
Bang Cemar sengaja berlama-lama di rumah Bang Rakit padahal ia tau wajah Bang Rakit benar-benar menyimpan rasa geram padanya.
"Sekalian kopi deh Fi..!!" Pinta Bang Cemar sambil membuka plester kain.
"Iya Bang, sebentar ya..!!" Kata Fia.
"Terima kasih banyak cantiikk...!!"
"B******n.. kau ini. Fia mau istirahat, jangan ganggu dia..!!" Tolak Bang Rakit sambil merampas plester di tangan Bang Cemar lalu memasang plester di tengkuk Bang Cemar. Entah bagaimana ceritanya kail bisa sampai tersangkut di tengkuk lehernya.
"Fia saja tidak menolak. Tamu itu berkah. Kau mau menolak tamu??" Kata Bang Cemar.
Bang Rakit tak bisa menjawab apapun. Pikirannya semrawut dalam kejengkelan.
"Kamu ini nggak capek ya jadi batu. Kaku amat lu tong..!!" Ledek Bang Cemar melihat sahabatnya itu. Bang Cemar mengambil toples berisi camilan kripik sayur milik Arsene.
"Itu makanan Arsene. Kurang serat lu bro??" Kejengkelan Bang Rakit semakin menjadi.
"Gue masih masa pertumbuhan otak." Jawab Bang Cemar.
"Oohh pantas otakmu mlengseng, pintar Arsene daripada lu"
"Hahahaha.. terima kasih pujiannya." Ucap Bang Cemar sok manis.
Tak lama Fia datang membawa dua cangkir kopi hitam. "Mbak Gina dimana Bang?"
"Makasih Fiaa.." ucapnya sangat lembut, wajah Bang Rakit semakin tak bersahabat. "Gina lagi tidur di mess. Besok pagi kita balik Fi. Gina lagi mabuk-mabuknya. Lagi hamil muda" jawab Bang Cemar kemudian.
"Pantas kemarin kulihat wajahnya pucat. Ternyata Gina hamil" gumam Bang Rakit.
"Tadinya Gina nggak mau hamil dulu. Si boss masih kecil. Kami pun sepakat menundanya. Tapi Allah berkata lain. Ku simpan p*l k*********i milik Gina. Akhirnya kami pasrah dengan ketentuan Tuhan" jawab Bang Cemar jauh dari rasa dosa dan penyesalan.
"Aduuhh.. kepala ku sakit" Bang Rakit memijat pangkal hidungnya. "Heeh kutu kupret. Itu bukan ketentuan Tuhan yang berkata lain, tapi lu memang sengaja"
"Aku nggak sengaja. Tiba-tiba calon adiknya Petir nongol aja." Jawab Bang Cemar meyakinkan.
"Semoga anakmu selanjutnya bukan gledek" ucap geram Bang Rakit.
Fia hanya menunduk tertawa terkikik mendengar perdebatan kedua sahabat itu.
***
Malam hari Fia sudah tidur memeluk Arsene. Bang Rakit menyelimuti keduanya lalu duduk di atas ranjang.
Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Sesekali matanya melihat sang istri tidur masih menggunakan jilbab lengkap.
__ADS_1
Kalau tidak untuk Abang.. lalu untuk siapa kamu berikan dirimu? Apa jilbab itu untuk mengusir Abang secara halus? Salahkah Abang menginginkan kamu? Atau Abang memang kurang sabar?.
Bang Rakit memilih keluar kamar dan tidur di sofa.
...
Subuh tiba. Fia bangun untuk sholat subuh dan melihat Bang Rakit melipat kedua tangan tidur di atas sofa meringkuk kedinginan.
Jadi semalam Abang tidur di luar? Pasti dingin sekali?.
"Bang.. sholat dulu.. sudah subuh" pelan-pelan Fia membangunkan Bang Rakit.
Tak lama Bang Rakit mengerjab dan melihat jam tangan yang sudah menunjukan pukul setengah lima pagi. "Kamu sudah sholat?" Tanya Bang Rakit.
"Belum Bang"
"Kamu mandi dulu, nanti kita sholat sama-sama..!!" Ajak Bang Rakit.
Fia mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi.
...
Fia menunduk mencium punggung tangan Bang Rakit usai sholat. Entah kenapa batinnya ingin menangis setiap melaksanakan hal yang berkaitan dengan Bang Zeni tapi ia harus menyadari bahwa kini dirinya sudah milik pria lain.
Hati Fia tersentak. Sungguh pertanyaan itu langsung mengena dalam perasaannya.
"Nggak Bang" jawab Fia dengan suara berat tertahan.
"Boleh Abang buka mukena mu?" Tanya Bang Rakit sudah menyentuh mukena Fia. Sekilas tangan Fia refleks hampir menolak tapi kemudian ia mengurungkan niatnya dan mengangguk mengiyakan.
