Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
36. Test bahaya.


__ADS_3

Wajah Bang Zeni tampak begitu lelah seakan malam yang tenang tidak memberinya waktu untuk tidur.


Mulai pagi buta dirinya menyelesaikan kasus Mayor Najib yang sudah membuatnya kehilangan calon bayinya juga Fia yang terpaksa harus 'melupakannya' hingga nanti ingatan manis tentang mereka berdua kembali lagi.


"Kamu sarapan dulu Zen, atau paling tidak ngopi. Wajahmu lelah sekali. Terlihat beban di pundakmu berat sekali" saran DanPOM.


"Bagaimana nggak berat Bang, saya kehilangan calon anak.. keadaan Fia seperti itu. Stress sekali saya Bang" jawab Bang Zeni.


"Saya paham Zen. Kamu tenang saja, saya akan kooperatif menyelesaikan masalahmu ini apalagi ada korban di dalamnya" kata DanPOM yang memang bijak dalam menangani kasus apapun.


"Terima kasih banyak Bang."


"Sama-sama. Oya.. saya dengar kamu mengajukan agar Mayor Najib dan Mayor Budi di alihkan ke pelosok timur distrik B????" Tanya DanPOM.


"Siap.. benar Abang"


DanPOM menggeleng takjub. "Luar biasa ya kalau Lettu Zeni sedang mengamuk. Seorang Mayor bisa kau tendang sampai kesana"


"Saya lakukan semua demi kehormatan istri saya Bang. Saya kirim ke pelosok pun belum bisa menggantikan segala sakit yang saya dan istri saya rasakan"


//


"Haahh.. Astagfirullah.. demi Allah saya tidak tau kalau Fia itu istri Bang Zeni"


"Makanya.. sekarang kamu sudah tau kenyataannya.. saya harap kamu tidak memberikan perhatian lebih pada istri seniornya itu. Zeni sedang mengalami banyak tekanan. Kalau bukan seorang profesional.. jangan sampai kamu mengganggunya. Bisa fatal akibatnya Van" Bang Cemar memberi peringatan pada juniornya itu.


"Maksud Abang???"


"Sayang pada istri memang suatu keharusan yang lumrah tapi nanti kau akan tau bagaimana sayangnya Zeni pada istrinya. Saya akan tunjukkan bagaimana buasnya seorang Zeni agar kamu mawas diri" kata Bang Cemar mengarahkan.


"Siap Abang..!!"


-_-_-_-_-


Saat menuju kembali ke kompinya, ia melihat Ervan sedang berbincang dengan Fia yang sedang menyirami tanaman. Ia pun mengintip dari tembok rumah dinas asrama yang letaknya paling pinggir. Bang Zeni berusaha mencuri dengar apa yang sedang di bicarakan Ervan dan Fia.


"Apa Abang sering mengatakannya pada setiap perempuan?" Tanya Fia.

__ADS_1


"Nggak donk.. hanya kamu saja. Tapi Abang bicara sungguh-sungguh dek. Kamu memang cantik" kata Bang Ervan mencoba merayu.


"B******n si Ervan.. berani sekali dia menggoda istri orang. Sepertinya si Ervan memang harus merasakan jadi pecel lele. B*****t..!!" Ucapnya mengumpat-umpat tak karuan, ia terus mengintip dan mengawasi Fia.


"Kamu sudah punya pacar dek?" Tanya Bang Ervan setengah melirik ke satu titik di ujung sana.


"Belum Bang, siapa lah yang mau sama Fia. Fia hanya seorang pemandu karaoke. Beda kelas dengan yang berduit" Jawab Fia terdengar merendah.


"Aahh bisa aja kamu dek. Abang nggak berpikir begitu kok"


"Memangnya Abang mau sama Fia???" Tanya Fia setengah menggoda.


Dari balik tembok rasanya hati Bang Zeni bengkak meradang, ingin rasanya meruntuhkan tembok dan menghajar Ervan habis-habisan tapi apalah daya. Amarahnya memuncak di saat yang tidak tepat.


Tiba-tiba ada yang menyenggol pundak Bang Zeni. "Kamu lihat apa?" Sapanya sampai Bang Zeni terlonjak kaget hingga terjungkal.


