
"Aku mau Bu Rakit tetap menjabat. Aku tidak terima Bu Rakit harus tereliminasi. Bu Rakit itu di tindas. Beliau tidak salah." Kata Om Wahyu.
"Sama Bang, Bu Rakit terlalu baik untuk di perlakukan seperti itu. Beliau sangat perhatian dengan para bujangan meskipun usianya sangat muda. Mungkin lebih tua kita daripada beliau. Ibu Rakit sangat dewasa, hanya polosnya saja nggak kira-kira. Wajar saja kalau Danki sangat protektif terhadap istrinya" jawab Om Alvin.
Om Wahyu mengangguk. "Ayo kita pikir apa mintanya ibu Fia. Kata Danki sepertinya Ibu minta burung dara goreng sama sayur daun paku" Om Wahyu mulai menjabarkan.
"Siap Bang, saya rasa itu masuk akal"
...
Malam hari, kedua ajudan baru datang dan yang berjaga di rumah sakit hanya Om Bastian.
"Pesananmu burung dara goreng dan sayur daun paku.. daun pakis hutan. Benar atau tidak dek?" Tanya Bang Rakit.
"Iya Bang, Fia mau yang itu" jawab Fia.
"Anak Papa ini super ya, kenapa nggak langsung bilang dan harus buat Papa pusing tujuh keliling" protes Bang Rakit.
"Dedek mintanya begitu Bang" kata Fia masih lemas.
"Iyaaa.. nggak apa-apa yang penting kamu sama anak kita sehat. Cepat sembuh. Kasihan Arsene." Bang Rakit menidurkan Arsene lalu mengurus Fia yang masih memercing kesakitan.
"Bang"
"Iya sayang" Bang Rakit pun kembali menghampiri Fia.
"Fia pengen naik tank serbu" pinta Fia dengan nada kalemnya.
"Apaaaa??? Ini masalah burung dara sama daun paku aja baru beres lho dek"
"Ini khan anak Kapten Rakit yang minta." Kata Fia.
Bang Rakit terpejam sejenak kemudian mengusap dadanya. "Astagfirullah.. Lailaha Illallah.. Allahu Akbar..!!" Bang Rakit menyabarkan perasaan karena dirinya paham kali ini baru bab satu perjuangannya menjadi ayah sejati.
"Abang nggak mau?"
"Mau lah, keciiil Neng.. helikopter saja Abang bawakan apalagi hanya tank serbu." jawab Bang Rakit sesumbar mengurai senyum tampannya.
"Fia sayang Abang. Habis naik tank, Fia mau naik kapal selam ya Bang..!!"
Senyum Bang Rakit mendadak hilang. "Ya Allah anakku.. ngajak Papa main ya nak" Bang Rakit mengusap perut Fia.
__ADS_1
"Maaf ya Pa" kata Fia merasa tidak enak.
"Apapun akan Abang lakukan demi anak istri. Selama Papanya mampu, bintang di langit pun akan Papa berikan" jawab Bang Rakit mulai menggombal. "Makan dulu dek, kamu harus cepat sehat"
Terlihat sesekali Fia memercing kesakitan merasakan bekas luka tembak di perutnya.
"Kalau sakit bilang saja. Nggak apa-apa kok dek, nggak usah di tahan..!!"
Fia pun menggeliat kecil memegang perutnya. "Sakiit Baaang" rintih Fia.
"Iya, sabar ya sayang..!!" Bang Rakit merasa sangat bersalah dan terpukul melihat Fia kesakitan. Sambil mengaduk makan malam sang istri. Ia tetap memikirkan bagaimana caranya membuat Letkol Najib di hukum seberat-beratnya.
***
"Tolong Rakit.. Mama ingin minta maaf dan bicara berdua dengan Fia" pinta Mama Rizka.
"Fia sedang tidur..!!" Bang Rakit benar-benar dingin dan menolak kehadiran Mama Rizka terutama siapapun yang kemarin sempat membuat masalah dengan istrinya. Ia sangat membenci apapun yang berhubungan dengan Papa Giras.
"Mama merasa sangat bersalah dengan kejadian ini. Kalau saja Mama tau........."
