
Bang Rakit menghindari Fia bukan karena tidak suka tapi saat ini Fia malah sangat bersedih karena mengira Bang Rakit tidak menginginkan hadirnya.
Pesawat mendarat dengan sempurna. Bang Rakit menggendong Arsene dan Fia mengikuti di belakangnya.
"Selamat datang Bu Zeni.." sapa seorang anggota.
Fia tersenyum lembut membalas istri anggota yang salah menyebut sapaan pada dirinya. Beliau dulu pernah bekerja sama dengannya saat masih menjadi istri Lettu Zeni.
"Baik ibu Prapto."
Seketika Bang Rakit meninggalkan tempat, wajahnya semakin kaku dan tegas menyimpan kepedihannya sendiri.
Tanpa di perintah ada seseorang ibu yang memeluknya erat dan beliau adalah istri Pelda Jefri. "Selamat datang di kompi kami Ibu Fia Seno..."
"Terima kasih banyak Bu Jefri" Fia pun ikut menangis lalu segera melepaskan pelukan Ibu Jefri.
Fia menangkupkan kedua tangan lalu bicara di hadapan semua orang. "Mohon ijin memperkenalkan diri lagi ya Ibu-ibu. Saya istri Kapten Senopati Rakit Padhuhan. Anggota baru.. stok yang lama ya Ibu-ibu" ucapnya. "Ibu-ibu bisa memanggil nama kecil saya.. Bu Rakit dan bisa menyapa nama besar saya. Ibu Fia Seno Rakit..!!" Fia memperjelas statusnya saat ini.
"Siap Ibu Rakit..!!"
Tak lama langkah Bang Rakit mendekati Fia. "Ma, tolong bawa Arsene dulu. Papa mau lapor datang sama Danyon" Bang Rakit menyerahkan Arsene pada Fia namun betapa terkejutnya Fia saat melihat sosok Danyon tersebut adalah Letkol Najib.
Bang Rakit mendekati wajah Fia. "Kamu harus kuat, kamu istri Kapten Rakit..!! Hadapi tanpa ragu, ada Abang di belakangmu..!!" Bang Rakit mencium kening Fia membuat Ibu-ibu yang lain tersenyum gemas.
~
"Selamat datang ibu Rakit, betah juga ya di tanah kami ini" ucap Bu Najib menyambut Fia.
"Terima kasih ibu, tanah ini begitu indah untuk di lupakan. Lagipula saya harus mengajarkan anak saya untuk mengenal sisa perjuangan yang pernah ada disini" jawab Fia.
"Ini anak Kapten Rakit?? Nggak mirip Papanya ya?"
Hati Fia teramat perih mendengarnya. Kakinya terasa sulit untuk menapak.
"Siapa bilang nggak mirip saya?" Bang Rakit tiba-tiba datang menghampiri Fia lalu menggendong Arsene.
Jika di lihat baik-baik, wajah Arsene sekilas juga mirip dengan Papa Rakit bahkan gurat senyumnya pun mirip dengan Papa Rakit.
"Eehh Om Rakit, sudah selesai?" Tanya Bu Najib.
"Ayo sayang kita cepat ke kompi. Ke rumah kita yang baru. Abang nggak cocok disini. Ada bau mistis.. wewe gombel atau sundel bolong gitu namanya..!!" Gerutu Bang Rakit tanpa memberi salam hormat sedikit pun pada Bu Najib.
....
Setelah melewati perjalanan. Sampailah Fia dan Bang Rakit di Kompi. Kompi penyerang yang dulu pernah di pimpin almarhum Bang Zeni dalam beberapa hari saja karena takdir Tuhan berkehendak lain.
__ADS_1
Fia menginjakkan kaki untuk pertama kalinya. Tangis itu seketika pecah berganti derai air mata.
dooooorr..
"Abaaang..!!!" Fia refleks berjongkok sambil menutup telinga karena kaget mendengar suara tembakan penyambutan dari anggota kompi penyerang.
dooooorr..
Bang Rakit ikut berjongkok lalu memeluk Fia. "Jangan tembak lagi..!!!! Hentikan tradisi ini..!!!" Pinta Bang Rakit.
"Siaap..!!! Turunkan senjata..!!" Perintah Bang Ervan.
"Suara ini.. suara tembakan ini yang buat Bang Zeni pergi..!!" Fia ketakutan sampai memegangi dadanya.
Bang Rakit beranjak pergi tapi Fia menahannya. "Abang jangan pergi. Fia nggak mau Abang bertemu mereka..!!!"
Bang Rakit kemudian mengangkat Fia. "Tolong jaga anak saya sebentar ya. Saya mau berdua dulu dengan istri" pinta Bang Rakit pada anak buahnya.
"Siap Danki..!!"
~
"Iya dek, sudah jangan di ingat ya..!!" Bang Rakit memeluk Fia.
"Bang Zeni terburu-buru pergi mendengar suara seperti itu. Mungkin saat itu Bang Zeni sudah tau kalau usianya hanya sampai disitu. Abang bergegas memendam kepanikan sampaii tidak sempat.........."
"Terima kasih banyak Bang"
"Sama-sama dek"
Kedua bola mata itu saling menatap. Bang Rakit menghapus air mata Fia. Bang Rakit mencoba mendekatkan wajahnya mendekati bibir Fia tapi Fia sedikit menghindar, paham sang istri menolaknya.. Bang Rakit pun tidak memaksa dan hanya menjatuhkan satu kecupan di kelopak mata.
"Abang tidak ingin memaksa, tapi juga jangan membuat Abang terpaksa. Ikhlas itu memang berat dek. Abang pun menyadari sulitnya menjalani sebuah keikhlasan.." kata Bang Rakit. "Tanyakan pada hatimu, apa sungguh benar tidak ada nama Abang di dasar hatimu?"
