
"Terima kasih dokter" Fia menerima selembar surat hasil lab. Ia terduduk lemas menghapus air matanya.
"Sama-sama Fia. Cepat beritahu hasilnya pada suamimu, takutnya dia kaget dengan hasil test nya" kata dokter Ari.
//
"Ini semua berkas dan surat yang kamu minta"
Bang Rakit memberi hormat pada seorang pria. "Terima kasih Bang."
Pria tersebut menurunkan tangan Bang Rakit lalu memeluknya. "Apa kabar kamu Rakit?" Sapa Bang Rudra.
"Baik Bang." Jawab Bang Rakit singkat.
"Saya juga Abangmu. Katakan kalau ada apa-apa. Abang siap membantu. Kamu yang sabar Rakit. Dugaanmu benar, kamu memang intel terbaik yang kita punya. Letkol Najib dalang di balik gugur nya Mayor Anumerta Zeni"
Dada Bang Rakit bagai terhantam kuat, ia memejamkan matanya sejenak, kembali ia merasakan saat kehilangan sahabat sekaligus saudaranya itu. Air matanya menetes. Ia takut Fia akan kembali syok dan stress jika tau kenyataan ini.
"Bukti sudah ada di tangan saya. Katakan saja Bang, apa latar belakang letkol Najib membunuh Zeni. Apa seperti dugaan saya? Dia menyelundupkan senjata untuk para pemberontak? Karena Zeni pernah tertuduh menghilangkan senjata dan menjadi kasus di tingkat atas." Bang Rakit mulai menebak alurnya.
"Benar Rakit, Zeni pernah stress dalam diam karena tuduhan itu. Memang satu magazen kembali. Tapi tertulis ada kehilangan sepuluh magazen fiktif dan itu pun ada tanda tangan Kapten Zeni." Jawab Bang Rudra.
"Saya paham Bang, makanya saya cari terus kasus itu hingga ke akarnya. Itu adalah kasus besar yang saya selidiki Bang.. dan terhenti, hilang jejak karena hal yang saya nggak paham. Tertelan begitu saja"
"Zeni melindungi kamu, karena kamu terus mencari informasi tentang hilangnya senjata laras panjang tersebut. Jika kamu sempat membongkar kelakuannya. Maka dia akan di pecat dari kesatuan. Tidak punya kuasa apapun. Makanya dia pun kebal tuntutan dan tetap bertahan di sini. Dengan kata lain, dengan ancaman sebesar ini, almarhum Zeni sudah menyadari nyawanya terancam. Itu sebabnya dia menitipkan Fia padamu"
Kaki Bang Rakit lemas. Beban mental, beban moral, rasa cinta, rasa bersalah, marah semua bercampur aduk menjadi satu. Bayang senyum Fia memukul batinnya tapi bayang tangisnya sungguh menyayat batinnya. "Fiaaa" nama itu kini merasuk erat dalam sanubari nya.
"Sabar Rakit, ini sudah suratan. Kamu harus tabah dan ikhlas. Takdirnya, takdirmu dan takdir Fia harus seperti ini" semakin erat Kapten Rudra Pasha memeluk adik tirinya. Lahir di tahun yang sama, berbeda ibu karena kesalahan orang tua. "Yang kuat Rakit, Fia butuh kamu"
...
Bang Rakit menyambut panglima yang datang bersama ibu dalam acara kunjungan kerja, mengabaikan masalah apapun dalam hatinya. Disana Ibu Rizka Giras menyambut dengan hangat kakak iparnya.
"Bu Rakit, tolong arahkan anggota untuk menyiapkan acara ramah tamah..!!" Perintah Bu Najib.
"Ijin Ibu, semua sudah terkoordinir dari pihak Matra darat" jawab Fia.
__ADS_1
"Tapi kita juga panitia. Bagaimana kerja anggotamu????" Tegur Bu Najib dengan kasar.
Letkol Najib pun ikut menghampiri. "Dari pihak kita juga ada sumbangsih tenaga ya Ibu Rakit. Jangan hanya diam saja..!!!!!!!!" Bentak Letkol Najib sampai ada seseorang yang menarik kerah seragam nya.
"Heeehh.. kau.. berani sekali kau membentak istri Kapten Rakit..!!!!!!!!!" Bang Rakit balik membentak letkol Najib.
"Maaf Rakit, tapi istrimu nggak bisa kerja" jawab Letkol Najib.
"Nggak bisa kerja????? Lalu siapa yang mempersiapkan semua ini??? Apa tugas Batalyon??? Tidak ada kompi lain yang membantu Fia. Kompi A, Kompi B, Kompi bantuan, Markas.. kemana anggotanya?? Kenapa memakai anggota kompi penyerang saja dan tidak ada tembusan pada saya sebagai Dankinya????? Mau pangkat saya ini hanya kapten, tapi saya yang punya kewenangan dan kuasa atas kompi saya. Kalian tidak berhak memerintah anggota saya tanpa sepengetahuan saya..!!!!!!!!" Kemarahan Bang Rakit sudah memuncak.
"Tenang dulu Rakit, ini pasti ada salah paham. Saya bilang kok ke Fia. Mungkin dia lupa bilang" alasan Letkol Najib.
"Saya lebih mengenal siapa istri saya..!!" Bang Rakit menjawab tegas.
