Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 30. Kabut.


__ADS_3

Malam hari.. Lintar sudah tertidur pulas, tinggal lah Bang Jenar merokok seorang diri di teras rumah. Ia begitu mencemaskan Lintar karena harus meninggalkan sang istri saat tengah hamil muda.


Sebenarnya kehamilan Lintar tidak separah kehamilan Mbak Nasha atau Mbak Nisa, tapi tetap saja batinnya sebagai seorang suami terasa begitu sakit.


Beberapa lamanya dirinya berada di teras rumah, Bang Jenar pun masuk ke dalam rumah.


~


POV Bang Jenar.


Aku melihat Lintar tertidur cantik, senyum tipis menghias wajah cantiknya. Kuperhatikan wajah lelahnya.. wajah wanita yang akan menjadi ibu dari anak ku.


Tuhan.. usia ku tak muda lagi. Jika rekanku yang lain rata-rata memiliki putra di pangkat Letnan, sedangkan aku.. baru saja akan memiliki momongan ku sendiri di pangkat Kapten.


Ku usap pipi Lintar kemudian turun pada perutnya yang sudah mulai nampak. Tak terasa air mataku menetes. Kini sungguh ia merasakan arti rasa kehilangan juga rasa sayang.


"Baik-baik sama Mama ya nak, Papa pergi bukan karena tidak sayang. Papa ingin kamu bangga menyandang nama Papa.. kamu putra Kapten Jenar."


Bang Jenar menunduk menumpahkan tangisnya. Hanya Tuhan saja yang tau betapa sayangnya Papa sama kamu nak"


POV Bang Jenar end.


***


"Abang pamit ya dek. Kamu jaga kesehatan.. jaga anak kita baik-baik..!!" Pesan Bang Jenar. Ia pun kemudian berjongkok dan menciumi perut buncit Lintar. Jangan nakal di perut Mama.. bantu Mama ya nak..!!"


"Iya Papa. Adek nggak nakal kok. Adek tetap sehat dan tunggu Papa pulang" jawab Lintar.


Bang Jenar kembali berdiri dan memeluk Lintar. "Abang sayang kamu dek. Sayang sekali." Kata Bang Jenar.


Mendengar kata sayang itu, Lintar pun luluh. "Lintar juga sayang sekali sama Abang" jawab lintar


Bang Jenar mengangguk kemudian mengecup kening Lintar. "Kamu satu-satunya wanita yang Abang sayang"


"Lintar tau Bang"

__ADS_1


Detik waktu semakin siang. Lintar mencium punggung tangan Bang Jenar.


"Abang berangkat..!!" Ucap Bang Jenar tak tega.


"Iya Bang, nanti cepat kabari Lintar..!!" Ada sebutir bening menetes di pipi.


"Pasti dek" Bang Jenar mengusap sayang pipi Lintar.


Bang Jenar segera meninggalkan Lintar yang terus menatap ke arah. Tak lagi dirinya membalik badan untuk membalas tatapan Lintar karena dirinya takut tidak akan sanggup berpisah dengan Lintar dan calon bayinya yang masih ada dalam kandungan.


Hingga saat truk yang membawa Bang Jenar pergi. Suami Lintar itu sama sekali tidak menoleh lagi.


Mbak Lela Arko mendekap bahu Lintar. "Nanti mbak temani ya" bujuk mbak Lela menenangkan istri adik iparnya.


"Iya mbak" Lintar pun memeluk Mbak Lela lalu menumpahkan tangisnya, tangis yang tidak seberapa karena ia pahami tugas seorang abdi negara.


\=\=\=


Satu minggu tak ada kabar dari Bang Jenar dan itu membuat Lintar begitu gelisah. Semalam ia bermimpi memetik bunga di sebuah taman yang indah lalu meletakannya dalam sebuah keranjang. Tak disangka saat itu ada seekor merpati membawa keranjang bunga tersebut dan paruhnya lalu terdengar suara petir menyambar dan keranjang bunga tersebut jauh berhamburan di sebuah gundukan tanah.


//


"Katakan.. informasi apa saja yang sudah kau dapat dari kami????" Tanya pemberontak di medan tugas.


Kapten Jenar terdiam seribu bahasa dan hanya menyeringai tak peduli dengan banyaknya pertanyaan dari pemberontak tersebut.


"Katakaan..!!!!!!!" Bentak kepala pemberontak.


"Meskipun aku harus mati, aku tidak akan katakan apapun, aku cinta negara ku.. aku cinta negeri ku" jawab Bang Jenar.


"Kurang ajar. Hajar dia..!!!!!!!"perintah ketua pemberontak. "Jangan sampai mati, siksa saja sampai mengaku..!! Kita masih butuh info dari dia"


"Baik Pak"


***

__ADS_1


"Bodoohh..!!!!!!"


Plaak.. buugghh.. plaaakk.. buugghh..


"Maaf Pak, kamu tidak sengaja. Kapten Jenar membuat kami sangat jengkel" kata seorang anggota pemberontak.


"Dia sengaja berbuat seperti itu. Sekarang kita kehilangan informasi penting"


Ketua pemberontak kembali menghajar anggotanya. "Benar-benar bodoh..!!!!!"


"Kami minta maaf Pak"


Ketua pemberontak mengambil pistol lalu menembak anggotanya berkali-kali.


"Kalian buang jasad Kapten Jenar ke muara sungai. Biarkan dia menjadi santapan buaya..!!!!!'


....


"Astagfirullah.. Innalilahi wainailaihi rojiun.. Jenar..!!!!!!!!" Bang Gesang tersentak kaget ketika membalik jasad di muara sungai adalah Kapten Jenar.. juniornya yang hilang tanpa kabar sejak tiga hari yang lalu dan membuat dirinya mendapatkan perintah untuk menambah anggota guna penanganan lebih lanjut untuk kasus Kapten Jenar.


Kabut duka seketika menyelimuti hati para anggota di sekitar.


"Langsung kita amankan saja jasad nya. Ketua pemberontak pun sudah kita lumpuhkan. Jasad ini tak bisa lagi menunggu lebih lama." Kata Kapten Panji.


"Bagaimana dengan Lintar?"


"Tahan perasaanmu Black..!!" Pesan Bang Panji.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2