Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 8. Kecerobohan.


__ADS_3

Ponsel Lintar berdering. Ketua genk sudah menunjukkan dimana ia harus menemaninya. Lintar berangkat menaiki taxy tengah malam itu dan Bang Jenar beserta yang lain memantau kondisi Lintar.


Bang Jenar sangat gusar hingga ia tidak bisa tenang. Kegelisahan Bang Jenar menimbulkan pertanyaan pada rekan satu mobil.


***


Bujuk rayu Lintar telah membuahkan hasil. Bang Jenar mendengar semua percakapan dan bukti hasil kejahatan Ketua genk. Bang Jenar memerintah untuk penyergapan di malam yang hampir menjelang pagi.


Para anggota sudah datang dan mereka tertangkap satu persatu. Bang Jenar mampu melakukan tugasnya dengan baik.


Tak lama di dalam kamar Lintar bersama ketua. Ketua menumpahkan minuman dan ia menagih untuk melahap Lintar malam itu. Amarah Bang Jenar memuncak tak terkendali, ia mencari kamar ketua dan berniat menghabisi orang yang akan menyentuh istrinya.


Lintar berusaha lepas tapi Ketua selalu bisa menyergap Lintar. Ketua semakin gemas melihat Lintar yang seperti main kucing kucingan dengannya.


Braaaakk..


Pintu kamar terbuka. Lintar merasa terselamatkan melihat suaminya yang datang menolong. Bang Jenar terlihat sangat marah hingga ia memukul ketua secara membabi buta.


"Lancangnya kau sentuh istriku. Aku akan membuat gigimu yang monyong itu terlepas dari rahangmu" bentaknya meluapkan amarah.


Lintar sedikit menyadari perlakuan Bang Jenar padanya selama ini karena memang Bang Jenar ingin melindunginya sebagai seorang suami. Tiba-tiba ada sebersit rasa sayang tumbuh di hatinya. Lintar melangkah menghentikan Bang Jenar lalu memeluknya. "Sudah Bang, dia tidak menyentuh Lintar"


Seketika pukulan Bang Jenar terhenti, tubuhnya bergetar, ia memejamkan mata membalas memeluk Lintar dengan erat.


"Aku tidak ikhlas.. aku tidak ikhlas dia memandangi istriku seperti itu" gumam Bang Jenar tanpa sengaja, tangannya mengepal kuat.


Lintar merasakan pelukan itu begitu hangat dan teramat melindungi dirinya.


***


Tugas sudah selesai. Lintar membereskan barangnya setelah mandi. Bahkan handuk masih melingkar di kepalanya dan piyama masih membalut tubuhnya.


"Kenapa belum ganti baju? pesawat kantor akan menjemput kita dua jam lagi" tanya Bang Jenar sambil memperhatikan setiap gerak tubuh Lintar dengan lekat.


"Hanya tinggal berganti pakaian Bang? Apa Abang mau tetap disini melihat Lintar berganti pakaian?" tantang Lintar seperti biasanya.


Lintar menoleh pada Bang Jenar yang tidak seperti biasa menjawab setiap godaannya. Lintar mencoba mengusir secara halus sekali lagi.. ia mendekat dan duduk di pangkuan Bang Jenar, membuka piyama untuk memperlihatkan pahanya.


"Apa bisa kamu menggodaku dengan cara lain? Abang tidak mau disamakan dengan hidung belangmu!" kesal Bang Jenar.


Lintar berdiri dihadapan Bang Jenar, dadanya tepat di depan wajah pria kaku itu.


Bang Jenar menarik tali pengikat piyama membuat Lintar kaget setengah mati sampai tangannya menutup bagian depan tubuhnya.


"Kurang ajar sekali. Setelah menggodaku langsung tidak berniat melanjutkannya"


Lintar perlahan mundur karena merasa takut.


"Maaf Bang, Lintar hanya bercanda" jawab Lintar.


"Kali ini Abang yang tidak bercanda. Abang akan membuatmu sah menjadi milik Kapten Jenar. Abang tidak ingin orang lain menyentuhmu lagi" seringai Bang Jenar.

__ADS_1


Lintar gelisah dan ingin berlari dari kamar itu tapi Bang Jenar menangkapnya.


"Apakah seorang suami harus memohon untuk bisa melegakan hawa napsunya? Kamu jahat dek. Kamu menggodaku tapi tidak mau menyelesaikannya" ucap Bang Jenar dengan suaranya yang mulai berat.


Perlahan Bang Jenar mulai melancarkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh Lintar, ia mengabsen seluruh isi rongga mulut Lintar. Bang Jenar merasakan kekakuan dari balasan Lintar.


"Bang.. sudah ya, nanti kita terlambat" cegah Lintar saat Bang Jenar memberinya jeda


"Apa kamu seamatir ini kalau melayani mereka?" tanya Bang Jenar. Lintar merasa kesal karena memang ia tidak pernah melakukan ciuman panas seperti yang Bang Jenar lakukan barusan.


"Apa Abang selihai ini terhadap semua wanita malam mu?" Lintar balik bertanya.


