Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
24. Kesal.


__ADS_3

"Tak sawang-sawang kowe ayu tenan.. rasane.. aku pengen kenalan..!!" Lagu Bang Zeni merayu-rayu sang istri agar istrinya itu tidak semarah tadi. Fia memang tidak bersuara, tapi wajahnya jelas menunjukan kemarahan karena kelakuan Iis.


Memang tidak semua penyanyi berlaku seperti itu tapi kali ini Bang Zeni bertemu penyanyi yang berani mengganggu dirinya di hadapan sang istri.


Bang Zeni mengibaskan uang di hadapan Fia. Tak menyangka ternyata Fia bisa berlenggok bergoyang pinggul menggoda Bang Zeni. "Jangan nakal disini dek, banyak orang..!!" Tegur pelan Bang Zeni karena tidak ingin pria lain melihat pintarnya Fia bergoyang.


"Kenapa?? Fia juga bisa. Apa Abang hanya ingin melihat dia saja yang goyang??" Tanya Fia seakan menjebak. "Fia mau joged sama Om Felix donk..!!"


"Duuhh kamu ini, yang wajar saja lah mintanya. Masa pengen joged sama Felix" Bang Zeni mulai ketar ketir mendengar permintaan Fia, jika ini masalah ngidam.. maka selesailah sudah dirinya tidak bisa berbuat apapun.


Fia mengembalikan semua uang pemberian Bang Zeni dan meninggalkan suaminya itu dengan wajah mendung.


"Astagfirullah dek.." Bang Zeni menepuk dahinya. "Felix.. sini kamu..!!!!"


Bang Felix yang sedang asyik minum pun kaget, ia segera menghampiri Danki. "Siap Bang, arahan..!!!"


"Temani istri saya joged..!!" Ucapnya malas.


"Haahh.. ijin Bang, saya nggak berani"


"Sudah sana sama istri saya.. saya ikhlas pokoknya anak saya nggak ngileran" kata Bang Zeni pasrah demi ngidamnya sang istri.


"Siap.. ijin Abang..!!"


Bang Felix pun melangkah menuju panggung. "Untuk rekan-rekan anggota yang merasa bujangan.. bujang lokal, silakan maju untuk joged bersama Ibu Danki. Ibu Danki sedang hamil dan ingin sejenak melepas penat" Bang Felix mengambil jalan tengah untuk permasalah ini karena paham dengan kecemburuan Abangnya tersebut.


"Yeeeaayy..." Para anggota menuju panggung.


"Mbak Ani sambung nyanyi ya. Kasihan kalau Bu Danki nyanyi" arahan Bang Felix pada penyanyi yang lain.


Senyum Fia merekah, melangkah naik ke atas panggung. Bang Felix mengulurkan tangannya tapi Fia membalas tersenyum dan memilih berpegangan pada lengan seragam Bang Felix yang tidak di gulung. "Terima kasih Om Felix" ucap Fia dengan sopan untuk menghormati junior suaminya di atas panggung.


"Sama-sama Ibu Danki" jawab Bang Felix yang juga menghormati Fia.


~


Saat sedang sedikit berlenggok, Iis menyela berjoged di antara para om-om bujangan, termasuk berdekatan dengan Fia dan Bang Felix.


Fia pun jadi badmood padahal dirinya juga tidak sedekat itu saat berjoged dengan om-om termasuk Bang Felix. Jogednya pun juga tidak seheboh saat dirinya berdua dengan Bang Zeni tadi.


Tau istrinya sedang tidak enak hati, Bang Zeni pun menghampiri di bawah panggung. "Sini turun.. nanti joged sama Abang saja..!!" Bang Zeni mengulurkan tangannya membantu Fia untuk turun dari arah samping panggung.


"Fia nggak suka goyangannya Abang, nyosor terus" jawab jujur Fia.


Bang Zeni tersenyum geli mendengarnya. "Ya khan Abang gemas sama istri sendiri, masa nggak boleh?" Tangan Bang Zeni tetap terulur sampai akhirnya Fia menggapainya.

__ADS_1


"Abang suka begitu ya kalau lihat perempuan?" Tanya Fia saat Bang Zeni menangkapnya yang berhasil meluncur dari atas panggung.


"Pengen tau banget apa pengen tau ajaa??" Goda Bang Zeni.


"Iiisshh Abang" Fia berontak dan ingin lepas dari dekapan Bang Zeni.


"Abang sudah kenyang nakal, nakal yang tanpa rasa sama sekali dan hanya penuh rasa penasaran. Tapi nakalnya Abang sama kamu jelas karena sayang.. juga rindu" Bang Zeni menempelkan hidung mancungnya pada hidung mancung Fia. "Abang gengsi sekali mengucap kata cinta, tapi bagaimana donk.. Abang cinta banget sama kamu" ucap Bang Zeni untuk pertama kalinya di telinga Fia.


