
Semalamam ini Bang Rudra berserah kepada Yang Maha Pemberi Hidup, hingga menjelang pagi ia tertidur dan melihat Arina duduk bersama gadis cilik yang cantik.
"Sayang" sapa Bang Rudra saat dua tahun kepergian Arina. Rasa rindu itu membuncah, ingin tangan itu menggapainya tapi Arina menolak.
"Kita sudah memiliki jalan yang berbeda Bang, aku punya anak gadis kita, dan Abang bersama Ariana.. istri Abang. Harapanku.. Abang mampu menyayangi Ariana seperti Abang menyayangiku. Biarkan dia mendapatkan cintamu. Jangan menyakiti hatinya Bang" pesan Arina untuk Bang Rudra.
"Arinaa..!!!" Bang Rudra tersentak dari tidurnya, dadanya terasa sesak. "Astagfirullah hal adzim Ya Allah" Bang Rudra mengusap wajahnya.
Bang Rudra berdiri dan langsung berlari menghambur memeluk Ariana hingga membuat istrinya itu kaget. Pasalnya tadi Bang Rudra sedang tidur di ruang tamu.
"Ada apa Bang??" Ariana takut melihat Bang Rudra yang tiba-tiba menubruknya. "Apa Abang masih marah?"
"Jika cara Abang menikahi mu adalah sebuah kesalahan.. kini Abang akan menebus cara yang salah itu untuk mencintaimu sepanjang nafasku.. dan Abang jika nafas Abang terhenti lebih dulu.. Abang akan menunggumu di pintu surga. Sebab pernikahan tak pernah salah adanya"
"Abaaaanngg.." seketika Ariana menangis memeluk Bang Rudra.
"Abang sayang kamu..!!" Bang Rudra membalas pelukan Ariana dengan sayang.
//
"Baang.. dengar khan?? Itu suara apa?? Apa Ariana di pukuli Bang Rudra?????" Tanya Fia cemas. Berkali-kali ia menggoyang lengan Bang Rakit agar suaminya itu meresponnya.
Bang Rakit tersenyum paham keadaan di kamar sebelah.
"Bang Rudra menyalurkan tenaga dalam.. seperti ini...!! Dan kamu jangan ribut sendiri..!!" Bang Rakit sedikit bergeser lalu mengecup bibir Fia. "Abang ingin sekali merayumu, tapi sayang Abang tidak pandai merangkai kata. Abang ingin selalu memelukmu, tapi kita pun berbatas waktu, lalu bagaimana Abang ungkapkan sayang sama kamu"
"Jangan pernah tinggalkan Fia, tetap selipkan kata bahwa Abang baik-baik saja."
"Pasti.. dan jangan pernah kamu pergi jauh dariku, aku tidak sanggup kehilangan mu" Bang Rakit menarik selimut untuk menutupi tubuhnya bersama Fia.
-_-_-_-
Pagi ini para anggota membantu Bang Rakit mengangkut barangnya menuju rumdis Batalyon. Hanya sekejap saja Kapten Rakit menjabat karena kuasanya telah di cabut Markas Besar karena peristiwa berdarah beberapa waktu yang lalu.
Para istri anggota yang mengenal Fia ikut menangis sebab kehilangan ibu Danki yang begitu cantik dan baik. Dulu mereka menangis saat ibu Fia Elgash Narotama melepas jabatannya, kini saat namanya menjadi Ibu Fia Seno Rakit.. jabatan itu pun harus terlepas.
"Saya.. selaku istri dari Kapten Seno Rakit.. mohon ijin undur diri dari Kompi penyerahan. Saya mohon maaf jika selama saya menjabat sebagai ketua ranting banyak salah kata juga sikap yang tidak berkenan. Untuk selanjutnya.. jabatan saya akan di lanjutkan ibu yang baru. Mohon untuk ibu-ibu dapat mengikuti arahan beliau" Fia menangkupkan kedua tangannya.
Sontak ibu-ibu berlarian memeluk Fia. Mereka bertangis-tangisan melepas ibu Danki yang baik hati.
"Sehat-sehat ibu di tempat dinas yang baru. Sungguh kami mengantar ibu dengan rasa yang begitu berat" kata ibu pengurus ranting
__ADS_1
"Saya tetap ada di wilayah Timur Bu. Tidak jauh..!!" Bujuk Fia.
"Kami pasti merindukan ibu." Kata seorang ibu sambil memeluk Fia. "Sehat selalu untuk ibu dan dedek sampai persalinan nanti, semangat mendampingi bapak dan langgeng pernikahan bersama bapak"
"Aamiin.. Terima kasih banyak ibu-ibu semua" jawab Fia.
...
"Allahu Akbar.. kalau kangen Abang antar ke Kompi. Jangan nangis terus. Kalah ingusmu sama ingusnya Arsene" Bang Rakit membujuk Fia yang masih saja menangis.
