Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 16. Singa betina.


__ADS_3

Bang Jenar sampai di rumah sudah malam hari. Disana Lintar sedang makan anggur yang dipeluknya pada sebuah baskom besar. Bang jenar melihat Lintar menggigit sebuah anggur, secepat kilat ia menyambar anggur itu dari bibir istrinya.


"Iihh Abang, ini punya Lintar" kata Lintar menjauhkan baskom itu agar Bang Jenar tidak bisa mengambil anggur yang ada di manapun.


"Ya Allah Tuhan.. jadi apa anak Abang nanti, belum juga lahir mamanya sudah kikir begini" Bang Jenar menggeleng tapi hatinya tertawa terbahak.


Kamu bahagia sekali. Mana tega Abang bilang kalau pernikahan kita tidak sah di pihak lain.


"Kenapa?? Jangan coba mengendap atau mengutil anggur Lintar ya Bang, Lintar sudah menghitung jumlahnya. Jumlahnya 65 biji. Kalau kurang dari itu berarti Abang pelakunya??" ucap Lintar melihat anggur merah di tangannya.


"Abang selalu berpikir panjang kalau mau berurusan dengan marmut yang suka menimbun makanan sepertimu" kesal Bang Jenar.


"Terus saja kesal begitu, jatah Abang ngasah senjata akan berkurang" balas Lintar.


Aaiiisshhh gawat kalau begini urusan nya.


"Jangan gitu lah yank.. khan cuma bercanda. Abang belikan anggur lagi ya! Kalau si 'eneng' ngambek juga, Abang ngasah sama siapa" rayu Bang Jenar memelas. Bibi mendengar dari arah dapur dengan terpingkal-pingkal.


"Ngasah sama botol Bang" jawabnya enteng.


"Hedeeehh.. lecet dah" gumamnya pelan Bang Jenar.


...


Lintar belum bisa tidur, padahal suaminya sudah tidur nyenyak setelah berpetualang.


"Kalau sudah dikasih begini nih. Nggak ngerasain istrinya mabuk. Semoga setelah ini semua rasa tidak nyaman ini pindah ke Abang semua, biar tau rasa" gemas Lintar mengucap sumpah serapah.


***


Bang Jenar bangun tidur, tubuhnya serasa oleng. Ia panik karena merasa tidak bisa menyeimbangkan badan dan segera menyandarkan kedua tangannya pada dinding ruang tengah.


"Bapak kenapa??" tanya bibi.


"Bi.. tolong ambilkan saya minum. Perut saya sakit sekali bi" keluh Bang Jenar.


Lintar baru keluar dari kamar mandi dan bersiap berangkat kerja.


"Kenapa Bang???" tanya Lintar.


"Abang kok lemas begini dek, perut sakit sekali"

__ADS_1


"Hahaha.. makanya Bang, istri sakit tuh di sayang.. bukan di ajak perang. Anaknya ngajak join main game di perut papanya tuh" jawab Lintar.


"Kamu nih" Bang Jenar merosot ke lantai meringis menahan nyeri merasakan perutnya yang terasa di aduk.


"Waahh.. Kapten Jenar yang gagah ini bisa selemah ini????" ledek Lintar dengan wajah bahagianya.


"Jangan bercanda dek. Ini beda.. Abang nggak pernah sakit sampai seperti ini" peluh membasahi wajah Bang Jenar.


Lintar membantu Bang Jenar untuk berdiri.


"Mau jadi papa harus kuat. Tahan lah sedikit Bang..!!" ucanya kasihan.


"Iya dek. Ya sudah Abang mandi dulu" Bang Jenar masuk ke kamar mandi sambil memegangi perutnya. Sesaat kemudian terdengar suara yang agaknya menyakitkan di telinga.


"Hhkkkkk.. dek.. siapkan minyak kayu putih..!! Hhkkk"


"Iyaa" jawab Lintar.


...


Sampai di kantor, Bang Jenar masih merasakan sedikit pusing tapi tidak dengan Lintar yang mengunyah makanan kemanapun ia berada.


