
Sikap Fia : Masih mengambang karena kepolosan, ia masih menyimpan perasaan untuk Bang Zeni. Fia takut Bang Zeni akan marah jika tau dirinya berselingkuh dengan pria lain yaitu Bang Rakit sedangkan di sisi lain, ia sudah menyimpan perasaan tersendiri untuk pria kaku tersebut dan tanpa sadar sikap polosnya untuk menjaga diri malah terus menyakiti hati Bang Rakit.
🌹🌹🌹
Bang Rakit bergabung dengan anggota dalam kegiatan menembak rutin di lapangan tembak kompinya.
Dengan brutal Bang Rakit menembaki papan sasaran di hadapannya meskipun semua tepat sasaran tampak meleset satu pun. Pikirannya kacau, hatinya tidak tenang hingga ia membidikan peluru pada sebuah nangka berukuran sedang.
Buuugghh..
"Awwwwh.." pekik seseorang.
Bang Rakit melongok melihatnya. Terlihat Bang Cemar meringis memegangi kepalanya. Bang Rakit pun berlari karena ternyata kepala Bang Cemar tertimpa buah nangka.
"Pot.. nggak apa-apa??" Tanya Bang Rakit.
"Hooee Danki edan. Ini mau percobaan pembunuhan atau bagaimana??" Jawa Bang Cemar.
"Asal omong aja. Yang punya niat mau membunuh itu kamu. Untung saya ini baik. Nggak laporkan kamu ke POM karena sudah meracuni Danki pakai tuba."
"Haiiissshh nggak peduli. Kamu sudah buat saya gegar otak sampai sulit bicara..!!" Gerutu Bang Cemar.
Bang Rakit pun terpancing kesal lalu mengangkat pistol dan membidik nya. Sekali lagi ia mengarahkan pada sebuah nangka yang berukuran lebih besar dan masih menggantung.
Dooorr..
Buuugghh..
Nangka itu jatuh tepat di pundak Bang Cemar.
"Astagaaa.. Dasar Danki gilaaaa..!!" Teriak Bang Cemar.
"Alhamdulillah kamu sudah bisa bicara" kata Bang Rakit kemudian meninggalkan tempat.
:
Siang hari Bang Cemar menemani Bang Rakit yang lebih memilih duduk menyendiri sambil menyeruput kopi hitam panas padahal udara teramat sangat terik.
"Aturan kalau siang begini tuh minumnya es teh, bukan kopi panas. Tangki lagi panas kang??" Tegur Bang Rakit yang kini menghisap rokoknya.
"Bukan panas lagi. Sudah penuh, luber. Mesin nya sudah drop" jawab Bang Rakit.
"Pantas aja lu oleng banget, emosian, nggak konsentrasi. Ternyata belum uji kelayakan"
Bang Rakit tersenyum kecut.
"Sumpah lu????? Ini dari awal nikah apa selama lu disini??" Tanya Bang Cemar.
Bang Rakit kembali tersenyum namun kini terlihat sangat pahit.
__ADS_1
"Owalah pot. Makanya emosimu kok seperti itu, ternyata lu masih simpan barang panas. Kuat mental juga ya lu??" Kata Bang Cemar ikut merasa prihatin.
"Nggak kuat lah pot, kadang pengen ku terjang juga. Ya tapi masa aku harus paksa Fia, nyakitin fisik dan mental istri donk. Aku nggak tega lihat Fia nangis, hatiku nyeri sediri. Kamu tau khan ucapan 'pergaulilah istri dengan cara yang patut', apa gunanya ilmu adab yang kita punya kalau kita masih kasar. Istri bukan tempat pelampiasan nafsu semata. Kita pun harus membuat mereka tenang dan sejalan dengan kepuasan kita"
Bang Cemar bertepuk tangan. "Gue contek kata-kata lu untuk jam komandan besok" ucap Papanya si Petir Langit dengan bangganya.
...
Mata Fia menatap layar televisi menemani Arsene melihat kartun favoritnya tapi pikirannya melayang membayangkan wajah Bang Rakit. Terbayang saat Bang Rakit membelainya dengan mesra hingga mendekap erat tubuhnya. Fia pun sempat merasakan jantannya seorang Kapten Rakit meskipun hanya dua tusuk saja.
Ya ampun.. kenapa aku jadi terbayang Abang seperti ini. Pikiranku jadi ngelantur. Aku jadi penasaran sama Abang.
//
Menjelang malam kegiatan mulai landai. Bang Cemar sudah kembali ke kompinya sendiri yang berada sekitar kurang lebih empat puluh lima menit dari kompi Bang Rakit.
