
Fia begitu kesakitan namun ia hanya bisa bersandar di dada Bang Rakit.
"Jangan diam saja sayang. Kalau sakit, bilang sama Abang..!!" Bang Rakit begitu panik melihat keadaan Fia.
"Alaaahh.. berlebihan sekali mencari perhatian anak saya. Hanya tinggal ngejan saja pakai akting" dengan culas Mama Nena menyindir Fia.
Emosi Bang Rakit semakin tak terkendali. Ia mendudukan Fia secara perlahan lalu dengan cepat menghampiri Mama Nena. Jika saja Bang Rudra tidak mencegahnya mungkin saja ada tamparan yang mendarat di pipi Mama Nena.
"Sabar Rakit, jangan begini..!! Biar Bu Nena saya yang menangani. Fokuslah dengan Fia. Kasihan dia" saran Bang Rudra.
Akhirnya Bang Rakit kembali menghampiri Fia. "Sayang.. bagaimana rasanya??"
"Baang, ada yang mendorong perut Fiaa..!!!!"
"Iyaa.. iyaaa.. kita ke rumah sakit sekarang ya..!!"
~
"Cepaaatt Alviiiiinn..!!!!!! Saya mau pingsan...!!!!!"
"Kiiitt, yang mau melahirkan itu Fia.. kenapa kamu yang mau pingsan?????" Bang Cemar sampai tertular rasa panik karena Bang Rakit begitu mencemaskan Fia.
"Ijin Dan, saya nggak bisa nyolok kuncinya.." tangan Om Alvin gemetar tak karuan. Rintihan Fia juga membuatnya gelisah.
"Apa maksudnya kamu nggak bisa nyolok kunci??? Matamu mau saya colok Vin?????" Bentak Bang Rakit.
"Duuuuhh Alviiiiinn.. saya saja yang nyetir. Kenapa kamu bisa gugup begini????" Bang Cemar sampai terbawa emosi melihat kelakuan ajudan Bang Rakit.
"Siap" Om Alvin pun keluar dari kursi kemudi dan bertukar posisi dengan Kapten Al Khobar.
Klllkkk..
"Hwaaa.. patah kuncinya Kit" pekik Bang Cemar.
"J****k kowe Mar..!!!!! Fia mau lahiran nih.. Ya Allah Tuhan..!!!!!" Betapa berangnya hati Bang Rakit melihat kelakuan Bang Cemar dan Prada Alvin. "Kalau kalian tidak bisa bantu saya.. cepat keluar dari mobil..!!!!!" Ubun-ubun Bang Rakit rasanya nyaris berasap.
"Kalau aku keluar, kamu naik apa? Kuncinya patah" kata Bang Cemar.
__ADS_1
"Astagfirullah hal adzim.. Cemaaarr...!!!!!!!"
...
Dengan bantuan Bang Fabian akhirnya Bang Rakit bisa mengantar Fia ke rumah sakit, namun tanpa sengaja Bang Cemar pun ikut naik mobil yang sama hingga di dalam mobil itu terasa sangat sempit.
"Please Mar, ini kelahiran anak ku.. janganlah kamu perkara. Sebenarnya apa misi mu ikut aku ke rumah sakit???????" Tak surutnya emosi Bang Rakit, darahnya mendidih melihat kelakuan Bang Cemar.
"Aku nggak mau ikut, tapi aku terseret Alvin"
Jemari Bang Rakit mengepal kuat, sebab ia tau Bang Cemar ikut panik sampai menarik tangan Prada Alvin hingga mereka semua berada di mobil itu juga.
"Jangan marah lagi Bang, perut Fia semakin sakit" kata Fia sesekali membuang nafasnya perlahan.
"Sabar sayang.. sebentar lagi kita sampai rumah" dengan lembut Bang Rakit mengusap perut Fia yang sudah menegang kuat.
...
"Bang Ar..!!!!!!" Bang Rakit menggendong Fia hingga ke ruang UGD.
"Kenapa kit? Fia mau melahirkan??" Tanya dokter Ari yang baru saja tiba di ruang UGD.