"Fia juga sayang sama Abang, Fia juga kangen terus sama Abang"


Seketika rasa gemas Bang Zeni tak tertahan, ia mendorong Fia ke belakang panggung yang sepi meskipun suara sound sistem memekakkan telinga.


Disana Bang Zeni meluapkan rasa sayangnya, ia mengecup bibir Fia penuh cinta. Tak bisa lagi menahan diri, Bang Zeni menarik tengkuk Fia untuk memperdalam pagutannya.


...


Bang Zeni salah tingkah menggaruk rambutnya melihat pipi Fia yang memerah dan mengalihkan pandangan darinya. Rasanya ada degub jantung berdetak berbeda.


"Inikah indahnya jatuh cinta" gumamnya.


"Eehh.. kamu ini dari tadi melirik Fia. Yang nanti malam ya di urus nanti malam..!!" Tegur Bang Fabian.


"Nggak bisa, nanti malam kita mau ngopi disini..!!" Kata Bang Cemar sengaja merusak suasana.


"Kalian berdua pulang sana. Istri kalian minta di manja tuh" usir Bang Zeni.


"Manjain Fia lah" jawab Bang Zeni tak peduli lagi reaksi kedua sahabatnya.


Tak lama Nelis menghampiri Bang Fabian. "Abang, pulang yuk..!! Nelis capek....perut Nelis juga nggak enak"


"Lho.. kamu kenapa? Tadi makan apa?" Tanya Bang Fabian cemas.


"Makan bakso aja" jawab Nelis.


"Yo wes lah bro, aku pamit ya. Nelis capek nih"


"Ya sudah sana" Bang Zeni merasa nyeri melihat perut istri sahabatnya terlihat besar, begah dan susah berjalan.. tak terbayang jika nanti Fia harus mengalaminya juga.


"Aku juga pamit ajak Gina, takut kecapekan juga" pamit Bang Cemar.


"Ide bagus bro.. jangan kesini lagi ya" kata Bang Zeni.


Sesaat kemudian Iis menghampiri Bang Zeni dan Bang Cemar. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. "Pak Zeni, saya minta nomer ponsel ya?"


"Eheemm.." Bang Zeni berdehem sesak cemas melirik reaksi Fia. "08.........."

__ADS_1


"Terima kasih Pak Zeni" jawab Iis dengan genit.


Fia melirik Iis dan terlihat Iis pun meliriknya dengan berani dan penuh kemenangan.


"Huusstt.. kamu nggak kesal?" Bisik Gina.


"Kesal sih, tapi Bang Zen tau kok konsekuensinya.


~


"Sudahlah aku nggak mau cari perkara sama bumil, kalau aku macam-macam pilihannya hanya dua.. patah as atau mesin mati total" Bang Zeni berbisik menjawab Bang Cemar.


"Rasain lu. Hahahaha..!!!!!"


...


Fia membuka ponselnya. Ponsel pemberian Bang Zeni untuknya saat akan menikah waktu itu.


I : Hai Bang, Ini Iis. Kalau mau duet sama Iis.. Abang datang saja ke cafe, nanti kita selesaikan duet di private room..!!"


Wajah Fia meradang membacanya. Ia pun kemudian membaca pesan singkat yang baru kembali masuk.


I : Iis hanya ingin berteman saja dengan Abang.. syukur kalau boleh jadi yang kedua. Hehehe.. Iis baik khan Bang, masih mau berbagi sama istri Abang. Piiiss..


"Deekk.. sayaang.." sapa Bang Zeni baru masuk ke dalam kamar usai mandi.


"Apa sayang-sayang. Ini di cari penggemar Danki." Fia melempar ponselnya dekat dengan Bang Zeni yang sedang mengeringkan rambut.


Bang Zeni mengambil ponsel Fia lalu membawa pesannya. "Ciyeeee.. istri Abang cemburu niihh..!!" Ledek Bang Zeni.


"Fia nggak main-main ya Bang..!! Dia berani menghubungi Abang sampai seperti ini."


"Jadi sekarang istri Abang sudah tau maksud terselubung perempuan lain??" Tanya Bang Zeni.


"Tau lah, memangnya sejak kapan Fia bodoh?? Abang mau janjian sama dia khan????" air mata Fia sudah menggenang di pelupuk mata.


"Lhaaa.. tenan to. Itu pesan khan masuknya ke ponselmu, kamu yang baca juga.. terus kenapa sekarang Abang yang kena marah????" Tanya Bang Zeni.


Fia menghapus air matanya, ia baru menyadari kebodohannya. "Yaa.. pokoknya Abang salah" jawabnya menghindari rasa malu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2