Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
87. Bisa saja terjadi.


__ADS_3

"Kiiitt..!!" Sapa Bang Cemar.


"Rakiiiitt..!!!!!" Sapa Bang Cemar sekali lagi karena littingnya itu tak menyahut panggilan nya.


"Sa_bar.. masih urus Fi_a" jawab Bang Rakit terpenggal-penggal.


"Fia kenapa?" Tanya Bang Rudra.


"Masuk angin" kali ini nada suara Bang Rakit terdengar lebih berbeda. Ada desah tertahan yang Bang Cemar dan Bang Rudra paham arahnya.


"Ayo pergi..!!" Ajak Bang Rudra. "Mana ada orang kerokan tapi nggak pakai lampu, mau salah garuk" gumam Bang Rudra.


"Ehh Rakit.. kamu jangan buat alergi tongkol disini ya" ledek Bang Cemar.


:


"Sudah beres bini??" Tanya Bang Cemar masih tetap dengan nada ledekannya.


"Sudah aman.. ada apa?" Bang Rakit langsung duduk saat sudah kembali berkumpul bersama para rekan anggota di sekitar api unggun.


"Untuk penyambut Danyon yang baru, kita mau buat apa?" Wadanyon langsung menyambung karena hari sudah beranjak semakin malam.


Banyak ibu-ibu dan anak-anak yang sudah kembali ke tenda, hanya tersisa bapak-bapak yang masih berkumpul disana.


"Saya nggak ada ide Bang" jawab Bang Rudra.


"Apalagi aku. Besok aku nyanyi saja"


"Jangaaaaann..!!!!!!" Jawab para perwira serentak.


"Baiklah, saya paham kalian sangat iri dengan suara emas saya" ucap Bang Cemar dengan kesombongan tiada tara.


"Kita buat acara penyambutan malam hari saja. Dengan tema obor, bertujuan menerangkan bahwa hidup ini harus terus menyala, meskipun nantinya akan ada keredupan namun ada semangat yang jangan sampai padam. Bagi saya pribadi, obor juga adalah sebuah pimpinan, terang dan penuntun langkah. Jika pimpinan padam, maka anak buah akan salah arah" jawab Bang Rakit.


"Kamu benar Rakit, oke.. kita buat malam obor saja" kata Wadanyon setuju dan langsung suka dengan ide Bang Rakit. "Bagaimana Mar??" Sapa Wadanyon pada Bang Cemar yang sedang sibuk menghitung uang koin di sakunya.


"Siap, sebenarnya itu ide saya yang di curi Kapten Rakit" jawab Bang Cemar sambil memasukkan uang tersebut pada sakunya.


Wadanyon tak sanggup berkata-kata jika itu tentang Kapten Khobar. Meladeni ucapan Kapten Khobar sama saja dengan bom bunuh diri yang bisa mempermalukan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Banyak amat tong. Ngamen dimana?" Bang Rakit pun bisa meledek Kapten Khobar yang begitu menyebalkan.


"Narikin bocah-bocah yang dengerin lagu Thomas tadi" jawab Bang Cemar.


"Serius lu???" Tanya Bang Rudra tak percaya pendengaran nya.


"Iya, mereka bayar gue buat nyanyi sama atraksi gue jadi pahlawan pembela kebenaran" jawab Bang Cemar lagi.


Para perwira menyembunyikan wajahnya masing-masing, entah mereka harus senang atau sedih dengan tingkah perwira yang satu ini.


"Apa kalian mau jadi super hero juga??" Tanpa rasa bersalah Bang Cemar menawari rekan-rekannya.


"Terima kasih.. Assalamu'alaikum..!!" Para perwira lari tunggang langgang tak ingin menjadi tumbal Kapten Cemar.


"Wa'alaikumsalam.." jawab para perwira yang masih tersisa dengan terbahak-bahak.


***


Pagi hari tiba, burung bernyanyi bersahutan dengan nyaring karena mereka semua sedang berada di alam terbuka. Fia menggeliat, tubuhnya terasa remuk.


