
Mohon maaf readers setia Nara. Nara menyadari memiliki beberapa karya yang sedang on going secara bersamaan. Mudah-mudahan 'Pecinta Bang Lorengnya Nara' masih stay terus bersama Nara ya. Tapii.. Nara akan terus up sesuai dukungan dan respon. Jadi mohon dukungan dalam bentuk apapun.Terima kasih🙏☺️
🌹🌹🌹
Para anggota dari kesatuan Markas bergabung dengan pihak luar menjenguk istri Kapten Jenar yang tengah mendapat perawatan di rumah sakit.
"Apa kabar Bu Jenar" sapa Bang Arko secara formal dan tidak mungkin saat Bang Arko sedang formal, Bang Jenar akan membalasnya dengan sikap cuek ataupun selengekan.
"Baik Pak, terima kasih.. Maaf sudah merepotkan semua" kata Lintar begitu lembut.
Bang Jenar tertawa di sudut ruangan melihat sang istri berusaha menjaga sikap padahal dirinya tau Lintar bukanlah wanita selembut itu.
Lirikan mata Lintar membuat Bang Jenar langsung terdiam dan membuat wajah cool.
Disana Bang Gesang Wira hanya terdiam berserta beberapa orang rekannya dan hanya mengikuti alur rekannya.
Saat ini mata Bang Jenar terus menatap mata Bang Gesang. Seniornya yang terkenal killer.
'Apa aku harus meminta tolong Bang Gesang untuk menggantikan ku? Tapi nggak enak juga kalau mau minta tolong senior.'
Tak menyangka Kapten Gesang Wira menyadari tatapan Bang Gesang. "Kamu naksir saya? Kenapa lihat saya seperti itu?" Tegur Bang Gesang mengagetkan Bang Jenar.
"Siap.. tidak. Ijin siap salah Abang" jawab Bang Jenar saking gugupnya. "I_jin Abang, bisa nanti kita bicara sebentar?"
"Ya" jawab Bang Gesang cukup singkat, padat dan jelas.
"Siap"
:
"Maaf bro, Abang bukannya nggak mau jalankan perintah.. apalagi ini memang misi negara, mencari informasi tentang para anggota yang terlibat dalam tindak kriminal. Tapi masalahnya.. istri Abang sedang mabuk-mabuknya hamil muda, teler dia. Abang juga belakangan ini jadi sering nggak enak badan. Takut malah mempengaruhi kinerja"
"Siap Abang, saya paham. Nanti saya tanya rekan yang lain" jawab Bang Jenar.
"Maaf ya"
"Siap.. nggak apa-apa. Saya paham kalau urusan bumil memang luar biasa buat mumet"
...
Lintar berkali-kali beralih posisi menyamankan tidurnya, kelakuan Lintar membuat Bang Jenar tidak konsentrasi mengerjakan tugas.
"Badannya nggak enak lagi?" Tanya Bang Jenar.
"Lapar Bang"
Bang Jenar melihat jam tangannya sudah lewat jam sepuluh malam dan dua jam yang lalu Lintar baru makan satu porsi nasi goreng dan pempek padahal dua jam sebelumnya Lintar sudah menghabiskan nasi dari rumah sakit.
__ADS_1
"Mau makan apa?" Bang Jenar menawari sang istri tanpa banyak perdebatan.
"Ceker bang, soto ceker tapi kaki yang kanan semua..!!"
Bang Jenar menelan salivanya. "Cobaan macam apalagi ini Tuhan" gumamnya pelan.
"Baaang..!!"
"Abang cari sekarang ya..!!" Bang Jenar berdiri.
"Abang disini saja. Lintar nggak mau di tinggal" pinta Lintar. Suaranya terdengar begitu manja.
"Tumben kamu manja dek?" Bang Jenar mengacak rambut Lintar.
Lintar diam saja dan tidak peduli dengan ucapan Bang Jenar. Ia mengambil ponselnya dan mengingat hari ini Pratu Iskhak ada di rumah sakit.
"Is.. tolong saya..!!"
~
Om Iskhak kebingungan mendapat perintah mencari soto ceker ayam bagian kanan. "Ijin Dan, saya cari kemana?"
