Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
93. Cinta ini untuk dirimu.


__ADS_3

Fia berdiri kemudian menjambak rambut Bang Cemar sekuatnya. Tak biasanya Fia sampai semarah ini melihat tingkah Bang Cemar. "Fia kaget sekali mengira Bang Rakit selingkuh. Ternyata malah Abang selingkuhan nya"


Gina pun ikut syok sampai menangis melihat ulah kedua pria tersebut.


"Dek, ingat kandunganmu sayang..!! Jangan marah-marah" kata Bang Rakit membujuk Fia sehalus mungkin.


"Abang jangan ikutan, Abang juga tersangka perselingkuhan..!!" Fia masih sangat kesal melihat ulah tidak normal suaminya. "Abang tetap jadi Fia..!! Sekarang pulang ke rumah"


"Iya dek" jawab Bang Rakit tak berani banyak bicara.


...


Bang Rakit menarik nafasnya pasrah, sembari membawa sapu dan memakai daster dan bando kelinci milik Fia. Ia harus ikhlas menerima kemarahan bumil karena ulahnya sendiri. "Biasanya Fia ngomel karena apa ya?"


"Dek.. tolong Abang bikin kopi sayaang..!! Kepala Abang sakit sekali nih. Butuh kopi" perintah Fia memecah konsentrasi Bang Rakit.


"Iya Bang" jawab Bang Rakit tapi jelas bukan kopi yang akan datang untuk Fia, melainkan susu bumil agar calon bayinya kelak sehat seperti keinginan nya.


:


"Aduuh Bang, ini gunanya rak sepatu untuk apa kalau sepatunya saja masih tercecer di lantai. Apa sulit sekali untuk bersikap tertib dan bersih di dalam rumah??"


Fia ingin tertawa melihat gaya dan tingkah Bang Rakit, tak lupa dirinya mengusap perutnya agar si baby tidak seperti Papanya yang sedang menirunya. "Nanti lah yank.. itu khan masalah kecil" jawabnya karena Bang Rakit selalu menjawab seperti itu jika dirinya sedang mengomel.


Bang Rakit pun menggaruk kepalanya.. lalu datang ke hadapan Fia sembari berkacak pinggang. "Masalah kecil Abang bilang?? Abang nggak lihat Fia sudah keringatan membersihkan rumah, Abang hanya tinggal letakan semua barang itu pada tempatnya. Apa terlalu sulit???? Bukan main kelakuan pejantan. Coba Abang jadi Fia sebentar saja.. pasti Abang lelah sendiri" cerocos Bang Rakit tanpa ada kesalahan sedikit pun.


Akhirnya Fia tak tahan untuk tertawa apalagi melihat wajah Bang Rakit yang sedang membendung air mata. Ia mengira Bang Rakit sedang mendalami karakternya, tapi ternyata Bang Rakit sungguh terbawa suasana karena kini ia memahami lelahnya menjadi seorang Fia.


"Tirukan Fia yang sedang cemburu..!!" Pinta Fia kemudian.


Barulah kini Bang Rakit yang tersenyum kecil karena kecemburuan Fia sudah melekat kuat di bawah alam bawah sadarnya. Bang Rakit mengambil ponselnya lalu berdiri di hadapan Fia. "Ini siapa Bang?" Tanya Bang Rakit.


"Siapa yang mana?" Jawab Fia.


"Ini yang pakai baju kuning. Kenapa chat ke ponsel Abang seperti ini??" Tanya Bang Rakit.

__ADS_1


"Memangnya dia ada omong apa sayang?"


"Pak Rakit mau tipe yang bagaimana? Ukuran 42 atau 43?" Tanya Bang Rakit lagi.


"Itu khan Abang beli sepatu PDL, memangnya kamu pikir Abang mau beli apa b*a mu?" jawab Fia setengah menahan tawa.


"Ya kali Abang pengen beda ukuran" Bang Rakit pun melengos dengan gaya Fia yang gemulai sembari mengibaskan daster kesana kemari.


...


"Apalagi ini.. Ya Allah..!!!" Bang Rakit menepuk dahinya saat Fia mengikat semangka berukuran sangat besar di perut Bang Rakit. "Aduuhh sayang.. Abang susah bangun nih" protes Bang Rakit.


