Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
26. Istriku yang menggemaskan.


__ADS_3

"Maaf.. memang kami berdua yang salah" kata Bang Cemar mengakui salahnya.


"Kemarin kau buat jantungku hampir lompat, sekarang kamu ajari Fia bicara yang tidak-tidak. Parah sekali dia berguru sama kamu..!!" tegur Bang Zeni.


"Iya maaf, niatku bukan seperti itu Zen. Sungguh..!!" Kali ini Bang Cemar memang lebih banyak diam karena merasa bersalah.


"Dengar ya Mar, kalau istrimu tau Fia curhat sama kamu.. dia juga sakit hati. Kamu mikir nggak sih?"


"Begini lho Zen, wanita itu khan makhluk pencemburu. Kami sudah menyarankan dia untuk bicara dari hati ke hati sama kamu tapi agaknya Fia ini masih malu sekali sama kamu, dalam hal ini kamu sendiri yang bisa menjawabnya. Ini kamu lihat. Kita buat group terselubung biar tidak ada fitnah di antara kita. Isinya hanya ada aku, Cemar dan Fia. Dengarkan sendiri isi pesan suaranya..!!" Bang Fabian menengahi.


⏺️ : Hmm.. kalau Gina dan Nelis terbuka nggak sih sama Abang berdua. Kalau Fia khan takut Bang Zen marah. Gimana donk bilangnya sama Bang Zen. Lagian si Iis ajakin Bang Zen karaokean terus. Nyanyi sendiri aja Fia kadang malu, apalagi karaoke sama Bang Zeni, kemarin aja Fia beranikan diri bersuara."


"Itu kamu dengar..!! Kita pasti paham maksud Iis. Tapi istrimu selalu berpikir positif. Kita bukannya nggak mau cerita tapi belum sempat cerita" kata Bang Fabian. "Asal kamu tau ya, Nelis dan Gina sudah tau hal ini tapi mereka pun pasrah karena mereka pun sebenarnya juga polos dan lurus saja.. hanya istrimu ini seribu celaka. Polos banget Zen. Kita sebagai 'abang' mana tega di curhati adik. Nolaknya pun nggak sampai hati. Maaf lah Zen. Lain kali kami pasti terbuka."


Bang Zeni menghela nafas. Memang perasaannya sangat kecewa tapi kekecewaan dirinya tidak sebanding dengan kepolosan Fia. "Terima kasih sudah membantu istriku. Lain kali aku akan lebih memberinya perhatian dan mengajarinya. Aku tau PR ku masih banyak"


"Sudah ya ini. Deal jangan ngambek lagi. Kita nggak ada niat buruk..!!"


Mereka bertiga pun saling bersalaman sesama pria.


tok..tok..tok..


"Ijin Dan. Maaf mengganggu..!!" Om Wahyu mengetuk pintu seakan terburu-buru.


"Ada apa???" Tanya Bang Zeni langsung berdiri dari posisi duduknya.


"Ibu Dan..!!!"


Tanpa banyak bicara Bang Zeni segera berlari mencari Fia. Hatinya cemas pada Fia yang sedang mengandung buah hatinya.


"Mana istri saya??"


Fia hanya berdiri menunduk di balik pohon. Agaknya Fia masih ketakutan mendengar Omelan Bang Zeni tadi.


Melihat Fia takut padanya, Bang Zeni menghampiri Fia. "Kenapa??" Bang Zeni membelai lembut rambut Fia. Seketika Fia luluh dan menangis memeluk Bang Zeni.


"Fia mau mangga muda, boleh nggak Bang?" suara Fia terdengar bergetar.

__ADS_1


"Boleh, ambil saja..!!"


"Yu, tolong panggil adik-adikmu untuk panjat pohon mangga...!!" Perintah Bang Zeni.


"Siap Danki..!!"


~


"Rontok kan semua..!! Ada berapa kilo itu?? Sekalian sama cabai dan sayur di kebun. Nanti di bagi rata ya tiap KK" Bang Zeni memantau saja buah mangga yang berjatuhan, ia melihat Fia yang tersenyum senang. Tangan itu tak lepas dari pinggang Fia.


"Fia kenapa Bang? Wajah Fia kotor?" Tanya Fia.


