Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
46. Rasa kehilanganmu.


__ADS_3

Angin kencang menjatuhkan pigura pernikahan dirinya dan Bang Zeni usai dirinya mandi.


Tak lama Bu Danyon menghubungi nya agar sore ini dirinya berangkat ke kantor kompi.


Fia memunguti pecahan kaca kemudian membereskan dengan perasaan hati tak karuan.


...


Hingga kemudian Hari menjelang sore saat Fia memasuki area kompi. Beberapa anggota menaikan bendera setengah tiang di sana. Degub jantung itu tak beraturan adanya hingga beberapa truk dan mobil memasuki pelataran kompi.


Bu Jefri yang menemani Fia sejak tadi akhirnya menjadi tidak tega. Ia memeluk Fia. "Yang sabar ya ibu..!!" Ucapnya terisak.


"Apa suami saya gugur??"


Bu Jefri tak bisa menjawabnya dan hanya mengeratkan pelukannya.


Seorang pria bernama dada S. Rakit .P menghadap Fia dan memberi hormat.


Fia terus menatap mata Kapten Rakit yang memerah. "Apa itu jenazah suami saya?" Tanya Fia dengan suara bergetar.


Dengan menguatkan hati, suara yang tak kalah berat.. Bang Rakit menjawab. "Benar.. itu adalah jenazah Kapten Zeni.."


Badan Fia lunglai, kakinya sulit menapak, perutnya seperti tertekan kuat. Bang Rakit pun sigap mendekapnya. Fia masih terdiam antara percaya dan tidak. Perlahan bayangan di matanya menggelap. Tanpa sadar ia bersandar di bahu Bang Rakit.


"Inikah pesanmu untuk Fia Bang??" Ucapnya pelan.


Bang Rakit memeluk Fia semakin erat. Tak lama Bang Cemar dan Bang Fabian berlari menghampiri.


"Pot, gimana ini?" Tanya Bang Fabian.


Bang Rakit mengarahkan telunjuknya di depan bibir agar tidak banyak bersuara mengingat pastinya keadaan Fia saat ini sedang syok berat.


"Fiaa.. sabar ya ndhuk.. ada Abang disini" Bang Cemar sedikit mengusap lengan Fia. Bagaimana pun juga, ia tetap menghargai Fia sebagai istri sahabatnya.


"Ini bohong khan Bang?" Fia memberanikan diri menatap wajah Bang Cemar.


"Fia.. kita sangat menyayangi Zeni. Tapi Allah lebih menyayangi suamimu" jawab Bang Fabian. "Abang tau perasaanmu Fia. Ikhlaskan suamimu. Dia pria yang sangat hebat"


Tangis Fia tak tertahan. Ia meremas kuat lengan Bang rakit.


"Menangis lah dek. Luapkan semuanya. Abang paham perasaan mu" entah sadar atau tidak, Bang Rakit membelai rambut Fia dengan tetap memeluknya erat.


"Abaaaanngg.. Abang jahat sama Fia?? Apa Abang bosan punya istri sebodoh Fia????" Teriak Fia membuat istri anggota yang lain ikut menangis. "Fia mau belajar demi Abang, Fia akan nurut kata Abang. Pulang Bang, Fia takut hidup sendiri tanpa Abang..!!!"


"Allahu Akbar, Ya Allah Tuhan. Hati Abang sakit sekali dek. Jangan bicara begitu..!!" Bang Rakit sampai menangis karena Fia histeris dan terus berontak dalam dekapannya.


Para anggota menata tempat persemayaman jenazah Bang Zeni untuk terakhir kalinya. Dengan hati-hati peti jenazah itu siap di turunkan tapi siapa sangka Fia dengan kuat melepas dekapan Bang Rakit dan berlari menerjang peti jenazah Bang Zeni. Bang Rakit pun mengikuti langkah Fia.


"Jangan tidurkan suamiku..!!!!!!!!" Teriak Fia menghamburkan bendera penutup peti jenazah.

__ADS_1


"Fiaa.. jangan dek..!!!" Bang Rakit kembali mendekap Fia berusaha menenangkan istri almarhum sahabatnya itu.


"Fia benci Bang Zeni, pembohong.. kalau cinta kenapa tinggalkan Fia????" Fia kalap memporak-porandakan segala yang ada.


"Fiaa..!!" Bang Rakit tak peduli lagi dengan keadaan sekitar, ia mencekal kedua tangan Fia lalu menjegal kaki Fia hingga tumbang ke arahnya.


"Kembalikan Bang Zeni.. kembalikan suamiku..!!!!!!" Ucapnya melemah hingga hilang kesadaran dalam pelukan Bang Rakit.


...


Sejadi-jadinya Bang Rakit menangis tak sanggup melihat keadaan Fia. Tubuh istri almarhum Zeni demam tinggi hingga petugas kesehatan harus memasang infus guna menstabilkan kondisinya. Tak hentinya Fia memanggil nama Bang Zeni yang telah tiada.


