Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 14. Kekacauan bertubi.


__ADS_3

"Bang, bagaimana kalau tidak sekarang. Kita apel jam enam pagi. Nanti telat" tolak Lintar.


"Nggak terima penolakan. "Abang terlanjur pasang listrik tegangan tinggi..!!" tegas Bang Jenar. Akhirnya Lintar menurut ajakan sang suami.


~


Bang Jenar melakukannya dengan sangat lembut. Ia tau istri nya kurang enak badan. Bukannya ia tidak berperasaan. Setelah melepas lega, ia menciumi wajah Lintar dan ambruk mengatur nafas di atasnya.


"Maaf, Abang akui memang sulit mengendalikan perasaan. Pria beriman tebal pun kadang sulit kalau sudah berhadapan dengan istri. Maaf ya!" kecup Bang Jenar di kening Lintar.


"Kenapa Abang selalu bersikap dingin. Lintar khan istri Abang"


"Abang lebih banyak berinteraksi dengan pria, jadi kadang Abang lupa kalau yang ada di hadapan Abang ini seorang wanita, terlebih wanita ini istri Abang sendiri" Bang Jenar mengusap rambut Lintar sambil mendekapnya


"Apa sekarang Abang sudah ingat kalau punya istri" tanya Lintar.


"Ingat lah.. mana mungkin Abang nggak ingat tempat paling enak" kata Bang Jenar mulai manja.


"Iihh.. tumben Abang begini"


"Apa yang salah. Apa kamu mau Abang manja sama istri orang?" goda Bang Jenar.


"Nggak Bang, lihat saja kalau Abang berani" ancam Lintar.


"Berani saja. Hanya tidak bernyali kalau berhadapan dengan calon ibunya anak-anak" tegas Bang Jenar sambil tertawa.


drrrtt.. dddrrrttt


Ponsel Bang Jenar bergetar. Bibirnya bersungut mengangkat panggilan itu dengan jengkel.


"Ijin Kapten.. Apa ada apel malam?" tanya Delon di seberang.


"Kamu nggak baca info group ya????" kesal Bang Jenar setengah membentak.


"Siap salah.. tidak monitor" ucap Delon.


"Aaww.. turun Abaaang..!!!!"


Bang Jenar kaget dan langsung membekap mulut Lintar.


Kening Delon berkerut sekilas mendengar suara Lintar tapi ia segera menepis keraguannya.


~


"Suaramu dek!!" tegur Bang Jenar.


"Maaf.. Abang menindih Lintar dari tadi" keluh Lintar.


"Hehehe..maaf dek" ucapnya berguling di samping istrinya.

__ADS_1


***


Pagi ini Bang Jenar menyiapkan apel pagi dengan mode gagahnya. Aura semangat nampak jelas di wajah tampan sang Kapten. Sesekali Bang Jenar melirik Lintar dengan tidak nyaman saat memberikan briefing.


"Silahkan cek dulu senjata kalian!" ucap Bang Jenar sambil mengecek pistolnya sendiri.


"Kenapa pakaianmu lebih ketat dan lebih pendek Serda Gitarja???" tegur Bang Jenar usai menyimpan pistolnya.


"Ijin Kapten. Prosedur hari ini kami menjaga dari jarak jauh. Tidak dalam pengamanan lapangan. Ijin arahan!!" jawab Lintar.


Bang Jenar mendekat ke arah Lintar.


"Berarti pistol itu kamu simpan di pahamu???" bisik Bang Jenar amat lirih hampir tidak terdengar.


"Siap!" jawab Lintar.


"Awas saja kalau sampai kamu buka brangkas di muka umum" Bang Jenar mengeratkan gerahamnya dengan kesal dan penuh ancaman.


"Tidak akan, brangkas ini milik Kapten Jenar Sentanu Rawisrengga" jawab Lintar dengan malu-malu.


Bang Jenar pun luluh dan tersenyum sekilas menanggapi jawaban istrinya.


"Oke.. lima belas menit lagi kita merapat ke lokasi!" perintah Bang Jenar.


"Siap!!"


Kemana Lintar?? Tidak terpantau di jangkauan sinyal ku.


Naluri pemburu Bang Jenar merasakan ada pergerakan mencurigakan. Sinyal Bang Jenar terhubung dengan Lintar.


