
"Permisi.. dengan Pak Zeni?" Tanya seseorang yang sama sekali tidak di kenali Bang Zeni.
"Iya saya sendiri." Bang Zeni melepas dekapannya dan berusaha untuk duduk menanggapi tamunya.
"Ini tagihan bon nya Pak..!!" Pria tersebut menyerahkan secarik kertas pada suami Fia.
"Astagfirullah.." Bang Zeni mengusap dadanya pelan melihat nominal delapan belas juta rupiah. Sesaat Bang Zeni memejamkan mata lalu menghela nafas. Tapi karena hatinya sedang sangat bahagia, ia pun tersenyum. "Saya bayar lewat MBanking."
"Baik Pak"
...
Malam itu rumah dinas Danki begitu ramai. Hari ulang tahun Danki plus kehamilan ibu Danki. Semua sangat menikmati nyamannya rasa kekeluargaan bersama Danki dan istri.
"Ijin Dan.. mau minum apa, biar saya ambilkan" kata Om Wahyu.
"Kamu urus dirimu sendiri, nggak usah urus saya Yu. Kembali ke tempatmu dan nikmati saja semuanya. Anggap saja saya syukuran kecil-kecilan"
"Siap Dan, terima kasih" Om Wahyu tersenyum senang sekali.
"Oiya, Tolong saya satu saja. Tolong panggilkan Pak Khobar dan Pak Fabian..!!"
"Siap..!!"
//
"Kau ini baru datang dan langsung ikut merusuh sama si Cemar." Tegur Bang Zeni pada Bang Fabian "Kalian tau nggak hal seperti tadi sangat berbahaya...!!!!!"
"Aku sudah bilang buat ide rumahmu kebakaran saja, tapi malah Cemar punya ide Fia kecelakaan" jawab Bang Fabian.
"Ya Tuhan.. tidak waras kalian semua..!!!" Bentak Bang Zeni.
Disana Bang Cemar bermain mata menggoda MC yang sedang membawa acara sambil mengunyah onde-onde wijen di tangannya.
"Heehh.. matamu. ingat bini hamil..!!!!!"
"Kau ini tidak bisa lihat orang senang, Gina asyik ngobrol sama Fia dan Nelis. Nggak mungkin lihat kita. Aahh kau ini lebai sekali, dulu kalau ada perempuan matamu sudah sidak, bibirmu pandai merayu, tanganmu sudah gerilya. Kenapa sekarang ilmu b******kmu itu tidak kau pakai?????" Ledek Bang Cemar.
__ADS_1
"Iya nih. Sejak kapan pikiran kita jadi tidak sejalan?" Kata Bang Fabian.
Bang Zeni tetap santai saja tak peduli dengan apapun kata rekannya, yang ia tau hanya rasa syukur sudah mendapatkan Fia dalam hidupnya.
"Ijin Bang, arahan.. siang lanjut kegiatan apa?" Tanya Bang Felix"
"Kosong sampai besok pertandingan volly. Hari ini khan hanya ada kegiatan dari batalyon lain..!!" Jawab Bang Zeni.
"Siap Abang, nanti saya sampaikan pada rekan-rekan"
"Kamu mau kemana? Gabung saja disini. Mana yang lain??" Tegur Bang Zeni.
//
"Fia, aku tadi lihat Bang Zeni nangis parah lho. Sayang sekali dia sama kamu" kata Gina.
"Iya Fi, Bang Fabian saja nggak pernah nangisin aku seperti itu padahal aku sudah hamil tujuh bulan nih" sambar Nelis.
"Aku hanya tau Abang pingsan dan teriak saja. Nggak tau kalau Abang nangis." Jawab Fia.
"Aaahh pokoknya Bang Zeni paling oke. Iri sekali aku lihatnya. Eehh ngomong-ngomong kehamilanmu ini ada tanda nggak? Kalau aku tuh suka banget kalau Bang Mar pakai baju baby doll ku" kata Regina.
"Ehmm.. apa ya. Aku nggak mangalami hal seperti kalian. Aku juga nggak ngidam apa-apa lho, biasa saja" jawab Fia yang tidak mengingat kelakuannya yang merepotkan selama ini.
"Enak ya, berlari Bang Zeni aman damai karena tidak terganggu hamilnya kamu" Regina ikut senang dengan kehamilan Fia.
Dari jauh ketiga calon bapak mendengar ocehan para istri yang terlibat santai tanpa beban.
"Kau enak sekali Zen, Fia nggak ngidam?" Tanya Bang Fabian.
