
Lintar memeluk suaminya dari belakang mencoba membuang egonya. Ia paham suaminya tergolong orang yang keras dan sangat sulit melunakkan hatinya.
Bang jenar melirik tangan Lintar yang memeluknya dan mengusap dadanya. Hanya dengan perlakuan kecil itu hati Bang Jenar terasa sedikit tenang.
"Ada angin apa mau memeluk Abang seperti ini" Bang Jenar sengaja berbicara ketus pada Lintar.
"Di luar mungkin kita bisa terlihat bukan siapa-siapa. Tapi di kamar ini kita adalah suami istri" ucap Lintar.
"Kalau niatmu hanya ingin menjadi istri Abang di kamar ini saja, lebih baik kamu keluar dari kamar ini biar Abang bisa lebih menunjukkan siapa istri Abang di muka umum"
"Baiklah..tapi setidaknya beri Lintar waktu sampai masa kontrak kerja habis"
"Itu terlalu lama" Bang Jenar berucap datar tidak mau tau. Bang Jenar melangkah maju membuat Lintar harus melangkah mundur. Lintar gusar melihat tatapan mata Bang Jenar yang seakan ingin menerkamnya.
"Kamu harus ingat posisimu di rumah ini. Tapi kamu pun harus mengingat bahkan di luar rumah.. kamu tetap istri Abang. Jadi bersikaplah sewajarnya istri. Abang tidak peduli apa yang akan dibicarakan orang. Yang Abang tahu.. Kamu istri sahku dan Abang menikahimu tidak untuk main-main" tegas Bang Jenar.
Lintar mengarahkan rambutnya ke belakang lalu mengalungkan lengannya pada belakang leher Bang Jenar.
"Lintar ingat, Lintar ini istri Abang. Kalau Lintar istri sah Abang.. apa boleh Lintar meminta sesuatu"
Nada manja Lintar membuat jantung Bang Jenar berkali lipat berdesir tanpa bisa di kendalikan. Bagaimana pun kuatnya seorang suami sudah pasti akan bertekuk lutut jika istri sudah merayunya seperti ini.
"Apa yang kamu minta?" tanya Bang Jenar tapi tidak bisa menyembunyikan suara beratnya. Ia menyerusuk dan menuntut belai hangat seorang istri.
"Ijinkan Lintar bekerja ya Bang? Tidak lama, hanya tinggal tujuh bulan lagi" bujuk Lintar.
"Hmm.. dengan syarat dan ketentuan yang berlaku" datar Bang Jenar. Bang Jenar mencium lembut dan mendekap Lintar yang belum siap mendapat perlakuan mendadak dari suaminya. Lintar ingin melepaskan diri dari Bang Jenar. Bang Jenar pun menyudahi ciumannya dengan wajah kecewa.
"Abang mau apa sich?" lirih Lintar.
"Tidak baik seorang istri menolak ajakan suaminya untuk beribadah" Bang Jenar menatap tajam ke arah mata Lintar.
"Tapi Bang, yang kita lakukan ini beresiko" Lintar melepaskan tangannya yang melingkar tapi Bang Jenar mengalungkannya kembali.
"Apa resikonya? Akan kutanggung" tanya Bang Jenar.
"Lintar bisa saja hamil Bang"
"Pusing sekali kamu pikir hal itu. Ada bapaknya yang akan tanggung jawab. Lagipula semua butuh proses, tidak akan langsung jadi"
Bang Jenar menarik Lintar agar bisa merengkuhnya lebih dalam. Cumbuannya kali ini membawa reaksi berbeda pada Lintar. Ingin sekali Lintar melarikan diri dari kamar itu tapi ia kalah dengan perasaannya sendiri.
Perlakuan Bang Jenar tanpa penolakan dari Lintar membuat Bang Jenar semakin tidak bisa mengendalikan diri, membawa Lintar yang ikut terhanyut dalam keadaan.
__ADS_1
***
Suara adzan terdengar, Bang Jenar terbangun dan mengusap pipi Lintar dengan lembut lalu mengecupnya. Bang Jenar memakai pakaiannya lalu keluar kamar untuk mandi.
"Ibu belum bangun pak?" tanya bibi.
"Mungkin sebentar lagi bi. Biarkan dia tidur sebentar lagi, dia terlihat lelah hari ini"
Bibi hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di dalam kamar, Lintar melihat pakaiannya masih berserakan di lantai. Tak ada lagi Bang Jenar disana, ia pun segera memakai pakaiannya dan keluar juga dari dalam kamar.