"Bang.. sudah..!!" Fia meminta Bang Rakit agar menyudahi perdebatan itu sebab keributan itu di lirik banyak petinggi. Dadanya pun sudah terasa sesak. Mualnya sudah menjadi.
Tiba-tiba Bu Rizka Giras mendekati keributan itu. "Saya yang meminta Bu Najib untuk memberi tugas pada Fia. Sebab istri Kapten Rakit sudah berani menggoda suami saya"
Bang Rakit menoleh. Wajahnya semakin merah padam karena murka. "Kelakuanmu sama b*d***hnya seperti suamimu..!!!!!"
"Jaga ucapanmu Kapten Rakit..!!!!" Suara Letda Rizka membentak Bang Rakit. "Kau lihat.. p*****rmu ini sudah membuat keributan. Harusnya kau sadari itu sebelum menikahi dia. Jika saja dulu Kapten Zeni tidak gugur, pasti dia akan menanggung malu karena kelakuan buruk istrinya. Entah darimana dulu Kapten Zeni memungut gadis tidak berpendidikan dan tidak jelas asal-usulnya"
Panglima dan Papa Giras melihat keributan apa yang terjadi di sudut sana. Suasana pun sudah sedemikian tegang saat mereka berdua ada disana.
"Ada apa ini Ma, kenapa kamu buat keributan???" Papa Giras menegur Rizka istrinya. "Untuk seluruhnya. Turunkan seluruh kamera dan redam masalah ini..!!!!!!" Perintah Dan Giras pada seluruh anak buahnya.
"Abaaaanngg.. sudah, perut Fia sakit sekali..!!" Fia meremas tangan Bang Rakit dan saat itu Letkol Najib menggandeng istrinya agar menjauh dari keributan.
"Tunggu kau Najib..!!" Teriak Bang Rakit. Kepalanya sudah mendidih. "Tidak mungkin ini Letda Rizka bisa berbicara selancar dan selantang ini kalau tidak ada yang membakarnya. Kau mau mengakui atau tidak kalau semua ini adalah ulah kalian???"
"Kami nggak bicara apa-apa" kata Letkol Najib.
"Saya bicara sesuai fakta. Kenapa Om Rakit tidak bisa menerima kenyataan bahwa Fia tidak memiliki keluarga, bukankah dia hanya lulusan SMA?? Apalagi dia anak-anak. Saya sedang mendidik Fia agar punya rasa tanggung jawab terhadap tugas yang saya berikan" Jawab Bu Najib tanpa takut karena merasa Bang Rakit hanya junior dan suaminya adalah seorang Danyon yang memiliki wibawa.
Bang Rakit gelap mata, emosinya tak terkendali. Ia mendorong Fia menjauh darinya, tangan itu mencabut pistol di pinggang nya. "Ingatkah kau tragedi gugurnya rajawali????"
Letkol Najib tersentak ketakutan mendengarnya.
__ADS_1
"Albatros tau yang sebenarnya, kini albatros itu sudah menjadi elang timur yang akan mencabik tubuhmu..!!!!!!!" Ancam Bang Rakit.
"Rakiiiiiiittt tahan emosi mu..!!!" Perintah panglima.
Seluruh anggota maju dan mengacungkan senjata memasang badan untuk Dankinya meskipun terdengar gegabah apalagi di belakang Danki ada sosok lembut yang sangat mereka junjung tinggi karena kebaikan hatinya. 'Sandi' Rajawali, Albatros dan Elang timur sudah membuat mereka peka dan paham apa yang terjadi.
"Kau.. makhluk paling b****b. Pengkhianat bangsa. Kalau hukum tidak bisa menjeratmu, hukum rimba dariku akan membinasakan mu..!!!!!!" Bentak Bang Rakit. "Kamu menjauh dek..!!" Perintah dari Bang Rakit pada Fia.
"Fia tetap disini..!!" Jawab Fia menguatkan diri dalam situasi buruk.
Di sudut lain, ibu Panglima meminta seluruh ibu-ibu untuk menjauh dan membawa serta anak-anak mereka agar tidak melihat hal yang tidak seharusnya mereka lihat.
Mama Rizka kaget dan tak paham apa yang terjadi. Hanya Bu Najib yang berteriak melihat Kapten Rakit menodongkan pistol ke arah suaminya.
"Kalau kamu tidak berulah, semua tidak akan menjadi begini Rizka..!!" Bentak Papa Giras menarik lengan istrinya.
Karena satu kesalahan, lokasi Matra darat harus menelan pil pahit menghadapi dua kasus sekaligus.
"Pergi dari sini Fiaaaaaa..!!!!!!" Bentak Bang Rakit.
.
.
.
.
Untuk besok di harapkan vote dan dukungannya ya. Vote mencukupi up 2 bab. Silent readers tolong keluar..!! Jangan hanya ramai di kolom lain, tapi disini diam seribu bahasa. Untuk yang sering minta up lebih tolong timbal baliknya.. ucapan harus sesuai tindakan. Simbiosis mutualisme.
Terima kasih banyak untuk yang selama ini sudah setiap hari berkomentar, memberi dukungan dan tetap ada untuk Nara dan tidak hanya mendukung saat ada bab sedih atau 'esek-esek' aja. I love you all. 😘😘😘🙏🙏🙏🥰🥰🥰
.
.
.
__ADS_1
.