"A_bang. Fia ikut Abang"


"Ini salahku. Ini semua salahku" Bang Rakit terus menyalahkan dirinya sendiri karena gugurnya Kapten Zeni dalam tugas. Tiga peluru menembus tubuh hingga Kapten Zeni tidak sanggup bertahan.


"Pot, kamu jangan ikut ambruk. Kalau bukan kita-kita ini yang menyemangati Fia lalu siapa lagi. Anak Fia dan Zeni anak kita juga" bujuk Bang Cemar kemudian mengangsurkan sebotol air minum untuk littingnya itu.


"Jalan hidup masih panjang pot, ayo bangkit" Bang Fabian ikut menyemangati.


"Jangan salahkan dirimu. Ini takdir..!!"


Tak lama Bang Rakit terhuyung dan kesadarannya juga menurun.


"Kiit.. Rakiit.." Bang Cemar menepuk pipi Bang Rakit.


Secepatnya Bang Cemar membukanya, benar saja.. darah langsung mengucur seperti keran. "Astaga.. sejak kapan dia menahan sakit, ada peluru di dadanya..!!"


...


Bang Rakit tersadar, ia baru memercing merasakan sakit.


"Fia bagaimana pot?" Ucapnya sesaat dirinya sadar.


Terdengar olehnya Fia kembali menangis tapi kali ini suara itu sudah hilang berganti isakan.


Bang Rakit bangkit dan menghampiri Fia.


"Pot, lukamu baru di jahit" kata Bang Fabian.


Bang Rakit tak mengindahkan kata itu dan terus berjalan menemui Fia. Terlihat banyak ibu-ibu menemani Fia.


"Fia bagaimana Bu?" Tanya Bang Rakit.


"Masih lemas dan syok pak. Nggak mau makan dan minum. Masih belum bisa menerima kenyataan kalau Pak Zeni sudah tiada." Jawab Bu Jefri.


"Biar saya yang bujuk Bu..!!"


"Baik Pak Rakit" Bu Jefri sedikit menjauh bersama ibu-ibu yang lain dan membiarkan Bang Rakit menemani Fia.

__ADS_1


"Dek..!!" Sapa Bang Rakit. "Makan ya.. Abang suapi"


Fia tak menjawabnya. Tatapan matanya kosong mengarah pada satu titik.


"Anakmu lapar dek." Kata Bang Rakit lagi.


"Fia nggak lapar Bang" jawab Fia.


"Dek, tangismu akan menghambat Zeni berangkat ke surgaNya." Bang Rakit menatap mata Fia. "Jika Zeni tau kamu seperti ini.. ia akan sangat sedih. Kamu tau khan betapa Zeni sangat menginginkan anak ini?"


"Tanpa Bang Zeni.. Fia bisa apa Bang? Selama ini apapun yang Fia lakukan selalu dengan bantuan Bang Zeni. Sekarang rasanya Fia kehilangan sebagian tubuh ini.. lalu untuk apa Fia hidup?" Ucap Fia pada sisi terlemah nya.


"Allah tidak akan mengujimu melebihi kemampuan mu dek. Kamu wanita pilihan" baru kali ini Bang Rakit bisa memandang wajah Fia, meskipun wajah itu sembab tapi masih terlihat jelas sisi cantik alaminya. "Makan ya dek.. sebentar lagi pelepasan Zeni untuk di berangkatkan ke Jakarta"


"Hhhkk.." Fia mengalami mual karena perutnya sedang kosong.


Bang Rakit merawat Fia dengan telaten. Tak ada rasa geli dan sebagainya. Hatinya murni ingin merawat Fia. "Kamu kuat nggak? Kalau nggak kuat berangkat sama Abang saja naik penerbangan sipil"


"Fia kuat Bang, Fia pengen bersama-sama Bang Zeni" katanya.


"Abang tanya dokter dulu ya?"


~


"Fia belum kuat, tapi kalau memang begini keadaannya.. kamu harus ekstra waspada menjaga Fia. Riwayat kandungan Fia sangat lemah karena terlanjur isi lagi sebelum waktunya. Kalau lalai sedikit saja, saya takut kandungannya bisa jatuh lagi"


"Siap Komandan.. saya paham" jawab Bang Rakit.


...


Fia tak kuasa melihat peti jenazah yang baru letakan di ujung body pesawat. Tak lama Fia pingsan menimpa Bang Rakit yang selalu siaga menjaganya.


"Piye iki pot. Fia lemah sekali" kata Bang Cemar ikut cemas.


"Insya Allah aku akan menjaganya" jawab Bang Rakit sembari menggendong Fia masuk ke dalam pesawat militer.


"Tolong ranjang kecilnya. Kasihan Bu Fia hamil muda" perintah Bang Rakit pada ajudannya Prada Alvin di dalam pesawat.


"Ijin Dan, saya nggak tega lihat keadaan ibu" kata Prada Alvin.


"Kamu saja tidak tega. Hati saya malah sudah terbelah-belah Vin" jawab Bang Rakit.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2