"Tidak ada" jawab Fia spontan, setitik air matanya turun.
"Kalau tidak ada, kenapa kamu menerima bibir pria ini, kenapa kamu menikmatinya. Apa yang kamu harapkan?" Tanya Bang Rakit sembari mengecup lagi manis bibir Fia, tanpa penolakan di balik keraguan. "Respon tubuhmu seakan menolak padahal kamu masih menggenggam erat dan menarik tubuh Abang" ucap Bang Rakit membuat Fia mati gaya apalagi saat ini memang Fia mencengkeram erat pakaian seragam Bang Rakit. "Terus Mas mu iki kudu piye?"
"Apa sih Bang?" Fia menyeka air matanya kemudian beranjak tapi Bang Rakit menahannya.
"Abang tanya sekali lagi? Benar kamu nggak ada rasa sama Abang?"
"Iya" jawab Fia singkat tapi tidak menolak saat Bang Rakit kembali merebahkan tubuhnya.
"Katakan sekali lagi?" Bang Rakit pun mengulang perlakuannya. Rasanya penolakan Fia hanya angin lalu dan kali ini dirinya tidak ingin terbawa perasaan karena sikap palsu seorang Fia. Ia yakin akan hal itu.
__ADS_1
Bang Rakit mengecup dan mengunci kedua tangan Fia dengan satu tangan. Tubuhnya sedikit beralih mendekap dan menaikan tengkuk Fia kemudian mel***t bibirnya hingga perlahan percikan api di dalam dadanya mulai merangkak naik. Saat ini Bang Rakit merasakan hasratnya mulai tak terkendali, hatinya mulai gelisah apalagi tubuhnya sudah menegang membuat pakaiannya terasa sesak. Sadar Fia belum begitu meresponnya, ia pun menarik diri tapi ternyata Fia mend**ah pelan membuat jiwa lelakinya begitu lemah.
Astagfirullah.. ujianMu begitu berat. Kalau seperti ini, sungguh aku tidak sanggup Tuhan.
Bang Rakit melepas paguttannya. Seketika itu juga Fia menutup wajahnya. "Bang Zen.." tangis Fia kembali pecah dalam ucap lirih.
Tubuh Bang Rakit seketika lemas mendengarnya. Hatinya terlalu sakit, remuk redam merasakan sikap Fia yang terus menolaknya padahal ia tau Fia sudah bersedia membalas perlakuannya. Batinnya terpukul, mentalnya seketika down.
Sadar ucapnya menyakiti Bang Rakit, Fia pun ikut down apalagi Bang Rakit menatapnya dengan tatapan penuh kepedihan.
"Abang berusaha sabar menunggu di tengah semua kepedihan hatimu kehilangan Papanya Arsene. Tak peduli seperti apa almarhum memperlakukan kamu.. Abang tidak berkecil hati. Tapi jujur hati Abang terasa nyeri saat kamu menyebut namanya di tengah kebersamaan kita. Abang pernah tertusuk tajamnya sangkur di pinggang, Abang masih sanggup menahannya tapi sikapmu lebih tajam menusuk hingga Abang nyaris tidak sanggup menahan perihnya. Abang tidak pernah memintamu melupakan dia tapi tolong belajar lah jujur pada hatimu. Apakah sungguh pria kaku ini tidak ada di hatimu?" Bang Rakit benar-benar beranjak meninggalkan Fia sendirian.
...
Hingga waktu hampir malam, tak satupun anggota bisa menemukan Bang Rakit. Bang Ervan sudah mengambil alih perintah untuk off kegiatan sampai ada keterangan selanjutnya. Danton itu pun bergegas menuju rumah Fia.
"Saya tidak tau apa yang terjadi, tapi pastinya saat ini Danki sedang menenangkan diri di suatu tempat." Kata Bang Ervan.
"Apa ada kemungkinan Abang berada di tempat terlarang?" Tanya Fia.
"Pe***uran maksudmu??"
Fia mengangguk.
Agaknya dari pertanyaan Fia sedikit bisa terjawab penyebab hilangnya Danki dari peredaran. Ia pun mencoba mengingat record prestasi dan pribadi seniornya itu.
"Abang memang sangat keras dan tegas, tapi Abang adalah pria anti perempuan. Saya akui dulu memang Abang bertingkah, wajar saja lah.. saya juga begitu. Tapi kalau untuk sekarang saya pastikan hal itu tidak akan terjadi seberapa pun beratnya tekanan yang Abang hadapi. Kalau khilaf minum masih mungkin Fi.. tapi untuk satu itu saya jamin tidak" jawab Bang Ervan mantap.
"Saya minta tolong cari Abang..!!" Pinta Fia sudah pucat ketakutan.
"Santai Fi, kita bantu cari Rakit" terdengar suara langkah menuju rumah Bang Rakit.
"Bang Khobar?????" Fia kaget melihat Bang Cemar memakai baju pantai berwarna biru laut cerah bermotif daun kelapa, celana pendek merah bermotif kura-kura dan memikul alat pancing di pundak.
"Baang, ini mau cari Danki saya atau mau mancing?? Ini mau malam lho Bang" protes Bang Ervan yang tadi sempat menghubungi Bang Cemar.
"Aahh diam kau Danton. Nurut saja..!!" Jawab Bang Cemar tegas. "Hai Fii.. tambah cantik aja" goda Bang Cemar dengan genitnya.
"Duuhh Bang, please Abaaang" Bang Ervan sudah cemas bukan main.
.
.
.
__ADS_1
.