Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
70. Tragedi berdarah.


__ADS_3

Kapten Fabian ikut mengarahkan para ibu-ibu ke tempat yang sudah di arahkan.


//


"Rakit putra kandungku, Abang ini pernah menikah dengan Nadine, Amanda, dan pernah salah jalan dengan wanita malam bersama Nena sampai Rakit harus lahir ke dunia. Rakit anak yang Abang buang demi mencintai kamu Rizka. Fia menantumu..!!!!!"


Kaki Mama Rizka terasa lemas. Ia menangis sejadi-jadinya.


"Suamimu ini bejad di masa mudanya. Itulah sebabnya karirku terhambat untuk menanggung kesalahanku" kata Papa Giras.


Disana Fia melangkah memeluk Bang Rakit dengan erat. "Fia sudah pernah kesakitan kehilangan Bang Zeni dan Fia tidak ingin Abang pergi juga. Cinta Fia untuk Papanya Arzen sudah usai.. sekarang cinta Fia hanya untuk Papanya si kecil di perut Fia ini." Ucap Fia lembut menyentuh sanubari Bang Rakit.


Bang Rudra ikut mengangkat pistol mengamankan situasi. "Menyingkir..!!!!"


Seketika Bang rakit menurunkan pistol nya. Ia memandang lekat kedua mata Fia. Rasanya sungguh lemah di hadapan istrinya sendiri.


"Ada calon bayi kecil milik Kapten Rakit disini" Fia mengarahkan tangan kiri Bang Rakit untuk mengusap perutnya.


"Allahu Akbar.. Alhamdulillah.." ucap syukur Bang Rakit namun kemudian matanya yang waspada membuat tangannya terangkat.


Dooooorr..


Satu tembakan ia letuskan ke kaki Letkol Najib.


Beberapa tembakan ikut mengudara dari kompi Bang Rakit.. mereka memberikan peringatan pada anggota batalyon.


"Aaaaahh" Letkol Najib terduduk karena kakinya tertembus peluru tajam.


"Papaaaa..!!" Teriak Bu Najib ketakutan.


Anggota kesehatan pun berlarian sigap membantu.


"Saya hanya mengampuni satu kali karena belas kasih istri saya dan saya tidak ingin nyawa saya melayang sia-sia karena ada jiwa lain yang harus saya lindungi..!!" Ucap Bang Rakit tajam menusuk.


"Rakiiitt.. kamu....!!!!!" Papa Galar sampai tak sanggup berkata-kata merasakan kebrutalan putranya.


Plaaakk..


"Amankan Kapten Rakit..!!" Perintah Papa Galar sebagai Panglima dengan aman sangat berat hati. "Kamu mencoreng nama korps, juga melanggar kode etik ketentaraan"


"Adili saya Bang, ini salah saya..!!" Kata Papa Giras.


"Adili kami semua..!!" Ucap anggota Bang Rakit membela Danki mereka.


Suasana begitu tegang. Dalam hukum mereka.. jika tidak ada yang bisa di adili. Maka komandan yang akan lepas jabatan dan dalam hal ini.. jabatan panglima bisa lepas begitu saja.


Bang Rakit membuka kancing seragamnya tanda ia bertanggung jawab penuh atas tindakannya karena sudah menembakan peluru tapi Papa Galar mendekat dan menahan tangan Bang Rakit.


"Papa yang akan tanggung jawab, Papa sudah tua le. Sudah waktunya menikmati hari bersama cucu. Papa bahagia sekali kamu tambah cucu untuk Papa" kata Papa kemudian melepas seragamnya.


"Rudra.. besok siapkan hati mengawal Papamu sendiri"

__ADS_1


"Ijin Panglima.. saya memilih tenang menjadi Danki" jawab Bang Rudra.


"Saya kabulkan" kata Papa Galar untuk Bang Rudra. "Kamu Rakit.. jabatanmu saya lepas. Pindah kamu ke Batalyon..!!" Perintah Papa Galar untuk Bang Rakit.


"Siaaapp..!!"


"Proses Danyon seadil-adilnya... saya minta Letkol Najib langsung di proses penyelidikan mahkamah pusat..!!!!!!!!" Tak lupa Panglima memberi arahan terakhirnya.


"Ijin.. bersama Letkol POM Budi"


"Tidaaaakk.. tidak ada yang bisa melepas jabatan suami saya tanpa bukti yang jelas..!!!!!!!" Teriak Bu Najib begitu histeris.


"Nama saya sebagai pertaruhan kasus ini. Saya akan melanjutkan ke tingkat atas bahwa Letkol Najib sudah berkhianat. Saya rela di berhentikan dari kedinasan mengawal kasus ini"


Mama Rizka berlutut di kaki Papa Giras. "Biar Rizka yang tanggung jawab Bang. Jangan lepas seragam Abang. Rizka ingin menjadi sebaik-baiknya istri Abang. Jika Rizka tidak gegabah. Masalah ini tidak akan terbongkar"


"Semua jangan ikut campur, saya bisa mengatasi masalah saya sendiri...!!" Suara Bang Rakit sangat tegas memecah keributan.


