Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 27. Tekanan.


__ADS_3

Bang Jenar merasa lega karena dalam kehamilan Lintar tidak mengalami masalah yang berarti. Hanya mungkin kemarin istrinya memang istrinya sangat kelelahan apalagi kehamilan Lintar masih sangat muda.


"Besok mulai cuti ya..!! Istirahat di rumah saja" kata Bang Jenar.


"Iya Bang. Lintar merasa badan ini semakin sakit dan pengen istirahat" jawab Lintar.


Bang Jenar tersenyum cemas. "Besok di temani bibi. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Abang..!!"


\=\=\=


Waktu berlalu begitu cepat. Usia kandungan Lintar sudah menginjak tiga bulan.


Bang Jenar melihat Lintar mengancingkan pakaian seragam dengan susah payah hingga raut wajahnya kesal sendiri dan pada akhirnya kancing baju itu terlepas dan menggelinding di bawah ranjang.


Bang Jenar berjalan dan mengambil kancing baju itu. "Jangan manyun kenapa sih..!!" Bang Jenar mencolek bibir Lintar yang sedang terbawa emosi lalu menyerahkan kancing seragamnya.


"Baju Lintar jadi nggak cukup lagi Bang"


"Abang sudah ingatkan dari seminggu yang lalu untuk persiapkan seragam hamil. Si dedek semakin besar, nggak mungkin kamu pakai baju seragam seperti ini terus" kata Bang Jenar.


"Sekarang bagaimana nih Bang??"


"Pakai baju olahraga saja. Nanti Abang minta Delon pergi ke kota untuk beli seragam untuk kamu pakai besok"


"Nanti kena tegur komandan lah Bang."


"Siapa yang mau tegur istri Kapten Jenar?? Nanti Abang bilang komandanmu..!!" Ucap Bang Jenar.


...


"Jangan mentang-mentang kamu ini istri Kapten lantas kamu seenaknya sendiri ya..!!" Tegur Sertu Wulan, senior Lintar karena Lintar memakai seragam yang tidak semestinya.


"Siap salah mbak"


"Push up nggak bisa, olahraga nggak bisa.. kerjakan saja berkas ini dan jangan keluar ruangan sampai selesai..!!" Perintah Sertu Wulan.


"Siaap...!!"


...


Bang Jenar sungguh sibuk hingga siang ini, banyak pekerjaan apalagi ia harus mencari sendiri pengganti Lintar untuk tugas selanjutnya. Setelah dirinya kembali pada kesatuannya.. ia harus mencari pengganti untuk dirinya juga.

__ADS_1


"Siapa yang bisa menggantikan aku untuk tugas terakhirku??" Bang Jenar memijat pangkal hidungnya. Sembari melihat jam tangannya, ternyata sudah menunjukan pukul 14.30 wib. "Ya Allah, ini kenapa Lintar juga nggak kirim pesan singkat?? Dia sudah makan atau belum?"


//


"Apa saja yang kamu kerjakan sejak tadi??? Seperempat bagian berkas ini juga belum kamu masukan datanya. Padahal kamu hanya duduk tidak mengeluarkan banyak tenaga..!!" Bentak mbak Wulan.


"Maaf mbak, kepala saya sedikit pusing" jawab Lintar.


"Bagi tentara.. sakit itu tidak ada dalam kamus..!!" Imbuh mbak Wulan.


Lintar sudah merasa tenggorokan nya kering. Ingin keluar sebentar saja untuk minum pun rasanya tidak mungkin karena Mbak Wulan terus saja bicara dan mengomel.


"Cepaaatt Lintaaarr..!!!!!!"


Lintar melirik ponselnya bergetar. Sudah sepuluh kali Kapten @Merica menghubunginya.


"Jangan main ponsel kalau kerja..!!!!!!!" Tegur Mbak Wulan.


"Siaap..!!"


//


Jarak dari Batalyon Bang Jenar tidak jauh dari Markas Lintar. Ia pun segera menyambar kunci mobil untuk melihat keadaan istrinya. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak.


