
"Lintar tidak bohong Bang" Lintar memberanikan diri menatap mata Bang Jenar.
"Oke.. Abang anggap kamu tidak bohong" Bang Jenar berjalan kembali ke ruangannya.
Lintar membuang napas kasar dengan lega bisa terbebas dari Bang Jenar.
"Hal kecil saja bisa jadi seperti ini. Bagaimana kalau dia tau pak Boy menyukaiku?" gumam Lintar dalam hati.
...
Siang ini para anggota mengadakan rapat dan setting tempat untuk penyelesaian masalah di sekitar pasar. Mata Bang Jenar tidak lepas dari Boy yang terus memperhatikan Lintar. Lyta sejak tadi melihat wajah masam Bang Jenar yang tampak tidak suka pada Boy.
"Pak Boy cocok sekali dengan Lintar. Bagaimana kalau pekerjaan kali ini Pak Boy dan Lintar berada di satu lokasi sedangkan saya satu lokasi dengan Pak Jenar" usul Lyta semakin merusak suasana hati Bang Jenar.
"Saya tidak terbiasa bekerja dengan orang yang tidak kompeten di bidangnya. Lintar tetap bersama saya..!!" tolak Bang Jenar kasar.
"Apa salahnya kita mencoba suasana baru" ucap Lyta tak menyerah.
"Kalau kamu masih mau tetap disini, hentikan bicaramu!! kalau tidak, saya akan memindah tugaskan kamu di pelosok!" tegas Bang Jenar. Semua dalam ruangan itu terdiam tak terkecuali Boy.
Lintar hanya bisa menunduk pasrah. Memang sulit mendapatkan hati pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
...
"Kamu nggak makan dek? Sudah jam berapa ini" Bang Jenar melihat jam sudah menunjukan pukul satu siang.
"Sebentar lagi Bang, Lintar masih belajar memahami tugas disana" Lintar membaca kembali lembar aturan kerjanya.
"Tidak usah terlalu ribet. Lakukan seperti pedagang biasanya. Abang akan mengawasimu disana" ucap Bang Jenar sambil duduk di meja Lintar.
Bang Jenar dan Lintar memutuskan untuk makan siang bersama. Lyta merasa jengkel karena tidak bisa satu lokasi dengan Bang Jenar.
\=\=\=
__ADS_1
Satu minggu telah berlalu dan mereka semua pergi ke lokasi. Bang Jenar dan Lintar menyewa tempat tersembunyi di dalam perkampungan.
Lintar berjualan kopi, gorengan dan sebagainya. Sedangkan Bang Jenar menjadi makelar angkot di sekitar pasar. Bang Jenar memilih menjadi makelar angkot agar tidak jauh dari Lintar. Ia tidak ingin istrinya celaka atau berada dalam bahaya.
"Hai Lina, goreng yang benar. Kamu jangan hanya melihat Mas Abi saja" tegur Yuni yang memang menyukai Abi sejak dulu. Padahal sejak tadi Lintar sedang memperhatikan Bang Jenar yang sesekali membantu para wanita menaikan barang belanjaan kedalam angkot.
"Dek Lina betah khan kerja disini" sapa Abi.
"Betah kok mas" senyum Lintar yang mengubah namanya menjadi Lina disana.
"Dek Lina pulang kemana? Nanti biar mas Abi antar..!!"
"Terima kasih mas, Lina bisa pulang sendiri. Lagipula tidak jauh" tolak Lintar.
Untuk apa dia senyum pada pria lain. Di depanku saja dia jarang tersenyum.
Bang Jenar mulai meradang melihat keakraban Abi dan Lintar.
"Kopi satu dek, yang pahit jangan lupa airnya mendidih. Panaaaass..!!!!" minta Bang Jenar pada Lintar dengan tatapan matanya yang begitu menusuk.
Tak berapa lama Lintar keluar membawa secangkir kopi pahit panas pesanan Bang Jenar dengan nama Alan disana.
"Nggak mau sekalian gorengannya mas?" Yuni berusaha menyapa Alan selembut mungkin.
"Terima kasih. Saya masih kenyang mbak" jawab Alan.
"Sama Lina panggil dek. Sama aku kok mbak sich mas" protes Yuni.
"Iya dek Yuni" Alan berucap dengan kaku dan tidak nyaman.
....
"Jangan terlalu dekat dengan Abi" tegas Bang Jenar.
__ADS_1
"Dia sama saja seperti pembeli lain. Tidak ada yang istimewa"
Bang Jenar mencekal tangan Lintar dengan kesal. Ia merasa sangat tidak di hargai.
"Abang bilang jangan dekat ya jangan dekat. Apa perlu kutunjukan dengan jelas tugasmu sebagai istriku?" Ucap kasar Bang Jenar.
"Kita sedang bertugas Bang, jangan macam-macam..!!"
"Tidak ada yang bisa melarangku berdekatan denganmu"
"Iya Bang.. Lintar paham" Lintar melepaskan tangannya dari Bang Jenar yang terlalu kuat mencekalnya.
"Jangan kurang ajar. Abang suamimu!!!!!" bentak Bang Jenar.
Suasana hening seketika. Bang Jenar menyadari emosinya yang mulai meninggi. "Jangan di ulangi lagi!!! Abang marah karena Abang punya tanggung jawab melindungi istri" Bang Jenar melepaskan cengkraman tangan dan pergi dari hadapan Lintar.
Berhadapan dengan musuh, Lintar selalu berani. Tapi setelah menikah terus terang orang yang takut ia bantah adalah suaminya.
"Lintar minta maaf Bang. Tidak ada maksud membantah Abang. Lintar hanya murni bekerja" bujuk Lintar memelas.
"Bekerja.. bekerja.. bekerja saja yang ada di pikiran mu" jawab Bang Jenar tidak menyukai jawaban Lintar. Entah apa alasannya hingga Lintar ingin terus bekerja keras.
Lintar menunduk dengan kesal, wajahnya sangat masam. Tapi tidak menjawab perkataan suaminya meskipun ia ingin sekali membantah.
"Abang ini suamimu. Sudah kewajiban Abang mencari nafkah. Dan kamu hanya perlu mendo'akan Abang saja, agar rejeki yang Abang dapatkan menjadi berkah untukmu dan anak kita nanti" Bang Jenar melembutkan suaranya.
tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka.
"Siapa yang mengetuk pintu malam begini" gumam Bang Jenar berjalan ke arah pintu depan. Ia mengintip di balik gorden.
"Sial!!!.." batinnya.
__ADS_1
.
.