Bang Rakit menenteng seragam luarnya yang basah terkena keringat. Hatinya kembali berantakan mengingat kegagalan perangnya bersama Fia akibat komandan kecil yang tiba-tiba saja sidak saat dirinya akan patroli subuh.
Entah sadar atau tidak, tiba-tiba tangannya mengirim pesan singkat dari sepatah kata yang menggambarkan isi hatinya untuk sang istri.
📨 R : Bintang terang berkedip mesra, melihat kurindu wajah cantikmu.
📨 F : Ku berharap engkaulah, jawaban segala risau hatiku.
Bang Rakit melihat layar ponselnya. Tak menyangka Fia akan membalas pesan singkat darinya. Senyumnya menghias garis wajah maskulinnya.
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan dirimu
Bang Rakit mematikan layar ponselnya tapi dering pesan singkat itu berbunyi lagi dan Bang Rakit membukanya.
Seketika matanya melotot. "Astagfirullah hal adzim..!!" Fia mengirim foto s**r dirinya yang membuat jantung Bang Rakit nyaris berhenti berdetak. "Kenapa nggak begini dari kemarin sih Neng, kepala Abang rasanya sudah mau pecah mikir kamu" gerutunya kemudian berlari pulang melupakan motor yang tadi ia bawa.
:
Fia membuka pintu rumah saat mendengar suara langkah kaki Bang Rakit yang sudah begitu familiar di telinga.
Seketika Bang Rakit memeluk Fia erat dan sangat erat.
"Maafin Fia ya Bang, Fia bukan istri yang baik"
"Abang maafkan. Abang juga minta maaf selalu membuatmu menangis..!!" Bang Rakit menciumi wajah Fia berulang kali. "Sungguh kamu sudah ikhlas membuka hatimu untuk Abang?"
Fia mengangguk meskipun dalam hatinya masih ada sedikit ketidak pastian. Namun yang harus ia sadari saat ini.. dirinya sudah bersuami dan tidak pantas seorang istri menyimpan perasaan untuk pria lain apapun alasannya.
"Terima kasih, terima kasih banyak dek..!!" Sungguh bahagia hati Bang Rakit sampai air matanya menetes dan Fia pun ikut menangis melihat sikap Bang Rakit padanya. Bang Rakit menghapus air matanya. "Mana jagoan Abang?" Bang Rakit mencari putranya.
__ADS_1
"Main sama Om Wahyu dan Om Alvin" jawab Fia.
Kening Bang Rakit berkerut. "Tumben sore begini di ajak main??"
"Nggak tau Bang"
Tanpa basa basi Bang Rakit menggendong Fia masuk ke dalam rumah lalu menendang pintu ruang tamu dengan kaki.
"Abaaang.. Fia takut..!!!" Pekik Fia karena tubuhnya terangkat tiba-tiba.
"Amaann.. kamu itu nggak terasa. Masih berat ransel Abang" kata Bang Rakit.
"Ini mau Maghrib Bang..!!" Fia masih terpekik ketakutan.
"Memangnya kita mau apa?? Ibadah lah" jawab Bang Rakit lebih tenang.
Fia mengangguk.
:
Bang Rakit mengusap wajahnya mengakhiri sholat sembari membaca do'a penutup. Seperti biasa Fia meraih tangan Bang Rakit lalu mencium punggung tangan suaminya. Kali ini Bang Rakit membaca do'a lalu meniup dan mengecup kening Fia.
Meskipun sedikit gugup namun tangan itu tegas menyentuh dada Fia.
"Assalamualaikum.. wahai kecantikan seribu bidadari" sapa Bang Rakit memerahkan pipi Fia.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Fia tak bisa berkata berpanjang lebar. Wanita mana tak luluh mendapat pujian lembut dari seorang pria.
"Jika Tuhan berkehendak.. Abang ingin malam ini memberimu tanda sayang" ucap lembut Bang Rakit.
Fia tersenyum mengangguk.
Bang Rakit bangkit kemudian mengunci pintu kamar dengan rapat. Ia pun perlahan mengangkat Fia naik ke atas ranjang.
"Kalau Arsene tiba-tiba pulang bagaimana Bang?" Tanya Fia.
Hati-hati Bang Rakit merebahkan tubuh Fia. "Alvin kirim pesan. Mau ajak Arsene ngaji di masjid. Lumayan lah biar sebentar juga.. papanya ini pengen nyolek mamanya sebentar. Sudah ngebul ini selang bensin"
Kedua mata itu saling menatap.
"Biarkan Abang membahagiakan kamu..!!" Ucapnya kemudian perlahan beralih posisi menu****ngi istri cantiknya.
.
.
.
.
__ADS_1