Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
48. Berjuang melewati hari.


__ADS_3

"Papa nggak setuju. Bahaya kalau kamu sendirian. Tinggal lah dengan Mama dan Papa disini." Kata Papa Galar menolak Fia yang ingin hidup sendiri di luar sana. "Kamu tetap menantu Papa dan Mama, selamanya akan tetap begitu.. tidak ada orang tua yang di repotkan dengan kehadiran anaknya.


Bang Rakit terdiam di tempat. Dirinya minggu depan memang seharusnya menduduki jabatan di Batalyon tapi kini malah lebih memilih untuk menjalani pendidikan yang keseluruhan gedung pendidikan nya tidak jauh dari tempat tinggal panglima. Dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya Bang Rakit diijinkan untuk menjalani pendidikan lanjutan.


\=\=\=


"Fiaaaa...!!!!! Papaaaa Fia pingsan...!!" Mama kebingungan saat Fia pingsan di depan pintu.


"Aduuuhh.. pasti dia nggak tidur lagi kepikiran Zeni. Kita harus ekstra ketat jaga Fia Ma. Takut ada apa-apa sama cucu kita" kata Papa Galar bersiap mengangkat Fia.


"Ada apa Pa? Fia pingsan lagi???" Tanya Bang Rakit tapi kemudian sigap mengambil alih Fia dan membawanya ke dalam kamar.


"Rakit.. Kamu jangan ribut lagi sama orang rumah sakit ya..!!" Kata Papa karena melihat raut wajah Bang Rakit sudah memanas.


"Lalu aku harus bagaimana?? Membiarkan Fia seperti ini terus???" Tanya Bang Rakit sembari menyelimuti Fia.


"Kamu bisa tenang nggak?? Kalau kamu nggak bisa tenang. Jangan harap ada pintu buat kamu disini..!!!" Ancam Papa Galar.


"Aku bisa lompat jendela."


"Rakiiiiiiittt..!!!!!!!" Bentak Papa Galar tak main-main.


"Iisshh.. Fia sadar Pa" Bang Rakit segera menghindar sampai tidak sadar kakinya menabrak meja.


"Astaga ini anak benar-benar ya..!!!"


\=\=\=


Sembilan minggu kemudian.


Fia mengunjungi makam Bang Zeni. Ia menumpahkan tangisnya disana.


"Hari ini kehamilan Fia sudah lima belas minggu Bang. Fia masih suka mual dan mabuk Bang. Pengen makan nasi aking lagi tapi nggak tau minta ke siapa?" Gumamnya. "Abang.. Fia kesepian sekali tanpa Abang. Fia rindu Abang."


~


"Ijin Dan.. Ibu menangis di makam Almarhum Pak Zeni"


"Oke.. saya kesana..!!"


:


Bang Rakit menggendong Fia masuk ke dalam mobil. Fia akan selalu lemas seperti ini usai pergi ke makam Almarhum Bang Zeni.


"Bangun dek.. sampai kapan kamu seperti ini terus. Hidup harus terus berjalan..!!" Bang Rakit mengusap minyak angin di belakang tengkuk Fia sampai ke batas sewajarnya.


"Bang Zeni.. Bang Zeniii" ucap Fia terus mengigau.


"Kamu kangen ya dek?" Tangan itu menyingkirkan anak rambut ke belakang telinga Fia. Bang Rakit mengusap perut Fia yang sudah terlihat menyembul. "Hai sayang. Apa kabar di dalam sana? Yang kuat ya sampai waktunya nanti..!! Nanti kita main sama-sama" bisiknya.


Tak lama Fia terbangun. Bang Rakit pun segera keluar dari mobil.


~


"Masa Om? Setiap saya bangun bau minyak angin lho"


"Siap ibu, mungkin ibu yang lupa karena tidak sadar" jawab Prada Alvin.


"Gitu ya Om. Ya sudah terima kasih Om. Kita ke rumah sakit saja sekarang" pinta Fia.

__ADS_1


"Siap Ibu."


"Jangan seperti itu Om. Saya ini bukan lah apa-apa dan siapa-siapa. Panggil Fia saja juga nggak apa-apa"


"Siap.. Ijin.. tidak berani ibu"


...


"Sepertinya calon laki nih Fi. Tapi masih samar-samar ya" kata dokter Ari menunjukan di layar monitor.


Fia tersenyum cantik sekali, terlihat dari tempat seseorang mengintipnya dari balik tirai. "Kata Abang juga begitu. Dia anak laki-laki yang kuat dok"


"Alhamdulillah..!! Sehat-sehat ya Fi"


"Iya dokter. Hmm dok.. saya mau tanya. Saya lihat obat saya ini semua mahal. Tapi kok selalu gratis ya? Apa karena saya janda?" Tanya Fia dengan polosnya.


"Papanya yang disana sudah menanggungnya Fi. Kamu tenang saja" jawab dokter Ari.


"Oohh.. padahal selama disini belum ada yang tau kehamilan saya dok."


Dokter Ari hanya tersenyum saja. "Ini saya sudah siapkan obatnya. Nggak usah antri kamu ya. Nanti kalau papanya si dedek ngamuk lagi di rumah sakit, saya yang repot."


"Ngamuk?? Abang pernah gentayangan disini dok??" Tanya Fia tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.


