Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
41. Rasa terbalas.


__ADS_3

"Ada apa?"


Bang Ervan melihat seniornya itu sedang membenahi letak kancing celana lorengnya dan kini ia mulai paham bahwa kehadirannya sangat menggangu waktu Abang senior. "Siap salah Abang.. hanya mengantar tas ransel Abang yang tertinggal."


"Kau ini.. jangan buat heboh lah Van..!!" Tegur Bang Zeni.


"Siap salah Bang"


"Masih kurve nggak nih, kalau sudah nggak ada kegiatan segera istirahat..!! Besok masih sibuk..!!" Arahan Bang Zeni.


"Siap laksanakan..!!"


***


Bang Zeni kembali ke rumah dan akhirnya ia harus kembali melihat Fia tidur dengan posisi menantang jiwa raga. Hari sudah lewat jam dua belas malam. Ia pun mematikan lampu kamarnya.


"Baang???" Fia terbangun karena lampu kamarnya telah padam. Apalagi ada tangan tak bermoral menggerayangi dirinya.


"Iya sayang."


"Kenapa mati lampu??" Tanya Fia.


"Biar aja mati lampu. Ada Abang. Kalau nggak di matikan ada hewan suka masuk" jawab Bang Zeni.


Fia mengangguk pasrah karena ia pun takut di suasana seperti itu ada binatang yang masuk.


"Dek.. tau nggak.. ini khan tempat baru. Kalau kita di tempat baru tuh harus ritual lho" kata Bang Zeni.


"Ritual apa ya Bang? Fia kok baru dengar?"


"Ritual penyelarasan unsur panas dan dingin. Disini masih banyak raja babi hutan" ucap Bang Zeni meyakinkan.


"Terus kita harus bagaimana Bang?" Bisik Fia kemudian memepetkan tubuhnya pada Bang Zeni, agaknya saat ini istri Zeni itu mulai terpengaruh dan takut.


"Fia nggak mau di terjang babi hutan Bang, ya sudah.. ayo kita ritual saja. Mana lilinnya??" Tanya Fia.


"Huusshh kamu ini. Kita bukannya mau ngepet, tapi mau ritual biar nggak di serang babi hutan" jawab Bang Zeni.


"Bagaimana caranya?" Bisik Fia.


"Nurut Abang ya Neng...!!"


-_-_-_-_-


Fia menutup mulutnya yang menguap lebar. Agaknya dirinya masih mengantuk usai melaksanakan pengusiran raja babi hutan.


"Masih ngantuk?" Tanya Bang Ervan.


"Masih Bang" jawab Fia singkat.


"Abang dimana?" Bang Ervan celingukan kerena tidak melihat Bang Zeni ada di sekitar dapur kompi dadakan.


"Abang tidur tuh di belakang box perlengkapan dinas" tunjuk Fia sembari memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


"Laahh.. kenapa tuh? Abang sakit???" Bang Ervan cemas kemudian menghampiri Bang Zeni yang tertidur pulas. "Bang.. Abang..!!!!"


Bang Zeni hanya menggeliat sebagai respon sadar karena mendengar suara orang membangunkan dirinya dari tidur lelap. Dilihatnya Letnan Ervan yang berdiri menatapnya dengan pandangan cemas. Ia pun melihat jam tangannya. "Walaaahh.. jam sebelas Van?????" Bang Zeni terlonjak kaget mengingat sang istri yang dalam ingatannya pasti belum sempat sarapan.


"Siap Bang. Abang cari apa?"


"Fia belum makan Van"


Fia pun menyahut. "Ini Fia Bang, sudah makan. Ini malah mau makan siang. Abang saja yang nggak bangun."


Fia memercing merasakan perutnya yang terasa tidak nyaman.


"Kenapa??" Bang Zeni menghampiri Fia.


"Nggak apa-apa"


"Benar????? Awas saja kalau kamu bohong sama Abang" ancam Bang Zeni


"Iya Bang, Fia nggak apa-apa" kata Fia tapi karena Bang Zeni sudah mengalami kegagalan yang pertama.. maka ia menjadi lebih waspada dalam menghadapi Fia.


"Masih nggak ngaku juga?" Tanya Bang Zeni sekali lagi.


"Iya Bang, perut Fia sakit" jawab Fia.


"Bagian mana??" Tanya Bang Zeni lagi.


"Perut bawah Bang"


Bang Zeni celingukan mencari tas kecilnya lalu ia menyambar tasnya usai menemukan nya. Tangan itu sigap mencari obat di dalam tas dan akhirnya menemukannya.


