Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
82. Rudra yang rumit.


__ADS_3

Bang Rakit meminta ijin untuk bisa membawa Fia ke dalam kapal selam. Ia tetap membuat ijin di sana sini karena kapal selam bukan ajang tour untuk masyarakat sipil namun karena kebaikan hati komandan laut, ia mengijinkan Bang Rakit untuk membawa Fia yang sedang mengidam.


"Silakan Kapten. Semoga anaknya nggak ngileran ya. Sehat selalu untuk bumilnya Kapten Seno Rakit" kata komandan laut.


"Siaap.. Terima kasih komandan"


...


Fia sungguh terpesona melihat indahnya lautan, apalagi saat perlahan kapal tersebut harus 'tenggelam' turun untuk uji kelayakan berkala. Fia bisa menikmati duduk di ruang panjang dan sempit bercampur bau mesin, bahan bakar dan oli.


"Fia mau turun ya Bang" pinta Fia tiba-tiba.


"Sabar.. biar kapalnya naik dulu" jawab Bang Rakit ikut waspada sebab wajah Fia sudah terlihat pucat. "Kamu mabuk ya??"


Fia mengangguk tapi ajaibnya perut Bang Rakit yang terasa teraduk-aduk. Ia meraba sekitar perutnya, tak paham mengapa yang di rasakan Fia bisa menyambar raganya.


"Fia pengen muntah Bang, pusing"


Seketika Bang Rakit dan berlari di lorong sempit menuju toilet kecil di dalam kapal selam tersebut. "Hhhkkkkk.." Bang Rakit membuang seluruh isi perutnya dan terdengar sangat tersiksa.


"Ijin Kapten.. kapten baik-baik saja?" Tanya seorang crew kapal selam.


"Iya, saya baik-baik saja" jawab Bang Rakit sembari meremas perutnya yang ikut lemas karena sudah di ajak kontraksi berat.


~


"Lega Bang, perut Fia sudah nyaman"


Bang Rakit menoleh menatap wajah istrinya yang jauh lebih segar. Ia tak paham fenomena yang terjadi sampai Fia yang mual namun dirinya yang bersaksi.


Senyum Bang Rakit pun mengembang. Ia mendaratkan satu kecupan di kening Fia. "Alhamdulillah.. sehat-sehat kamu sama dedek ya. Mau Abang sampai berguling di trotoar seperti kata Papa.. Abang rela, asal kamu sama anak-anak sehat dek"


"Bang.. Fia mau muntah lagi..!!" Fia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


"Hhkkk.." Bang Rakit kembali muntah di dermaga sampai Om Alvin dan Om Wahyu sigap membantu Dankinya.


...

__ADS_1


Bang Rudra menghisap rokoknya dalam-dalam. Hatinya begitu kesal mendengar kata-kata Arin.


POV Bang Rudra.


Kenapa hatiku seperti ini? Apa benar dalam waktu sesaat, aku sudah bisa melupakan Arina hanya karena Ariana? Aku sudah berkhianat pada hatiku sendiri. Kenapa aku bisa menyentuh adik dari pembunuh saudaraku, aku terjebak perasaan dalam diam sampai bisa melepaskan peluru rahasia milikku pada Ariana.


Ku lihat Arina sangat akrab dengan putraku Patra, mungkin karena ada darah istriku yang mengalir di dalamnya. Arina terlihat tulus menyayangi dan mengasuh Patra. Ku rasakan denyut nadiku berdetak kencang menatap senyumnya.


"Bang.. tolong jaga Patra sebentar ya, Arin mau buat susu" pintanya padaku saat itu. Wajahnya masih malu-malu mungkin efek ajakan bercintaku semalam. Entah tak bisa ku jabarkan apakah dia yang menggodaku ataukah aku yang sangat merindukan saat hangat berdua dengan wanita yang ku sebut istri.


"Iya" jawabku singkat menguji perasaan ku sendiri.


"Abang marah sama Arin??" Tak tau mengapa ia tanyakan hal itu padaku.


"Memangnya kenapa?? Apa Abang terlihat marah??" Aku balik bertanya pada Ariana istriku.


Arin hanya mengangguk polos sebagai jawaban atas pertanyaan ku.


"Abang benar-benar nggak suka ya kalau Arin hamil?"


