Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
56. Tidak tahan.


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Bang Rakit mengajak serta Fia dan Arsene bersamanya terbang ke tempat tugasnya yang baru. Dua hari tidak begitu banyak saling sapa dengan Fia seakan membuat jarak di antara mereka.


"Bastian.. tolong ambilkan bantal Arsene di ransel saya.. dan kamu Vin, tolong ambil tas kecil saya di pojok sana. Saya mau ambil minyak angin sama plester." perintah Bang Rakit pada dua ajudan yang juga ikut pindah tugas bersamanya.


"Siaaap.." jawab keduanya.


...


Tanpa banyak kata Bang Rakit memijat punggung Fia. Melihat Fia masih saja mual, ia mengambil sebatang rokok dari saku nya lalu mematahkan untuk mengambil tembakaunya. "Duduk geser ke pojok dek..!!" Perintah Bang Rakit.


"Abang mau apa?"


"Sudah jangan banyak ribut..!!" Kata Bang Rakit.


Fia menurut dan bergeser duduk hingga ke pojok. Bang Rakit sedikit mengangkat blouse Fia lalu meletakan isi tembakau di pusar Fia lalu menutupnya dengan plester. Cara lama yang sering di pakai Mamanya tapi ia pun tidak tau seberapa manjur reaksi tersebut.


Dada Bang Rakit sedikit berdesir melihat anting kecil di perut Fia. Terlihat sangat seksi dan cantik. Ia menurunkan blouse Fia lalu beranjak dari posisinya.


"Bang.. Fia pusing" ucap Fia pelan.


Bang Rakit melihat Arsene sudah tidur nyenyak. Ia pun menyandarkan Fia pada perut datarnya lalu memijatnya lembut. "Tadi kenapa sarapan nya nggak di habiskan?" Tegur bang Rakit. "Sarapan itu penting. Jangan sampai perut kosong. Sarapan nggak habis malah minum jus jeruk"


Fia diam saja tidak berani menjawab omelan Bang Rakit.


Bang Rakit menuang air jahe hangat pada tutup termos mini yang ia minta dari Mama nya sebelum berangkat dari rumah tadi.


Pelan Bang Rakit meniupnya hingga menjadi hangat lalu mengangsurkan di bibir Fia agar istrinya itu bisa meminumnya. "Awas pelan, nanti tersedak..!!"


Perut Fia menjadi hangat, ia pun merasa tenang. Tanpa sadar Fia memeluk Bang Rakit sampai akhirnya benar-benar tertidur. Tangan Bang Rakit membelai puncak kepala Fia yang tertutup kerudung.


Tak lama gaung suara pesawat terdengar berbeda. Pesawat berguncang hebat.


Seketika Fia terbangun dan panik. "Kenapa ini Bang??"


"Nggak apa-apa. Pesawatnya nabrak kerikil. Sudah tidur lagi..!!" Jawab Bang Rakit.


:


"Apa semua aman?"


"Siap aman komandan. Hanya saja perlu mengistirahatkan pesawat sampai baling-baling stabil.. ijin.. besok pagi sudah bisa terbang lagi" jawab seorang crew pesawat.


"Baiklah, lebih baik nge-round saja disini" Mau tidak mau Bang Rakit dan Fia harus menginap di mess transit militer karena ada sedikit masalah dengan baling-baling pesawat. "Jangan ada yang bilang apapun ke istri saya tentang pesawat ini..!!"

__ADS_1


"Siap"


...


"Kata crew pesawat nggak ada apa-apa tapi kok kita harus nginap ya Bang? Seingat Fia.. dulu nggak ada nginap begini"


"Beda pilot, beda kebijakan. Biar saja lah. Lebih baik kita jalan-jalan saja sama Arsene lihat kota Manado..!!" Ajak Bang Rakit. "Cepat bersiap dulu..!! Abang tunggu di luar..!!"


Fia pun tidak kuasa menolak ajakan Bang Rakit.


:


Kebersamaan mereka tidak mati kutu karena kehadiran Arsene. Bang Rakit mengajak Arsene ke taman bermain dan mencoba segala permainan yang ada. Mulai permainan skill hingga permainan ringan khas anak-anak.


"Abang.. mau hujan nih. Kembali saja ke Mess yuk..!!" Ucap Fia mulai gelisah.


