
"Alhamdulillah kompi kita juara satu untuk team putra dan putri. Mohon maaf saya tidak mengikuti pertandingan terakhir. Saya sedikit tidak enak badan Bu" kata Fia penuh sesal. Wajahnya memang teramat sangat pucat.
"Tidak apa-apa Bu. Terima kasih banyak atas segala dukungannya." Jawab para ibu kompi karena Ibu Fia sangat memikirkan kesejahteraan anggotanya.
Sejak dulu ibu Fia selalu memikirkan kesehatan anggota, mulai dari vitamin, camilan, mainan untuk anak dan yang pasti seluruh anggota tidak pernah merasa lapar.
Fia mengangguk. "Sekali lagi selamat untuk para anggota kita yang menang"
...
Siang itu Dan Giras menemui Fia. Untuk pertama kalinya Fia melihat wajah Dan Giras secara langsung. "Bagaimana keadaan Bu Nafia?"
"Baik komandan" jawab Fia.
"Apa Fia sedang hamil?" Tanya Papa Giras.
"Tidak.. Memang capek saja banyak kegiatan." Jawab Fia.
"Semoga Fia dan Abang selalu bahagia dan cepat dapat momongan" do'a Papa Giras untuk menantunya.
"Terima kasih Pa" jawab Fia. Papa Giras sampai terharu mendengarnya. Untuk pertama kalinya menantunya mau memanggilnya Papa.
Papa Giras menyentuh tangan Fia. "Dulu Opa Huda memberinya nama Rakit agar suamimu itu kuat merakit setiap jengkal langkah hidupnya yang berat. Jadi arti namanya adalah utusan yang kuat menerima cobaan hidup di manapun ia berada." Kata Papa Giras. "Papa titip Rakit ya ndhuk. Papa percaya kamu mampu menaklukkan kekakuan abangmu itu"
"Iya Pa"
Di luar tenda terlihat seorang wanita sedang memperhatikan semuanya.
...
"Papa selingkuh sama istri Danki yang masih muda itu?? Dasar janda gatel" pekik Mama Rizka begitu kesal melihat suaminya menyentuh tangan wanita lain.
"Papa hanya memberinya semangat karena dia Danki baru disini" kata Papa Giras.
"Istri Danki Pa, bukan Danki. Papa tidak pernah perhatian dengan istri anggota manapun kecuali dia..!!" Mama Rizka sungguh meradang melihat suaminya dekat dengan perempuan lain.
"Sudahlah Ma. Jangan mikir yang tidak-tidak. Papa tidak pernah memikirkan perempuan lain selain kamu" jawab Papa Giras.
Mama Rizka pun meninggalkan Papa.
//
"Hmm.. saya nggak enak mau bilang sama ibu. Istri Danki yang bernama Fia itu memang genit dan suka memakai uang Batalyon untuk kepentingan pribadi." Kata Bu Najib.
"Masa sih Bu, saya nggak pernah dengar." Kata Mama Rizka.
"Benar ibu, Bang Najib saja sampai di tahan di sel gara-gara almarhum Om Zeni. Ya fitnahnya Fia juga"
Mama Rizka terdiam sejenak antara percaya dan tidak tapi karena tadi matanya sempat melihat sang suami dekat dengan Fia. Hatinya pun tertutup oleh rasa cemburunya. "Tolong di bina ya Bu. Jangan sampai pimpinan baru yang sekarang tidak memiliki unggah ungguh dan memberikan contoh yang buruk pada para anggota" arahan dari Mama Rizka. "Saya pamit dulu Bu.. ada pekerjaan di kantor...!!" Pamit Mama Rizka yang juga adalah seorang anggota di Markas.
"Siap Ibu, saya laksanakan sesuai perintah ibu"
__ADS_1
//
Bu Najib menemui Fia. Ia meminta untuk pengerjaan setting kunjungan kerja panglima di handle semua oleh Fia dan tidak melibatkan anggota Batalyon meskipun pertemuan itu berada di Matra darat pusat yang berada di puncak.
"Bagaimana.. sanggup???" Tanya Bu Najib bernada meremehkan.
"Baik ibu, saya siap mengerjakan semua" Jawab Fia menyanggupi.
-_-_-_-_-
Pertandingan volly sudah usai. Bang Rakit sudah mengajak Fia dan Arsene untuk pulang. Kali ini Fia tidur lebih cepat bersama Arsene dan Bang Rakit tidak ingin mengganggu waktu tidur anak dan istrinya.
"Kalian pasti capek ya?" Bang Rakit memijati tubuh kecil Arsene hingga pria kecil itu puas.
Setelah beberapa saat kemudian tangannya beralih memijati tubuh Fia meskipun dirinya sendiri juga lelah.
Baru kemarin malam Bang Rakit menuntaskan hasratnya tapi malam ini hasratnya kembali tergugah. Ia menaikan baju tidur Fia yang sedang tertelungkup lalu mengusap lotion di punggung nya. Semakin lama batinnya semakin tak tahan. Ia membalik tubuh Fia yang tidur pulas hingga telentang.
