
"Sabar Bang..!!" Bang Felix menenangkan Bang Zeni.
Tak lama seorang dokter datang. Dokter senior seumuran Papanya. Dokter Alam. Dokter tersebut merangkul lengan Bang Zeni. "Jadi suami harus banyak sabar..!!" Dokter Alam membantu melepas cengkeraman tangan Bang Zeni dari kerah seragam Om Wahyu.
"Istri saya bagaimana Dan??"
"Ayo ikut saya dulu..!!"
~
Kedua tangan Bang Zeni meremas sisi sprei yang Fia tiduri. Istrinya itu belum sadar juga.
"Fia keguguran, jadi kami harus segera melakukan tindakan kuretase" kata dokter.
"Apa tidak bisa di selamatkan dok?? Ini anak pertama kami. Saya takut Fia syok kehilangan calon bayinya" sesak dada Bang Zeni memikirkan reaksi Fia nanti.
"Jika tidak di lakukan tindakan.. akan sangat berbahaya bagi kesehatan Fia."
Tekanan batin Bang Zeni pun tak kalah besarnya. Mentalnya di hajar habis-habisan. Tak ada pilihan yang benar-benar bisa di ambil. "Baiklah dok.. silakan lakukan..!!"
Dokter Alam menyodorkan selembar kertas. Bang Zeni masih menatap kertas tersebut kemudian matanya terpejam. "Bolehkah saya menemani istri saya dalam tindakan?" Tanya Bang Zeni.
"Maaf Zen.. sesuai prosedur kamu tidak boleh ikut, lagipula kamu terluka.. kamu juga butuh perawatan untuk lukamu. Darahmu sudah memenuhi pakaianmu..!!"
Bang Zeni sungguh hancur. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Tangannya dingin dan gemetar.
Abang minta maaf dek. Bukan Abang tidak menyayangi anak kita, tapi Abang lakukan ini juga demi kamu.
Dengan menguatkan hatinya yang kini benar-benar terluka, Bang Zeni menggoreskan pena.
:
Bang Zeni hanya terdiam saat perawat pria menjahit luka di dadanya. Wajah itu begitu pucat dan penuh banyak tekanan. Matanya memerah menahan tangis. Untung saja peluru tersebut masih tersangkut di rompi anti peluru.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi???" Ucap Bang Zeni tanpa melihat wajah Om Wahyu.
Om Wahyu melihat Dankinya masih dalam kondisi tidak stabil dan Bang Cemar pun sudah berada disana.
"Mohon ijin Dan. Sebelumnya saya tidak memahami apa yang terjadi. Yang saya tau setiap hari Ibu mengurung diri dalam ruang kerjanya sendirian dan setau saya kemarin malam malah pulang lepas jam dua belas." Jawab Bang Cemar.
__ADS_1
"Apa kamu tidak menyampaikan makan siang dari saya?" Tanya Bang Zeni.
"Siap.. sudah.. tapi beliau mengatakan bahwa beliau sudah makan"
Terdengar suara langkah kaki dengan cepat dan diikuti seseorang di belakangnya. "Ijin Bapak, saya tau apa yang terjadi pada Ibu..!!"
Bang Zeni menoleh dan melihat Bu Jefri berjalan ke arahnya.
"Bu Jefrii..!!"
"Benar pak, saya merasa bersalah dan akan semakin merasa bersalah jika tidak mengatakan hal ini..!!"
"Heehh.. ibu jangan ikut campur..!!" Bentak Mayor Budi.
"Diam kau Bang..!!" Bentak Bang Zeni tak sabar lagi. "Katakan Bu..!!" Ucapnya pada Bu Jefri.
"Baik Pak, awalnya adalah tentang uang snack kompi yang di minta Ibu Najib. Ibu Najib meminta uang konsumsi dari kompi karena mengatakan bahwa konsumsi team volly adalah urusan Batalyon.. jadi ibu Fia harus setor. Karena merasa ada yang janggal, ibu berinisiatif mengeluarkan uang pribadi untuk konsumsi team dan konsumsi lapangan untuk suporter."
"Ya ampun.. kenapa Fia nggak pernah bilang?"
"Masih ada lagi Pak, Bu Najib menumpuk tugas yang bukan tugasnya lalu meminta ibu memanipulasi keuangan batalyon terutama yang ibu Najib pegang bagaimanapun caranya. Pengerjaan itu menggunakan laptop dan ibu tidak tidur sama sekali" lapor Bu Jefri.
"Ibu jangan fitnah ya..!!!!" Bentak Mayor Budi.
"Saya tidak fitnah karena saya punya bukti nya..!!" Teriak kesal Bu Jefri. "Dengarkan ini..!!!!!!" Bu Jefri mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah rekaman.