"Ya begitulah keadaan Fia. Bangun susah, mau gerak susah, apapun susah"


"Ya sudah, Abang bawa semangkanya. Ini mah enteng" kata Bang Rakit sesumbar karena gengsi berhadapan dengan bumilnya.


"Cepat ngepel jongkok..!!"


~


Jduuggh..


"Sakit Bang?" Tanya Fia.


Bang Rakit menatap mata Fia dengan lekat. "Jangan pernah kamu melakukan apapun tanpa pengawasan dari Abang. Mulai sekarang.. hingga tugas terkecil apapun biar Abang yang lakukan."


Fia tersenyum mendengarnya. "Bukankah rata-rata memang selama ini Abang yang selalu mengerjakan tugas itu?"


"Rata-rata, tapi tidak semua." Bang Rakit kemudian duduk di lantai. Abang sayang anak kita dek." Bang Rakit menatap mata Fia. "Dulu.. saat kamu mengandung Arsene, tidak sedetik pun Abang lewatkan tanpa kecemasan."


Fia terhenyak sesaat. Ingatannya kembali mengingat di saat dirinya tengah mengandung Arsene tapi sungguh, dirinya tidak pernah merasa kesepian karena ada Om Alvin dan Om Bastian yang selalu ada dan sigap membantu apapun yang ia butuhkan. Air mata Fia akhirnya meleleh juga. "Apa saat itu, Om Alvin dan Om Bastian selalu ada atas perintah Abang?" Tanya Fia.


"Apa mereka akan berani bertindak tanpa arahan??" Bang Rakit balik bertanya. "Dari saat kepergian Zeni hingga kamu melahirkan Arsene, tidak pernah kamu hidup tanpa pantauan Abang"


"Baang.. Fiaa..........!!"

__ADS_1


"Astagfirullah dek..!!!" Bang Rakit panik saat kaki Fia tiba-tiba lemas. Wajahnya terlihat syok. Bang Rakit segera menyambar gunting yang tidak jauh darinya lalu menggunting perekat yang melingkar di perutnya untuk menyangga semangka besar.


Baru saja perekat itu terlepas dari tubuhnya.. Fia sudah tumbang, untung saja tangan Bang Rakit masih bisa menggapainya.


:


Fia kembali menangis sesaat ia tersadar, di lihatnya kepanikan Bang Rakit yang sudah mendatangkan beberapa orang dokter hingga rumahnya menjadi ramai.


"Dek.. kenapa nangis? Apa yang sakit??????"


Fia hanya menggeleng tak sanggup menjawab.


"Bang Ari, tolong Bang. Periksa Fia..!!!"


"Rakiiiitt, tenang dulu..!!!" Dokter Ari juga kebingungan karena saat ini Kapten Rakit lah yang butuh di tenangkan.


"Tapi Fia nangis terus Bang" kata Bang Rakit.


"Rakit, Fia hanya butuh perhatian khusus. Sepertinya istrimu sedang banyak pikiran" saran dokter Ari.


...


"Ada apa?"


"Abang menikahi Fia atas dasar apa? Sungguh sayang atau sebatas rasa kasihan?" Tanya Fia.


"Kenapa kamu tanya hal seperti itu? Apa selama ini kamu tidak bisa merasakan apa yang Abang rasakan?" Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Bang Rakit, namun ia menjawab pertanyaan Fia tanpa emosi. Ia memahami perasaan Fia yang baru mengerti keadaan yang sebenarnya. Karena yang Fia tau, peran terbesarnya adalah saat kelahiran Arsene.


"Jawab saja Bang..!!!"


"Jika cinta itu tidak pernah ada, tidak akan pernah ada tangisan demi kamu. Jika sayang itu tidak pernah ada, tidak akan pernah ada si kecil dalam perutmu ini. Kita bertemu, sudah takdir Tuhan dengan caranya, tapi apapun itu.. tak akan merubah perasaan Abang untuk kamu. Abang.. cinta kamu dek, lahir batin ini menyayangimu"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2