Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
79. Kecelakaan tak sengaja.


__ADS_3

Bang Rudra ikut ke kompi Bang Rakit tapi ia memilih menyendiri sebab adiknya sedang sibuk mengarahkan anggotanya.


Kini hatinya gelisah, cemas terbayang wajah Ariana.


Apa penyebab Rina dan Arin terpisah?? Mengapa Arin bisa sampai begitu polos dan di jual pada penduduk perbatasan. Untuk apa???? Mengapa Najib tega melakukannya?????


Ribuan pertanyaan membayangi pikiran Bang Rudra.


"Ikut nggak Bang??" Tegur Bang Rakit.


"Kemana??"


"Buat tembusan ke Matra laut. Fia pengen naik kapal selam. Nggak tega lah aku lihat Fia ngidam" jawab Bang Rakit.


"Yo wes ayo"


//


Saat Bang Rakit sedang sibuk mengurus tembusan pada komandan Matra darat, Fia dan Ariana sibuk memancing kepiting di lahan tanaman bakau.


"Apa perlu pakai jaring?" Tanya Ariana.


"Nggak donk.. kata Abang jaringnya bisa putus karena di japit. Mungkin lebih baik kita ambil dengan tangan kosong" jawab Fia.


"Oke.. kita kasih kejutan ke bapak-bapak menyebalkan, dingin dan sok tau itu" kata Ariana dengan sombong.


//


"Bodoooh.. kamu itu saya perintahkan jaga si sekitar rumah saya. Masa kamu nggak tau istri saya dan Bu Rudra pergi kemana?????" Bentak Bang Rakit yang masih ada di lokasi Matra laut.


"Siap salah" jawab Om Wahyu.


Bang Rakit menutup panggilan teleponnya dengan kasar.


"Ada apa?? Fia sama Arin pergi kemana???" Tanya Bang Rudra tiba-tiba saja ikut cemas.


"Nggak ada yang tau mereka pergi kemana" jawab Bang Rakit berpikir keras mengingat sesuatu kalau mungkin Fia akan menyebut sebuah tempat.


"Kamu ingat sesuatu nggak??" Tanya Bang Rudra lagi.


"Ini aku lagi mikir Bang" Bang Rakit sungguh jengkel karena Abangnya terus merusak konsentrasi nya.


Sedang dalam konsentrasi penuh tiba-tiba tim SAR Matra laut berlarian sembari menggotong perahu karet.

__ADS_1


Batin Bang Rakit seketika tersentak. "Ada apa?" Tanya Bang Rakit.


"Ada dua wanita terseret ombak dari lahan bakau. Ombak sedang pasang tapi mereka nekat mencari kepiting dengan umpan kelapa"


Mendengar umpan kelapa, Bang rakit semakin panik sebab dirinya pernah di ajarkan Papa Galar bersama Almarhum Zeni dalam acara survival dulu.. dan mungkin saja almarhum Zeni pernah mengajarkan pada Fia.


"Saya ikut..!!" Pinta Bang Rakit.


"Tapi Dan..!!!"


"Ijinkan saya ikut..!!!" Pinta Bang Rakit sedikit memaksa. "Ayo Bang"


"Aahh.. perempuan macam apa yang buat kerepotan sampai seperti ini" gerutu Bang Rudra.


:


"Astagfirullah.. Fiaaaaaaa..!!!!" Tanpa pikir panjang Bang Rakit langsung terjun ke lautan.


"Arin.." Bang Rudra pun akhirnya ikut melompat untuk menyelamatkan Arin.


Meskipun harus terombang-ambing di lautan, Bang Rakit mampu menggapai Fia dan menyelamatkan istrinya itu.


:


Bang Rakit langsung memeluk Fia. "Ojo aneh-aneh to dek..!!" Suara itu begitu tercekat.


"Kepiting Fia mana Bang??" Tanya Fia.


"Mikir apa kamu sampai pergi ke lahan bakau untuk ambil kepiting???" Tegur keras Bang Rudra pada Ariana namun ia meneliti tubuh Ariana disana sini." Kamu di japit kepiting nggak??"