:


Bang Jenar langsung menuju pelataran Markas sembari membawa nasi campur favorit Lintar. Hatinya yang cemas membuatnya ijin pulang lebih awal.


"Selamat sore Dan..!!" Sapa Om Delon.


"Soree.. istri saya mana ya?" Tanya Bang Jenar.


"Ijin.. sepertinya tadi masih di ruangan. Komandan ke sana saja..!! Sudah sepi, apel juga di ambil di belakang gedung" jawab Delon.


"Oke.. saya kesana ya..!!" Bang Jenar melangkah menuju ruangan Lintar.


~


Bang Jenar membuka ruang kerja Lintar. Ia melihat Lintar gemetar, AC menyala dingin tapi tubuh Lintar berkeringat. "Dek..!!"


Lintar menoleh, Bang Jenar sudah berjalan dengan paniknya.

__ADS_1


"Pucat sekali wajahmu..!! Kenapa nggak jawab telepon Abang dari tadi??? Kamu sudah makan apa belum dek???" Bang Jenar memberondong Lintar dengan begitu banyak pertanyaan.


"Lintaaarr.. ini kamu kerjakan..!!" Mbak Wulan menambah setumpuk lagi map yang harus di kerjakan lintar. Saat map itu berada di atas meja, ia melihat Kapten Jenar sedang menatapnya tajam seakan hendak menelannya bulat-bulat.


"Dimana atasanmu???" Tanya Bang Jenar, ia tidak bisa langsung menegur Sertu Wulan karena tentara wanita akan lebih baik jika di tangani tentara wanita juga.


~


"Kamu arahkan anggotamu..!!! Saya sudah ijin komandan agar Lintar hari ini saja pakai baju olahraga karena bajunya ternyata tidak bisa di pakai lagi. Bisa-bisanya Wulan memaksa wanita hamil sampai di luar batas seperti itu. Kalau saja Lintar tidak hamil, saya akan memberi toleransi.. masalahnya istri saya ini sampai menginjak kehamilan tiga bulan masih saja mabuk, mual dan lemas. Kalau ada apa-apa dengan kandungannya bagaimana?????" Bang Jenar sangat marah hingga menegur Lettu Alfi.


"Siap salah Bang, nanti saya akan tegur anggota saya" jawab Lettu Alfi.


"Sampai saya tau anggotamu mengusili istri saya lagi.. kantor mu ini saya obrak abrik tanpa ampun..!!" Ancam Bang Jenar yang sudah terlampau kesal.


"Siap Bang..!!"


Lettu Alfi melirik Sertu Wulan, bagaimana pun juga.. berurusan dengan Kapten Jenar adalah hal yang paling di hindari banyak anggota termasuk dengan dirinya.


...


Bang Jenar memberi Lintar air kelapa muda. Sungguh dirinya berusaha keras agar Lintar tidak sampai mendapatkan perawatan di rumah sakit. Tidak tega rasanya melihat tangan Lintar harus mendapatkan tusukan yang menyakitkan. "Minum pelan-pelan dek, yang penting habis..!!"


Tak hanya itu, Bang Jenar menyuapi Lintar bubur ayam sedikit demi sedikit. "Beberapa sendok saja juga nggak apa-apa. Kalau sampai habis malah lebih baik asalkan perut jangan terlalu kosong"


Lintar nyaris menolak karena perutnya masih terasa tidak nyaman.


"Sebenarnya apa tidak bisa kamu melawannya???" Tanya Bang Jenar akhirnya bereaksi juga karena melihat Lintar terus mengusap perutnya.


"Abang tau arti senioritas??"


"Kamu menguji Abang atau meledek?? Kalau berpikir itu jangan terlalu 'baku'. Kalau sesuatu hal tersebut merugikanmu, pintarlah kamu mengatasinya. Prajurit itu jangan setengah-setengah. Berani ya berani sekalian.. jangan diam demi senioritas yang tidak bisa di jadikan contoh..!!!!" Tegur Bang Jenar memberikan masukan pada sang istri.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2