
Om Wahyu pergi melaksanakan tugasnya. Tersisa hanya Bang Zeni dan Bang Cemar disana.
"Ini, ku kasih pil kera sakti" tanpa sungkan Bang Cemar memberi sebuah bungkusan pada Bang Zeni.
Bang Zeni memperhatikan bungkusan tersebut kemudian matanya melotot dan mengarahkan pandangan tajam ke Bang Cemar. "Kemarin kau memberiku benda ini?" Tanya Bang Zeni.
"Iya, tapi sayang kamu hanya meminumnya seperempat" jawab Bang Cemar tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Edan kowe Mar, aku masih mampu" protes Bang Zeni kesal karena itu berarti semalam dirinya melakukannya terdorong oleh sesuatu.
"Sudah bro, satu obat itu bercampur air enam ratus mililiter dan kamu meminumnya hanya seperempat. Jelas memang kamu sendiri yang sedang terbakar, lagi naik-naiknya.. bukan karena obatnya." Kata Bang Cemar saat melihat wajah kecewa sahabatnya. "Dengar Zen.. Fia khan istrimu, sah saja kamu meminta hak mu juga"
"Aku paham Mar, tapi aku ingin dia juga ada perasaan sama aku. Bukan karena ku paksa seperti semalam" jawab Bang Zeni tanpa sadar.
Bang Cemar pun tertawa mendengarnya. "Jadi kamu memaksanya? Pantas ada suara penganiayaan" ledek Bang Cemar.
"Yaa.. mau bagaimana, aahh kau tau lah kalau kita sudah naik. Pening kepala, ngilu di badan" jawab Bang Zeni.
"Heeh Zen.. kasus Fia berbeda, istrimu itu terlalu polos. Dia memiliki kehidupan yang keras, yang dia tau hanya bekerja untuk makan dan bukan untuk bergaya, tidak juga untuk hal lain. Dia sama saja dengan Gina. Bedanya Gina memiliki ayah yang menyayangi, sedangkan istrimu tidak ada yang membimbing. Dia dewasa karena keadaan meskipun pikirannya juga tak bisa sedewasa itu. Nanti kalau kamu bertemu lagi dengannya, kamu harus lebih sabar. Karena kemarin dia baru syok pendekatan denganmu. Percayalah Zen.. aku sudah lebih dulu mengalaminya" kata Bang Cemar membesarkan hati Bang Zeni.
"Thanks sob. Tapi ngomong-ngomong, lu nyontek dari Goodel lagi??" Bang Zeni pun memecah suasana canggung.
Bang Cemar mengambil ponselnya. "Aku tau kau ada kan mengalami hal ini. Jadi semalaman aku merangkai kata susah payah" jawab Bang Cemar.
"Kutu kupret.. pikiranmu memang tidak pernah jelas..!!" Kata Bang Zeni bersungut-sungut membuat Bang Cemar tertawa lepas. "Tapi terima kasih"
"Lega to??" Ledek Bang Cemar lagi.
"Ploong Mar, aware and very satisfied. Hahahaha..!!!!"
"Woooo.. Danki edan. Begitu saja gengsi. Kaku lu" Bang Cemar ikut tertawa.
__ADS_1
...
Fia tertidur pulas, sekujur tubuhnya terasa ngilu dan sakit terutama pada bagian tubuh sensitifnya.
"Minum teh dulu dek..!!" Bang Zen membantu Fia untuk duduk. Dengan hati-hati ia mengangsurkan bibir gelas ke bibir Fia.
Ekor mata Fia melirik wajah Bang Zeni. Setengah mati dirinya menahan malu karena kejadian semalam.
"Masih sakit?" Tanya Bang Zeni membuat Fia semakin malu.
Fia menggeleng. Bang Zeni menyelipkan anak rambut Fia ke belakang telinga.
"Keluar kamar yuk.. Masa mau di dalam aja..!!" Ajak Bang Zeni.
"Fia malu" jawab Fia.
"Malu sama siapa? Nggak ada yang tau apa yang kita lakukan semalam"
"Fia jijik sama diri Fia sendiri. Fia nggak pernah begitu sama laki-laki" ucap Fia lumayan menampar hati Bang Zeni.
"Kamu paham arti sebuah pernikahan?" Bang Zeni berusaha lembut memberi pengertian untuk Fia.
Fia mengangguk dan Bang Zeni mengarahkan wajah Fia untuk menatapnya.
"Apa dek?"
"Ikatan suci antara laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama" jawab Fia lirih.
"Dalam hubungan yang halal. Halal artinya tidak berdosa dan berpahala untuk di lakukan, termasuk yang semalam kita lakukan" kata Bang Zeni. "Abang wajib memberimu 'hal itu' dan kamu berhak memintanya karena itu juga hak mu"
Fia semakin menunduk. Ada desir rasa yang berbeda dalam hati yang tidak bisa ia jabarkan.
__ADS_1
Gejolak dalam diri Bang Zeni pun kembali merangkak naik. Baju seragam loreng masih lengkap melekat di badan. Akal dan pikirannya berperang hebat. Awalnya ia hanya mendaratkan satu kecupan di kening, kemudian menjalar hingga bibir. Lama kelamaan dirinya pun kalah dengan keadaan. Perlahan Bang Zeni merebahkan Fia dan bermain tipis menyusuri lekuk tubuh sang istri.
"Dek, kalau Abang minta seperti yang tadi malam?" Tanya Bang Zeni hati-hati.
Fia masih terpaku dengan pikirannya sendiri. Yang ia rasakan hanya deru nafas Bang Zeni yang semakin memburu.
"Mau nggak di sayang Abang lagi? Enak khan semalam?" Bang Zeni tau Fia mulai belajar terbiasa karena pipi istri kecilnya memerah. "Yuk dek..!! Sebentar aja..!!"
Tubuh Fia yang awalnya kaku kini mulai melemas, ia tidak menolak saat Bang Zeni melonggarkan pahanya. Fia juga tidak menolaknya saat tangan kekar Bang Zeni menyentuhnya dengan lembut.
"Bang, jangan pukul Fia ya..!! Abang mau tanggung jawab khan sama Fia?" Pertanyaan Fia menghentikan perlakuan Bang Zeni.
"Tanggung jawab apa dek? Menikahimu seperti ini juga tanggung jawab Abang sama kamu" kata Bang Zeni sejenak bingung dengan arah ucapan Fia.
"Abang pura-pura bodoh apa memang ingin sengaja menghindar dari Fia??"
"Ya Allah, Fia bojoku sing ayu dewe.. Ya sudah Abang memang bodoh. Jelaskan pelan-pelan sama Abang, biar Abang ngerti salah dan nggak mengulang lagi" meskipun dalam hatinya gemas tak karuan, Bang Zeni tetap berusaha lembut pada Fia.
"Fia hamil, sekarang Fia tau untuk bersikap tegas pada laki-laki biar punya rasa tanggung jawab"
Bang Zeni menepuk dahinya. "Kamu hamil sama siapa Neng???? Duuuhh..!!!!!!!!"
Fia mendorong dada Bang Zeni dengan kuat. "Ya sama Abang. Dari kemarin khan Fia sudah hamil"
Mendengar kata hamil membuat nafsu Bang Zeni semakin naik, jiwa lelakinya tertantang. Sungguh dirinya sudah gemas sekali. "Oohh gitu.. okee.. biar Abang carikan tempat tidur yang nyaman buat si kecil kita" tanpa banyak bicara Bang Zeni bersiap memulai lagi.
Ia mematikan HTnya, mematikan ponsel dan dengan cepat membuka kancing baju seragamnya.
.
.
__ADS_1
.
.