Dooooorr..


Tidak ada kewaspadaan. Sebuah peluru menembus perut Fia. Seketika darah segar mengucur dari perutnya. "Baang.. pa_nas" ucap Fia dengan segala keluguannya. Matanya nanar menatap mata Bang Rakit.


"Fiaaaaaaa...!!!!!!!" Bang Rakit begitu emosi, ia membidikan pistol tepat pada Letkol Najib tapi Bang Rudra segera menghadang dan menyergap Bang Rakit yang sedang memeluk Fia. Hujan tangis membasahi wajah Bang Rakit.


"Jangan bodoh Rakit..!!" Bentak Bang Rudra.


"Tidak ada yang akan terima istrinya di perlakukan seperti ini begitu pun denganku Bang..!!!!!!!!" Kemarahan Bang Rakit sudah menjadi-jadi.


Dooorr..


"Fiaaaaaaaaaa..." Bang Rakit panik saat Fia menegang. Kesadarannya pun mulai hilang.


"Alvin.. Wahyu.. kamu ikut saya..!!" Perintah Bang Rakit sambil mengangkat Fia menuju ambulans.


"Suara Abaang" ucap Fia terbata.


"Maaf sayang.. Abang nggak sengaja"


Petinggi Matra darat sampai melongo dengan insiden berdarah ini. Akhirnya Panglima turun tangan menyelesaikan masalah.


...


"Jangan ikut Rakit..!!!! Kamu tenang dulu" kata dokter Ari.


"Saya mau ikut Bang, saya tidak bisa meninggalkan Fia." jawab Bang Rakit mulai tidak bisa berpikir normal setiap berhadapan dengan keadaan Fia.


"Kalau kamu ikut, semua akan melanggar prosedur"


"Persetan dengan prosedur sial itu. Saya ikut atau saya obrak abrik rumah sakit ini..!!!!!!" Tak main-main Bang Rakit mengancam Dokter Ari.


"Biarkan dia masuk..!!" Perintah dokter Ari seakan kehabisan tenaga menghadapi amarah juniornya itu.

__ADS_1


~


Bang Rakit mengusap peluh Fia. Hatinya cemas bukan main.


"Cepat berikan pereda nyeri Bang, atau buat Fia tidak sadar. Saya nggak tega lihatnya" pinta Bang Rakit melihat mata Fia setengah terbuka namun tidak bereaksi apapun.


"Istrimu hamil Rakit, kita tidak bisa memberikan sembarang penanganan. Ini rumah sakit kecil." Kata Dokter Ari.


"Pindahkan di rumah sakit besar Bang, berapapun biayanya akan saya tanggung..!!"


"Ini bukan masalah biaya Rakit, tapi kita tidak bisa membawa pasien dalam keadaan seperti ini. Kami cemas ada pendarahan dalam perjalanan. Kau masih beruntung.. luka tembak tidak menembus bagian vital" penjelasan dokter Ari menjawab kecemasan Bang Rakit. "Tapi dengan begini, Fia harus serba di kontrol"


"Bagaimana dengan calon bagiku Bang?"


Dokter Ari menepuk bahu Bang Rakit, Bang Rakit pun menoleh menatap mata dokter Ari menuntut jawaban pasti.


"Bayimu.. puji Tuhan sehat. Luka Fia tidak dalam, hanya menggores sisi perutnya.. hanya saja kamu pasti paham. Fia khan wanita, istrimu pasti syok dengan kejadian ini"


"Alhamdulillah.." tangis Bang Rakit terurai. Ia tertunduk di sela leher Fia yang tak sanggup bicara apapun. Tubuhnya lemas, gemetar dan ketakutan. Ia terus menggenggam jemari Fia.


Betapa pun gagahnya seorang pria, pasti akan merasa lemah saat di hadapkan dalam situasi seperti ini. Sungguh ia marah tak sanggup membayangkan kesakitan Fia. Kulit wanita yang begitu tipis, terkena sedikit sulut api saja sangat menyakitkan apalagi terkena peluru panas.


"Bang"


Bang Rakit mengangkat wajahnya dan menatap Fia yang baru bersuara. "Iya sayang"


"Fia pengen makan burung paling suci di dunia sama sayur tertajam di dunia"


Bang Rakit ternganga kemudian menghapus sembab di wajahnya.


"Opo iku? Baleni..!!!!!!!!"


"Burung paling suci dan sayur paling tajam" jawab Fia.


Bang Rakit yang sedang pusing setengah mati kini harus bertambah pusing mendengar permintaan sang istri.


"Fia lapar Bang.."


"Iyaa.. iyaaaa.. sabar Neng.." Bang Rakit mengambil ponselnya. "Alvin.. masuk ke dalam sama Wahyu. Ada berapa anggota di luar???"


~


"Ijin Dan.. itu apa ya??" Tanya Om Alvin menyimpan gundah tak paham permintaan Ibu Danki.


"Jangan banyak tanya. Saya saja nggak berani tanya." Bisik Bang Rakit mulai resah.


"Siap"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2