
Anggaplah ini suasana di sekitar tempat dinas Bang Zeni.
🌹🌹🌹
Bang Zeni sudah berguling, push up, hingga sikap tobat dari Danyon. Ia rela melakukan semua asal Danyon tidak lagi menyalahkan Fia. Memang salahnya yang lebih memilih untuk mendekap Fia saat yang lain sedang sibuk dengan kegiatan.
"Cari istri tuh yang dewasa, masa semua sedang sibuk tapi dia mengurungmu di dalam kamar. Pantas saja umur pun masih sangat muda"
"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan. Saya bawa istri juga dengan ijin khusus. Untuk masalah selanjutnya.. jangan bawa-bawa istri saya. Semua murni kesalahan saya, kelalaian saya. Bukan istri saya.
"Jangan lancang kamu Zeni. Nggak salah bagaimana?? Saya mendapat laporan istrimu memberi makan para prajurit dengan mie instan, padahal Batalyon sudah mengirimkan makanan untuk prajurit. Siapa yang memberi kuasa istrimu melangkahi semua. Membuat dapur umum dll. Batalyon menggelontorkan dana terlalu besar karena istrimu" tegur Danyon.
"Saya minta laporan keuangan..!!"
"Buat apa???? Laporan amunisi saja kamu salah karena repot mendekap gadis kecil yang dadanya hanya besar tipuan saja"
Jika hinaan hanya menyangkut tentang dirinya saja, ia masih bisa tahan.. tapi ucapan ini mengarah pada Fia. Bang Zeni berjalan menghampiri Danyon. Tangannya langsung menarik kerah Danyon lalu menonjok wajahnya sekuat mungkin.
buuugghh..
"Beraninya kau menghina istriku..!! Harusnya kamu cek sendiri keadaan anggotamu. Anggotamu kelaparan, butuh makan.. kamu dimana?? Kamu sedang jalan-jalan dengan istrimu" bentak Bang Zeni sembari menonjok Bang Aditya selaku Danyon. "Kau tau.. istriku memberi anak buahmu makan siang dengan uang pribadi karena konsumsi telat datang. Cari mati kau menghina istri Lettu Zeni?????"
"Laporan dari Najib sudah turun. Kau memakai uang Batalyon untuk acara pribadimu dan kamu menghilangkan satu magazen" kata Bang Aditya terbata.
"Panggil Najib..!!!!!!!" Bang Zeni mengeratkan cengkeraman tangannya.
:
Suasana tegang di dalam ruangan tapi Bang Cemar sibuk berjongkok di depan Lemari es di ruang Danyon. Ia memakan kue tart yang masih utuh belum terpotong dan tertulis nama Yanti yang merupakan istri Danyon, tak cukup dengan itu Bang Cemar membuka softdrink dan meminumnya tanpa ijin.
"Heeh Najib. Jelaskan isi laporan keuangan itu..!!" Ucap tegas Bang Zeni.
Mayor Najib masih terdiam, ia melihat raut wajah Bang Zeni yang paling tidak ia sukai, lebih tepatnya ia takuti karena Bang Zeni bisa menduduki jabatan Danki termuda karena prestasi nya yang luar biasa.
"Kau punya mulut atau tidak?????" Bentak Bang Zeni.
__ADS_1
"Dana konsumsi memang saya yang mengambil. Saya mohon maaf. Tapi sumpah demi Tuhan untuk magazen.. saya tidak tau" jawab Mayor Najib.
"Uhuukk.." Bang Cemar terbatuk dan mengalihkan semua pandangan ke arahnya.
Bang Najib berdiri dan membantu Bang Cemar tapi tak sengaja softdrink di mulut Bang Cemar menyembur ke wajah Bang Najib.
"Maaf Bang, tak sengaja" kata Bang Cemar.
"Kamu ini"
"Saya nggak mau tau, urusan keuangan ini harus beres. Saya mau nama saya bersih kembali. Untuk masalah magazen. Saya akan berusaha mencarinya.. dan kamu Mar, tolong awasi Najib ini" ucapnya meninggalkan tempat dengan malas.