"Sebentar lagi dek" tolak Bang Rakit karena masih senang bermain dengan Arsene. "Abang mau main apalagi?? Nembak sama Papa mau nggak Bang?" Tanya Bang Rakit dan mendapat anggukan dari Arsene.


~


Saat Bang Rakit membidik, hujan sudah mulai turun dan Fia mulai kesal.


"Cepat Bang, hujan mulai turun..!!"


"Sabar yank.. sedikit lagi. Makan malam saja belum." jawab Bang Rakit tanpa sadar.


"Lagi pula kamu perginya sama Abang. Hujan sekalipun tidak akan menyakiti" kata Bang Rakit.


:


"Buka mulut..!!" perintahnya pada Fia saat istrinya itu menyuapi si kecil Arsene nasi kuning.


Awalnya Fia hanya memandangi Bang Rakit tapi karena Bang Rakit benar-benar menyuapkan makanan ke mulutnya, akhirnya Fia mengunyah juga makanan itu.


Untuk pertama kalinya Fia merasakan perhatian Bang Rakit. Sikap itu masih saja kaku dan dingin tapi sikap itu sudah bisa sedikit mengademkan hati Fia.


"Mama makan juga Pa?" Tanya Arsene.


"Iya donk.. Abang sama Mama kenyang dulu. Di luar sudah hujan, biar nggak masuk angin" jawab Bang Rakit. "Nanti Mama sama Abang naik taksi online aja ya. Papa ikuti kalian dari belakang..!!"


"Pulang sama-sama saja Bang" jawab Fia.


"Kalau kita hanya berdua masih Abang pikirkan untuk kehujanan berdua. Ini bawa Arsene. Abang nggak mau Arsene sakit"

__ADS_1


"Ya sudah tunggu sampai hujan reda saja" kata Fia menolak.


"Kenapa kamu keras kepala sekali?" Tanya Bang Rakit


"Tolong jangan minta kita untuk mengambil jalan masing-masing..!!" Jawab Fia dengan nada bergetar.


Ekspresi wajah Bang Rakit terlihat biasa saja tapi ia segera mengambil ponsel di sakunya. "Alvin, kamu datang ke lokasi yang saya share bawa mobil patroli..!!"


...


Bang Rakit tak banyak bicara. Sepanjang jalan mereka pun hanya diam tanpa suara hingga tiba di mess transit.


"Cepat bersihkan badanmu dan cepat istirahat sama Arsene. Besok pagi sekali kita sudah harus berangkat lagi" kata Bang Rakit sambil menyerahkan Arsene yang baru berganti pakaian.


"Terima kasih Bang"


"Untuk apa?" Tanya Bang Rakit.


"Untuk semua pengertian Abang"


"Abang bukan Zeni yang akan pergi meninggalkanmu tanpa kabar. Jika takdirnya hanya sampai disitu.. itulah jalan hidupnya dan kisah hidupmu baru saja di mulai." Kata Bang Rakit. "Itu pun jika kamu berkenan menerima Abang dalam hatimu." Bang Rakit berjalan keluar kamar transit.


***


Bang Rakit melihat Fia sudah tidur bersama Arsene. Dirinya memang sengaja masuk ke dalam kamar setelah memastikan Fia tidur terlebih dahulu. Bang Rakit membungkuk dan mencium kening Fia dengan lembut dan penuh rasa sayang. "Mudah-mudahan kamu memaafkan sikap Abang. Abang hanya ingin kamu menyadari, pria di hadapanmu ini juga bisa memberimu cinta yang sama, bahkan lebih" ucapnya lirih. "Selamat tidur istriku sayang" Bang Rakit kemudian beralih mencium putranya. "Jadi anak Sholeh ya ganteng..!!"


Bang Rakit memilih menggelar sarung dan tidur di lantai.


...


Bang Rakit sudah duduk di luar mess saat Fia mempercantik diri. Seperti ucapnya, ia tidak ingin memaksa Fia jika istrinya itu belum siap berdekatan dengannya.


"Bang.. Fia sudah selesai" sapa Fia pada Bang Rakit yang sedang merokok di luar. Suaminya itu segera berdiri.


"Subhanallah.." ucapnya sampai enggan berkedip melihat kecantikan sang istri.


"Bang.. ayo berangkat..!!" Tegur Fia.


"Ayo.." Bang Rakit menggandeng tangan Fia masuk ke dalam kamar. "Eehh.. astagfirullah.. kenapa pintunya jadi pindah disini?" ucapnya gugup kebingungan sendiri.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2