"Tak disangka kamu istri Kapten Jenar yang galak itu" ucap Serda Ine teman satu ruangan Lintar.


"Biasa saja. Bang Jenar nggak semenakutkan itu" jawab Lintar.


Tak lama ada ketukan pintu yang memanggil Lintar agar segera ke ruang Komandan.


~


"Ijin menghadap Komandan"


"Duduk..!!! ( Lintar duduk bersebrangan dengan Komandan ). Bagaimana pengajuan nikahmu di SatIntel? Apa sudah di klarifikasi?" tanya Komandan.


"Ijin Dan.. klarifikasi tentang apa?"


"Apa Kapten Jenar tidak bilang kalau pengajuan nikah itu yang sampai ke pusat adalah nama Jenar dan Lyta. Bukan Gitarja." jelas Komandan.


"Apa?????"


...

__ADS_1


"Apa maksudnya ini Bang?? Abang mengajukan nama Lyta untuk jadi istri Kapten Jenar????" Lintar menemui Bang Jenar di ruangan nya.


"Bukan begitu dek. Abang mau cerita, hanya belum sempat dan waktunya belum tepat"


"Kapan yang tepat????? Kalau nama Lyta sudah di sah kan kesatuan?????" kesal Lintar sambil duduk di sisi meja Bang Jenar.


"Nggak.. jangan bicara begitu!!! Abang pasti bereskan semuanya. Apa kita temui Lyta sekarang???" jawab Bang Jenar.


"Bereskan..!! Kecuali kalau Abang mau sama cabe macam begitu silahkan saja. Masih banyak terong yang menyenangkan di luar sana" ketus Lintar sambil memalingkan wajah.


"Sampai itu mulut sempat bicara begitu lagi, mas karetin itu bibir seperti es cendol di jalan" kesal Bang Jenar. "Kalau patroli malam kurang itu bilang.. jangan asal bicara..!!"


Lintar terkejut mendengar nada tinggi Bang Jenar. Tapi memang Lintar sangat kesal karena suaminya terlambat cerita. Bang Jenar mendekat dan berdiri di hadapan Lintar.


"Abang hanya suka sambal kualitas premium. Bukan cabe tanpa pupuk yang meragukan begitu" bujuk Bang Jenar. "Lebih baik kita berdua sekarang ke SatIntel selesaikan semua. Kalau perutmu tambah besar dan masalah ini belum selesai, tidak enak juga dengan atasan"


...


"Lyta.. apa benar kamu dan Kapten Jenar mengajukan nikah ke markas pusat"


"Benar pak" kata Lyta yang seratus persen warga sipil yang bekerja lepas di kantor bagian agen penyelidikan.


"Bagaimana Kapten Jenar?" tanya Komandan.


"Tidak, saya tidak mengajukan nikah. Tidak ada tanda tangan atau persetujuan saya disana" tunjuk Bang Jenar pada setumpuk kertas di hadapan Komandan.


Komandan membolak balik kertas itu dan meneliti satu persatu map berisi surat pengajuan nikah.


"Ada... Ini tanda tanganmu semua khan Kapten Jenar?" Komandan melempar berkas itu di hadapan Bang Jenar.


Suami Lintar itu mengambil berkas dengan ragu pasalnya ia tidak pernah sama sekali menanda tangani surat yang berkaitan dengan pernikahan dan selalu membaca apapun berkas yang akan ia tanda tangani. Bang Jenar melihat satu persatu tiap lembaran kertas dengan teliti.


Lintar duduk bersandar di sofa ruang Komandan sambil mencomot beberapa permen di dalam toples dan Komandan mengesampingkan aturan etika kesopanan dalam dinas karena wajah Lintar sudah nampak dingin dan lagi tidak baik memperkeruh suasana hati bumil.


Lyta dengan wajah penuh kemenangan melihat wajah Lintar yang dingin itu. Ia merasa dunia akan berpihak dengan nya saat ini.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2