Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
33. Suami Nafia.


__ADS_3

"Ada apa ini?? Kamu memaksa istri Mayor malam begini??? Saya laporkan kamu ke bagian POM baru tau rasa kamu ya..!!" Bentak Bu Najib.


"Maaf ibu, ini perintah"


"Perintah siapa?? Tanya Mayor Najib.


"Danki Saya. Lettu Zeni Elgash..!!"


"Apa sih Danki ingusan itu. Buat kacau saja..!!" Gerutu Mayor Najib.


//


"Saya nggak mau di rawaat...!!!" Bang Zeni menolak tindakan dokter padahal Bang Zeni sendiri sudah dalam keadaan di bawah standart normal.


"Bang, di pasang infus ya..!! Abang sudah nggak kuat" bujuk Bang Felix.


"Sebelum saya bertatap muka dengan Najib.. jangan coba sentuh saya..!!!!!" Ucap tegas Bang Zeni.


Tak lama Mayor Najib datang bersama istri di belakang punggungnya.


"Ada apa kamu memanggil saya, junior tidak tau aturan. Beraninya memerintah senior..!!!!!" Tegur Mayor Najib.


buuugghh..


Bang Zeni melayangkan tendangan tepat di perut gendut Mayor Najib.


"Hwaaaaa.. tolong.. Om Zeni memukuli suami saya..!!!" Teriak Bu Najib.


Tak ada satupun anggota kompi dan Batalyon yang menolong Mayor Najib. Hanya bagian POM saja yang membantu Mayor Najib hanya sekedar untuk berdiri.


"Dimana Mayor Budi????" Tanya Mayor Najib.


buuugghh.. baagghhhh.. buuugghh..


Tak peduli apapun lagi, Bang Zeni terus menghantam Mayor Najib tanpa ampun hingga Mayor Najib terkapar. Mata Bang Zeni mengarah pada Ibu Najib. Mata tajam menusuk membuat Bu Najib ketakutan dan semakin melangkah mundur, langkah itu terhenti karena terhadang tembok. "Dalam hidup saya.. hanya ada dua perempuan tidak waras yang pernah saya temui. Mantan saya.. dan kamu. Saya sudah kehilangan anak gara-gara kamu. Fia istri saya pendarahan dan sekarang harus menjalani perawatan intensif. Dengan apa kamu akan mengganti nya????"


Bu Najib gemetar apalagi saat mata itu terus menatapnya dengan penuh amarah.


"Apa salah istri saya???"


Pertanyaan Bang Zeni yang hampir tidak bisa di jawab Bu Najib yang terhormat.


"Kau terlalu meremehkan pangkat seorang Lettu. Lalu apa gunanya kamu sebagai istri seorang Mayor??? Apa prestasimu?? Itukah guna gelar dan jabatanmu???? Perempuan sinting..!!!!!!!" Bentak Bang Zeni.


"Zen, jangan sakiti istri saya.. limpahkan semua sama saya, saya yang salah..!!" Kata Mayor Najib membela istrinya.

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu limpahkan kebencianmu sama saya??? Kenapa malah kamu menyiksa batin dan mental istri saya sampai seperti itu??????? Apa istri saya mengganggu hidupmu??? Tua bangka sialan..!!!!!!!!"


Bu Najib sangat ketakutan sampai berlutut menyentuh kaki Bang Zeni. "Saya minta maaf Om Zeni."


"Apa permintaan maaf mu bisa mengembalikan keadaan seperti semula??? Apa anak saya bisa kembali lagi?????????" Bang Zeni sungguh tidak bisa menerima keadaan ini. Dirinya yang di tuntut untuk kuat padahal batinnya sendiri tidak kuat.


"Terus saya harus bagaimana? Saya sudah minta maaf..!!" Kata Bu Najib.


Mendengar kata itu, hati Bang Zeni semakin kesal saja. Ingin sekali mengingat bahwa istri Najib adalah seorang perempuan tapi kelakuannya tidak bisa ia toleransi sama sekali.


"Saya akan bayar biaya rumah sakit Fia." Ucapnya jauh dari rasa bersalah.


Tangan Bang Zeni terangkat tinggi. Amarahnya memuncak tak bisa di bendung lagi. Sejatinya tamparan keras itu melayang jika saja Bang Cemar tidak memeluk sahabatnya itu. "Istighfar Zen.. saya tau kamu begitu terpukul dan kehilangan. Ayo bangkit..!! Kamu pasti kuat. Dukung Fia.. hibur dia..!! Terkadang kita harus sedikit mengalah demi rumah tangga kita. Kamu terluka.. tapi Fia lebih merana. Sabar.. ikhlaskan..!!"


"Anakku Mar..!! Fia pun nggak sadar.. aku nggak sanggup menghadapi reaksi Fia"


"Kamu pasti bisa, ayo semangat..!!" Kata Bang Cemar menyemangati sahabatnya.


"Bang.. Tolong buat BAP Bu Najib dan Mayor Najib. Kami harap tidak ada lagi hal seperti ini. Mau kamu junior sekalipun.. jika senior salah.. tetap harus di proses. Masukan dulu kasus penggelapan dana. Kalau kasus ini tidak di proses.. akan saya naikan ke atas. Hukum rimba berlaku..!!!" Perintah Bang Cemar pada DanPOM yang pangkatnya jelas jauh lebih tinggi.