"Bang Jen.. ada musuh dari arah jam 10 dari posisi mu" peringatan Lintar. Semua anggota team tertegun mendengar Lintar memanggil Kapten team mereka dengan sebutan 'Bang Jen'.


"Kamu dimana dek??"


Para anggota team mendengar suara Lintar dan Kapten Jenar seolah mendengar sepasang kekasih yang saling merindukan karena terpisah jarak.


"Lintar di jalur A Bang"


Bang Jenar menoleh ke jalur A dan melihat Lintar berada di tengah para pendemo yang tidak sepaham dengan cara kerja menteri.


"Ya Allah.. kenapa kamu sampai sana tanpa arahan Abang.. dek!!! Bahaya kamu lajur sendiri tanpa arahan" tegur keras Bang Jenar.


"Ijin Kapten.. sesuai info, Lintar dari arah jam 10 ada pergerakan" lapor Sertu Radit.


"Dek, kamu geser ke jalur D ( jalur tempat Bang Jenar berada ) lewat titik ketiga!!!"


"Iya Bang"


:

__ADS_1


Tak lama memang pendemo anarkis membuat keributan hingga kerusuhan terjadi di mana-mana. Menteri sudah selesai rapat dan segera di amankan menggunakan helikopter. Bang Jenar mengawal jalannya evakuasi.


Lintar sudah tiba disana dan melihat pendemo semakin brutal. Pandangan matanya mengarah pada seorang pendemo yang bisa lolos dari pengamanan polisi huru hara. Pendemo itu mengarahkan pistol ke punggung Bang Jenar.


"Bang Jeenn... awaaaass!!!!" Lintar menghalangi tembakan itu mengenai suaminya.


Doooorrr


Bang Jenar menoleh dan berbalik badan ke arah suara. Di lihatnya Lintar ambruk ke dada nya. Anggota lain pun segera mengamankan perusuh tersebut.


"Ya Allah dek, kenapa kamu halangi tembakan itu???" sesal Bang Jenar dalam kepanikannya. Ia ikut menutup luka tembak di perut Lintar. Ada sebulir air mata menetes.


"Sudah sewajarnya khan Bang. Anak buah loyal dengan atasan" ucap Lintar terbata.


"Nggak usah ngelantur!! Kamu istriku dek" Bang Jenar melepas jasnya menutup bagian rok Lintar yang pendek agar tidak terlihat orang lain lalu mengangkat Lintar menuju mobil.


"Bawa mobil saya kesini..!!!!!!!" ucapnya tegas dan dingin.


...


Bang Jenar mondar mandir di ruang tunggu pasien dengan gelisah. Billy, Delon, Lyta, Ana, Radit dan Eka ada disana juga. Kemudian menyusul Danyon, Komandan intel, para perwira tinggi dan para staff masing-masing sudah tiba. Tak lama dokter keluar dari dalam ruang penanganan.


"Mohon maaf, siapa disini yang bertanggung jawab untuk penanganan Serda Gitarja?"


"Saya dok!!" tegas Bang Jenar.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin menangani Bu Gitarja juga kandungannya. Peluru itu menembus agak dalam di perut hampir mengenai kandungan"


"Apa dok??? Astagfirullah.. Ya Allah.." Mata Bang Jenar terpejam ngeri, ia memercing takut karena terlalu kaget. Pikirannya langsung kosong melompong. Reaksi yang sama juga dirasakan rekan kerja Lintar, mereka juga kaget karena yang mereka tau, Lintar masih single. Tapi tidak untuk reaksi Lyta yang bahagia.


"Dasar wanita murahan" sinis Lyta.


"Jaga bibir manismu itu nona Lyta" Bang Jenar menatap tajam wajah Lyta. Mata Bang Jenar memerah menahan amarah juga tidak terima Lyta menghina Lintar.


"Berikan yang terbaik untuk dia dan calon anaknya yang ada di dalam sana dok!!!!!!" ucap Bang Jenar sambil terus menatap tajam Lyta yang membuat wanita itu bernyali ciut.


"Jenar.. bagaimana Lintar??" Papa Rakit panik mendengar putrinya tertembak.


"Lintaar.. Hamil Pa" jawab Bang Jenar.


Seketika mata Papa Rakit menatap tajam wajah menantunya. "Kamu tau aturan mainnya?? kenapa ceroboh?????"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2