"Ya selama kamu disini pasti dia ada di sini. Matanya melirik kesana sini. Ada sedikit saja kesalahan. Nanti kami-kami ini kena imbasnya" kata dokter Ari sedikit melirik ke pojok ruangan.


"Ya Allah dok.. setiap saya sholat, tidak pernah lupa saya do'akan Abang. Mungkin dokter harus rajin bacakan ayat kursi" kata Fia.


Dokter pun tergelak. "Maaf Fia. Saya non muslim"


Fia pun menunduk merasa bersalah. "Maaf ya dok..!!"


Malam hari Fia menutup Al Qur'an lalu memeluknya, ia menangis hingga bersandar di dinding kamar.


"Kenapa ndhuk. Tadi kata dokter sehat khan? Maaf Mama nggak ikut antar. Dampingi Papa banyak kegiatan." Kata Mama merasa sangat bersalah.


"Nggak apa-apa Ma. Alhamdulillah si dedek sehat. Katanya laki-laki. Tapi Fia sedih deh Ma" kata Fia.


"Sedih kenapa?"


Papa mengintip dan mendengarkan keadaan Fia dari balik pintu.


"Sungguh Ma, tak terlewatkan sedikit pun Fia mendoakan Abang. Bahkan saat Fia sangat merindukan Abang.. Abang tak pernah hadir dalam mimpi Fia. Tapi kenapa saat di rumah sakit tadi dokter Ari bilang Abang mengamuk di rumah sakit ya kalau Fia disana" tanya Fia dengan seribu kepolosan nya.


Papa pun melirik geram. "Kau buat ulah apa?"


"Nggak ada Pa. Papa khan tau aku sedang pendidikan. Mau buat ulah apa sih??" Jawab Bang Rakit.


"Fia bisa kamu bodohi, tapi kamu nggak akan bisa bodohi Papa" kata Papa Galar serius.


Bang Rakit hanya nyengir kuda sembari menggaruk jambulnya.


"Jangan bikin ulah. Kasihan Fia...!!!!"


"Iya Paa" bisik Bang Rakit meminta Papanya untuk merendahkan suaranya.


:


"Panganan opo iki????" Papa Galar terbelalak melihat nasi bertabur kelapa dengan bau sedikit khas.

__ADS_1


"Maaf Pak.. Bibi kangen sama kampung. Pengen sekali makanan ini. Maaf ya Pak"


Tak lama Fia menghampiri meja makan. "Bibi.. ada bau nasi aking ya. Fia mau bi" pinta Fia dengan semangat.


"Ini Bu, Bibi buat banyak. Makan saja kalau ibu suka" kata Bibi.


Fia pun duduk di kursi meja makan lalu menyantap nasi aking yang bibi buat.


Melihat Fia begitu semangat makan.. Papa Galar pun tidak bisa berbuat apapun. "Opo nggak ada makanan yang normal to ndhuk.. duuh Gusti.. ini Opanya nelongso" Papa Galar kemudian meninggalkan tempat.


"Bi.. sebenarnya Fia pengen makan buah asam. Tapi sayang.. Fia pengen papanya yang manjat pohon asam"


"Nanti biar di ambilkan Mas Alvin ya Bu" bujuk Fia dan Fia mengangguk mengiyakan.


...


Malam saat Fia sudah tidur ada yang mengetuk pintu kamarnya. Fia pun terbangun. Ia berjalan membuka pintu. "Bu, ini buah asam di belakang kompleks. Mas Alvin yang panjat"


Fia kemudian mencoba menggigitnya. Memang ia tersenyum tapi terlihat sekali begitu di paksakan. "Terima kasih ya Bi"


"Sama-sama Bu"


***


"Arahkan senternya Vin..!! Nggak kelihatan nih bagian mana" hari hampir pagi tapi Bang Rakit nekat mengambil buah asam karena mendengar Fia tidak suka buah asam yang di ambilkan Om Alvin.


"Ijin Dan, harus di panjat." Om Alvin mengingatkan Bang Rakit.


"Duuhh alaaahh.. Waktu saya mepet nih harus segera kembali ke Mess. Ya wes lah saya panjat aja. Kasihan amat anak saya. Kalau mamanya nggak bisa tidur saya juga yang ngenes Vin." kata Bang Rakit kemudian melepas celana lorengnya dan segera memanjat pohon.


...


Fia keluar dari kamar dengan mata sembab saat akan sholat subuh. Saat itu Bi Narti menghampiri nya.


"Ibu nggak tidur ya?" Tanya Bibi.


"Ingat Abang saja Bi" jawab Fia menghapus air matanya.


"Bapak sudah tenang Bu. Semoga setelah ini ibu selalu di liputi kebahagiaan" kata Bibi. "Oya Bu ini ada buah asam baru di petik. Ibu mau?"


Fia menerima dan mengigitnya. Baru kali ini senyum itu tersungging tulus. "Saya suka yang ini Bi. Terima kasih banyak"


"Alhamdulillah.. sama-sama Bu"


~


"Ijin Kapten.. ibu suka"


Bang Rakit tersenyum tipis. "Alhamdulillah.. kabari apapun tentang Fia.. jangan ada yang terlewat. Sampai ada apa-apa sama Fia. Saya hajar kamu habis-habisan..!!" Ancam Bang Rakit.


"Siap Kapten..!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2