"Nggak nyaman ya tidurnya?" Sapa Bang Rakit yang ternyata memperhatikan Fia yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Yang penting hilang khan masuk anginnya??" Kata Bang Rakit.


"Iya Bang, Fia sudah sembuh. Nggak mual lagi" jawab Fia malu-malu.


"Ya sudah, ayo kita turun ke sungai. Mandi dulu baru sholat, keburu matahari tinggi" ajak Bang Rakit mengulurkan tangannya.


Fia mengangguk dan meraih tangan Bang Rakit.


:


Bang Rakit mengambil tempat menyendiri. Bukan karena hal lain, sifatnya yang posesif sangat tidak nyaman jika harus membiarkan Fia jauh darinya dan para ibu-ibu memaklumi kecemasan KasieIntel yang baru.


"Pelan-pelan dek.. duduk aja di batu, jangan jalan kesana-kemari. Arusnya deras meskipun dangkal" kata Bang Rakit mengingatnya.


Fia mengangguk. Arus sungai lumayan deras mengalir, pagi hari memang terkadang arus sungai meluap drastis hingga di atas lutut Bang Rakit yang pastinya lebih tinggi dari Fia. Baru saja kaki Fia melangkah, ia harus terseret hingga mengagetkan Bang Rakit yang baru saja akan melepas celana pendeknya.


"Dek.." tangan Bang Rakit berusaha menggapai Fia namun sayang arus begitu kuat membawa tubuh Fia.

__ADS_1


"Baang..!!" Fia terapung dan tenggelam mengikuti arus sungai.


Dengan cepat Bang Rakit berenang mengejar Fia.


~


"Kamu ini bagaimana??? Abang sudah bilang untuk duduk saja di batu, kenapa jalan kesana sini????" Suara Bang Rakit menggelegar, ia tidak peduli meskipun artinya Kapten Rakit harus mati-matian menahan mual karena Fia tidak bisa mendengar suara kencang dari Bang Rakit.


"Fia juga mau duduk Bang, tapi arusnya kencang datang menerjang" jawab Fia ketakutan.


"Alasan aja kamu ini..!!" Bentakan keras itu membuat Fia terisak.


Para anggota sangat kasihan dengan Ibu Rakit, tapi mereka juga memahami perasaan Pak Rakit yang pastinya sangat mencemaskan sang istri yang tengah mengandung.


"Pot, jangan ngamuk...!!" Kata Bang Cemar mengingatkan perlahan tapi Bang Rakit memang masih terbawa emosi.


Baru saja Bang Rakit berniat angkat suara, tiba-tiba kepalanya terasa berputar, dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. "Dadaku pot, sakit sekali..!!" Bang Rakit mengigit kuat bibirnya sampai akhirnya ambruk menimpa Bang Cemar dan Bang Rudra.


"Astagfirullah.. Kiiiiitt" Bang Rudra sampai ikut ambruk karena tertimpa tubuh Bang Rakit yang tinggi dan tegap tak berbeda jauh seperti dirinya. "Di kira badanmu ini imut-imut???"


"Apa kubilang. Jangan ngamuk..!! Kalau sudah begini yang repot gue juga Kit" cerocos Bang Cemar sok paling berjasa. "Alvin.. Wahyu.. angkat nih boss mu, teler dia"


"Siap..!!"


Om Wahyu dan Om Alvin segera membantu membawa KasieIntel ke tenda. Fia hanya mengikutinya saja sembari terisak.


"Alvin.. Wahyuu.. Kalian ingat-ingat ya. Besok kalau punya istri tuh harus lembut. Apalagi kalau sedang hamil begini. Lihat nih ya, sampai tangis Bu Rakit berhenti.. baru sadar tuh Kapten mu" kata Kapten Khobar mengingatkan.


"Siaaapp.."


Tiba-tiba Bang Rudra menepi. Tak ada angin.. tak ada hujan tiba-tiba litting Bang Cemar itu seperti menahan mual. Bang Cemar pun menghampiri dan membantu Bang Rudra.


"Kenapa lu? Masuk angin?? Atau Arin hamil juga?" Tanya Bang Cemar.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2