
Fia memperhatikan anggotanya yang pastinya tidak tau banyak atau bahkan tidak tau tentang kejadian di balik layar.
"Bu Najib tadi menurunkan makanan ini dari truk. Berarti Bu Najib donk yang pesan semua ini. Tapi ada yang aneh lho. Makanan di tempat kita lebih enak dari Snack Batalyon." Ucap seorang ibu dengan lirih tapi masih terdengar di telinga Fia dan itu pastinya terdengar juga di telinga Bu Jefri.
Bu Jefri hendak berdiri tapi Fia menahannya. "Bu Jef.. ini hanya soal kecil, hanya soal makanan. Jangan di besar-besarkan..!!"
Bu Jefri pun tidak bisa berbuat apapun saat ibu-ibu banyak membicarakan kebaikan Ibu Najib tapi Bu Danki selalu mendinginkan hati mereka. Hanya para pengurus ranting yang tau bagaimana perjuangan Ibu Fia Zeni Elgash memberi perhatian untuk anggota kompinya.
Fia berjalan mendekati para ibu anggota volly kompi. "Bagaimana kabarnya ibu-ibu?"
"Baik Bu" jawab ibu-ibu.
"Ijin ibu, ini makanan yang paling enak selama kami mendukung team volly dan baru kali ini Bu Najib memberi perhatian pada kami. Mungkin karena kompi ini sering memenangkan juara antar kompi, antar kesatuan dan antar Matra" kata Bu Bagus yang sudah terbiasa nyinyir satu team.
Bu Jefri ingin menjawabnya tapi lagi-lagi Fia menahannya. "Alhamdulillah.. rejeki kompi ini ya Bu. Tetap sehat, kompak dan semangat untuk kompi kita" jawab Fia.
"Siap Ibu..!!" Jawab yang lain.
...
Pertandingan sedang berjalan, panas terik menyoroti lapangan. Fia dengan semangat memberi dukungan untuk para anggota kompi. Berpanas-panasan dirinya ikut turun ke lapangan.
Saat itu, Bang Zeni sudah selesai dalam rapat. Ia pun ikut memukul galon memberi semangat pada team istri anggota nya sebelum menyerahkan pada Wahyu untuk melanjutkan. Senyumnya mengembang saat melihat Fia berdiri di samping lapangan. "Yuu... Lanjut pukul galonnya. Saya mau pacaran dulu...!!" Kata Bang Zeni sambil menyerahkan galon tersebut.
"Siaap..!!" Om Wahyu menerima nya dengan bersemangat.
Bang Zeni berjalan menghampiri Fia, ia melepas topinya lalu memakaikan pada Fia setelah sempat sedikit mengecilkan lingkar topinya. "Kenapa panas-panasan. Duduk disana khan enak"
Fia menoleh, ia senang sekali melihat Bang Zeni sampai air matanya meleleh saking terharunya. Entah kenapa hatinya merasa tenang, aman dan damai berada di dekat Bang Zeni.
"Lho kok nangis???" Bang Zeni mengusap air mata dan peluh Fia.
"Jangan jauh-jauh dari Fia ya Bang..!!" Ucapnya sampai kemudian Bang Zeni melihat ada yang menetes di punggung jarinya.
__ADS_1
"Fiaa.. Ya Allah dek, kamu mimisan lagi????" Tak banyak pikir panjang, Bang Zeni mengambil sapu tangan di sakunya lalu mengusap hidung Fia. "Kamu masih capek dek. Kita pulang saja. Istirahat ya..!!" Ajak Bang Zeni.
"Jangan Bang, kasihan ibu-ibu kalau di tinggal." Tolak Fia. Tapi belum sempat Bang Zeni menjawab, Fia meremas perutnya. "Abaang.. perut Fia sakit..!!"
"Ayo duduk disana dek..!!" Bang Zeni sampai terbawa panik melihat Fia kesakitan.
Langkah Fia terhenti. "Abaang.. Fi_aa........."
"Fia.. Astagfirullah...!!!!!" Bang Zeni mengangkat tubuh Fia yang sudah lunglai. "Petugas Kesehatan lapangan dimana ini?? Tolong bantu istri saya..!!!"
~
"Ijin Danki.. Ibu kelelahan dan terlalu banyak pikiran.. stress Dan, denyut jantung sangat kencang"
Bang Zeni berpikir keras, jika alasan petugas kesehatan adalah karena lelah.. ia masih bisa memaklumi, tapi ini kalau stress.. ia masih menerka pasalnya selama disana Fia belum pernah mengeluhkan apapun padanya. "Baiklah.. nanti saya akan tanyakan pada istri saya. Terima kasih penjelasannya ya..!!"
"Sama-sama Danki"
:
"Masih sakit nggak perutnya?" Tanya Bang Zeni mengusap perut Fia.
"Nggak begitu Bang"
"Berarti masih sakit?" Bang Zeni memperjelas pertanyaan nya.
"Nggak kram lagi seperti tadi" jawab jujur Fia.
"Dek, Abang mau tanya.. kira-kira selama disini, apa ada sesuatu yang menjadi beban pikiranmu?" Dengan tegas Bang Zeni menanyai Fia meskipun terdengar lembut.
"Nggak ada Bang"
"Sungguh?????" Bang Zeni menanyai lebih tegas lagi.
__ADS_1
"Iyaa Abaaang" jawab Fia mengurai senyumnya.
"Alhamdulillah kalau memang nggak ada apa-apa. Oiya.. besok Abang memantau lapangan tembak keluar kota ya. Tiga hari saja. Kamu nggak apa-apa khan Abang tinggal?"
Rasanya Fia ingin menangis tapi ia menahannya, ia menyadari Bang Zeni bukan miliknya seorang meskipun ia begitu menginginkan suaminya tetap ada di sampingnya. Dirinya pun sudah berjanji untuk membagi cinta suami nya pada negara.
"Nggak apa-apa Bang, Abang hati-hati ya disana..!!" Fia beranjak bangkit tapi Bang Zeni kembali merebahkan Fia.
"Abang bisa siapkan barang-barang sendiri. Hanya tiga hari saja. Itupun paling lama." Jawab Bang Zeni menenangkan Fia.
...
Bang Zeni menekan rasa cemasnya. Sebenarnya ia tidak ingin pergi namun ia menyadari tugas dan tanggung jawabnya pada negara.
"Ijin Danki.. arahan?" Tanya Om Wahyu yang datang ke rumah Danki atas panggilan Dankinya tersebut.
"Kamu nggak usah ikut jadi mudi saya. Saya titip jaga istri saya. Kawal kemanapun kemana dia pergi dan laporkan setiap hal yang kamu tau..!!" Perintah Bang Zeni.
"Siap laksanakan perintah"
Bang Zeni mengusap dadanya. "Saya tidak paham apa yang saya rasakan, tapi perasaan saya sakit sekali jauh dari istri. Apa saya yang terlalu lemah. Selama ini saya tidak pernah secemas ini mengambil keputusan. Apalagi soal dinas"
"Ijin Dan, bukankah seharusnya bisa di gantikan Letnan Felix?"
"Pak Najib meminta saya meninjau sendiri lokasi disana. Danyon pun menyetujui. Saya mau bilang apa? Dua kali menolak tidak ada hasil" jawab Bang Zeni.
"Baik Dan, saya akan melaksanakan perintah dengan sebaik-baiknya"
"Saya percaya kamu Wahyu..!!" Dengan berat hati Bang Zeni menguatkan hati untuk meninggalkan Fia.
.
.
__ADS_1
.
.