Lintar menggeliatkan badan, mengangkat tangannya di depan pintu kamar membuat pusarnya terlihat sangat jelas dengan sedikit tanda merah disana. Bang Jenar yang berjalan ke arah kamar sambil mengeringkan rambutnya segera menarik pakaian Lintar agar tidak terlihat perutnya yang putih mulus.
"Jangan sembarang perlihatkan perutmu yang gendut itu" ucap Bang Jenar sambil masuk ke dalam kamar.
Bibi tersenyum karena tau badan Nyonya nya sangatlah indah dan langsing. Bahkan mungkin benar jika ada pria yang melihatnya biji matanya akan terlepas dari tempatnya.
Lintar bersungut lalu berjalan ke dapur untuk minum. Lintar pun menyapa bibi untuk melihat menu makan malamnya.
"Bibi masak apa?"
"Bapak minta bibi masak ayam goreng dan tumis toge Bu. Apa ibu mau yang lain?" tanya bibi.
"Nggak bi, itu saja" jawab Lintar tidak lupa meninggalkan senyum.
...
Suara ponsel Lintar berdering. Ia mengabaikannya karena sedang makan, tapi karena terus mengganggu, Bang Jenar memintanya mengangkat dengan mengaktifkan loudspeaker.
Boy : Kenapa lama sekali?
Lintar : Aku sedang makan. Ada apa?
Boy : Ada dua tugas. Pertama.. ada bandar narkoba di sekitar pasar kota. Kita akan mengintai disana dan kamu menyamar sebagai pedagang. Kedua.. kita akan mengawal menteri ke Batam dan Singapura.
Lintar : Hmm.. besok kita lanjut di kantor.
Lintar menutup teleponnya. Bang Jenar merasa tidak suka dengan sikap Boy yang terkesan memaksa dan mencari perhatian Lintar.
"Jangan terlalu dekat dengan Boy. Urusan pekerjaan harus di bicarakan bersama, tidak secara pribadi seperti ini. Awas kalau kamu bertemu dengan Boy tanpa sepengetahuan Abang" tegur Bang Jenar.
"Iya Bang, Lintar tau. Nanti Lintar bilang sama Abang kalau terpaksa harus bertemu dengan Boy" jawab Lintar yang tau suaminya sudah memberi peringatan keras.
__ADS_1
...
Lintar masuk ke dalam kantor dengan tergesa-gesa, ia masih enggan untuk berangkat atau pulang bersama dengan Bang Jenar. Tanpa sengaja Lintar menabrak Boy di depan pintu, beruntung tangan Boy bisa menangkapnya.
"Hati-hati cantik..apa yang kamu risaukan. Jam kerja masih kurang tiga menit lagi" ucap Boy sambil menyangga punggung Lintar dengan tangannya.
Bang Jenar melihat adegan itu dari dalam ruangannya. Ia merasa kesal dan membanting map dokumen dengan hati bergemuruh yang meluap.
"Apa apaan dia itu? Apa dia tidak puas denganku hingga harus bermesraan dengan pria lain bahkan matahari baru saja terbit" omel Bang Jenar dalam hati.
dddrrrttt.. ddrrttt
Tak lama ponsel Bang Jenar bergetar. Ada pesan masuk dari Lintar.
Lintar : Bang.. Lintar ada di ruangan Pak Boy.
B. Jenar : Keluar!!
Lintar : Tapi Bang, ada pekerjaan yang harus dibicarakan.
B. Jenar : Keluar!!!! Atau Abang yang masuk kesana dan mengobrak abrik ruangan Boy.
~
"Saya keluar dulu pak, kalau ada masalah pekerjaan.. kita bicarakan dengan team saja ya pak!" pamit Lintar pada Boy.
"Tunggu Lintar.. ada yang mau saya bicarakan secara pribadi" cegah Boy agar Lintar tidak keluar.
"Ada apa pak? Kalau bukan soal pekerjaan, kita lanjut nanti saja..!!" jawab Lintar yang akan berlalu pergi.
"Aku ada perasaan sama kamu" ucap Boy cepat.
"Maaf pak Boy, tapi saya tidak bisa menerima perasaan bapak" Lintar keluar dari ruangan Boy.
Bang Jenar menarik tangan Lintar, ternyata Bang Jenar sudah menunggu Lintar keluar dari ruangan Boy.
"Dia bicara apa?" tanya Bang Jenar.
"Belum sempat Bang, Lintar segera keluar ruangan sebelum tanduk Abang keluar"
Seisi ruangan melihat sikap Bang Jenar yang begitu posesif pada Lintar hingga membuat mereka bertanya tanya.
"Jangan bohongi Abang..!!" tatapan tajam Bang Jenar mengarah pada Lintar.
__ADS_1
.
.