
Arin masih memakai mukena saat mendengar keributan di lapangan api unggun. Bang Rakit terbaring lemah dan Fia masih duduk menjauh dari suaminya. Tapi pandangan Ariana beralih pada Bang Rudra yang tiba-tiba ikut-ikutan mual seperti Bang Rakit.
"Om.. itu ada ribut apa?" Tanya Arin pada Om Wahyu yang melintas membawa minyak kayu putih di hadapannya.
"Ijin Ibu, Pak Rakit pingsan. Kata orang sekitar sini sih kena sawan bayi karena buat bumil jengkel"
"Laah, kalau Bang Rudra kenapa Om?" Tanya Arin lagi tapi kemudian mata Arin terbelalak. Ia pun berjalan cepat menghampiri Bang Rudra. Tangan Arin menepak lengan Bang Rudra. "Abaang..!!!!"
Om Wahyu pun mengikuti langkah istri Kapten Rudra.
plaaakk..
"Ya Allah dek. Apaa?? Kenapa pukul Abang??" Bang Rudra mengusap lengannya karena tertampar oleh tangan Arin, kecil, lentik namun lumayan terasa.
"Abang pasti ken**ng sembarangan nih. Lihat dulu donk Bang, ini tempat apa? Kalau Abang di sentil mau jadi apa nanti" cerocos Ariana mengomeli Bang Rudra.
"Allahu Akbar.. pelan sedikit kenapa sih ngomongnya" tegur Bang Rudra sembari menjepit bibir Arin dengan jari telunjuk dan jempol nya. Raut wajahnya masih salah tingkah apalagi para anggota setengah meliriknya. "Malu dek, di depan anggota nih kamu ribut"
"Itu lumrah Bang, memangnya Abang nggak ken**ng?????" Kata Arin.
"Astagfirullah.. punya bini luar biasa amat ya" gumam Bang Rudra.
"Alviiiiinn.. mana minyak anginnya??" Pinta Bang Rakit.
Om Alvin segera menyambar minta kayu putih di tangan seniornya.
~
Empat orang anggota memijati badan Kapten Rakit yang sedang teler seteler telernya.
Tak lama Arin menyenggol lengan Bang Rudra dengan bahunya.
"Apa dek?"
"Disana ada buah, warnanya oranye. Arin mau donk Bang..!!" Pinta Arin.
"Yang mana?" Tanya Bang Rudra tak paham apa yang tengah di tunjuk istrinya.
"Yang ituu tuuuhh" tunjuk Arin memperjelas.
Bang Rudra memicingkan mata dan melihat baik-baik apa yang sedang di minta sang istri. Tak lama ia pun mendesah. "Buah itu, kalau nggak biasa kamu konsumsi, bisa buat mabuk kamu nya. Sudahlah jangan minta macam-macam" kata Bang Rudra.
"Arin mau itu, warnanya segar sekali" rengek Arin. Matanya sampai berkaca-kaca menginginkan buah tersebut.
"Nanti kamu muntah. Buah itu rasanya pahit, sepat, tidak ada bau buah segar sama sekali" bujuk Bang Rudra.
Arin terdiam tapi dirinya perlahan menjauh menghindari Bang Rudra.
__ADS_1
"Cckkk.. ada apa sih perempuan-perempuan ini. Kerjanya hanya nangis saja. Apa tidak bisa menyelesaikan masalah tanpa menangis. Kalau sudah begini nampaknya kaum Adam saja yang salah padahal mereka yang melow, yang cari perkara untuk menyakiti hati mereka sendiri" gerutu Bang Rudra panjang lebar tapi dirinya sudah sibuk mencari galah untuk mengambil buah yang di minta Arin.
~
"Niihh.. Abang ambilkan, awas kamu kalau muntah" ancam Bang Rudra.
Arin melirik buah yang di mintanya tadi, senyumnya pun merekah. Ia segera menyambar buah itu dan mengigitnya.
Seketika ekspresi wajah Arin berubah tidak suka, ia mengecap rasa pahit, getir dan sepat sekaligus. "Nggak enak" kata Arin yang ternyata sangat menginginkan buah pinang.
"Hhkkkkk" bersamaan dengan itu juga Bang Rudra dan muntah sama persis seperti Kapten Rakit. "To_long, saya ma_u ma_ti" ucapnya kemudian merosot lemas.
"Kapten..!!!!!"
