saja datang dengan membawa kantong kresek besar berisi nasi kotak untuk anggota.


"Siap Bu Danki.. sama-sama. Saya nggak merasa di repotkan. Apalagi Ibu Danki nya cantik begini"


Melihat senyum Fia dan mendapat balasan dari Bang Felix, entah mengapa hati Bang Zeni begitu kesal hingga tanpa sadar langsung melahap mie yang masih sangat panas. "Uhuukk..!!!" Bang Zeni tersedak, bibirnya pun ikut kepanasan.


"Ya ampun Abang, pelan-pelan kenapa sih. Fia khan juga nggak minta mie nya" Fia mengusap bibir Bang Zeni dan itu membuat para anggota tersipu malu tak terkecuali Bang Felix.


Wajah Bang Zeni masih memerah, tiba-tiba saja seorang pria berpangkat Lettu duduk di samping Bang Zeni lalu mengambil mie milik Bang Zeni dan melahapnya tanpa ijin. "Hhmm... Pantas tenda ini ramai sekali, ternyata ada kantin dadakan." Kata Bang Cemar menyapa Fia.


"Bisa tolong buatkan Bang Khobar kopi nggak?" Pinta Bang Cemar dengan manis dan gaya nakalnya padahal di bibirnya masih bergantungan helai mie yang belum masuk ke dalam mulut.


"Abang mau kopi hitam?" Tanya Fia tak kalah lembut"


"Kopi luwak ada cantik?" Bang Cemar semakin nakal menggoda Fia.


Bang Zeni yang sudah bisa mengendalikan tenggorokannya yang tersedak. Hatinya semakin panas saja.


"Nggak ada..!!!!!! yang ada kopi hitam pahit, kalau mau lihat luwaknya silakan bercermin ya Letnan Cemar...!!!! Letnan bisa melihat rupa luwak yang sesungguhnya" jawab Bang Zeni kesal.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2