Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
35. Respon baru.


__ADS_3

Bang Zeni melihat jalanan sekitar sembari mengemudikan mobilnya. Tak ada suami yang tidak menangis dengan keadaan ini. Dirinya yang tidak di kenali, sama sekali tidak terhitung dalam ingatan Fia.


Beginikah cara Tuhan menguji kita dek? Jika tubuhmu berbaik hati maka responmu menerima ingatan tentang Abang maka kita akan lebih cepat bersama, tapi jika kamu menolaknya maka kita lebih sulit untuk bersama. Cepatlah sehat dek, Terima lah kenyataan tentang hidup yang kit ada jalani. Kamu tidak sendirian. Ada Abang di sampingmu dan Abang sangat mencintaimu, tidak akan tergantikan posisinya dengan wanita lain meskipun Abang mampu melakukannya.


Bang Zeni mengarahkan mobilnya masuk ke lingkungan kompi Bang Cemar. "Tolong bantuannya..!!" Perintahnya. Ia meminta bantuan dari berbagai pihak untuk kesembuhan Fia.


"Siap..!!"


~


Bang Zeni mengecup kening sang istri terlebih dahulu sebelum ia membangunkan Fia dengan caranya.


"Heh adik iparnya Cemar..!! Bangun..!!"


Fia menggeliat dan tak sengaja melihat Bang Zeni menatapnya. "Apa lihat-lihat????"


"Sok cantik sekali kamu ya..!! Apa saya melihatmu karena tertarik sama kamu???"


"Ya bisa saja Abang punya niat tidak baik. Laki-laki jaman sekarang mana bisa di percaya" ucap ketus Fia.


Bang Zeni sudah hampir menjawab perdebatan itu tapi kemudian ada seorang pria mengetuk pintu mobil sebelum Bang Zeni sempat membukanya.


"Permisi, ada perlu apa kalian ada di rumah senior saya?" Tanya pria berpangkat Lettu dan bernama dada Ervan


"Saya mau antar adik ipar Pak Khobar."


"Mohon identitas nya Pak..!!" Pinta pria tersebut.


"Kamu baru disini??"


"Iya Pak, saya Danton baru" jawab pria tersebut sambil menerima lalu melihat nama di dua identitas yang di serahkan Bang Zeni. "Siap salah Abang..!!" Ucap Bang Ervan kemudian memberi hormat pada pria yang pastinya adalah Lettu senior se Indonesia raya karena dirinya pun termasuk Lettu senior.


Fia tersenyum melihat Bang Ervan dan pria itu pun tersenyum layaknya pria menatap seorang wanita.


"Kamu nggak hafal senior alumni????" Bang Zeni terbawa perasaan, ia tidak suka melihat senyum Arvan untuk Fia.


"Siap salah Abang..!!"


"Bang Arvan tinggalnya dimana?" Tanya Fia.

__ADS_1


Bang Zeni menggeleng karena respon Fia pasti adalah caranya bekerja saat memandu karaoke dulu.


"Abang tinggal di mess bujangan, samping barak D" jawab Bang Ervan. "Namanya siapa dek?"


"Fia Baang" jawab Fia dengan wajah memerah.


"Allahu Akbar.. genit sekali kamu ini" gerutu Bang Zeni. "Masuk kamu.. jangan genit..!!!"


Fia mencibir Bang Zeni kemudian membuka pintu rumah Bang Cemar lalu masuk ke dalam.


"Ikut ngopi sama saya..!!" Ajak Bang Zeni saat mata Bang Ervan masih terus menatap punggung Fia.


"Siap Abang...!!"


...


"Ijin Bang, pindah tugas dari Bandung" jawab Bang Ervan. "Maaf Bang, apa Abang kenal dekat dengan Fia?"


"Iya lah. Memangnya kenapa?"


"Siap.. ijin.. saya merasa Abang ada yang aneh antara Abang dan Fia" jawab Bang Ervan.


