Kasih Di Timur Negeri.

Kasih Di Timur Negeri.
S 2. 22. Emosi naik turun.


__ADS_3

Bang Jenar baru saja pulang mengambil Tipuware di taman kantor.


~


"Nih Tipuware mu yang nyaris buat nyawa Abang melayang" protes Bang Jenar.


Lintar masih saja cemberut padahal pangkal masalahnya juga sudah di selesaikan.


"Besok Abang dinas luar ya. Ikut rombongan menteri ke Australia. Hanya seminggu dek" kata Bang Jenar menyampaikan pada Lintar.


"Hmm.." jawabnya singkat.


"Jangan macam-macam ya disana Bang"


"Mau macam-macam sama siapa? Ada satu di rumah saja ribetnya bukan main" kata Bang Jenar.


"Aahh terserah lah Bang, pokoknya jangan macam-macam apalagi sama Lyta" pesan Lintar.


"Abang sudah punya istri, nggak mikir begituan"


"Baguslah" kata Lintar ketus.


"Ya Allah dek, kamu ini judes banget sama suami. Cewek apa cowok ini nanti" keluh Bang Jenar.


"Terserah Lintar lah Bang, Lintar khan mamanya" kata Lintar.


"Laahh Abang ini papanya" protes Bang Jenar.


"Abang hanya datang untuk sewa tempat, selebihnya Lintar yang tentukan" jutek Lintar menanggapi Bang Jenar.


Bang Jenar tidak menjawab lagi perkataan istrinya karena ia sudah yakin 999,9% akan kalah.


Apa aku ada salah lagi???


...


"Abang bawa baju loreng juga?" tanya Lintar.


"Iya, kalau ada arahan pakai baju dinas khusus ya Abang harus pakai" jawab Bang Jenar.

__ADS_1


"Ooohh.."


"Kamu sendiri mau kemana bawa barang sebanyak itu? Pakai bawa make up lengkap" tanya Bang Jenar yang melihat Lintar juga menata barang.


"Mau pergi ngawal juga lah Bang" jawab Lintar santai.


Seketika bola mata Bang Jenar melotot tajam. Meskipun ia terkenal sangar dan kaku tapi kalau soal anak istri, ia tidak akan melunak sedikit pun.


"Siapa yang memasukan nama mu dalam team??" tanya Bang Jenar.


"Senior Bang. Siapa lagi???" jawab Lintar lagi.


"Kamu itu sadar atau tidak, lagi hamil?" tatapan mata Bang Jenar tegas.


"Iya Bang, tapi ini sudah perintah tugas"


"Berangkatlah..!!! terserah apa maumu. Tapi kalau sampai ada apa-apa dengan anak itu. Abang nggak akan pernah mengampuni mu" Bang Jenar menepak kopernya dengan kasar dan meninggalkan Lintar disana.


Bang Jenar sangat kesal karena Lintar tidak segera membongkar identitas nya saja agar tidak ada kejadian seperti tempo hari.


//


"Belum ngantuk bi" jawab Bang Jenar singkat.


"Pak.. setidaknya ibu pergi dengan bapak. Bapak bisa selalu mengawasi kondisi ibu" kata bibi menenangkan.


"Tapi bi, kandungannya masih sangat muda. Istri saya masih mudah lelah juga masih mual. Saya hanya cemas saja kalau istri saya tidak kuat dalam perjalanan" cemas Bang Jenar. "Tugas ini tidak mudah Bi, pikiran saya tidak akan sepenuhnya fokus karena cemas harus menjaga istri juga. Kenapa Lintar tidak mau mengerti kecemasan saya Bi"


"Bibi nggak bisa ngomong apa-apa pak kalau ini soal dinas"


-_-_-_-_-


"Kenapa kamu nggak ngomong sama Abang kalau kamu juga berangkat dinas" tanya Bang Jenar yang melihat Lintar masih menonton TV di kamarnya.


"Karena pasti Abang akan menolaknya" kata Lintar.


"Jelas lah dek. Apa salah kalau Abang khawatirkan anak dan istri?" kesal Bang Jenar.


"Tapi di rombongan itu ada Lyta" ucap Lintar lirih.

__ADS_1


"Astagfirullah... jadi kamu nggak nolak surat perintah ini karena kamu tau Lyta akan ikut dalam rombongan?"


Lintar menggangguk.


"Apa kamu pikir Abang akan berduaan saja dengan Lyta?" kesal Bang Jenar tak habis pikir dengan jalan pikiran Lintar.


"Kalau dia menggoda Abang bagaimana. Abang juga nggak segera cerita kalau akan berangkat dinas dan juga ada nama Lyta di sana tapi Abang malah nggak tau ada nama Lintar???"


"Ini dadakan dek. Bukannya Abang mau sengaja. Abang benar nggak tau ada nama kamu disana. Abang itu kerja, mencukupi kebutuhan anak istri. Nggak niat ngelirik wanita lain. Biar saja dia bertingkah, Abang nggak peduli apapun yang dia lakukan" kata Bang Jenar.


"Hmm.. Surat sah kita menikah juga belum turun dari markas Bang. Mau tidak mau Lintar harus ikut, sekaligus Lintar tidak akan membiarkan dia dekat sama Abang"


Bang Jenar mengepalkan tangan, gemas rasanya menghadapi istrinya ini. Dari awal berjumpa memang istrinya ini sangat unik.


"Kamu tidak boleh jauh dari Abang. Kalau surat pengajuan nikah kita belum jadi di kantormu berarti kita belum bisa satu kamar. Biar Abang minta kamar connect seperti biasanya dari markas pusat" kata Bang Jenar.


"Bukannya sudah ada teguran ya Bang?" tanya Lintar.


"Darimana kamu tau?" Bang Jenar mengeryitkan dahi karena memang ia tidak memberi tau Lintar kalau ia mendapat teguran karena meminta kamar connect.


"Tuh khan.. Abang itu banyak rahasia sama Lintar" kesal Lintar.


"Itu urusan Abang. Kamu jadi istri yang baik saja dan jaga anak kita. Abang hanya nggak mau kamu banyak pikiran" tegas Bang Jenar.


"Terserah.. Abang sudah buat Lintar banyak pikiran" cemberut bibirnya sudah terlihat jelas.


"Jangan marah terus lah sayang. Kasihan lho anak kita! Jaga diri dengan baik. Mas titip anak disini" Bang Jenar mengusap perut istrinya.


Iya Bang, Lintar pasti jaga diri. Kita kesana khan untuk kerja" jawab Lintar mulai kalem


"Abang tau.. Abang minta kamu juga paham dengan posisi Abang saat ini. Di samping Abang harus kerja, fokus pikiran Abang juga terbagi untuk menjagamu" kata Bang Jenar yang sangat khawatir saat ini.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2