
"Hai Bang..!!" Sindy langsung memeluk Bang Rakit dan mendaratkan kecupan di pipi kiri dan kanan. "Tambah gagah aja kamu Bang" Sindy mengusap dada bidang Bang Rakit dengan tatapan nakal.
Bang Rakit memang ingin menolaknya namun semua itu terjadi begitu cepat dan sejenak ia bengong sampai Fia berdehem menyadarkan mereka.
"Hmm.. Sindy. Perkenalkan ini istri saya Fia"
"Hai.." sapa Sindy kemudian duduk di sofa rumdis Bang Rakit.
"Hai juga"
"Istrimu nggak berseni ya Bang, sofa pun tidak ada motif. Foto pernikahan kalian hanya biasa saja. Hiasan dinding juga.. yaaaa.. jauh dari kesan mewah"
Bang Rakit sudah ketar ketir setengah mati takut Fia akan terbawa perasaan dan mempengaruhi keadaan janinnya.
Fia tersenyum menanggapi ucapan Sindy yang terdengar mengejek. "Saya masih muda Mbak Sindy, selera saya nggak muluk-muluk seperti orang yang lahir di jaman berhala. Motif yang saya sukai adalah motif kalem. Bukan yang rame seperti makhluk penuh ambisi tapi nggak bisa dapat apa-apa, kecuali dengan memaksa"
Sindy terdiam tapi menatap wajah Fia dengan raut wajah tidak suka.
"Ngomong-ngomong mbak Sindy mau minum apa? Udara di puncak khan dingin" tanya Fia lalu bersandar pada Bang Rakit.
"Kamu punya apa?" Sindy sangat sombong seakan meremehkan seorang Fia yang notabene hanya seorang istri tentara.
"Mbak mau apa?"
"Nggak usah, tentara gajinya kecil. Mana sanggup beli ini dan itu" jawab Sindy.
"Ahahaha.. mbak tau aja" tawa Fia seakan menegaskan apa yang ada. Fia pun mengusap paha Bang Rakit. "Paa.. tolong ambilkan bantal untuk penyangga punggung ya, si dedek capek" ucap manja Fia pada Bang Rakit.
"Oke Mama sayang" jawab Bang Rakit menanggapi untuk mengimbangi Fia. "Sebentar ya..!! Bang Rakit melangkah ke kamar. Terlihat sekilas model kamar Fia sangat indah. Tak seperti kamar pada umumnya. Terlihat juga kamar anak-anak di sebelah kamar tersebut, juga terlihat indah dan mewah meskipun ruang tamu terlihat sederhana saja.
Bang Rakit pun kembali ke ruang tamu membawa bantal punggung yang sebenarnya harganya juga tidak bisa di bilang murah. Bang Rakit mengatur posisi duduk Fia agar lebih lega.
"Terima kasih Pa"
"Sama-sama sayang" Jawab Bang Rakit dengan senyumnya.
"Eheemm.. aku kesini bukan tanpa tujuan dan ingin melihat kemesraan kalian." kata Sindy. "Aku mau minta uang bagi harta selama jadi istrimu"
Kening Bang Rakit berkerut. "Apa uang yang saya berikan ke kamu dulu masih kurang?"
"Kalau nggak mau sih nggak apa-apa. Saya bisa bilang ke atasanmu kalau kamu tidak bertanggung jawab atas perceraian kita." Sindy setengah mengancam Bang Rakit.
"Silakan.. tidak ada pengaruhnya bagi saya" jawab Bang Rakit.
"Saya minta rumah besar yang ada di Jogja" Sindy tau rumah tersebut adalah perumahan subsidi khusus untuk abdi negara dan Bang Rakit sudah melunasinya hingga menjadi hak milik.
__ADS_1
"Itu bukan hak mu Sindy"
"Lantas hak siapa? Fia?? Dia baru beberapa bulan jadi istrimu. Aku sudah satu setengah tahun menjadi istrimu" protes Bang Rakit.
"Sumbangsih apa yang kamu berikan selama jadi istri saya" bentak Bang Rakit.
Fia memegangi kepalanya karena tidak kuat mendengar suara teriakan Bang Rakit. Refleks suaminya itu memeluknya erat.
"Maaf..!!" Bang Rakit mengecup puncak kepala Fia dan itu sukses membuat hati Sindy terasa panas.
"Ayank.. Fia ikhlas kok kalau Ayank mau kasih rumah besar itu untuk Mbak Sindy. Fia tau.. Fia nggak pantas untuk tinggal di rumah itu. Biar Fia pakai rumah tipe 45 saja.." kata Fia menatap serius wajah Bang Rakit. "Sama rumah hadiah pernikahan dari Abang.. di Bali"
Raut wajah Sindy merah padam mendengar ucap Fia yang lembut namun amat sangat menjengkelkan dan mematikan.