"Kamu cantik, imut sekali" jawab Bang Zeni serius.


Fia seolah tidak mendengar, hanya pipinya saja yang memerah.


Bang Zeni mengecup kening Fia. "Apa sulit sekali bicara jujur sama Abang. Apa Abang kurang ganteng?" Bang Zeni menegur Fia dengan caranya, ringan dan penuh pendekatan. Ia mengeratkan pelukannya mendekap Fia.


"Maaf Bang, Fia salah" ucapnya pelan namun masih jelas terdengar.


"Bilang sama Abang..!!"


"Belakangan ini Fia suka takut kalau Abang jadi perhatian ke perempuan lain. Abang melirik perempuan lain dan jatuh cinta dengan perempuan lain karena Fia sadar.. Fia hanya serbuk gergaji di antara serbuk mari*as"


Bang Zeni ingin tertawa mendengar ocehan Fia yang sedang insecure dan merasa rendah diri sebagai seorang wanita. Ia menahan tawanya dan menasihati istrinya lagi. "Lain kali tidak boleh mengatakan isi rumah tanggamu pada laki-laki lain. Kalau memang sikap dan ucapan Abang tidak sesuai dengan hatimu dan menyakiti hatimu.. katakan langsung sama Abang, tegur Abang agar kita bisa memperbaikinya bersama. Begitu juga dengan Abang, tidak akan duduk berdua atau bercerita tentang apapun yang terjadi dengan kita pada perempuan lain sebab pada dasarnya kita menikah bukan untuk saling mencari pembenaran tapi kita bersama-sama melengkapi segala kekurangan yang ada pada diri."


Fia mengangguk dan mulai memahami. Jujur dirinya memang tidak peka dalam beberapa aspek kehidupan karena tidak banyak yang mengajarinya, ibarat kata.. dirinya bisa hidup, makan dan bernafas saja sudah syukur. Fia mendongak menatap wajah Bang Zeni yang seakan menahan tawanya.


"Kenapa.. apa Fia terlihat bodoh?"


"Nggak, kamu cantik, imut sekali"


Fia semakin tajam wajah Bang Zeni. "Sudah berapa kali Abang mengatakannya??"


"Memangnya kenapa?? Kenyataannya memang begitu. Abang khan memuji istri sendiri" Bang Zeni memainkan alisnya lalu menggigit kecil pucuk hidung Fia seakan gemasnya itu sudah menjadi kebiasaannya.


"Astagfirullah hal adzim.. kita bisa pulang cepat nggak sih? Aku punya istri lho, nggak hanya dia aja yang punya istri di dunia ini" kata Bang Cemar.

__ADS_1


"Iya, aku jadi kangen Nelis"


"Pulang sana.. biang rusuh" usir Bang Zeni namun tak pernah ada ketersinggungan antara dirinya dan para sahabatnya.


"Fi.. Abang minta mangganya donk. Abang ikut ngidam nih" kata Bang Fabian langsung duduk.


Belum sempat terjawab, ada pesan singkat dari Nelis.


'Bang, sepertinya Nelis mau melahirkan deh.'


"Siapa Bi?" Tanya Bang Cemar ingin tau.


"Ini si Nelis, katanya mau melahirkan" jawab Bang Fabian masih terpaku.


"Bukannya masih tujuh bulan??" Bang Zeni ikut memastikan.


"Haaahh.. Apaaaa??? Nelis mau melahirkan????" Pekik Bang Fabian baru menyadari apa yang terjadi, ia sampai berlompatan panik saking bingungnya.


"Sabaaaaarr.. jangan panik..!!!!" Kata Bang Cemar tapi dirinya ikut berlompatan panik.


"Ayo cepat bawa mobil kompiku saja..!!" Saran Bang Zeni yang sebenarnya juga mulai panik.


"Bang, mangganya bagaimana?" Tanya Fia melihat mangga yang berjatuhan.


"Duuhh ini lagi.. ribet perkara mangga" Bang Zeni menepuk dahinya. "Nanti Wahyu yang kumpulkan"


"Bang, terongnya belum di masukan wadah" kata Fia.


"Nanti saja panen terongnya.. kamu masukan sendiri..!!" Jawab Bang Zeni sambil menarik tangan Fia.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2