
"Lintar ikut!!! Nanti Abang salah beli" ketus Lintar.
"Hmm.. ayo cepat..!!" pasrah Bang Jenar dengan tangan mengambil kunci mobilnya.
"Naik motor saja Bang" ajak Lintar.
"Nggak.. kandungan mu masih sangat muda. Bukan waktunya bergaya. Kalau ada apa-apa sama anak kita, Abang yang mati gaya" kata Bang Jenar.
...
Setelah mencari di g****e maps, sampailah mereka di tujuan. Lintar melihat tenda kaki lima bertulis nama 'Nasi Madura Pak Karso' yang lumayan ramai, ia melangkah menyeberang tanpa melihat arah kanan dan kiri.
"Awas dek!!!" Bang Jenar menarik bahu Lintar dan mendekapnya. Lintar yang kaget masih ternganga bisa terhindar dari sambaran pickup yang melaju kencang.
"Sabar dulu, Abang saja belum melepas seat belt. Makanan incaranmu masih banyak. Abang borong se pedagang nya sekalian kalau perlu" bentak Bang Jenar. Warga sekitar dan pengguna jalan sampai melihat mereka sebagai pusat tontonan.
"Jahat banget sih sama istrinya" umpat seorang pejalan kaki pria di sekitar tempat itu.
"Heh.. kalau tidak tau urusan, jangan ikut campur..!!!" tegas Bang Jenar membuat pejalan kaki itu terdiam.
Kaki Lintar masih gemetar disana. Bang Jenar pun menjadi luluh.
"Ada yang sakit?" tanya Bang Jenar sembari membelai rambut Lintar.
"Nggak Bang" jawabnya.
Bang Jenar kemudian mengajak sang istri untuk duduk, dan Bang Jenar ikut duduk membuka kaki di sampingnya dengan posesif.
Ibu penjual Nasi Madura itu melihat Lintar yang masih nampak sedih.
"Minum dulu nak..!!" Ibu itu memberi Lintar segelas teh hangat yang diterima Bang Jenar.
"Terima kasih Bu" Bang Jenar memberikan teh hangat itu pada Lintar lalu kembali membelai sayang rambut istrinya.
"Abang suapin ya?" bujuk Bang Jenar karena melihat Lintar sudah kehilangan selera makan. "Abang minta maaf. Abang sungguh nggak sengaja membentak mu" sesal Bang Jenar terus menatap Lintar.
Pak Karso, penjual Nasi tersenyum melihat keduanya.
"Ini ada empal. Di coba dulu.. siapa tau suka" bapak Karso memberi sepiring empal pada Bang Jenar. "Mbak ayu... masnya ini hanya cemas saja. Nggak niat membentak"
Bang Jenar tersenyum sekilas karena pak Karso mengerti maksud hatinya.
Lintar masih menunduk, tapi ia menangis juga disana.
__ADS_1
"Empalnya enak nih. Sudah jauh sampai sini.. sayang kalau nggak di makan dek" Bang Jenar melembutkan suaranya. "Si adek kasihan, khan dia pengen Nasi Madura nya" Bang Jenar mengalah berjongkok di depan Lintar dan mengusap perut datar istrinya.
"Maafin papa ya dek. Papa nggak sengaja bentak mama sampai sedih" sesalnya lagi.
"Istrinya lagi hamil ya pak?" tanya istri Pak Karso penjual Nasi Madura.
"Iya Bu, lagi ngidam Nasi Madura tapi saya malah membuat istri jadi hilang selera makan" Bang Jenar tersenyum kecut.
Pria berpangkat Kapten itu mencoba meniup lagi sesendok nasi lalu menyuapkan ke mulut lintar yang masih menyimpan wajah sedih, tapi akhirnya Lintar pun membuka mulutnya.
"Alhamdulillah..." Bang Jenar senang sekali.
"Lintar sendiri saja" pinta Lintar langsung duduk menghadap nasi yang di inginkan nya.
Bang Jenar membiarkan Lintar menikmati makanannya. "Ngambekan dia pak, seperti kucing" ledeknya sambil berbicara pada pak Karso.
"Namanya ibu hamil, di maklumi saja pak. Yang sabar!!! Saya dulu juga begitu. Malah anak saya sekarang sudah setengah lusin pak" kata pak Karso.
"Iya pak, di nikmati saja proses nya"
...
"Sudah puas khan dek?" tanya Bang Jenar.
"Sekarang cepat bersih-bersih badan dan langsung istirahat, besok masih harus masuk kerja"
Bang Jenar menarik selimutnya menutupi badan. Ia memeluk Lintar dengan erat. "Abang titip anak disini ( mengusap perut Lintar ). Hati-hati dalam setiap kegiatan mu. Kamu tau nggak.. Abang setengah mati khawatir sekali ada apa-apa sama kamu.. sama anak kita ini"
"Maaf Bang, Lintar tadi terlalu senang"
"Mulai sekarang mau apapun itu, bilang sama Abang. Jangan ceroboh dan bertindak sendiri" perintah Bang Jenar.
"Iya Bang, Lintar ngerti"
***
hari ini Lintar lebih banyak duduk diam di dalam ruangan. ia merasa pusing dan tidak nyaman. Kedua senior Lintar mulai saling lirik.
"Apel sore kamu ikut ya..!!!" perintah Mbak Wulan.
"Ijin mbak, apa bisa saya nggak ikut apel. Badan saya sepertinya lemas banget"
"Alasan saja kamu. Lagi pula perutmu itu belum terlihat" bentak Mbak Ani.
__ADS_1
"Siap laksanakan!" jawab Lintar tanpa perlawanan.
...
Bang Jenar pulang lebih cepat dari biasanya. Ia langsung menuju kantor Lintar dan menungguinya di parkiran. Bang Jenar memberi pesan singkat tapi istrinya itu belum membacanya.
~
Di lapangan apel, wajah Lintar sudah memucat. Panas matahari sore yang tidak seberapa sudah cukup membuatnya tak bertenaga lagi.
Hormat pasukan pada sesi terakhir sudah tidak mampu membuat Lintar mengangkat tangannya.
bruuggh...
Lintar pingsan telentang, badannya ambruk membuat para anggota ikut panik. Bang Jenar melihat dari kejauhan kericuhan itu. Ia memicingkan mata melihat siapa sosok yang terlihat tumbang.
"Astagfirullah hal adzim.... dek!!!!" Bang Jenar berlari menuju lapangan apel.
"Kenapa kamu ikut apel????????" paniknya sambil mengangkat badan Lintar ke ruang kesehatan kantor.
~
"Oksigen sudah di pasang kenapa belum sadar juga ya. Saya ambil obat dulu" panik Letda Hito.
"Jangan sembarangan!! Istri saya hamil muda"
"Haaahh... Lintar hamil???? Sama siapa Bang????" tanya Bang Hito yang tidak tau perihal pernikahan mereka. Anggota teman Lintar pun bingung tak percaya.
"Sama saya..!!!" tegas Bang Jenar.
"Oohh.. jadi Kapten Jenar ini suami Lintar? Kenapa tidak di publikasikan" kata teman Lintar.
"Ya karena sudah sampai hamil begini, terpaksa harus di bongkar sekarang agar tidak jadi fitnah" ucap Bang Jenar. "Tapii, bukannya Wulan sudah tau kalau Lintar hamil. Lalu kenapa dia masih mengijinkan istri saya yang sedang hamil??????"
"Nanti kami akan tanyakan pada yang bersangkutan Kapten"
"Oke, saya tunggu klarifikasi nya" tegas Bang Jenar menekan anggota terkait.
.
.
.
__ADS_1
.