
"Zeniiiiiii.. Zeenn..!!!!!!!" Berkali-kali Bang Cemar dan Bang Fabian mengetuk pintu rumah sahabatnya itu namun tak kunjung ada jawaban sedangkan di luar rumah sudah panik karena bagian depan rumah Bang Zeni nyaris ambruk karena pohon mahoni ikut menimpa setelah pohon kelapa. "Aduuh Tuhan.. ini makhluk satu hidup atau mati. Bisa-bisanya dia nggak dengar apapun." Gerutu Bang Cemar.
~
Bang Zeni mengerjabkan mata di antara tubuhnya yang luar biasa lelah. Ada suara berisik di luar rumahnya dan bersahutan dengan suara derasnya air hujan.
"Ijin Dan.......!!!" Suara itu kembali terdengar.
"Siapa sih panggil-panggil??" Gumamnya kemudian bangkit dari ranjang dan memakai celana pendek sekenanya karena masih lelah dan mengantuk. Ia pun bergegas membuka pintu kamar. "Astagfirullah hal adzim.. Lailaha Illallah.." sungguh kaget Bang Zeni melihat ruang tamunya sudah terbuka seperempat bagian, pintu miring, teras sudah ambruk.
"Zeniiii.. jangan diam plonga plongo di dalam rumah. Kamu mau tertimpa pohon???? Bentak Bang Cemar. Bang Cemar menerobos reruntuhan.
"Stop.. diam dulu disana. Aku bangunkan Fia..!!" Bang Zeni kembali ke kamar lalu menutupnya rapat.
"Dek.. bangun..!!" Masih dengan lembut Bang Zeni membangunkan Fia.
Fia menggeliat pelan. Matanya melihat Bang Zeni menatapnya dalam gelap. Hanya cahaya ponsel saja yang menerangi. "Aaahh.." pekiknya kemudian menutupi tubuhnya. "Jangan lihat Fia..!!!!"
"Jangan ributkan masalah itu. Marahnya nanti saja. Pakai pakaianmu. Rumah ini mau roboh."
Fia pun mengambil pakaian seadanya lalu dengan cepat memakainya dan keluar mengikuti langkah Bang Zeni yang menggandengnya.
~
"Cckk.. kenapa pakai baju Abang????? Banyak bujangan nih dek" Tegur Bang Zeni melihat Fia memakai kemeja seragam upacara yang belum sempat ia ringkas kemarin.
"Nggak ada baju lagi Bang, Fia nggak tau Abang buang kemana baju Fia" jawab Fia jadi kesal.
"Diam di sudut sana..!! Abang ambil jaket dulu..!!!" Perintah Bang Zeni kemudian masuk ke dalam rumah.
Tak ada satu pun anggota yang berani menatap Ibu Danki yang salah kostum tak terkecuali Bang Ervan yang ikut berbalik badan sedangkan Bang Cemar dan Bang Fabian sudah memeriksa samping rumah Bang Zeni.
"Pakai jaket Abang dan masuk ke dalam mobil patroli. Tunggu Abang disana..!!"
Fia pun bersungut kesal tapi tetap memakai jaket pemberian Bang Zeni lalu berlari kecil menuju mobil patroli. Tapi sekilat sambaran petir membuatnya kaget setengah mati. "Hwaaaaaaaa." pekiknya panik ketakutan.
"Jangan teriak kalau nggak mau di kejar petir..!!" Bang Zeni terus mengarahkan Fia. "Nggak usah lari adeekk..!! Nggak lucu kalau kamu terpeleset..!!!!!!" Teriak Bang Zeni.
~
"Luar biasa ya kau Pak Danki..!!!! Baru ngadon donat lu sampai nggak monitor informasi????" Tegur keras Bang Cemar.
__ADS_1
Bang Ervan Bang Fabian pun menyembunyikan tawa melihat celana pendek Bang Zeni terbalik, terlihat jahitan dalamnya berada di luar.
"Ijin sakit apa ijin kangen lu???"
"Ya sakit kangen" jawab Bang Zeni lirih sembari meringkas pakaian yang akan di bawanya berangkat meninjau kompi yang baru esok hari.
"Ijin Abang.. Biar saya saja yang berangkat kesana sama Pak Jefri, Abang disini saja jaga Fia. Sepertinya ada yang aneh dengan istri Abang"
"Sesuai prosedur saya harus tetap berangkat kesana Van. Daripada saya harus bolak balik tanda tangan berkas." Jawab Bang Zeni.
"Lalu bagaimana Fia??
"Mau tidak mau, suka atau tidak suka.. Fia akan kubawa ke puncak..!! Resiko aku yang tanggung..!!!" Ucap tegas Bang Zeni.
Tak ada yang bisa menjawab ucapan Bang Zeni karena memang posisi Bang Zeni adalah suami Fia.
"Kamu ganti pakaian dulu. Banyak anggotamu..!! selanjutnya temui Fia..!!" Pinta Bang Fabian. "Aku juga harus segera kembali pulang. Istriku sendirian jaga si kecil"
"Bagaimana anakmu??" Tanya Bang Zeni.