Bang Rakit mengamati Arsene yang tengah tertidur. "Aiisshh.. kalau disini nanti dia bangun lagi. Bagaimana nih??" Gumamnya.
Fia menggeliat sampai dadanya membusung. Bang Rakit semakin tidak tahan di buatnya. Ia mengangkat Fia perlahan untuk pindah di kamar sebelah. "Sebentar saja dek. Abang tak kamu capek"
:
Fia hanya sedikit merespon dalam tidurnya. Kantuknya sudah tidak bisa di lawan. Hanya Bang Rakit sendiri bersolo karir meskipun ada sedikit rasa tidak lega karena sang istri tidak bisa di ajak 'berdebat'.
"Hhhgggh.. aaahh" Bang Rakit mendesah merasakan kepuasan lalu membatin ucap syukur karena sudah menyelesaikan hasratnya. "Terima kasih cantik.. maaf Abang nakal. Nggak kuat lihat cantiknya istri Abang" ucapnya jujur.
***
Fia merasa tubuhnya keseleo disana sini padahal dalam ingatannya semalam, Bang rakit sedang memijat dirinya.
"Kenapa dek?" Tanya Bang Rakit tidak begitu jelas terdengar.
"Badan Fia sakit semua Bang, padahal semalam seingat Fia, Abang pijat khan?"
Bang Rakit mengangguk karena mulutnya sedang penuh dengan suapan nasi goreng cinta ala Fia. Bang Rakit pun menyambar air minum yang ada di sampingnya. "Kamu istirahat saja sama Arsene sampai pulih. Off saja dari kegiatan. Abang lihat kamu lebih sibuk dari Abang. Mana ada namanya organisasi, apalagi pendamping suami.. tapi malah lebih sibuk dari suaminya..!!" Protes Bang Rakit. "Abang mau jaga kesehatan saja..!!"
"Iya Bang, Fia ngerti." Jawab Fia menyenangkan hati Bang Rakit.
...
Bu Jefri dan Bu Nurdin menerima arahan dari ibu ketua soal kunjungan panglima dan membuat acara Family gathering harus mundur beberapa waktu. Dengan sangat rapi Ibu Fia membuat arahan dan bagan yang akan di kerjakan anggota kompi dan seluruh anggota kompi mampu bekerja sama dengan baik bersama Ibu Fia.
"Baik Bu, semua akan saya kerjakan"
"Terima kasih Bu Jefri Bu, Bu Nur......." Fia menutup mulutnya dengan kedua tangan lalu berlari menuju kamar mandi.
~
"Maaf ya Bu, saya nggak sengaja." Kata Fia merasa tidak enak.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Bu. Ijin Bu, apa ibu sedang hamil?" Tanya Bu Nurdin.
"Nggak Bu, diam-diam saya sudah test tanpa sepengetahuan Abang. Saya sempat minta testpack sama dokter Ari" jawab Fia malu-malu.
"Oohh begitu Bu. Semoga cepat dapat momongan Bu" Bu Jefri ikut menyemangati Fia.
Tak lama sebuah gerobak bakso melintas di depan rumah Fia. Bau kuah kaldu menguar sampai ke ruang tamu.
"Hhhkkkkk.. Fia kembali berlari masuk ke kamar mandi. Terdengar suara seakan Fia tercekik dan amat tersiksa.
Tak lama ada suara pintu terbuka. "Assalamualaikum.." sapa dari luar.
Bang Rakit terkejut melihat ada Bu Jefri dan Bu Nurdin di rumahnya.
"Wa'alaikumsalam" Kedua ibu kepercayaan Fia pun kaget dengan kedatangan Danki yang tiba-tiba karena ibu Fia meminta mereka untuk diam menyimpan rahasia.
"Tumben Bu, ada apa? Bukannya hari ini free pertemuan?" Tanya Bang Rakit karena seingatnya tidak ada jadwal kepengurusan.
"Siap bapak..........." Ibu Nurdin mulai bingung menjawab.
"Hhkkkk.." samar terdengar suara Fia.
"Ijin Pak, ibu tidak enak badan" jawab Bu Jefri sambil memangku Arsene.
"Astagfirullah.. kenapa sih Fia?" Gumam Bang rakit kemudian berjalan menuju kamar mandi.
~
"Bau baksonya buat Fia mual Bang..!!" Kata Fia dalam gendongan Bang Rakit.
"Abang suruh pergi jauh..!!" Jawabnya datar.
"Ya nggak gitu juga donk Abaang" Fia mulai cemas dengan sifat protektif Bang Rakit.
.
.
.
.
Mohon untuk yang biasa bunyi minta triple up tolong di imbangkan dg vote dan dukungannya ya. Timbal balik itu penting .
.
.
.
.
__ADS_1