"Apa itu Bang?"


"Ini obat penguat untuk rahim mu" jawabnya tanpa peduli dengan yang lainnya.


Fia tak begitu jelas dengan fungsi obat tersebut tapi mendengar kata rahim, ia pun mengambil lalu segera menelannya.


"Air Yu..!!!"


"Om Wahyu segera mengambil air dan memberikan pada Bang Zeni lalu dengan cepat Bang Zeni memberikan pada Fia agar langsung meminumnya.


...


Siang itu para anggota makan seadanya kemudian melanjutkan kurve dan tidak di duga mereka mendapat tamu agung dari Batalyon.


"Ijin Bang, ada Bang Najib beserta ibu"


Selera makan Bang Zeni mendadak hilang. Fia pun gemetar ketakutan sampai tersedak.


"Ada apa mereka kesini??" Tanya Bang Zeni sambil mengangsurkan minum untuk Fia.


"Kata Bang Najib mau membayar biaya rumah sakit Fia dan meminta tuntutan Abang di cabut..!!" Jawab Bang Ervan.


"B******n.. berani sekali dia menampakkan wajahnya di hadapanku" Umpat kesal Bang Zeni mengingat kelakuan Mayor Najib yang membuat calon buah hatinya tidak sampai melihat indahnya dunia.

__ADS_1


Fia menggapai lengan Bang Zeni. "Bang.. jangan berurusan lagi sama Bu Najib..!!"


"Kamu tenang aja, biar Abang yang tangani" jawab Bang Zeni.


"Tolong Bang, jangan di ladeni..!!" Pinta Fia dengan getar suara yang jelas masih sangat ketakutan dengan kehadiran Mayor Najib di kompi nya yang baru.


Bang Zeni mengusap bibirnya dengan tissue lalu mengecup kening Fia. "Percayalah.. Abang sanggup menangani tikus sawah itu"


~


"Ada apa??"


"Saya mau bayar uang biaya perawatan Fia" kata Mayor Najib tanpa sungkan.


"Saya mampu membiayai istri saya sendiri. Lebih baik kau gunakan hartamu yang berlimpah itu untuk menyumpal mulut lebar istrimu yang seperti ikan manyung" tolak Bang Zeni.


"Heeeehh Letnan.. kau pikir istrimu yang anak-anak itu sangat cantik??" Teriak Bu Najib.


"Maaf saya sibuk, nggak sempat mengurus kuda Nil kerdil" jawab Bang Zeni.


"Apa kamu bilang???????" Begitu murkanya Bu Najib mendengar ucapan Bang Zeni. "Paaaa.. kamu kok nggak bela aku sih. Istrimu di hina nih..!!!"


"Maaa.. diamlah dulu. Kita kesini bukan mau cari ribut" tegur Mayor Najib pada istrinya.


"Papa mau ngemis sama dia. Apalagi sama istrinya yang bocah ingusan itu???" Ucap Bu Najib dengan sombongnya melirik Fia yang sudah berjalan menghampiri Bang Zeni.


"Maaaa..."


"Harga diri Paa.. harga diriiiiii"


Bang Zeni mengambil ponsel di sakunya lalu menghubungi seseorang.


"Bang.. jangan dengar kata mereka..!!" Bujuk Fia lembut mengusap dada bidang Bang Zeni.


"Lalu kata siapa yang harus Abang dengar?????" Kata Bang Zeni masih terbawa emosi.


"Dengarkan istri muda kesayangan mu ini donk..!!!" Suara Fia mendayu membuat jantung Bang Zeni berdesir tapi sesaat kemudian matanya melihat kabel yang bertengger di telinga Fia.


"Apa maumu sayang??" Tanya Bang Zeni di buat-buat karena sekarang ia tau siapa backing di balik tubuh Fia. Bang Zeni pun menyentuh sisi pinggang Fia dan mematikan alat tersebut.


Sontak saja Fia menitikan air mata. Tanpa bantuan di belakangnya.. ia takut mengungkapkan perasaan.


"Katakan..!! Apapun permintaan mu akan Abang kabulkan."


Fia menguatkan hatinya terlebih dahulu. "Naikan tuntutan itu, anak kita harus dapat keadilan Bang"


Bang Zeni pun lega mendengarnya. "Ervan.. hubungi DanPOM. Naikan kasus ini. Tanpa di tunda..!!!!!"


"Tidaaaaaaaakk..!!!!" Teriak Bu Najib.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2