Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 26. Gemas.


__ADS_3

"Pak Arko.."


"Apa kabar Bi?"


"Baik Pak." Jawab Bibi.


Bang Arko tersenyum melihat bibi yang selama ini ada bersamanya. "Mungkin sudah saatnya Lintar mengenal seluruh isi keluarga, begitu juga dengan saya."


"Iya Pak, kasihan ibu. Sebenarnya Pak Jenar juga sudah ingin jujur sama ibu, hanya saja keadaan belum tepat dan lagi rahasia ini juga bukanlah rahasia yang fatal" kata bibi.


"Benar Bi, kalau begitu saya temui Lintar dulu. Bang Arko pun segera menggandeng tangan Mbak Lela masuk ke dalam ruang rawat Lintar.


~


"Harus mau dek. Minum susu juga untuk menambah tenaga" bujuk Bang Jenar.


"Eneg Bang" tolak Lintar.


"Lihat dulu..!! Abang sudah campur susunya sama buah."


Lintar meliriknya dan akhirnya mau meminum susu buatan Bang Jenar.


Mbak Lela Arko tersenyum melihatnya. Kapten Jenar yang dingin mau di repotkan dengan kerewelan bumil yang sedang mengidam. "Mama juga mau di perhatikan begitu Pa..!!" Suara Mbak Lela sengaja menyadarkan Bang Jenar dan Lintar.


Bang Jenar menoleh tapi reaksinya datar saja, berbeda dengan Lintar yang canggung karena Danyon beserta ibu berada di dalam kamar rawatnya.


"Selamat siang Komandan.. selamat siang ibu..!!" Sapa Lintar.


Lintar menyenggol pinggang Bang Jenar agar suaminya itu menyapa komandan baru. "Bang..!!"


"Waduuuuuhh.. Kapten Jenar nggak mau menyapa Danyon. Apa perlu saya turunkan SK pindah tugas ke luar Jawa???" Tegur Bang Arko.


"Jangan macam-macam Bang. Lintar sedang hamil, atau rumahmu ku berondong mortir" ancam Bang Jenar.


"Baang.. iihhh..!!!" Lintar sampai kelabakan mendengar suaminya berdebat dengan Danyon.


Mbak Lela tau suaminya sedang bercanda, tapi masalahnya Lintar belum tau siapa mereka karena imbas pekerjaan mereka sebagai bagian dari tubuh pasukan Intel.


"Besok pagi berangkat kamu ke Sulawesi. Dasar Kapten merepotkan."


Refleks Lintar bangkit tanpa perhitungan. "Ijin komandan.. siap salah. Tolong jangan pindahkan suami saya keluar Jawa..!!" Pinta Lintar.

__ADS_1


"Kamu mau membantah perintah atasan????"


Seketika perut bawah Lintar kram, nafasnya pun tersengal.


"Bang.. sudaah. Jangan bercanda lagi..!!" Bang Jenar melihat Lintar begitu syok.


Bang Arko pun terkejut melihat reaksi Lintar. "Maaa.. itu Lintar kenapa?" Tanya Bang Arko memastikan.


Mbak Lela menghambur melihat keadaan Lintar. "Dek.. kamu nggak apa-apa?"


"Ibuu.. ijin..!!!"


"Nggak usah ijin segala. Saya ini mbakmu. Bang Arko kakak kandungnya Jenar"


~


Lintar sudah lebih tenang. Mbak Lela mendudukan dua pria itu di hadapannya. "Bagaimana kalau tadi ada apa-apa sama kandungan Lintar??? Nggak usah bercanda aneh-aneh sampai bilang mau pindah tugas segala. Orang hamil itu sangat sensitif"


"Iya mama"


"Iya mbak." Bang Jenar ikut menunduk mendengar omelan kakak iparnya, meskipun terkesan cerewet, tapi bagi Bang Jenar.. Mbak Lela pun layaknya seorang ibu yang selalu perhatian dengan keluarga.


"Sudah lah mbak, mbak juga sedang hamil" kata Lintar merasa tidak enak.


"Memangnya mbak buat apa? Hanya begini saja tidak keluar banyak tenaga. Mbak tau rasanya di usap seperti ini sangat tenang dan nyaman" dalam setiap kata-kata nya, Mbak Lela sengaja mengajarkan kelembutan pada Bang Jenar. Ia tau betul adik iparnya itu adalah pria yang sangat kaku dan garang, berbeda dengan Bang Arko yang lembut dan usil. "Kakimu sakit atau tidak? Sini mbak pijat..!!"


"Nggak sakit Mbak" jawab Lintar.


"Lintar nggak akan minta pijat sekarang mbak, jatahnya malam. Mengurangi waktu tidurku" Bang Jenar berucap datar namun sarat akan makna.


Bang Arko tertawa terbahak. "Kau ini pura-pura merasa tersakiti padahal itulah moment yang kamu tunggu. Abang tau betul isi lempeng kepalamu"


"Paaa.. isi kepala Papa jauh lebih parah" sambar Mbak Lela dengan jengkel membuka tawa lebar Bang Jenar.


"Maaa.. Papa ini gagah lho" ucap Bang Arko setiap kali merasa tersindir istrinya sendiri.


Melihat istrinya sudah melirik, Bang Arko pun terdiam. "Papa yang salah" jawab Bang Arko.


***


Tengah malam Bang Jenar masih terjaga. Ia terus memandangi wajah cantik Lintar hingga terdengar suara gendang perang bertalu dari perut Lintar.

__ADS_1


"Jam berapa ini. Anakku kelaparan lagi padahal dua jam yang lalu Lintar baru saja makan." Gumamnya.


Suara gemuruh itu semakin jelas terdengar dan Bang Jenar menjadi tidak tega. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Delon.. tolong........."


:


"Abang makan??" Lintar terbangun dari tidurnya karena perutnya merasa lapar ada bau semerbak menggelitik hidungnya.


"Iyalah.. Abang lapar, nggak bisa tidur.. jadinya ya Abang beli nasi uduk saja" jawab Bang Jenar sembari menyantap nasi uduk dengan berbagai macam lauk pauk lengkap.


Lintar yang kesal hanya bisa meremas pakaiannya, ia menyamarkan perutnya yang lapar di tengah malam.


"Kamu kenapa bangun?" Tanya Bang Jenar dengan sengaja kemudian melipat bungkusan nasi uduknya yang habis tak bersisa.


Lintar kembali merebahkan tubuhnya lalu memunggungi Bang Jenar, air matanya meleleh karena kesal.


Tak di sangka sebuah kecupan hangat mendarat di pipi dan kening Lintar. "Sini Abang suapi..!! Abang tau istri Abang lapar"


Lintar yang masih gengsi, pura-pura tidak mendengarnya.


"Oohh.. ternyata istri Abang nggak lapar. Ya sudah lah Abang makan sendiri aja" Bang Jenar menarik diri.


"Baaaang.."


"Kenapa dek??" Bang Jenar sengaja memasang wajah tidak peka.


"Bujuk Lintar donk.. gimana ke' caranya biar Lintar mau makan" protes Lintar mulai kesal.


Senyum Bang Jenar pun mengembang. Gemas sekali melihat tingkah bumilnya. "Makan saja dulu.. biar cepat sehat. Nanti Abang rayu di rumah"


Lintar tersipu malu.


"Sejak kapan kamu suka malu-malu?" Ledek Bang Jenar.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2