Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 25. Tidak tenang.


__ADS_3

"Abang.. perut Lintar sakit. Susah nafas"


Bang Jenar mengerjab melihat Lintar sudah duduk di ranjang memegangi perutnya. "Kenapa?" Bang Jenar celingukan, meskipun matanya masih berskala lima Watt tapi tangannya sigap mencari minyak kayu putih untuk di oleskan ke perut sang istri.


"Kekenyangan Bang"


"Kamu pernah dengar atau tidak.. hendaklah kita makan menyesuaikan dengan keadaan dan berhenti sebelum kenyang. Makan satu porsi bisa cukup untuk berdua, berdua masih bisa cukup untuk berempat. Kenapa kamu menjunjung tinggi asas tamak??" Tegur Bang Jenar.


"Tapi si dedek yang pengen makanan itu"


Bibir Bang Jenar terasa terkunci jika ucap itu sudah mengandung unsur memelas. Tanpa banyak bicara dirinya langsung saja mengusap perut Lintar dengan minyak kayu putih.


"Bang"


"Hmm.." jawab Bang Jenar lembut.


"Badan Lintar sakit juga"


Lagi-lagi tanpa banyak bicara Bang Jenar memijati Lintar. Sungguh dalam hatinya terasa tak karuan memikirkan Lintar dalam tugas.


Tak lama Lintar terbuai dalam tidurnya. Suara dengkuran halus terdengar, wajah polos alami tanpa make up itu sudah tenang tanpa debat dan perlawanan lagi.


\=\=\=


Hari ini semua kembali dalam tugas masing-masing. Sejak kejadian memalukan tempo hari, Pak Gunawan selalu menjaga jarak dengan Lintar apalagi kini Bang Jenar tak pernah melepaskan tatapan tajam dari sosok Pak Gunawan.


...


Tugas sudah usai.. kini saatnya Lintar dan Bang Jenar pulang ke rumah.


Lintar terhuyung, sejak pagi tadi Lintar banyak muntah namun tetap berusaha bertahan demi tugasnya.


"Astagfirullah hal adzim.. dek.. Lintar..!!" Bang Jenar pun panik sampai membuang begitu saja koper yang sejak tadi ia tarik.

__ADS_1


"Ijin Dan.. Lintar kenapa?" Om Delon sampai ikut panik karena Lintar hampir tidak sanggup berdiri.


"Tolong bawakan koper saya. Saya mau langsung lajur ke rumah sakit..!!" Kata Bang Jenar.


"Siap Dan" kini sapaan itu jauh lebih akrab karena para anggota dan Bang Jenar sudah memahami porsi dan posisi mereka masing-masing.


...


Papa Rakit ikut mengunjungi putrinya yang tengah terbaring di rumah sakit. "Jangan terlalu cemas, semua pasti baik-baik saja" kata Papa Rakit mencoba menenangkan menantunya.


"Jangan cemas bagaimana Pa, sepanjang hari Lintar muntah sampai pingsan. Wajahnya pucat"


Mama Fia malah tertawa geli karena kini wajah Bang Jenar yang amat sangat pucat. "Itu sudah biasa dalam kehamilan. Fase ini memang berat, tapi tandanya.. calon bayi di dalam kandungan Lintar itu sehat" Mama Fia menjelaskan.


Tak lama Bang Arko datang bersama istrinya. Bang Arko akan masuk dan menjabat sebagai Danyon tempat Bang Jenar berdinas.


"Selamat sore komandan.. selamat sore ibu..!!"


"Halah kamu.. biasa saja. Ini bukan jam dinas" kata Papa Rakit. Karena pada akhirnya Bang Arko pun menjadi putranya juga.


"Danyon rajin sekali bercocok tanam.." papa Rakit menyindir Bang Arko.


"Ijin Dan, saya belum punya anak perempuan" jawab Bang Arko.


"Lanjuuutt sampai dapat. Memang pada kenyataannya, menyenangkan sekali punya anak perempuan" imbuh Papa Rakit.


"Siap pa"


"Istrimu bagaimana le?" Bang Arko ganti menyapa adik kandungnya.


"Lemas sampai pingsan Bang." Bang Jenar tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


Pintu ruang tindakan terbuka. Dokter Fajar keluar dari ruang tindakan karena sejatinya beliau adalah dokter kandungan.

__ADS_1


"Bang Fajar.. bagaimana keadaan Lintar ????" Bang Jenar memberondong sampai menggoyang bahu dokter Fajar.


"Nggak apa-apa. Aman"


"Aman dari mananya Bang???? Lintar terus saja muntah, lemas" kata Bang Jenar kebingungan sendiri karena tidak bisa tenang.


Kapten Gesang Wira, senior yang kebetulan berada disana merangkul bahu Bang Jenar sekalian menyapa komandan. "Heeehh.. emosian sekali kau Kapten Junior. Kami-kami ini sudah lebih dulu khatam merasakan punya bumil. Mulai mabuk, bertingkah, ngidam, dari kalem jadi preman. Habis lah kita ini para suami di hantam tekanan batin karena tekanan batin. Slow man, anggap saja kita partisipasi dalam menjaga bumil. Bukankah semua ini terjadi karena kita para suami"


"Dapat ilham apa lu bro, tumben genep kalau mikir.. nggak ingat dulu kau hampir mencekik ku karena panikmu." Tegur dokter Fajar.


"Saya mau masuk" Bang Jenar menerobos masuk padahal Lintar belum juga di pindahkan ke ruang rawat.


Dokter Fajar ternganga, tak sanggup menghentikan laju kaki Bang Jenar yang sudah melangkah cepat menuju ruang tindakan.


"Kamu mau ikut masuk?" Tanya Papa Rakit.


"Siap.. tidak komandan, saya hanya menemani anggota yang terjatuh saat latihan tadi" tolak Bang Gesang.


Papa Rakit tersenyum karena sebenarnya Bang Gesang hanya beralasan dan yang pasti untuk menjaga perasaan Nasha.. istri Kapten Gesang Wira. Kapten senior di Batalyon.


:


"Mulai besok cepat ambil ijin cuti, jangan membantah lagi..!!"


Lintar mengangguk tak sanggup berdebat lagi. Badannya masih begitu lemah.


"Bang, jangan marah lagi. Lintar pusing" kata Lintar lirih.


Bagaimana pun kesalnya Bang Jenar, tetap saja tak mengurangi rasa sayang Bang Jenar pada sang istri. Ia berdiri kemudian menunduk mengecup kening Lintar. "Cepat sehat dek, nanti kita bertengkar lagi"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2