"Alhamdulillah sudah lebih baik dan sudah mulai pintar menyusu. Hanya saja masih tetap dalam pantauan dokter. Istriku juga sudah mulai mau bicara denganku" jawab Bang Fabian.
"Baguslah Bi. Semangat..!!"
~
Usai berganti pakaian. Bang Zeni berjalan menghampiri Fia yang sedang duduk di dalam mobil patroli sendirian. Begitu membuka pintunya, terlihat wajah Fia yang nanar.
"Dek.. kamu sakit?" Bang Zeni menyentuh pipi Fia. Tapi Fia menolaknya.
"Kepala Fia sakit Bang, sesaat tadi sepertinya Fia mengingat sesuatu.. tapi bayang itu kembali hilang. Fia seperti tidak bisa mengenali diri sendiri. Kompi ini seakan tidak asing, suasana hujan.. dan kenapa Fia sanggup melakukan hal itu sama Abang??" Tanya Fia.
"Kamu menyesal melakukannya sama Abang?" Selidik Bang Zeni. Siapa sangka Fia malah berlari keluar dari mobil dan menghindari Bang Zeni.
"Dekk.. Fiaaa... Mau kemana kamu?????" Bang Zeni kembali turun dan berlari mengejar Fia di balik reruntuhan kayu.
~
"Fia perempuan, Fia merasa sangat bersalah. Kasihan istri Abang. Fia ini perempuan macam apa?"
Bang Zeni membuang nafasnya. Di saat ia sudah bahagia karena Fia tidak menolaknya, namun pikiran kacau kembali menggoyahkan sang istri.
__ADS_1
"Astagfirullah hal adzim.. cobaan apalagi ini???? Hatiku bukan baja" Bang Zeni mengusap dadanya merasakan hatinya yang tak karuan.
"Kalau kamu menyesal dan merasa menzolimi wanita lain, kenapa kamu masih mau melakukannya?? Waras nggak kamu dek??"
"Fia nggak tau, Fia nggak bisa menjabarkan perasaan Fia. Fia nggak mengenali diri Fia sendiriii..!!!! Fia nggak bisa mengingat apapun..!!" Fia memegangi kepalanya, ia berontak kesal dengan dirinya.
Tak sanggup lagi Bang Zeni merasakan ujian rumah tangganya. Ia pun memeluk Fia, air matanya berderai bersamaan dengan turunnya air hujan. "Kamu istri Abang dek. Satu-satunya istri Abang.. istri kesayangan Letnan Zeni. Bisa nggak sih kamu coba tenang dalam berpikir. Abang nggak mungkin melakukannya dengan sembarang wanita"
"Aaaaaaahh..!!!" Fia semakin kalut dan kepalanya semakin terasa sakit. Tiba-tiba Fia kejang dari hidungnya mengeluarkan darah.
Bang Zeni panik tak terkira. "Haduuhh.. bagaimana ini??? Wahyuuuu.. Tolong panggilkan dokter Alam..!!!!!!"
...
"Kamu kurang sabar Zen. Akhirnya ingatan Fia terpecah dan tercampur aduk. Harusnya dia hanya terfokus pada keadaan dirinya yang sekarang sampai ingatan aslinya kembali perlahan, tapi karena sesuatu dan lain hal.. terpaksa kita harus buka semua ingatan aslinya. Kamu harus kuat dan sabar menenangkan istrimu"
"Insya Allah saya kuat.. saya siap dok..!!" Ucapnya pada dokter yang menangani kejiwaan Fia, rekan dokter Alam.
"Baiklah.. saya akan menanganinya kembali..!!"
...
Malam tiba, Fia tak kunjung sadar juga. Ada rasa takut dalam hati Bang Zeni tapi ia sudah berusaha menguatkan hatinya untuk menghadapi apapun resiko dari Fia.
Tak lama mata Fia terbuka dan melihat Bang Zeni untuk pertama kalinya. Wajah mengurai senyum seakan tidak ada hal yang terjadi. Tangan itu menggenggam jemarinya.
Bibir Fia tercekat, takut, tangannya gemetar. Tangan kirinya pun memegangi perutnya. "Ma_af Aa_bang"
"Untuk apa?" Tanya Bang Zeni.
"Untuk semua tindakan Fia yang tidak terpuji, Fia yang kekanakan sampai anak kita jadi korbannya" jawab Fia.
"Yang lalu biar berlalu. Abang sudah ikhlaskan semua..!!" Ucapnya menahan perih. "Kamu sudah menjadi ibu Danki yang hebat tanpa banyak mengeluh, istri yang baik.. yang terus menjunjung harga diri dan wibawa suami dalam hal apapun. Kamu juga ibu yang hebat.. sudah menjaganya meskipun kamu sedang dalam titik terendahmu"
"Apakah Fia masih bisa untuk menjadi seorang ibu??" Terdengar Fia begitu terluka kehilangan calon bayinya.
"Abang akan mengusahakan semampu Abang. Kamu sabar ya..!! Istri Abang nggak boleh lemah. Cepat sehat.. biar Abang bisa mengutus puluhan ribu anak buah untuk gelar pasukan..!!"
.
.
__ADS_1
.
.