"Abang ketus dengan Fia tapi ketusnya seperti sayang dengan Fia sedangkan Fia sendiri.. saya tidak jelas menebaknya tapi tetap merasa ada yang berbeda."


Bang Zeni tersenyum kecut mendengar ucap Bang Ervan. "Kau ikut saja alurnya..!!"


"Abang naksir Fia?" Tanya Bang Ervan yang seakan masih ingin mencari tahu tentang Fia.


"Memangnya kenapa? Kamu naksir??" Bang Zeni balik bertanya.


"Ya kalau tampilan awal sih suka Bang, adiknya Bang Khobar cantik sekali, seksi begitu.."


"Jangan main-main..!!!!" Kata Bang Zeni penuh dengan peringatan.


"Siap Abang.. tidak berani main-main" jawab Bang Ervan.


...


Malam ini Bang Ervan terbayang wajah ayu Fia. Gadis yang baru pertama kali ini ia temui namun sudah menggetarkan perasaannya. "Tidak baik menyukai seseorang hanya berdasarkan wajah, tapi realita.. wajah juga bisa menggetarkan perasaan." Gumam Bang Ervan.

__ADS_1


Ya Allah Ya Rabb.. hidupku terasa sangat pahit karena 'dia', sudahi rasa sakit yang menyiksa ku ini.


"Fia.. kamu terlalu indah untuk disisihkan dari tepian hati Abang"


//


Bang Zeni memeluk guling di dalam kamarnya. Kamar yang biasanya ia tinggali bersama Fia. Kini kamar itu terasa sunyi dan sepi tanpa ucap manja istri tercinta. "Abang kangen banget sama kamu dek. Apa dalam hatimu sama sekali tidak mengingat Abang?" Perasaan Bang Zeni sungguh tak karuan, ada batin yang tersiksa merindukan Fia. "Abang jemput ya sayang..!!!!" Tubuhnya bergelut dengan guling yang sama sekali tak bisa merespon inginnya. "Fiaaa sayangku, Abang kangen"


//


"Aaaaaaahh.." Fia terbangun dari posisi tidurnya karena merasa gelisah. Sungguh pikirannya tertuju pada Bang Ervan, tapi bayang Bang Zeni masih terlalu kuat menembus batinnya.


"Ada apa Fi??" Gina membuka kamar Fia disusul Bang Cemar di belakangnya.


"Aku kesal sekali mbak. Rasanya tadi aku memikirkan Bang Ervan, tapi kenapa malah wajah laki-laki papan tulis itu yang keluar??" Ucap kesal Fia.


"Siapa maksudmu?? Zeni????" Tanya Bang Cemar memastikan.


"Iyaa.. siapa lagi??" Kata Fia.


Bang Cemar terkikik menahan tawanya. "Kamu lupa ya, dia itu laki-laki paling menyebalkan. Jangankan kamu, Gina aja jengkel" jawab Bang Cemar.


"Masa??? Pantas saja Bang, wajahnya terlihat mata keranjang ya Bang..!!" Fia sungguh menegaskan seolah dirinya benar-benar memahami Bang Zeni di luar kepala.


"Hmm.. kamu rasa.. bagaimana sosok Zeni?"


"Abang lihat saja matanya kalau lihat Fia. Biji matanya tuh seperti mau keluar. Mana matanya jelalatan banget" jawab Fia mengundang senyum salah tingkah Gina tapi tidak dengan Bang Cemar yang sudah tertawa tergelak karena tanpa sadar Fia sudah mengungkapkan kelakuan Bang Zeni di balik panggung.


"Waaahh.. kamu memang gadis yang pintar. Paham sekali soal keinginan pria." Tawa Bang Cemar masih terdengar tergelak.


Fia mengangguk polos. "Sama kurang ajar nya seperti ekspresi Abang kalau memandang wajah Mbak Gina"


Kini Gina yang tertawa tergelak karena memang kelakuan suaminya itu tak berbeda jauh dari Bang Zeni.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2