Bang Rakit pun baru sadar akan peristiwa yang menimpa Fia. "Kamu nggak apa-apa??"


"Sandal Fia di bawa kepitingnya ke atas pohon" jawab Fia sampai menggigil.


"Nanti Abang belikan lagi..!!" Bang Rakit belum bisa berkomentar banyak karena dirinya masih sangat syok melihat keadaan Fia.


Para anggota bingung harus tertawa atau sedih melihat insiden yang menimpa kedua istri perwira.


:


Komandan Kolonel laut di sana terkikik geli melihat kedua kapten kocar kacir mengurus istri mereka.


"Ini insiden paling menggelikan seumur hidup saya. Bisa-bisanya yang masuk ke dalam jaring adalah nelayannya, bukan ikannya" kata kolonel tersebut. "Ini tragedi yang buat saya pengen tertawa"

__ADS_1


Bang Rudra dan Bang Rakit sudah cemas karena istri mereka sudah menatap wajah Kolonel dengan tatapan tak bersahabat apalagi Fia yang sedang hamil.


...


"Iya, dasar gentong, botak seperti lapangan golf" kata Ariana.


"Aku kesal sekali dia menertawai aku." Fia pun bersungut kesal hingga tanduknya terasa naik di jidat.


"Jangan ribut.. itu salah kalian..!!" Kata Bang Rakit dan Bang Rudra bersamaan.


"Demi kepiting macam itu nyawa kalian hampir melayang." Bentak Bang Rakit. "Kamu lagi dek.. kepiting seperti itu khan banyak di pasar. Kenapa kamu pakai ke laut untuk jaring kepiting. Kamu tau nggak di dekat tanaman bakau kalau airnya sedang pasang.. kamu bisa terseret ke lautan..!!!!!!"


"Laahh.. ini sudah kejadian" imbuh Bang Rudra.


"Anak Abang yang minta" jawab Fia membuat Bang Rakit terdiam. Mulutnya terkunci tak bisa berkata-kata. "Masa nggak boleh Fia ambil kepiting"


"Boleh.. boleh kok dek, tapi ya jangan di kebun bakau juga lah sayang, kawasan seperti itu juga rawan binatang berbahaya. Itu daerah muara.. masih ada buaya, ular laut, bintang laut, duri babi apalagi hanya modal sandal jepit untuk pelindung kaki.. malah hilang lagi" kata Bang Rakit menasehati Fia.


"Kamu juga kenapa ikut-ikutan?????" Bang Rudra akhirnya tidak tahan untuk tidak bersuara. "Masa tidak ada yang lebih pintar sedikit saja??" Nada suara Bang Rudra sedikit keras dan akhirnya malah membuat wajah kedua istri menangis sesenggukan.


"Sudahlah Bang, jangan marah lagi. Mereka tidak tergulung ombak saja masih untung" kata Bang Rakit terus menenangkan Fia yang terlihat syok.


:


Sebenarnya Bang Rakit bukannya tidak marah dengan ulah sang istri, tapi ia lebih memikirkan kandungan Fia. Saat ini dirinya benar-benar belajar mengalah dan menekan emosinya.


Duduk di bangku depan tak hentinya suara Bang Rudra mengomeli sang istri. Ucapnya seakan berbanding terbalik dengan sesumbarnya saat ingin membalas dendam.


"Kalau tidak ada tim SAR yang tau keberadaan mu disana tadi.. mau jadi apa kamu?????" Suara Bang Rudra kencang memekakkan telinga.


"Arin nggak mau jadi apa-apa. Cuma cari kepiting" Jawab Arin dengan lugunya.


"Jangan nangis..!!!!! Abang ini cuma ngomong, nggak mukul." Bentak Bang Rudra.


Tak di sangka kedua wanita semakin sesenggukan dan membuat para suami panik.


"Duuuuhh Bang, kalau nggak bisa nenangin lebih baik diam dah. Lu mah semakin bikin masalah.." suara Bang Rakit sedikit meninggi dan kini Fia bereaksi mual. "Astagaaaa.. Aaaaarrrrgghhh...!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2