Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
81. Rasa sayang untukmu.


__ADS_3

Dengan langkah gontai karena mengantuk, Bang Rakit langsung menuju kamarnya.


"Astagfirullah..!!!!!"


jdeeerr..


Seketika Bang Rakit membanting pintu dan menutup nya rapat. Kantuknya seketika hilang melihat Fia memasang pose menantang adrenalin nya.


"Kenapa kamu mancing-mancing Abang???" Tegur Bang Rakit namun dengan cepat ia membongkar lipitan sarungnya.


"Fia mau temani Abang ronda" jawab Fia dengan genit menggoda.


"Oya, ngomong-ngomong hari ini malingnya nyolong apa sayang??" Bang Rakit tak kalah nakal menggoda.


"Nyolong hati Fia Bang."


"Waahh nakal sekali. Mana.. mana.. sini biar Abang sergap" bujuk rayu Bang Rakit yang terdengar penuh aura kesesatan.


//


"Lailaha Illallah.. Naudzubillah min dzalik..!!" Bang Rudra melongok ke arah sekitar, menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihat kelakuan Ariana. "Heehh.. kenapa pakai pakaian seperti itu. Kesambet setan pohon bakau ya..!!!!!!" Bang Rudra segera mengunci rapat pintu mereka.


Denyut jantungnya berdesir sangat kencang. Darahnya memanas hingga rasanya ia hampir mimisan melihat pose cantik Ariana.


"Bang, kapan kita mau tanam terong?" tanya Ariana seketika membelalakkan mata Bang Rudra.


"Haaaaahh.. waduuuuuhh Gusti.. nek ngene carane iso bubrah tenan tatanan ati, yo ora kuat dek" jawab Bang Rudra salah tingkah menata perasaan menanggapi kenakalan Ariana.


"Bang.. kapan??"


Batin Bang Rudra terombang-ambing. Ia amat merindukan Arina namun saat ini dirinya sudah terlanjur kembali beristri karena sebuah perhitungan yang salah.


Apa kamu sudah tenang disana dek? Apa Abang boleh menyentuh wanita lain??


"Iiiisshh Abang mah diam aja." Protes Ariana sudah terlanjur malu karena sebenarnya ia berusaha keras untuk memberanikan diri memakai pakaian seperti itu. Ariana membanting dirinya menarik selimut dan menangis di dalamnya.


Bang Rudra mendesah pasrah, tak tega juga rasanya sudah membuat istrinya menangis. Ia pun naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam satu selimut bersama Ariana.


"Siapa yang ajari istri Abang jadi nakal begini?" Bang Rudra mencium pundak Ariana yang wangi. Ia mendekat memepetkan tubuhnya di punggung Ariana. Lama sekali tidak mendekap hangat tubuh seorang wanita. Gejolak hasratnya seketika meluap.


Ariana menepis Bang Rudra, namun tingkahnya itu semakin membuat Bang Rudra tertantang.


"Katanya mau tanam terong??" Saat naluri Bang Rudra bekerja, perangainya tidak sedingin sikapnya di awal. Ia begitu lembut bagai kue baru matang dari oven.


"Abang sudah tau caranya? Tunggu ya, Arin mau tanya sama Fia, pegangan dulu atau........." kata Arin kemudian bangkit dari ranjang, Bang Rudra pun sigap menarik tangan Ariana sampai jatuh menimpa dada bidangnya.

__ADS_1


"Astagfirullah.. kamu ini ya. Mana ada yang begini pakai tutorial. Sudah biar Abang aja yang tanam. Kamu ikut saja apa kata Abang..!!"


"Tapi Bang......"


Bang Rudra yang tidak sabar segera menggulingkan Ariana yang masih ternganga bingung. "Nanti saja bicaranya. Abang banyak urusan..!!"


//


"Suara apa itu Bang???" Fia sampai berjingkat karena kaget mendengar suara yang seakan familiar di telinga.


"Hhstt.. jangan ikut campur dek.." Bang Rakit terus berkonsentrasi meskipun tau apa yang sedang terjadi di ruang samping.


***


Papa Danar melihat rambut menantunya yang sama-sama basah sedang menyiapkan sarapan.


Mata Papa Danar bergantian melirik kedua putranya yang sama-sama terdiam namun mengisyaratkan wajah yang segar seakan lepas dari beban berat di pundak.