⏺️ : Sudahlah Bu, jangan di ambil hati. Inilah lingkungan kita yang kental dengan senioritas. Saya harap di kompi saya tidak ada yang namanya genk-genk an. Saling mencela dan merasa paling unggul. Kita ini hidup merantau Bu. Jadi tetangga juga merupakan saudara kita meskipun tidak sedarah tapi kita ini satu tujuan untuk mendampingi suami agar jiwanya aman dan tentram menjalankan tugas.
⏺️ : Saya bahagia ikut Abang bisa sampai disini. Mudah-mudahan keberadaan saya disini tidak hanya menjadi beban bagi ibu-ibu terutama bagi suami saya. Saya takut hanya bisa mempermalukan beliau.. pria baik yang sudah mengangkat harkat dan martabat saya sebagai seorang wanita karena saya menyadari, saya ini wanita bodoh Bu.
Bang Zeni bersandar lemas, hatinya serasa tak sanggup merasakan pedihnya hati Fia kemarin.
"Ibu-ibu pengurus di Batalyon rata-rata memusuhi Ibu Zeni. Saya juga punya buktinya karena saya ada disana dan Ibu meminta saya untuk diam. Kau jangan ikut-ikutan ya Pak Budi kalau tidak ingin ikut terseret masalah..!!" Bu Jefri memutar kembali rekaman suaranya.
⏺️ BN : Kamu tuduh suami saya apa?? Penggelapan dana?? Suami saya itu nggak level makan uang recehan. Anak kemarin sore saja bertingkah. Eehh bocah ingusan.. kalau kamu nggak di nikahi Om Zeni, kamu pasti masih mengemis di jalanan, minta balas kasihan orang atau mungkin tetap lanjut sebagai pemandu karaoke.
⏺️ BN : Kenapa?? Kamu kaget saya tau tentang masa lalu kamu???
⏺️ F : Siap.. tidak mbak
__ADS_1
⏺️ BN : Panggil saya ibu Najib. Saya jijik punya rekan kerja seperti kamu. Anak kampung, nggak punya orang tua, bodohnya nggak ketulungan.
⏺️ F :Siap Ibu. Mohon ijin siap salah.
⏺️ BN : Dengar ya kalian. Kalian harus tegas dengan anak ingusan ini. Kecil-kecil sudah dapat gelar ibu Danki. Dia ini hanya bisa membuat kita malu saja. Uang makan saja dia ambil. Memang begitu lah kalau jadi manusia nggak pernah pegang uang gede.. kaget, bawaannya pengen nyolong.
⏺️ F : Siap.. saya mohon maaf ibu.
"Hhhgggh..!!" Seketika dada Bang Zeni bagai terhantam kuat. Ia meremas dadanya apalagi nyeri pada bagian yang tergores peluru begitu terasa sakitnya. Hinaan pada Fia sudah jelas sangat menyakiti perasaan nya. "Ada Istri anggota Batalyon sudah berani menghina istri seorang Danki??? Dia berani menginjak kepalaku..!! Bawa kesini istri Najib sekarang juga. Saya tidak peduli bagaimana caramu menyeretnya. Saya yang akan tanggung jawab..!!" Perintah Bang Zeni tanpa perhitungan. Emosi jiwanya sudah meledak tak tentu arah. Beberapa anggota pun segera berangkat.
"Siaapp..!!"
"Kamu tidak boleh gegabah mengambil keputusan..!!!!!" Cegah Mayor Budi.
"Saya perintahkan kalian amankan dia sampai urusan saya dengan Najib selesai..!!!!!!!!!!" Bentak Bang Zeni. Bang Zeni pun setengah tersungkur. "Seret dia menjauh dari pandangan saya..!!!!!"
"Bang.. luka Abang masih basah..!!" Kata Bang Felix mengingatkan.
Bang Zeni menggigit bibirnya dengan kuat seakan mengatur kewarasan dari respon tercepat dirinya. "Dan kamu Wahyu, apa penyebab utama Fia keguguran..!!" Mata Bang Zeni sudah nanar menatap wajah Wahyu ajudan setianya.
"Siap salah Danki.. saya dan ibu..... Terlibat tuduhan tindak a****la."
Kini Bang Zeni tak sanggup lagi menahan sakitnya perasaan. Batinnya remuk redam hancur lebur berantakan. Pikirannya berputar-putar, ada rasa cemburu begitu hebat. "Apa kamu mengkhianati kepercayaan saya??"
"Jika saya memang berbuat hal yang dituduhkan kepada saya itu, saya siap menggantinya dengan nyawa saya Dan..!!"
Tak lama beberapa orang tenaga medis masuk ke ruang tindakan Fia dengan terburu-buru.
"Ada apa dok??" Tanya Pak Jefri yang ikut disana mendampingi istrinya.
"Ibu Fia dalam keadaan kritis, kehilangan banyak darah..!!"
"Pak.. Pak Zeniiii..!!!!!!!" Pak Jefri memegangi lengan Bang Zeni yang tiba-tiba ambruk lemas tak bertenaga.
.
.
.
__ADS_1
.