"Aseeemm..!!" Umpatnya lagi.


Seketika pandangan Fia dan Bang Ervan mengarah pada Bang Zeni.


"Bang Zeni.. Abang disini?? Ijin arahan Abang..!!" Sapa Bang Ervan kemudian menghampiri Bang Zeni.


Bang Zeni masih mengatur diri dan menata nafasnya, ia pun sempat melirik kesal pada sosok yang mengagetkannya. "Nggak ada, saya ikut Letnan Khobar patroli"


"Ijin Dan.. apa sekarang jabatan Danki penyerang ikut patroli di Batalyon?" Tanya Bang Ervan sedikit bingung.


Bang Zeni sedikit bingung karena memang jabatan Danki tidak ikut kegiatan patroli. Tapi dengan seribu akal, ia mencoba beralasan. "Saya menggantikan Felix karena dia berhalangan"


"Oohh begitu, baiklah kalau begitu Dan"


Fia pun masuk ke dalam rumah seakan tak peduli dengan apa yang terjadi.


"Ngomong-ngomong untuk apa kamu menemui Fia?" Tanpa perhitungan ia pun mengintrogasi Bang Ervan.


"Siap.. saya sudah minta ijin Lettu Khobar untuk mengajak Fia jalan-jalan" Bang Ervan mencoba memberi penjelasan tanpa ada yang di tutupi.


"Apaaaaa???" Seketika arah pandangan mata Bang Zeni menatap mata Bang Cemar penuh intimidasi. "Kamu mengijinkannya Mar???" Tanya Bang Zeni kembali terbawa emosi.

__ADS_1


"Apa salahku, Fia khan adik iparku.. tentu aku ingin yang terbaik untuk adik iparku." Jawab Bang Cemar tanpa menunjukkan rasa bersalah dan dosa sama sekali.


"Kau ini kurang ajar sekali ya Mar..!!" Suara Bang Zeni meninggi. Rasa kesal menjalar hingga ke ubun-ubun kepala.


"Ijin Bang, Bang Khobar sudah menjodohkan saya dengan dek Fia." Kata Bang Ervan.


"Dek Fia.. dek Fia.. matamu itu dek Fia" suara Bang Zeni semakin meninggi tak sanggup lagi menahan geregetan yang menggelitik perasaannya.


"Hahahaha.. cemburu nih yeeeeee" ledek Bang Cemar.


Bang Zeni mencengangkan kerah seragam Bang Cemar. "Kamu jangan macam-macam ya Mar.. Fia itu istriku. Apa maksudmu menjodohkan istriku pada laki-laki lain. Mau cari mati kau ini??????"


"Uusshh.. santai bro. Maksudku biar kamu nggak kerepotan menjaga Fia. Makanya aku carikan bantuan untukmu"


"B*****t kau Mar..!! Kau ini kawan atau lawan???????? Jangan sentuh istriku..!!!!!!!!!!!!" Bang Zeni benar-benar membanting Bang Cemar yang membuatnya emosi. Bang Zeni sudah melayangkan bogem mentah untuk menghantam Bang Cemar.


Dengan sigap Bang Ervan mencekal tangan Bang Zeni. "Abaang.. Bang Zen.. siap salah Bang, sudah jangan marah lagi. Bang Khobar sudah cerita kalau Fia itu istri Abang"


Seketika Bang Zeni menoleh. "Apa sekarang kamu sama gilanya dengan Cemar???"


"Siap salah..!!"


"Saya nggak bercanda ya Van. Apapun yang berhubungan dengan Fia. Saya nggak akan beri toleransi sedikitpun. Ingat baik-baik di kepalamu itu..!!!!!" Ucap tegas Bang Zeni.


"Siap.. saya paham"


"Jangan pernah kamu ikuti lagi ide bodoh seniormu itu. Bagaimana kalau tadi saya lepas kontrol??? Apa kalian berdua mau mati konyol???" Bentak Bang Zeni.


Bang Cemar mengusap wajahnya. "Alhamdulillah wajahku yang tampan ini nggak luka. Ini aset berharga ku untuk merayu Gina"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2