Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 17. Paraah.


__ADS_3

"Ini bukan tanda tangan saya yang asli" jawab santai Bang Jenar.


"Ini tanda tangan bapak di semua dokumen" kesal Lyta.


"Kamu nggak pernah tau khan tanda tangan saya yang asli?" sinis Bang Jenar menanggapi Lyta.


Bang Jenar memberikan berkas itu agar Lintar dapat melihatnya juga dan Lintar hanya melihatnya sekilas. "Hhmm.. iya bukan" katanya sambil meremukan permen dengan giginya.


"Nggak bisa pak, bapak harus melanjutkan pengajuan ini" Lyta menghentak di sofanya.


"Kalau Abang mau sama dia ya terserah. Ijin Komandan, saya mendahului" pamit Lintar.


"Ijin mendahului.. Komandan" ucap Bang Jenar berdiri untuk berpamitan pada komandan.


"Tunggu Abang dek!!" Bang Jenar mengikuti langkah Lintar.


"Jangan marah terus lah, anak Abang galak nanti"


triiiiinngg....


"Ada apa??" Tanya Bang Jenar saat langkah Lintar terhenti.


~


~


"Saya kesana sekarang!" menutup panggilan telepon nya.


"Abang antar kamu ke kantor..!!" Bang Jenar menggandeng tangan Lintar.


"Nggak Bang, Lintar mau ke lokasi demo di gedung wakil pemerintah" tolak Lintar.


"Haahh.. mau apa kamu kesana???? Kamu hamil, apa kamu di plot bagian pengamanan????"


"Banyak yang nggak tau Lintar hamil Bang. Wajar lah mereka plot Lintar disana"


"Duuuhh...hati-hati kamu jaga anak kita. Susah payah itu Abang buatnya" ucapnya tegas.


"Kita patungan Bang ๐Ÿ˜’" Lintar mengingatkan.


"Iyeeee.. patungan yank๐Ÿ˜Œ" jawab Bang Jenar.


...


Para pendemo sudah baku hantam dengan polisi dan militer saat Bang Jenar dan Lintar tiba disana.


"Kamu nggak boleh keluar dek" cegah Bang Jenar dengan cemas.


"Lintar harus gimana Bang???"


"Pulanglah bawa mobil ini" perintah Bang Jenar.


"Lintar harus lapor atasan dulu Bang" kata Lintar.

__ADS_1


"Cepat lapor!!! Abang nggak akan biarkan kamu kerja kalau begini situasinya" Bang Jenar memutar arah mobilnya, tapi ada beberapa orang menghadang mobil mereka.


"Turuunn!!!!" ucap seorang pendemo. Bang Jenar sudah bersiap membuka pintu mobilnya.


"Jangan Bang..!!! cegah Lintar.


"Percayakan sama suamimu. Semua akan baik-baik saja" Bang Jenar mencium kening Lintar lalu keluar.


Seorang pendemo sudah menarik kerah seragam Bang Jenar.


"Bisa kita bicara baik-baik??"


"Tidak bisa" jawabnya seorang pendemo.


"Saya usahakan bisa menghubungkan ke atasan untuk menampung aspirasi kalian, tapi jangan berbuat anarkis ya" bujuk Bang Jenar bernegosiasi.


"Keluarkan wanita di dalam mobil ini" perintahnya.


braaaaakk...


Bang Jenar menggebrak mobilnya hingga body depan mobil itu penyok.


"Saya disini tidak untuk memohon. Saya bekerja disini. Jangan sampai kalian menyentuh istri saya yang masih duduk di dalam sana. Dia juga bekerja dan dia juga sedang hamil" bentak Bang Jenar hingga membuat para pendemo itu diam.


"Jangan membuat aturan sendiri karena pemerintahan pun ada aturannya"


....


"Tunggu Bang..!! Tadi Lintar belum sempat ijin" kata Lintar.


"Abang yang ijin ke Komandan mu nanti. Kalau komandan mu nggak terima, biar tarung.. tarung dah, Abang ladeni!!"


...


"Lintar.. kemana saja kamu tanpa ijin" tegur senior Lintar.


"Saya tidak enak badan Bang. Sama tadi mau ijin tapi tidak sempat" jawab jujur Lintar.


"Kamu tidak disiplin. Push up!!!" perintah seorang tentara wanita.


"Tunggu... Kalian tidak bisa menghukum Lintar saat seragam dinasnya tidak sesuai. Ini bukan seragam lapangan... Ini rok. Kalian tau aturan dan etika atau tidak???" cegah Bang Jenar.


"Maaf, kita beda kesatuan tolak tentara wanita tersebut.


"Beda atau tidak, aturan tentang seragam ini mungkin tidak tertulis tapi harus di pahami" jelas Bang Jenar.


"Jangan campuri urusan pekerjaan kami Kapten Jenar..!!" ucapan senior wanita Lintar itu membuat Bang Jenar naik pitam.


"Saya mengerti. Tapi Serda Gitarja sedang hamil. Tolong jangan mempersulit dia"


Tentara wanita itu menatap tajam ke arah Lintar.


"Kamu temui saya nanti di kantor"

__ADS_1


...


Plaaakk.. Plaaaaakk


"Wanita tak tau malu. Dengan siapa kamu hamil" kata senior satu.


"Waahh..mungkin sebentar lagi dia akan bilang kalau Kapten Jenar yang menghamili" tawa kencang dari ruangan Bintara senior itu.


Lintar mendapat tamparan keras dari seniornya. Lintar yang sudah pusing ambruk terkapar. Dari bibirnya ada noda darah.


"Ada apa ini?? Berisik sekali???" Wadan Intel membuka paksa ruangan itu.


"Ijin Komandan. Kami hanya memberi Lintar pelajaran. Masalah pelanggaran disiplin" ucap sombong senior satu.


"Lancang!!!!!!!!!" bentakan keras Wadan.


...


"Dek.. bangun sayang!!!" Bang Jenar berusaha menyadarkan Lintar. Kedua senior wanita itu hanya bisa mematung melihat Bang Jenar mengusap lembut pipi Lintar.


"Kalian apakan Lintar????" geram Bang Jenar.


"Memberinya sedikit pelajaran, pelanggaran disiplin" kata senior dua tanpa rasa bersalah.


"Beraninya kau sentuh istri Kapten Jenar"


"Ada apa Kapten Jenar disini?" tanya Komandan Intel.


"Saya akan hancurkan kantor ini kalau sampai orang-orang seperti mereka mengganggu istri saya"


"Akan kami selesaikan Kapten.. Maaf atas tindakan anggota kami" ucap Komandan merendah karena beliau paham sikap dan sifat Kapten Jenar.


...


"B******n, istriku jadi seperti ini" gumam Bang Jenar. "Bi.. Kenapa Lintar jadi demam begini ya?"


"Ibu terlalu lelah dengan aktifitas dan pikiran, belum lagi ibu memang sedang mengandung" jawab Bibi menenangkan Bang Jenar.


Tak lama Lintar bangun dari tidurnya. Ia mengerjap melihat bibi dan Bang Jenar.


"Masih sakit tidak?" tanya Bang Jenar yang sangat mencemaskan Lintar.


"Anggurnya sisa berapa Bang?" tanya Lintar.


"Astagfirullah Gusti. Kalau nggak ingat kamu lagi hamil, kita bertengkar sekarang nih dek" mata Bang Jenar melotot tajam.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2