
Dengan kerjasama team dokter akhirnya keadaan Fia mampu di stabilkan. Bang Rudra memeluk tubuh adiknya yang nyaris tumbang saking syoknya melihat keadaan Fia.
"Wes.... Fia sudah nggak apa-apa. Anakmu yang di perut baik-baik saja" bujuk Bang Rudra.
"Aku nggak kuat lihat Fia sampai seperti ini Bang" jawabnya memegangi dadanya yang terasa sakit luar biasa.
"Abang ngerti perasaan mu. Setelah ini jangan kamu tunjukan raut wajah marah dan masam mu di depan Fia."
Bang Rakit mengangguk.
"Abang tinggal sebentar ya, baik-baik kamu jaga Fia. Abang belum telepon si Patra. Nggak bisa tidur dia nanti"
~
"Papa sama Om Rakit. Bang Patra belum tidur le?" Tanya Bang Rudra menyapa putranya. Sang istri tercinta telah tiada saat melahirkan Patra dan itu meninggalkan pukulan berat untuknya.
"Abang tunggu Papa."
"Papa masih kerja nak. Abang baik-baik sama Oma Opa ya. Kalau pulang Papa bawakan mainan" bujuknya pada sang putra.
Tak lama Patra menyudahi panggilan teleponnya. Batinnya menangis harus membesarkan Patra seorang diri. Rindu, gelisah, sakit, takut, semua berkecamuk menjadi satu.
"Abang nggak sanggup mencari pengganti mu dek. Tenanglah kamu disana. Abang akan menjaga anak kita" gumam Bang Rudra kala mengingat mendiang sang istri. "Serindu-rindunya Abang sama kamu, Abang tidak akan menyentuh wanita lain selain kamu" Bang Rudra mengusap dadanya hingga tenang. Setiap mengingat mendiang Arina hatinya selalu bergejolak rindu bercampur rasa sakit tak tertahan.
Ia pun beranjak dan kembali ke kamar rawat Fia. Mau tak mau ia harus ia kuat mengawasi adiknya sesuai ijin khusus dari Papa Danar karena peristiwa berdarah itu sudah sampai ke telinga Papanya itu. Papa Danar takut Rakit akan lepas kendali dan brutal menghakimi Letkol Najib.
~
"Mau kemana kamu?" Tegur Bang Rudra saat Bang Rakit keluar dari kamar.
"Merokok saja. Fia dan Arsene sudah tidur. Aku nggak bisa tidur" jawab Bang Rakit terdengar dingin sesuai sikapnya dan sangat jauh berbeda saat dirinya sedang bersama Fia.
"Abang temani" kata Bang Rudra meskipun matanya sudah memerah menahan kantuk.
Bang Rakit mendesah pasrah karena paham dirinya sedang di jaga ketat oleh tiga pihak keamanan dan Dantim nya adalah Bang Rudra sendiri. "Aku mau ke ruang rawat Najib"
__ADS_1
"Nggak bisa. Disana juga di jaga. Takut kamu nggak terkontrol" ucap jujur Bang Rudra.
Bang Rakit mengambil rokok lalu menyulutnya. "Sebentar saja Bang..!!" Pintanya tetap bernada dingin kemudian melangkah hendak menuju kamar letkol Najib.
Bang Rudra segera menghadangnya. "Kamu dalam pantauan Abang..!!" Larang Bang Rudra.
"Dia harus membayar mahal apa yang sudah diperbuat terhadap Zeni dan Fia Bang" bentak Bang Rakit sinis.
"Abang tau, tapi mentalmu sedang tidak stabil. Yang ada kamu bisa membunuh nya"
"Itulah yang aku mau. Dia mati di tanganku." Jawab Bang Rakit menyimpan amarah tersendiri untuk Letkol Najib.
"Kamu nggak mikir bagaimana keadaan Fia??? Kondisi Fia??? Fia butuh kamu, kalau sampai ada apa-apa sama kamu.. bagaimana dia bisa melewati hari-hari nya???" Bang Rudra menasihati Bang Rakit. "Fia hanya punya bahumu sebagai sandaran. Jangan sampai kamu salah jalan dan membuat anak istrimu jadi korban"
"Aku belum puas jika Najib belum mendapatkan hukuman yang setimpal Bang. Dia menyiksa Fia lahir batin. Dia kehilangan suami, anak lelah fisik, tekanan mental karena orang tidak berakhlak macam Najib" bentak Bang Rakit tak tahan lagi.
"Abaang.." terdengar suara Fia memecah ketegangan di antara Bang Rudra dan Bang Rakit.
Bang Rakit menarik nafas panjang kemudian masuk ke dalam kamar diikuti Bang Rudra yang tetap mengawasi adik tirinya.
"Abang merokok dek, di kamar khan nggak boleh" jawab Bang Rakit mencari alasan logis.
"Sampai matang itu mulut ngebul. Nyala terus itu kukusan.. berasap terus..!!!!!!!!" Omel Fia layaknya seorang istri yang sedang kesal dengan suaminya.
"Benar Fi, belum juga setengah jam.. sudah habis enam batang. Marahi Fi..!!" Bual Bang Rudra sengaja menyusahkan Bang Rakit agar perhatian adiknya itu teralihkan.
Bang Rakit ingin menjawabnya, tapi lebih baik dirinya diam mengalah sebab tatapan mata Fia sudah penuh dengan ancaman.
"Fia nggak melarang Abang merokok. Tapi kalau sampai Abang sakit kudis atau mungkin radang sendi.. khan Abang sendiri yang susah" kata Fia.
Bang Rudra menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah tertawa melihat wajah Bang Rakit tegang bercampur geregetan namun tak sanggup berdebat dengan sang istri.
"Iya, Abang salah dek" jawab Bang Rakit lirih dan hanya berdiri tegak, pasrah tanpa gaya.
"Besok Fia mau keluar dari rumah sakit ini. Fia nggak betah tinggal di rumah sakit" ucap Fia tegas.
__ADS_1
"Iya dek, besok Abang bilang sama dokternya"
"Sekarang, kalau besok kelamaan" jawab Fia bagai titah.
"Iya sekarang.. Abang cari dokter piket dulu." Langkah kaki Bang Rakit segera menapaki satu persatu lantai rumah sakit.
Bang Rudra terkikik melihat Bang Rakit mati kutu. Satu-satunya komandan yang bisa membuat pria itu diam hanya sang istri saja.
***
Bang Rudra tidur di ruang tunggu rumah sakit. Tidur ayam karena waspada Rakit akan kabur darinya. Ruang terbuka menambah dinginnya cuaca. Jaket saja rasanya tak cukup menahan laju angin.
Sudah menjelang subuh, udara semakin dingin menusuk kulit. Kepalanya terasa berdenyut dan dadanya terasa nyeri. Ia pun membangunkan salah satu ajudan Bang Rakit. "Vin.. bangun Vin..!!"
"Siap Dan, ijin arahan..!!" Dengan sigap Om Alvin bangun meskipun mata masih tiga Watt nyaris putus listrik.
"Ikut saya ke belakang kamar Fia..!!!!!"
~
Plaaaaakkk..
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Om Alvin. "Alvin.. buka matamu..!!!!!! Saya minta kamu buat kerokin saya, bukan gera****in saya..!!!!!!!" Bentak Bang Rudra.
"Siap salah Dan..!!" Seketika mata Om Alvin terbuka lebar.
"Saya ini normal. Asal raba aja kamu, ternoda nih saya..!!!!!" Gerutu kesal Bang Rudra.
.
.
.
.
__ADS_1