"Cari kemana saja akalmu jalan. Asalkan dapat ceker" perintah Bang Jenar mulai pusing memikirkan keinginan bumil.
"Siap Dan"
Lintar mulai gelisah karena hingga hampir terdengar kokokan ayam tapi Pratu Iskhak tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Melihat Lintar mulai gelisah, itu semakin membuat Bang Jenar resah. Bagaimana tidak, bumilnya bahkan tidak bisa tidur karena menunggu kaki ayam sebelah kanan. "Kamu tidur dulu dek. Nanti Abang bangunkan kalau cekernya sudah datang..!!"
"Nggak..!!"
"Siapa tau kaki yang sebelah lagi main sepak bola" ledek Bang Jenar.
"Abang jangan bodoh-bodohin Lintar ya..!! Lintar khawatir Abang nyolek kakinya duluan"
"Astagfirullah hal adzim.. kenapa sih setiap sama Abang, kamu nggak pernah mikir yang baik, selalu saja Abang kebagian jeleknya" protes Bang Jenar. "Jangan sampai ya itu sifat burukmu semua nyangkut di anak, bawel, suka ngomel, banyak mau......."
Jdeeerr..
Bibir Bang Jenar berhenti bicara, lirikan Lintar sudah mengisyaratkan ibarat maut yang sudah datang mendekat.
"Lintar nggak mau ceker..!! Abang keluar..!!!!"
"Dek.. maksud Abang bukan begitu" Bang Jenar merendahkan suaranya.
"Keluaaaaarr..!! Nggak ada dua kali Lintar ucap omongan..!!" Lintar beralih memunggungi Bang Jenar.
__ADS_1
'Mati aku, piye iki'
...
Pukul lima pagi Om Iskhak baru kembali membawa soto ceker pesanan Lintar tapi wajah Kapten Jenar terlihat sangat kusut.
"Terima kasih, kamu istirahat saja dan rolling dengan rekanmu yang lain. Istri saya nggak mau makan" Bang Jenar membanting punggungnya di kursi ruang tunggu.
"Siap Dan..!!"
Bang Gesang Wira yang pagi ini masih menjenguk anggotanya yang sedang dirawat di rumah sakit, melihat Bang Jenar memijat tengkuknya dengan resah.
"Kenapa Kaptenmu??" Bang Gesang sengaja menyapa Pratu Iskhak lebih dulu.
"Selamat pagi komandan.."
"Pagi Bang" jawab Bang Jenar.
"Masih subuh nih, kamu kenapa?" Tanya Bang Gesang.
"Istri saya ngambek karena saya salah ngomong Bang" senyum Bang Jenar terlihat begitu pahit.
Bang Gesang duduk di samping Bang Jenar. "Is.. tolong antar makanan ini ke Sertu Hasyim ya." Bang Gesang menyerahkan bungkusan makanan kemudian memberi selembar uang pada Om Iskhak. "Buat beli rokok..!!"
"Siap Dan.. terima kasih" kemudian Om Iskhak pergi meninggalkan tempat.
"Hadapi saja kalau masalah bumil, mau bagaimana lagi.. namanya keinginan bumil. Kadang mereka juga tidak bisa mengontrolnya. Kita yang lebih segar pikirannya lebih baik banyak istighfar dan ngalah." Kata Bang Gesang menepuk bahunya Bang Jenar. "Yang begini mah Abang kenyang. Salah ngomong, salah beli ini itu. Nggak usah di pikir dalam."
"Saya terlalu sering salah ucap, tau sendiri khan Bang, bagaimana kerasnya lingkungan kita"
"Abang paham, rata-rata kita pasti mengalaminya. Banyaklah mengalah, demi dia yang di perut juga demi kesehatan mamanya" pesan Bang Gesang.
"Kata rekan yang lain, Abang banyak berubah setelah menikah"
Bang Gesang tersenyum. "Kamu pasti nanti akan tau jawabannya kenapa kita para pria, para suami.. tidak segarang seperti saat di luar rumah."
"Saya merasa sih Bang. Apa ya, bukan takut sih.. tapi, perempuan itu........"
Bang Gesang sampai tertawa mendengarnya. "Ya begitulah.. hahahaha...!!"
.
.
.
.
__ADS_1