"Ini peringatan bagi siapapun tak terkecuali dengan kamu. Bersikaplah baik pada setiap orang karena kamu tidak tau bagaimana kelak anakmu akan di perlakukan orang di luar sana. Bersikaplah baik karena kamu tidak pernah tau kapan ajal akan menjemput. Jika hanya keburukan yang kamu tabur, kelak anakmu akan memetik hasil kerjamu" ucap Bang Rakit begitu menusuk dalam sanubari istri ke tiga Papa Giras.
"Mama paham.. Mama paham Rakit" ucap wanita setengah baya lulusan Bintara umum tentara wanita itu. Ia terisak penuh penyesalan.
...
Memang harus ia akui efek peluru tajam memang sangat luar biasa, bagi pria saja rasanya sudah seperti tercabut nyawa padahal timah panas itu jauh menyentuh perangkat vital pada tubuh, lalu sekarang Fia yang harus menerima benda itu di dalam tubuhnya.
"Bagaimana Bang?" Suara Bang Rakit terdengar melemah, tenaganya tiba-tiba hilang mencemaskan seorang Fia saja.
"Tadi sudah mau makan dan minum obat?" Tanya dokter Ari di samping dokter khusus yang menangani Fia karena dokter Ari hanya fokus pada kandungan Fia saja.
"Mau Bang, tapi nggak banyak.. sudah minum obat juga." Jawab Bang Rakit. "Ada masalah lain?"
"Saya takut ada peradangan. Lukanya memerah dan membiru."
"Itu yang saya takutkan Bang, Fia banyak bergerak, banyak mengeluarkan darah. Mungkin karena terlalu sakit, Fia menekan bagian perut karena menahan." Bang Rakit ikut menengok bekas luka serempetan peluru di perut Fia. Ia menggigit bibirnya sembari memejamkan matanya sejenak. "Ini salah saya Bang. Kalau sebagai suami saya bisa lebih waspada, hal ini tidak akan terjadi"
"Ini musibah. Tidak ada yang tau Letkol Najib sampai senekat itu"
Bang Rakit duduk dengan kasar membanting punggung pada sandaran. Matanya menatap nanar pada sang istri.
__ADS_1
"Fi_a, ingin disini..!!" Fia mengigau sangat lirih, tangannya meremas pelan sisi ranjang.
"Ada apa sayang, kamu mau apa?" Bang Rakit mengusap pelan kening Fia.
Mata Fia sedikit terbuka. Tatapan nya kosong "Bang Zeni datang, menggendong anak laki-laki, mengulurkan tangannya menggapai tangan Fia"
"Kamu ngomong apa? Disini hanya ada Abang sama Arsene"
Batin Bang Rakit menolak keras pikirannya tapi keadaan Fia semakin memburuk. Ia menunduk menggenggam tangan Fia yang berusaha menggapai sesuatu.
"Mayor Zeni.. kembalikan ke alam mu. Jangan bawa anak dan istri saya. Aku tau aku salah lalai menjaganya. Kapten Rakit mohon ampun..!!" Ucapnya tak tahan melihat kondisi Fia.
Tiba-tiba terdengar Fia menarik nafas berat dan sesak.
"Bang.. Fiaaaa..!!" Teriak panik Bang Rakit.
"Mundur Rakit...!!!!!" Dokter Ari mengarahkan Bang Rakit agar dokter yang menangani keadaan Fia bisa konsentrasi.
Bang Rakit berdiri dan mundur beberapa langkah menatap Fia yang sedang mendapat penanganan dari dokter.
Siapa yang kamu ingat? Apa bayang Zeni tidak bisa kamu tepikan?
"Abaang.. sakiiit.." Fia merintih. "Bang Rakiiiitt..!!!"
Dugaan Bang Rakit patah karena Fia menyebut namanya.
"Abang disini sayang.. sabar ya" jawab Bang Rakit.
"Fia mau naik mobil pemadam kebakaran"
Entah Bang Rakit harus senang atau sedih mendengar tiga permintaan sang istri yang belum ia penuhi. Di saat seperti ini Fia malam mengidam naik tank.
"Sembuh dulu, naiknya nanti.. pilih sendiri." Meskipun terdengar aneh, Bang Rakit tetap menanggapi istri cantiknya.
"Siap-siap pak Danki..!!" Ledek dokter Ari menahan tawa sekuatnya.
"Asal nggak minta naik pohon atau terjun payung aja sudah cukup lah Bang. Angkat tangan saya ngadepin bumil" jawab Bang Rakit.
.
.
__ADS_1
.
.