"Nggak ngidam matamu, kelakuan random nya buat jantung ku mau lepas rasanya. Kau tau Fia itu polos setengah mati tapi sekarang harus di tambah Fia yang bertingkah karena rasa penasarannya. Aku tak sengaja memasang suara tinggi saja langsung buat Fia mewek, ngambek, kemarin malah sempat demam. Harus bagaimana lah aku ini menghadapi istriku" ucap keluh kesah Bang Zeni yang hanya mendapat tawa dari dua sahabatnya.
"Ya sabar Pak, apa yang kau tanam pasti akan kau panen. Kau tebar bibit lele pasti kau akan panen lele" jawab Bang Cemar tersenyum penuh arti.
"Kau jangan memberiku petuah, kau pun harus dapat penyegaran mental" rasa kesal Bang Zeni masih menancap karena ulah Bang Cemar.
"Untuk Pak Zeni.. mau duet nyanyi sama Iis nggak?" Tanya penyanyi cafe bayaran yang di undang Bang Cemar untuk mengisi acaranya tersebut.
__ADS_1
"Saya nggak bisa nyanyi mbak" sebisanya Bang Zeni menolak karena menjaga perasaan Fia.
"Masa sih Pak, padahal Iis tunggu dari tadi lho pengen duet sama Pak Danki" Iis menghampiri Bang Zeni lalu menggandeng tangannya. "Saya pinjam bapak sebentar ya Bu" pinta Iis meminta ijin pada Fia tapi agaknya Fia kurang menyukainya.
"Saya nggak enak badan mbak, nggak bisa nyanyi juga" tolak Bang Zeni lagi.
"Bohong mbak..!!" Teriak Bang Fabian.
"Dia bisa nyanyi mbak, dulu dia pengamen" imbuh Bang Cemar.
"Eehh kalian berdua bisa diam atau tidak?" Tegur Bang Zeni menggeram berbisik.
"Waahh.. Pak Danki keren. Ayo joged sama Iis..!!" Ajak Iis lalu menarik tangan Bang Zeni dan melingkarkan tangan Bang Zeni ke pinggangnya.
Bang Zeni masih waras untuk menolak perlakuan dari Iis sang penyanyi bayaran. Ia mengepalkan tangan dan menjauhkan tangan dari pinggang Iis.
"Pak Zeni wangi sekali, Iis suka. Oya Pak, ini Iis selipkan nomer telepon.. siapa tau Pak Zeni butuh teman kalau sedang bosan dengan istri" kata Iis berbalik badan dan berusaha melingkarkan kedua tangan di belakang leher Bang Zeni tapi Bang Zeni menolak dan menjauh. "Istri hamil itu pemarah lho pak, juga tidak enak karena tidak seperti saat masih gadis dulu" Iis terus berusaha mendekatkan diri pada Bang Zeni.
Bang Cemar dan Bang Fabian melotot karena tidak tau Iis akan berlaku seberani itu.
"Cukup Iis, lakukan semua sesuai profesional kerja..!!!" Tegur Bang Zeni. "Kamu mabuk khan, lebih baik kamu turun panggung...!!" Bang Zeni menjauhkan tangan Iis dari dirinya.
"Iis nggak mabuk Pak, Iis sadar kok. Ini hanya sekedar hiburan, jangan di anggap berlebihan. Apa pak Zeni takut dengan istri? Bukan nya istri prajurit tidak boleh lemah mental??" Tanya Iis.
Fia hanya memperhatikan suaminya dari jauh sambil mengunyah kacang bawang dari toples.
"Jika kamu seorang istri, apa kamu bersedia jika suamimu di sentuh wanita lain bahkan mengajaknya memadu cinta berdua. Saya mungkin bukan pria baik-baik tapi saya tidak akan melemahkan mental istri saya dengan cara hina seperti ini..!!" Bang Zeni balik melemahkan mental Iis.
Bang Zeni menurunkan tangan Iis lalu menoleh menatap Fia dan mengurai senyum. "Bagian musik, saya order duet dengan Bu Danki donk..!!" Pinta Bang Zeni.
Fia masih terdiam di tempatnya membawa wajah kesal. Bang Zeni segera mengeluarkan uang baru dari sakunya. "Sayaaaaang.. sini joged sama Abang. Abang sawer nih Neng..!!" Bujuk Bang Zeni merayu-rayu sebaik mungkin.
Tak butuh waktu lama Fia beranjak dan berdiri. Bang Zeni mengusap wajah sejenak. "Untung mau.. kalau Ling-Ling ngamuk bisa-bisa nanti malam jadi gelar yasinan nih" gumamnya.
.
.
__ADS_1
.
.