"Nggak bisa donk sayang. Rumah itu haknya Arsene. Rumah kecil itu hak adiknya Arsene" jawab Bang Rakit tidak terima.
"Kasihan mbak Sindy. Mungkin selama menikah nggak pernah di kasih apa-apa"
Seketika Sindy berdiri, ia sangat marah pada Fia. "Kamuu.. beraninya kamu mengataiku. Kamu pikir saya sedang mengemis. Saya ini istri Bupati. Istri George Lunes.. tidak ada yang tidak bisa saya dapatkan selama menjadi istri Bupati" bentak Sindy.
Bang Rakit pun memasang badan untuk Fia.
"Mengemis dan merampok itu beda tipis. Saya ini istri anggota tentara. Istri Lettu Seni Rakit. Juga tidak ada yang tidak saya dapatkan selama menikah dengan Abang" kata Fia membalas.
"Jika saya iblis dalam bentuk peri, lalu mbak Sindy apa?"
Sindy menyambar tasnya. "Kau ajari istrimu sopan dan etika Bang..!!"
"Maaf Sindy. Saya rasa Fia sudah sopan. Kamu memulai dan dia membalas, tapi terlepas dari semua itu.. beraninya kamu kembali dalam kehidupanku dan mengacau seperti ini. Tidak ingatkah kelakuanmu dulu?" Bang Rakit sudah mengisyaratkan kebencian dengan kehadiran Sindy. "Pergilah dan jangan pernah kembali. Kamu punya George dan saya sudah bahagia bersama Fia"
:
Fia masih terdiam duduk di kursi ruang makan, belum ada kata terucap dan Bang Rakit begitu resah melihatnya.
"Sini Abang betulkan bantal yang di punggung..!!" Bujuk Bang Rakit berharap Fia mau bersuara. "Rumah itu nggak akan jatuh ke tangan Sindy"
Plaaakk..
"Aduuhh.. kenapa pukul Abang?" Protes Bang Rakit.
"Sejak kapan Abang lihat Fia tamak sama harta??? Abang dapat dimana perempuan macam tikus curut macam begitu?????"
Bang Rakit langsung berjongkok dan mengusap perut Fia. "Istighfar sayang, lagi hamil begini ngomongnya yang baik-baik. Kenapa pula segala tikus di bawa-bawa"
"Abang mikir apa dulu sampai bisa kawin sama si uget-uget itu?? Di pamerin rawa-rawa?? Apa bukit berduri???" Omel Fia.
__ADS_1
Bang Rakit diam seribu bahasa, menunduk dan bersimpuh memegang paha Fia seperti anak sedang minta maaf pada ibunya. Sama sekali Bang Rakit tidak berani berkutik. Tak di dengarkan apa yang terlepas dari mulut Fia. Dirinya hanya berharap tidak mual karena malas menerima jarum infus untuk kesekian kalinya.
"Jawab Bang..!!!"
"Yaa itu" jawab Bang Rakit padahal dirinya sama sekali tidak mendengar ucapan Fia.
Plaaakk..
"Ternyata hanya dua benda itu yang buat Abang khilaf"
Bang Rakit mengangguk cepat daripada Fia semakin marah.
Pandangan Fia mulai tajam menusuk. "Ternyata ikatan batin Abang untuk Fia sangat kurang. Mulai detik ini.. sampai batas waktu yang telah di tentukan.. selepas dinas, Abang harus mencontoh setiap gaya Fia. Tanpa kecuali..!!"
"Siaap..!!"
:
"Eeehh Bang Mar.. terima kasih ya sudah antar Arsene pulang. Sini ngopi dulu..!!" Bang Rakit tersenyum manis menirukan setiap tingkah dan gaya bicara Fia.
Bang Cemar menyerahkan Arsene yang sudah tidur sampai melotot melihat perubahan sikap sahabatnya.
"Baang.. Abaaang.. ini lho ada Bang Mar" teriak Bang Rakit.
Tak lama Fia keluar.
"Fii.. bojomu ngopo sih???" Bisik Bang Cemar saat Fia datang.
"Lagi Fia hukum Bang. Biar nggak ingat Sindy terus. Masa kata Abang ingat rawa-rawa sana bukit berduri"
"Heehh.. kapan Abang bilang begitu???" Protes Bang Rakit.
"Sayaaang.. buat kopi ya, dua..!!" Ucap Fia persis seperti saat Bang Rakit meminta nya.
"Okeeeyy Abang sayang" jawab Bang Rakit mencontoh kelakuan Fia kemudian berjalan berlenggak lenggok mirip sang istri.
"Hahaaayyy.. m****s lu brooooo" Bang Cemar tertawa renyah, puas melihat Bang Rakit dalam kesulitan.
.
.
.
.
__ADS_1