Perlahan Bang Rakit membuka mukena Fia. "Subhanallah.." Jantung nya berdesir cepat menaik turunkan laju tekanan darahnya. Rambut coklat sembur pirang, kulit putih bersih, bulu mata lentik, hidung mancung, bibir pun pink menggoda. "Indahnya ciptaan Allah" ucap Bang Rakit untuk pertama kalinya memuji sang istri.
Fia tertunduk malu mendengarnya. Pipinya semakin bersemu merah saat Bang Rakit duduk bergeser dan mendekati wajahnya. "Apa boleh Abang menyentuhmu? Sudah semalaman Abang kedinginan. Apakah Abang harus memohon agar bisa memelukmu?" kecupan di sela leher Fia sungguh membuat sekujur tubuhnya merinding. Suara Bang Rakit begitu lembut. Tangan itu perlahan melingkari pinggangnya, menjalar hingga menyentuh dua benda kembar yang membuat Fia bereaksi kecil.
Fia gugup dan salah tingkah. "Fia minta maaf Bang..!!"
Bang Rakit tersenyum tipis lalu segera menggendongnya ke kamar sebelah agar tidak menggangu tidur si kecil Arsene.
Perlahan Bang Rakit merebahkan Fia di atas ranjang. Lalu dirinya pun ikut merebahkan diri di samping Fia. "Apa Abang sudah boleh nyemil?" Tanya Bang Rakit terlihat tidak sabar tapi jarinya dengan lembut memanjakan Fia.
"Makan juga boleh Bang" jawab Fia masih malu berduaan bersama Bang Rakit.
"Sungguh???" Bang Rakit memastikan sekali lagi karena takut jika dirinya hanya sekedar berhalusinasi sebab inginnya adalah sebuah perhatian khusus.
Fia mengangguk pelan. "Iya Mas Rakit" bisik Fia.
__ADS_1
"Aseeemm.. badan Abang panas dingin dek" ucapnya gemas. Kali ini Fia melihat dengan jelas senyum Bang Rakit yang begitu manis dan tampan. Tak menunggu waktu lama Bang Rakit menyambar bibir Fia.
Fia sungguh merasakan nafsu Bang Rakit yang sudah menggelora. Nafasnya sudah terengah tak beraturan, tubuh lelakinya sudah menegang kuat menindih dirinya.
Bang Rakit memberi jeda pada Fia agar istrinya itu bisa sedikit lebih rileks karena saat ini Fia begitu tegang. Bang Rakit pun tersenyum melihatnya. "Nggak usah tegang, biar Abang saja yang tegang" ucap nakal bang Rakit kemudian menurunkan pakaian Fia melebarkan paha istrinya itu sedangkan Bang Rakit cukup mengangkat sarungnya saja.
Bang Rakit sudah tak karuan melihat tiap jengkal tubuh Fia yang menyilaukan mata. Naluri tempurnya terusik. Ia menyambar selimut dan menutupi tubuh bawah mereka berdua.
Perlahan tapi pasti, Bang Rakit memejamkan mata sejenak.. berkonsentrasi penuh pada tugasnya membidik target. "Aaahh" de*ahnya pelan. Ia pun menekan tubuhnya, terlena menikmati sentuhan.
"Papaaaaaa..!!!!!!!" Teriak Arsene melihat Papa Rakit menyiksa sang Mama.
Thooookk..
Ujung sebuah pesawat kayu mainan milik Arsene menghantam pelipis Bang Rakit.
"Aduuuhh..!! Ccckk.. b*****t" umpatnya pelan. Bang Rakit merasakan rasa sakit disana sini. Perasaan campur aduk. Emosinya kembali teruji.
"Arseneee..!!!!!" Fia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Abang nggak apa-apa??" Tanya Fia pun tak kalah kagetnya.
"Nggak apa-apa. Tutup badanmu..!!" Bang Rakit pun menurunkan sarungnya sambil meringis merasakan sedikit luka di pelipisnya.
"Papa jahat sama Mama..!!!!!!" Teriak Arsene.
Bang Rakit segera turun dan menggendong Arsene agar Fia bisa membenahi diri.
~
"Benar Bang.. Papa tadi pijat Mama. Mama sakit. Papa sayang kok sama Mama." Kata Bang Rakit.
Wajah Arsene masih terlihat tidak percaya pada Papanya.
"Sini Ma.. Mama di sayang Papa dulu. Anaknya nggak percaya ini" Bang Rakit menghampiri Fia dan memeluknya dari belakang. Bang Rakit memejamkan mata kemudian menyandarkan keningnya pada puncak kepala Fia. Kepalanya terasa pening, perasaannya acak-acakan.
"Abang nggak apa-apa??" Bisik Fia.
"Hampir putus nyawa" jawab Bang Rakit singkat, padat dan jelas.
.
.
.
.
__ADS_1