Fia berusaha tidak menangis tapi tangisnya tetap menetes juga.
"Pahit dan manis kenangan.. semua ada disana Bang" kata Fia.
"Ya sudah.. itu khan bagian dari kisah hidup. Sekarang kita mulai kisah kita yang baru. Abang punya yang manis tapi bukan gula, ada yang asin tapi bukan garam, ada yang asam tapi bukan jeruk."
"Apa itu Bang?" Tanya Fia.
"Sebentuk hati untuk sang permaisuri hati" jawab Bang Rakit sembari menyatukan kedua tangannya membentuk love.
"Cieeeeee.. Danki belajar merayu. Romantis banget Dan" kata Om Alvin yang baru kali ini, sepanjang hidupnya selama menjadi ajudan Kapten Rakit.. melihat Dankinya sesayang dan selembut ini, apalagi pada satu-satu wanita yang paling di sayangi.
"Kamu meledek saya????" Suara Bang Rakit menggelegar memekakkan seisi mobil.
"Fokus dan lihat depan, waspada batu, awasi lubang, jangan terlalu goncang..!!!!!!!!!" Jelas kebiasaan posesif tak bisa hilang begitu saja dari diri suami Fia itu.
"Hhkk.. Bang jangan teriak..!!" Kata Fia.
"Ya ampun.. maaf sayang.. Abang nggak sengaja" Bang Rakit merendahkan suaranya berharap rasa mual Fia hilang dan dirinya tidak harus menguras isi lambung.
Beruntung kali ini dirinya bisa mengendalikan godaan nakal calon bayi kecilnya hingga rasa mual itu mereda.
:
Jarak yang tidak begitu jauh membuat perjalanan mereka hanya singkat saja. Hari sudah sore, kepulan asap menutup jalan arah masuk kesatrian.
"Abaaaanngg..!!!!" Suara dentuman keras berkali-kali terdengar sampai Fia berjingkat memeluk Bang Rakit. Hanya Arsene saja yang masih santai memeluk mainannya di jok depan, bahkan jagoan kecilnya itu mengantuk seakan tidak terganggu keadaan sekitar.
"Tenang sayang.. itu hanya suara anak-anak main petasan..!!" Jawab Bang Rakit mirip seperti almarhum Bang Zeni saat akan meninggalkan dirinya. "Kamu tunggu disini ya, Abang mau lihat keadaan di luar..!!"
"Jangaan..!!!!! Abang nggak boleh pergi..!!!!!!" Fia menarik lengan Bang Rakit agar tidak keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
hhggg
Nafas Fia seakan tertahan, ia meremas dadanya sampai akhirnya bersandar lemas pada Bang Rakit.
"Dek.. kamu kenapa sayang?" Bang Rakit panik melihat Fia mengejang ketakutan.
"Bang Zeni.. pergi karena dengar dentuman itu. Fia nggak mau Abang kesana..!! Fia nggak mau Abaang..........." Fia ketakutan hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
"Alvin.. cepat periksa ada apa di depan. Sekarang juga...!!!!!!"
"Siap..!!"
"Saya tumbuk halus, saya pastikan tumbling bagi siapapun yang berani buat Fia sampai begini..!!!!!!!!"
Om Alvin turun dari mobil dan melihat ada Kapten Al Khobar di tepi jalan. Om Alvin segera berlari dan memberikan penghormatan.
"Selamat sore Komandan.. ijin"
"Lho Vin.. kamu sudah datang?" Tanya Bang Cemar. "Mana Kaptenmu??"
"Siap.. Kapten Rakit berada di dalam mobil, ijin bertanya.. ada kejadian apa sampai ada dentuman?"
"Ooohh.. itu acara tradisi penyambutan Taja yang baru selesai pendidikan khusus. Tenang aja, kamu aman. Nggak ikut tradisi" jawab Bang Cemar. "Lihat.. yang saya buat bagus khan? Ini type penyambutan karya saya yang luar biasa" ucap Bang Cemar dengan sombongnya.
"Ijin Dan.. Ibu Rakit tidak sadarkan diri dan Kapten meminta saya mencari tau penyebab dentuman ini.
"Astagaaa.." Bang Cemar menepuk dahinya. "Aku lupa kalau Fia nggak bisa dengar suara setingkat granat. Lalu sekarang bagaimana Kaptenmu marah nggak?" Tanya Bang Cemar ikut panik.
"Siap.. Alhamdulillah tidak........."
"Alhamdulillah.."
"Hanya di tumbuk halus dan di tumbling sama Kapten Rakit..!!"
"Oohh bosoookk.. ngomong ojo di tugel to Vin..!!!!!!!" Protes Bang Cemar sambil melangkah ke mobil Bang Rakit.
.
.
.
__ADS_1
.