"Jaga istri kalian baik-baik. Sebagai suami.. kalian harus lebih banyak sabar dan mengalah. Ajarkan istri kalian hal yang patut. Berhasilnya seorang suami terlihat dari bagaimana cara kalian mendidik istri. Mau bagaimana pun istri kalian. Itu semua anugerah.. amanah. Kalau nggak mau, kalian pakai rok saja, biar Papa yang didik kalian lagi..!!"


"Iya Pa"


"Siap Pa" jawab Bang Rakit yang kemudian mengusap perutnya. Entah kenapa hari ini rasa perutnya tak karuan, seperti gilingan adonan semen yang berputar-putar.


"Kenapa kamu??" Tanya Papa Danar.


"Tekan belakang punggungnya Dra..!!! Mabuk itu" saran Papa Danar.


Bang Rudra tertawa melihat Bang Rakit yang awalnya segar menjadi mual karena suatu hal yang tidak ia pahami.


"Opaaa.. ini Arsene sama Patra pintar sekali sarapannya.. sampai habis lho Opaa.." Mama Nadine gembira sekali melihat kedua cucunya sangat lahap sarapan pagi.


"Waahh.. jagoan Opa keren sekali."


"Iya donk Opa, kita berdua khan mau punya adik. Adik kita laki-laki Opa" jawab Arsene dan mendapatkan anggukan persetujuan dari Patra.


"Adikmu perempuan le" sambar Bang Rakit yang masih menginginkan anak perempuan.


"Laki Pa" jawab Arsene masih dengan percaya diri.


"Kalau adikmu laki.. Papa mabuk parah setiap hari juga nggak apa-apa..!!" Ucap Bang Rakit menanggapi putranya.


"Tak kancani" Bang Rudra tertawa saja karena posisi Ariana sedang tidak dalam keadaan mengandung.


"Jangan sesumbar.. ucapan adalah do'a. Memangnya kamu sanggup menanggung beratnya jadi ibu hamil. Baru begini saja kamu sudah ngeluh" tegur Papa Danar. "Kamu juga Dra, jangan sok tau kamu jadi laki. Tau rasanya mabuk, nggelepar di trotoar nggak kuat jalan kamu nanti"

__ADS_1


Kedua putra Papa Danar itu hanya bisa nyengir mendengarnya.


~


"Nanti jam delapan Abang jemput, katanya mau naik kapal selam"


"Beneran Bang?????" Mata Fia membulat besar seakan tak percaya Bang Rakit bersedia mengabulkan inginnya.


"Bener donk.. apa sih yang nggak Abang buat istri Abang" Bang Rakit mencolek dagu Fia yang sedang menggoreng tempe di dapur. Nakalnya kambuh tak tau tempat. Ia mencomot sepotong tempe lalu menggigitnya.


"Baaang.. itu khan mentah" kata Fia.


Bang Rakit tetap bersikap cool meskipun sudah salah comot. "Mau matang atau mentah.. Abang tetap suka tempe" jawabnya dengan senyum dan ekspresi wajah yang tak mudah di uraikan.


//


Entah mengapa hari masih sepagi ini tapi Bang Rudra sudah mengumpulkan banyak bunga gulma di sepanjang tepi kebun kompi Bang Rakit.


Sambil duduk santai, Bang Rudra merangkainya menjadi bando yang sangat cantik. Ia sendiri tak tau mengapa dirinya rela membuat bando bunga dan bertingkah layaknya ABG sedang pacaran.


"Cantik sekali Bang, buat siapa?" Selidik Ariana sembari mengeryit.


"Buat istri Abang"


"Mbak Arina?" Tanya Ariana.


"Istri Abang siapa?"


"Mbak Arina khan?"


"Lalu kamu siapa??" Tanya Bang Rudra menatap mata Ariana.


"Ya pura-puranya jadi istri Abang. Arin khan sudah di bayar Abang" jawab Ariana.


"Lalu kalau hanya pura-pura.. bagaimana kalau kamu hamil?"


"Ya nggak apa-apa. Karena kalau Abang nggak sayang sama Arin.. setidaknya Arin masih punya teman untuk menghibur diri, masih bisa mengatakan pada anak Arin kalau dia adalah seorang anak dari ayah yang hebat, itu juga kalau Arin diijinkan mengatakan siapa ayahnya."


Bang Rudra meremas ujung bando bunga yang sudah ia rangkai dengan susah payah. Tak tau mengapa, ia merasa patah hati mendengar Arin seolah tak menerima dirinya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2