Bang Jenar tersenyum mendengar kecemburuan Lintar. "Rasakan sendiri, Abang tidak pernah mengobral satu-satunya milikmu." Ia membuka sabuk pada seragamnya. Pria itu hanyut melupakan semua peraturan dan tidak mengindahkan penolakan Lintar.


...


...


...


Suara teriakan tertahan dan tangisan Lintar terdengar menyakitkan, ia meronta minta di lepaskan oleh Bang Jenar hingga Bang Jenar sampai kaget di buatnya. Ia menghentikan kegiatannya melihat Lintar merintih . Sesaat tadi Bang Jenar menyadari jika dirinya lah yang pertama menanam saham pada tubuh Lintar.


"Sekarang kamu menangis seperti ini seolah aku menyiksamu habis-habisan, makanya lain kali, jangan pernah berani menantang suamimu, kalau Abang khilaf.. kamu sendiri yang susah " kecup sayang Bang Jenar lalu melanjutkan lagi tapi tidak sekasar tadi. "Satu kali lagi ya..!!"


***


"Apa masih sakit?" tanya Bang Jenar yang duduk di samping Lintar tanpa membuka kacamatanya.


"Apa sekarang kamu sedang hamil? tidak khan? perjanjian itu menjelaskan tidak boleh hamil, tapi tidak melarang melakukan hubungan suami istri dan belum tentu juga kalau kamu akan hamil" jawab Bang Jenar enteng.


***


Lintar berjalan turun dari pesawat dengan menahan perih. Bang Jenar melihatnya tapi saat ini tidak mungkin untuk dia menolong Lintar.


"Apa kamu sakit? kenapa cara jalanmu begitu?" tanya Eka yang berjalan di samping Lintar.


"Tidak, punggungku terasa nyeri. Mungkin karena penyergapan tadi" jawab Lintar.


Bang Jenar masih diam dengan sikap dinginnya seolah tidak mendengar percakapan Lintar dan Eka. Lintar pun melirik Bang Jenar dengan jengkel.


Padahal ini semua karena ulahmu Bang.


\=\=\=


Lintar duduk bersandar di sofa ruang tamunya dengan lelah. Tak lama mobil Bang Jenar datang.


"Assalamu'alaikum" sapa Bang Jenar lalu mengecup bibir Lintar yang sedang bersandar memejamkan mata.


"Wa'alaikumsalam" jawab Lintar, wajahnya merona merah.


"Bapak juga sudah pulang? mau bibi bawakan minum apa?" tanya bibi.

__ADS_1


"Jahe hangat ya bi! badan saya sangat lelah hari ini" keluh Bang Jenar ikut bersandar memejamkan mata, tangannya membuka pakaian lorengnya.


Lintar berdiri lalu menunduk, ia membuka kancing baju seragam Bang Jenar satu persatu. Bang Jenar pun membuka matanya.


"Kalau mau membukakan baju Abang.. di kamar saja, jangan disini!" tapi Bang Jenar pasrah kemudian memejamkan mata kembali dan membiarkan Lintar membuka kancing bajunya. Ia sudah terlalu lelah hari ini.


"Apa yang akan Abang lakukan? Kalau lelah tidak usah mengajakku bertanding" kesal Lintar.


"Baiklah.. kamu menang dek. Kamu selamat hari ini"


***


Tengah malam Bang Jenar tidak bisa tidur dengan tenang. Badannya terasa ngilu dan sakit hingga membangunkan Lintar dari tidurnya.


"Dek..!!"


"Abang kenapa?"


"Badan Abang sakit semua dek" Bang Jenar sampai memercingkan wajah.


Lintar segera mengambil minyak lalu memijat bahu Bang Jenar, badan pria itu terasa hangat.


Bang Jenar merasa nyaman dalam pijatan Lintar.


"Mana lagi yang sakit?"


"Bagian pinggul, sepertinya terkilir" jawab Bang Jenar santai. Tangan Lintar masih terdiam di bahu Bang Jenar.


Apa aku harus membuka celananya juga??


"Kenapa lama sekali? Kamu niat memijat suamimu atau tidak??" tegur Bang Jenar sambil tertelungkup.


"Iya Bang.. mau, hmm.. apa ini harus di buka dulu?" tunjuk Lintar pada celana Bang Jenar dengan ragu.


"Cckk.. apa kamu mau menumpahkan minyak itu langsung di celana Abang" kesal Bang Jenar. "Apa sich yang kamu pikirkan, Abang tidak akan mencolekmu sedikit pun. Badan Abang sakit sekali" kata Bang Jenar sambil menyimpan kepalanya di bawah bantal.


Lintar mengangguk cepat lalu menarik sedikit bagian karet pinggang celana Bang Jenar lalu memijat disana. Bang Jenar tersenyum sangat licik di bawah bantalnya.


"Bawah lagi!!! kenapa wanita lemah sepertimu harus jadi agen rahasia?" gerutuan Bang Jenar membuat Lintar ikut kesal.


Lintar mengarahkan tangannya ke bawah pinggang Bang Jenar dan...... "Iihh Abaaang..!!"


"Apa yang kamu pegang??" tanya Bang Jenar sambil menahan tangan Lintar agar tetap disana, terdengar tawa renyah di bawah bantalnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2