...
"Kamu makan roti coklat sama nasi dek?" Tanya Bang Zeni yang tidak mendengar jawaban salam dari Fia dan ternyata istrinya sedang sibuk makan di dapur. "Salam Abang nggak di jawab."
"Wa'alaikumsalam" jawabnya dengan mulut penuh.
"Ini es apa?" Bang Zeni melihat sejenis sirup keruh di gelas Fia dan segera meminumnya tanpa persetujuan. "Hhkkkk" Bang Zeni langsung berlari menuju toilet.
~
"Fia suka pare, suka juga roti coklat sama nasi"
"Kamu ini kenapa sih. Ini hari ke tiga sikapmu aneh. Kemarin lusa masak tumis belimbing campur tongkol, kemarin masak kolak tempe tahu. Abang pengen badan berisi, bukan kurus kering" protes Bang Zeni.
"Kalau nggak mau ya sudah." Jawab Fia seenaknya kemudian menodongkan tangan "Fia minta uang Bang, uang baru"
"Abang nggak punya uang baru. Uang biasa aja ya?"
"Nggak"
"Ya sudah sebentar..!!"
:
Tak lama Bang Cemar datang membawakan uang baru untuk Fia.
__ADS_1
"Tolong carikan aku stok uang baru. Aku takut Fia minta lagi"
"Gampang. Nanti aku call orang Bank." Jawab Bang Cemar.
"Dek.. ini uangnya..!!" Bang Zeni memanggil Fia.
Fia pun datang membawa sesuatu di tangannya sampai membuat mata Bang Zeni dan Bang Cemar melotot.
"Ya Allah Tuhanku.. darimana kamu dapat magazen itu?????" Tanya Bang Zeni dengan suara meninggi.
"Dompet besi ini Fia dapat dari tempat Abang latihan" jawab Fia.
"Duuuuhh Gustii.. dompet lagi dia bilang. Lalu dimana isinya??????"
"Pakunya Fia taruh di rak obat nyamuk" wajah polos Fia menunjukan ekspresi wajah tanpa rasa bersalah.
"Abang bisa di sel kalau barang ini hilang ndhuk..!!!!!" Bang Zeni mengambil magazen tersebut dan mengeluarkan isi uang yang sudah Fia selipkan dengan rapi dan disana Bang Cemar tertawa terbahak melihat kepanikan Bang Zeni.
Bang Zeni melangkah menuju dapur dan benar saja peluru itu ada di rak obat nyamuk. Bang Zeni pun kembali ke ruang tamu.
"Benar-benar manis. Kalau sempat 'paku' ini kamu hantam ke tembok.. bisa meledak kita satu rumah..!!" Ancam Bang Zeni. "Jangan pernah kamu sentuh barang ini lagi. Ini benda keramat milik tentara. Paham kamu..!!!!!" Bentak Bang Zeni. Sebenarnya tidak ada niat untuk Bang Zeni menyakiti hati Fia. Tapi dia terpaksa melakukannya agar Fia tidak mengulang hal ini lagi sekalian memberi Fia syok terapy agar lebih waspada.
"Pa_ham Bang" suara Fia sesenggukan, ia berdiri dan berjalan pelan menuju kamar lalu menutup pintu kamarnya.
"Zen.. apa kamu tidak terlalu berlebihan."
"Aku terpaksa Mar, biar dia paham dan tidak main amunisi lagi"
"Kamu sih, yang di ajarkan hanya amunisi besar saja, yang kecil nggak kamu ajarkan." Kata Bang Cemar.
"Karena yang besar itu lebih bahaya Mar. Makanya ku ajarkan lebih dulu" jawab Bang Zeni tersenyum meskipun pikirannya semrawut memikirkan Fia yang pasti sedang menangis di dalam kamar.
.
.
.
__ADS_1
.