"Abang nggak suka warna baju yang semalam?" Tanyanya lagi seakan ada seorang gadis cilik yang menanyai diriku.


"Suka.." jawabku lagi.


"Lalu kenapa Abang seperti mendiamkan Arin?? Apa karena semalam Arin tidak pintar.........."


"Abang memang kecewa, karena ucapan mu." Aku berusaha perlahan, belajar jujur dan membuka hatiku agar keresahan ini tidak semakin berlarut-larut apalagi aku juga harus mengambil langkah selanjutnya atas jawaban Arin padaku. "Abang yang salah, mengajakmu menikah karena keegoisan, tanpa perhitungan dan terburu-buru karena ada sesuatu yang harus Abang selesaikan. Kata menyelamatkan kamu dan misi itu terselip rasa ingin memiliki kamu"


"Oohh.. jadi Abang bohong? Arin juga bohong" jawabnya membuat kedua mataku terbelalak untuk kedua kalinya. "Arin mau menikah sama Abang karena.... Pengen punya suami satpam.. karena Arin di jahatin terus sama orang suruhannya Bang Najib"


Disisi lain aku bahagia dengan pernikahanku, tapi disisi lain hatiku bimbang mengapa bisa menikahi gadis kurang akal seperti Arin yamg tak ubahnya seperti Fia istri Rakit.


Aku menyudahi pembicaraan ku sembari menata hatiku. Tak ada jawaban yang kudapatkan dan semakin berantakan kurasakan. "Buatkan Patra susu. Abang yang jaga..!!"


POV Bang Rudra end.


...

__ADS_1


Bang Rakit baru tiba di rumah dan melihat Bang Patra baru saja datang bersama Patra dan Ariana. Entah darimana saja mereka saat Bang Rakit tak ada di rumah.


"Masuk dan istirahat lah bersama Patra..!!" Perintah Bang Rudra.


Bang Rakit pun meminta Fia untuk masuk karena melihat wajah kusut Abangnya.


~


"Sebenarnya Abang mau tanya apa?"


"Apa yang kau suka dari Fia?" Tanya Bang Rudra.


Kening Bang Rakit berkerut mendengar pertanyaan Bang Rudra.


"Ya semuanya Bang. Paras wajahnya yang cantik, bodynya yang seksi, kulitnya yang mulus, sifatnya yang apa adanya dan polosnya.. itu khan yang tidak bisa Abang terima?" Jawab Bang Rakit langsung mengena dan pada pokok bahasan dalam hati Bang Rudra.


Seketika mata Bang Rudra melirik adiknya.


"Istri kita sedikit berbeda Bang, Fia hidup seorang diri tanpa bimbingan orang tua. Sedangkan istrimu sejak kecil tinggal bersama eyang di kampung, tidak tau orang tua dan di didik Bang Najib setelah eyangnya meninggal khan?"


"Darimana kau tau? Memang benar Arin dan Ariana hidup terpisah karena ibunya malu punya anak kembar, hingga Arin baru tau punya keluarga dan itu adalah Bang Najib" jawab Bang Rudra.


"Berbesar hati lah menerima kenyataan Bang" Bang Rakit menghisap batang rokoknya lalu menghembuskan asap dengan kasar. "Aku mempelajari semuanya, mencari tahu seluruh informasi tentang Fia setelah kepergian Zeni. Aku selalu bertanya-tanya sepertimu.. 'mengapa aku bisa menerima gadis polos seperti Fia', aku terus bersujud pada Tuhan mencari jawaban hingga aku tau jawabannya.. Lebih baik kudapatkan dia untuk ku.. yang bisa ku didik, ku ajari, manja padaku dan hanya butuh diriku daripada dia 'pintar' tapi hanya menyesakan batin ku"


Untuk sesaat Bang Rudra terhenyak, tak ada yang salah dari jawaban adiknya. "Kamu tidak kerepotan dengan tingkahnya yang bisa di bilang tanda kutip??"


"Tidak selamanya dia begitu Bang, siapa bilang dia tidak dewasa. Tapi aku lebih suka perempuan yang sok tau, manja, dan banyak merajuk.. lebih menantang.. aku tidak bohong. Aku ini manusia yang menjilat ludahku sendiri" Bang Rakit tersenyum mengingat masa pendekatannya dengan Fia.


"Pantas, kau sampai begitu kalau dekat Fia"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2