"Saya paham Bar..!! Saya sendiri yang akan turun tangan..!!" Jawab DanPOM.


"Sudah ya Zen. Semoga kamu bisa menerima nya meskipun hatimu tidak puas..!!" Bujuk Bang Cemar. Tak lama Bang Zeni kembali pada kondisinya seperti tadi, drop dan tidak memiliki tenaga.


Baik-baik disana ya nak. Bantu Papa dan Mama biar selalu kuat. Papa selalu sayang kamu nak meskipun kamu tidak lagi bisa Papa peluk.


"Ijin Dan.. apa Letnan Zeni perlu dirawat? Sejak tadi beliau menolak" tanya seorang perawat pria di rumah sakit tentara itu.


"Rawat saja, kalau dia membangkang itu urusan saya. Terkena serempetan peluru bukan hal main-main. Kalau saja dia tidak pakai rompi anti peluru, jelas pangkatnya sudah jadi Kapten anumerta" jawab Bang Cemar.


"Siaapp..!!"


...


Menjelang subuh Bang Zeni mulai tersadar, ia melihat punggung tangannya sudah tertancap jarum infus dan pasti ini adalah ulah Cemar sahabatnya untuk mengijinkan perawatan atas dirinya.


"Sadar juga lu, enak tidurnya?" Sapa Bang Cemar.


"Bagaimana Fia?" Tanya Bang Zeni.


"Belum sadar dan masih dalam perawatan intensif." Jawab jujur Bang Cemar. Percuma saja jika dirinya berniat membohongi sahabatnya itu, pasti nanti jika dirinya tau kenyataan yang sebenarnya.. pasti Zeni sahabatnya itu akan kembali mengamuk.


"Aku mau lihat kondisi Fia..!!" Bang Zeni mencoba bangkit tapi tubuhnya tidak sejalan dengan inginnya. Tubuhnya kembali terbanting di ranjang. "Astagfirullah.. sakit semua badanku, luka ku juga sakit sekali Maarr..!!"


"Tekanan darahmu tinggi Zen. Beban pikiran mu juga mempengaruhi jantungmu..!!"

__ADS_1


Di satu sudut.. Bang Zeni melihat Wahyu berdiri di dekat pintu.


"Kesini kamu..!!" Perintah Bang Zeni.


"Siap..!!"


"Loyalitas mu pada atasanmu masih mengambang Wahyu..!! Katakan terus terang atau kamu ikut saya perkarakan..!!" Tatap mata itu berusaha tegar menekan perasaannya yang terguncang.


"Si_ap Danki..!!"


"Katakan Wahyu..!!" Ucap Bang Zeni sekali lagi.


Om Wahyu menekuk kedua kakinya dan berlutut di hadapan Bang Zeni. "Saya siap di bui..!!"


"Apa maksudmu??"


"Saya sudah tau Bu Najib memperlakukan Ibu dengan tidak manusiawi, tentang penghinaan itu, kesulitan ibu menyiapkan konsumsi, juga penggelapan dana. Demi Allah saat itu saya sudah menghadap Bu Najib tapi ternyata.. beliau tau rahasia saya" jawab Om Wahyu.


"Rahasia apa?????" Tanya Bang Cemar karena Bang Zeni sudah kembali pada mode naik darah.


"Pacar saya hamil, saya butuh uang dan.. Bu Najib menyokong dana untuk saya agar bisa menggugurkan kandungan pacar saya. Saat itu saya belum siap punya anak Dan."


"Wahyuuuuuu.. kamu memang benar-benar pantas mati..!!!!!!!!!" Bang Zeni melepas paksa jarum infus di tangannya.


Bang Zeni menghajar Wahyu tanpa penghitungan. Babak belur hingga bibirnya sobek.


"Saya sangat menyesal Dan..!! Saya tidak jadi memintanya menggugurkan kandungan karena ucap ibu Fia." Om Wahyu sampai menangis mengatakannya. "Ini uang dari Bu Najib masih ada. Saya tidak akan menggunakannya."


"Demi Allah sakit hati sekali saya melihat kelakuanmu Wahyu. Saya selalu katakan.. tidak hanya untuk kamu, tapi pada seluruh anggota saya. Kalau imanmu tidak sanggup berhadapan dengan wanita, mundur..!! Jangan lanjutkan dan alihkan perhatian mu. Karena sekali kamu menyentuh perempuan.. kamu tidak akan bisa lupa rasanya. Maka dari itu, menikah bagi yang mampu adalah jalan terakhir mengatasi hasratmu yang tidak terkendali. Kalau sudah begini.. apa yang kamu dapatkan???? Penyesalan, rasa bersalah, mati harga diri. Tidak hanya kamu yang sakit.. saya pun ikut sakit Wahyu..!!!!!!" Tegur keras Bang Zeni pada ajudannya.


"Siap salah Komandan..!!"


Bang Zeni bersandar pada dinding kamar, ia menarik nafas dalam-dalam.. mencoba kuat menghadapi masalah demi masalah. "Kamu terima sanksi dari saya..!!"


"Siap laksanakan"


tok..tok..tok..


"Permisi Pak Zeni. Ibu baru saja sadar..!!" Laporan seorang perawat.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2