"Oke, saya tangani..!!"
:
Fia masih mengerang kesakitan sampai meremas tangan Bang Rakit.
"Bang, percepat semua. Saya nggak tega..!!" Pinta Bang Rakit.
"Rakit, ini sudah kedua kalinya kamu minta seperti ini. Persalinan itu butuh proses, nggak asal masuk kamar bersalin dan langsung lahir" kata dokter Ari.
Bang Rakit yang tidak tega kemudian memeluk Fia. "Maaf ya dek, semua gara-gara Abang.. kamu jadi seperti ini"
Fia tak sanggup menjawab apapun lagi, yang ia rasakan hanya sakit dan teramat sakit.
POV Fia.
__ADS_1
Aku tidak ingin mengingat apapun yang terjadi tadi. Yang aku tau, aku mengingat pernah mengalami saat seperti ini, dulu.. saat kelahiran Arsene.
Kecemasan dan kegelisahan Bang Rakit tak pernah berubah, pria ini yang selalu menjagaku.. kini aku kembali bersamanya menghadapi saat kelahiran anak kami.
Hatiku pernah sungguh hancur dan terluka mengingat Almarhum Bang Zeni tak lagi ada di sisiku untuk menemani ku, namun kini.. aku tak sanggup jika pria ini jauh dariku. Maafkan aku Bang, dirimu akan tetap selalu ada di hatiku, namun aku yang ada di dunia harus tetap menjalani hidup, terlebih aku kini adalah seorang istri.. istri dari sahabatmu. Di bawah janjinya pada Tuhan, aku harus menurut pada suamiku.. karena diriku kini milik Bang Rakit.. seutuhnya.
POV Fia end.
POV Bang Rakit.
Jika semua orang memandangku sebagai pria yang kuat dan tangguh, maka kali ini semua orang bisa melihat sisi terlemah ku. Ya.. Fia adalah satu-satunya wanita yang membuatku lemah. Aku sanggup menghadapi kerasnya dunia ini, namun aku tak sanggup kehilangan dia.
Saat pertama kali ku melihat nya, tak ada rasa tercipta kecuali hanya belas kasih, namun seiring berjalannya waktu, aku tak kuasa menahan perasaan ku. Hal yang ku yakini sebagai rasa kasihanku, jelas semua hanya penolakan bibirku saja.. padahal jauh di dalam lubuk hatiku.. aku sudah mencintai nya bahkan mungkin saat pandangan pertama.
Fia istriku sayang.. ini kali kedua Abang menemani saat persalinan mu, namun kali ini dia yang akan terlahir adalah darah dagingku sendiri yang telah ku titipkan atas dasar perasaan sayangku sebagai seorang suami.
Maaf, karena Abang sangat menginginkan dia ada.. kamu harus kesakitan seperti ini. Tak dapat Abang hindari semua ini, karena sudah kodrat mu sebagai seorang wanita.. dalam hati ini hanya berharap agar kamu kuat dan lekas sehat setelah nya. Sungguh jika terjadi sesuatu padamu dan anak-anak kita, seumur hidup penyesalan itu akan Abang bawa mati.
POV Bang Rakit end.
"Fia nggak tahan sakitnya Bang..!!" Ucap Fia lirih.
"Kamu pasti kuat dek..!! Ingat Arsene juga menunggu mu di rumah..!!" Kata Bang Rakit.
"Ayo Bu Rakit.. waktunya mengejan..!!" Seorang bidan mengusap paha Fia.
Bang Rakit seakan tak sanggup melihat Fia begitu kesakitan.
"Abaaaang..!!" Pekik Fia sampai menarik kuat pakaian Bang Rakit.
Tak membuang waktu lama, Bang Rakit sedikit menarik selimut Fia lalu bergerak cepat menyambar bibir ranum sang istri.
Dokter Ari menggeleng melihat Bang Rakit. "Dasar.. perawat gadungan merepotkan..!!!" Gerutunya.
.
.
__ADS_1
.
.