Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 20. Emosi yang terasah.


__ADS_3

Bang Jenar masih menunggui Lintar tapi istrinya belum sadar juga.


"Mana dokter terbaik kalian?" tanya Bang Jenar.


"Sedang menuju kesini Kapten.." jawab senior Lintar.


"Kalau sampai ada apa-apa dengan istri saya, lihat kalian semua nanti" ancam Bang Jenar.


"Siap salah Kapten"


...


Dokter sudah memeriksa kondisi Lintar. perlahan istri Bang Jenar itu sadar.


"Dek.. gimana rasanya? masih pusing? atau mual?" berondong Bang Jenar.


"Aduuh.." pekik Lintar.


"Kenapa dek? Ayo bilang!!!!" cemas Bang Jenar.


"Lintar lapar Bang" terdengar bunyi perut Lintar yang keroncongan main gendang. Bang Jenar pun bernapas lega karena Lintar hanya sekedar lapar.


"Ya sudah kita cari makan sekarang ya!" ajak Bang Jenar membantu Lintar untuk duduk.


"Urusan kita belum selesai" tegas Bang Jenar mengedarkan pandangan mengancam teman-teman Lintar satu persatu.


...


"Mau ketan uli sama es ketan hitam"


"Es tape ketan hitam??????? Itu nggak boleh. Terus dimana juga Abang mau cari ketan nya dek? Abang pun nggak tau bentuknya tape uli" kata Bang Jenar yang sempat bingung tiap berhadapan dengan ngidamnya si bumil.


Lintar melipat tangannya. Bang Jenar melihat sinyal tanda ngambek mulai bermunculan. Ia menarik napas panjang bersabar-sabar berhadapan dengan istri tercintanya.


"Lintar khan nggak minta makanan seperti ini setiap hari" kesal Lintar.


"Iya, tapi sekalinya minta bikin Abang bingung" jawab Bang Jenar membuka ponsel mencari info tempat dimana menjual ketan uli.


"Di pasar pagi hari minggu jual kok" kata Lintar.


"Sayang.. ini masih hari Selasa" Bang Jenar mulai terpancing kesal.


"Harus dapat Bang. Lintar lapar" rengek Lintar.


"Ya Allah...iya. Jangan marah donk.. nanti jidat Abang ini bisa tumbuh tunas bawang"

__ADS_1


:


Lintar memesan ketan uli dan minuman es tape ketan hitam. Bang Jenar melihatnya dengan cemas.


"Minumnya jangan banyak-banyak dek, mau kadarnya kecil, itu tetap fermentasi" Bang Jenar mengingatkan.


"Nggak akan ada masalah Bang. Abang ini apa-apa terlalu takut" Lintar langsung menyantap pesanannya.


Bang Jenar yang memakan ketan uli saja bahkan sulit masuk di tenggorokan karena terlalu khawatir.


"Sudah cukup! Ini gelas ketiga dek" tegas Bang Jenar menjauhkan gelas dari Lintar.


"Nggak apa-apa Bang. Iiihh" jawab Lintar dengan membangkangnya.


Bang Jenar hanya mampu melihat tajam ulah istrinya.


Setelah Lintar menghabiskan makanannya, mereka pun pulang ke rumah.


-_-_-_-_-


Lintar baru saja mengganti seragam kerjanya dengan daster favoritnya. Saat sedang memakai serum di wajahnya, Lintar merasa perutnya sangat melilit hingga terasa panas sampai ke dada.


Bang Jenar yang sedang berganti pakaian melihat perubahan wajah Lintar yang memucat drastis.


"Hayo bilang.. kenapa kamu?" tanya Bang Jenar.


"Jangan sampai sekarang ini perutmu sedang melilit" tegas Bang Jenar.


"Ii..iya Bang. perut Lintar sakit sekali" Lintar berlari ke kamar mandi.


"Pelan-pelan dek!!!" teriak Bang Jenar cemas.


-_-_-_-


Bang Jenar menunggu rebusan beberapa lembar daun jambu bersama teh. Wajahnya kini sudah penuh kekesalan karena Lintar sudah bolak balik ke kamar mandi hingga delapan kali.


"Biar bibi yang kerjakan pak!" kata bibi sambil membawa durian dan nanas muda lalu meletakan nya di atas meja makan.


"Nggak usah bi. Biar saya saja. Kesal sekali saya merasakan tingkah Lintar ini" Bang Jenar menuang rebusan itu pada sebuah gelas besar.


Lintar berjalan dari kamar mandi masih merasa lemas sekali. Tenaganya seolah habis tak bersisa.


"Duduk..!!!!!" perintah tegas Bang Jenar.


Lintar menurut perkataan suaminya tanpa mau tarik urat leher.

__ADS_1


"Makan dan habiskan semua ini" Bang Jenar mendepak kasar sebuah durian berukuran besar dan nanas muda di hadapan Lintar. Bibi diam tidak berani ikut campur dalam masalah rumah tangga majikannya.


"Ini khan..."


"Iya.. itu Abang belikan buah 'panas' untuk menyenangkan hatimu. Bukannya dari awal kamu nggak mau hamil anak Abang? Sampai akhirnya sekarang kamu berusaha membuangnya!!!"


"Abang kok nuduh Lintar begitu?" tanya Lintar tak percaya Bang Jenar bisa berpikiran seperti itu.


"Berani kamu buang anak kita, Abang benar akan cer.......... Astagfirullah......" Bang Jenar mengusap wajahnya kasar menyesali perkataan nya yang hampir saja membuat rumah tangga nya celaka.


Lintar berdiri di hadapan Bang Jenar.


"Abang ingin cerai??? Saat Lintar selalu merasa lapar, saat Lintar nggak tau apa mau Lintar sendiri, Abang mau menceraikan Lintar? Abang tuduh Lintar nggak ingin anak ini?? Nggak ada seorang ibu yang ingin anaknya celaka Bang..!!!"


Lintar menangis masuk ke dalam kamar dengan hati sangat kecewa. Tangan Bang Jenar mengepal, wajahnya menengadah, matanya terpejam menyesali perkataannya.


"Pak.. semarah-marahnya seorang suami, tidak boleh mengucapkan kata-kata itu. Bapak tau khan hukumnya apa kalau bapak sampai mengucapkannya?"


"Saya menyesal bi. Saya kah yang terlalu keras bi, sampai hampir terucap kata itu?"


"Lebih baik bapak masuk saja ke dalam kamar" Bibi mengusap punggung Bang Jenar dengan tersenyum penuh arti sambil menyerahkan gelas berisi rebusan daun jambu tadi.


...


"Maaf.. Abang nggak sengaja. Abang nggak peka sama keadaanmu" Bang Jenar membelai rambut Lintar yang sedang tidur tertelungkup dan menangis.


"Minum dulu ya! kasihan dedeknya kalau kamu diare terus"


Bang Jenar membantu Lintar untuk duduk karena saat ini istrinya sedang marah merajuk. Marah tapi ingin disayang juga. Lintar mau juga untuk meminumnya dan itu membuat Bang Jenar tersenyum.


"Maaf selama mengandung nya sampai membuatmu seperti ini. Kata-kata Abang tadi jangan di masukan dalam hati ya!" pinta Bang Jenar.


"Terlanjur masuk" kata Lintar.


"Jangan di ingat"


"Sampai berani kamu buang anak kita..... tuh khan ingat" jawab Lintar mengingatkan semua.


"Ya Allah..Ya Tuhanku.. memang wanita bagian penyelidik ini susah di kalahkan. Tajam sekali ingatanmu itu dek" keluh Bang Jenar.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2