:
"Ini acara Family gathering paling gagal. Kok bisa Kapten nya pada teler begini. Jangan-jangan benar nih Dra.. Patra mau nyusul punya adik" kata Wadanyon.
"Aduuh Bang, baru tiga minggu ini saya nikah.. Patra masih kecil. Biar dia puas main dulu lah. Rakit saja yang duluan" jawab Bang Rudra.
"Memangnya lu bisa pending sendiri?? Lagak lu seperti pintar aja nunda kecebong main prosotan. Kalau memang rejeki mau apa lu" sambar Bang Cemar.
Bang Rudra terdiam sambil melirik Arin yang sedang menyuapi Patra makan. Tiga Minggu ini jika Patra sedang bersama Arin tak ubahnya seperti Fia, istrinya itu selalu menjejali putra semata wayangnya makan dan makan.
Seulas senyum merekah juga dari bibirnya. "Kalau memang sudah isi.. jelas Alhamdulillah" gumamnya pelan.
Bang Rakit dan Bang Rudra bersandar dengan jarum infus menancap di punggung tangan. Tapi Bang Rakit jelas lebih parah.
"Yank.. Abang minta maaf, nggak lagi-lagi buat suara keras" bujuk Bang Rakit berharap mualnya akan mereda.
"Kenapa Abang begitu???"
"Maaf, nanti Abang tutup sungainya pakai batu besar" kata Bang Rakit.
Bang Cemar menggeleng, sebab sahabatnya ini selalu menyalahkan benda lain jika terjadi sesuatu pada Fia.
"Ajarin istri tuh yang baik. Masa alam sama benda mati kau salahkan juga" tegur Bang Cemar.
"Jangan bicara, aku tidak suka dengar suara mu..!!!!" Bang Rakit dan Bang Rudra menutup telinganya bersamaan.
"Hwuuuuu.. edaaan...!!" Bang Cemar pun mengacak jambul kedua sahabatnya itu secara bergantian.
-_-_-_-_-
Sore hari para anggota sudah tiba di Batalyon. Suasana sangat ramai dan penuh kebahagiaan. Bang Rakit langsung memilih kembali ke rumah agar Fia dan Arsene bisa langsung beristirahat.
Tak lama ada seorang anggota piket jaga datang menghampiri Bang Rakit yang baru saja membukakan pintu mobil untuk Fia.
__ADS_1
"Selamat sore.. ijin Dan"
"Selamat sore, piye.. ono opo?" Tanya Bang Rakit terdengar santai menanggapi anggotanya.
"Ijin.. ada seorang wanita mencari komandan" jawab petugas piket jaga.
Bang Rakit mengerutkan keningnya, pasalnya ia tidak mengenal banyak wanita di tempat barunya tersebut. "Siapa ya?"
"Ijin.. ibu Bupati.. Ibu George Lunes"
"Saya nggak kenal" jawab Bang Rakit.
"Mungkin ada hubungannya dengan tugas Abang" kata Fia.
Bang Rakit sedikit bertanya-tanya dalam hatinya. "Tapi kalau ada tugas, pasti melalui Wadanyon dulu dek. Nggak mungkin melambung seperti ini"
"Jadi bagaimana Dan.. apa mau di terima?" Tanya petugas piket.
"Dia meninggalkan identitas? Siapa nama kecilnya?"
"Ijin.. Carolina Sindy"
Deg..
Mata Bang Rakit melirik Fia yang seakan menunggu jawabannya.
"Apa itu Sindy.. mantan Abang?" Tanya Fia.
Bang Rakit mengangguk, takut akan reaksi Fia.
"Abang mau temui dimana?"
"Terserah Nyonya Fia Seno saja" jawab Bang Rakit.
"Disini..!!!!!!" Perintah Fia.
"Siap.." Bang Rakit pasrah, tapi juga cemas karena sedikit pun dirinya belum pernah menceritakan apapun tentang Sindy pada Fia.
"Silakan Abang bertemu, tapi ingat.. kalau Abang macam-macam....." Fia menepuk dan mengelus perutnya pelan, semacam memberi tanda dalam ancaman.
Bulu kuduk Bang Rakit seketika meremang karena sangat takut terserang mual hebat. "Tak ada yang lebih menarik perhatian Kapten Rakit selain Nyonya Fia Seno Rakit" jawabnya membujuk sang istri.
.
.
.
__ADS_1
.